
Beberapa tahun yang lalu , tepat sebelum Arga mengetahui perasaan Marsha ...
"aduh "
"Vandra , "
"Kamu enggak kenapa-kenapa?" Tanya Marsha sambil mendekat ke arah Kavandra , mengecek lutut Kavandra yang baru saja terjatuh dari sepeda . Tepat di bawah nya terdapat batu yang besar .
"Sa--sakit Sha " lirih Kavandra , lutut nya sudah mengeluarkan darah segar .
Marsha meringis , melihat luka Kavandra yang terbilang cukup lumayan parah ."Yaudah lah , ayo kita balik aja , nanti aku obatin deh" ucap Marsha .
Kavandra menggeleng kan kepala nya . Menolak ajakan Marsha "Nanti Arga nungguin kita loh Sha . Dia kan lagi sakit. Nanti dia cemburu kalau tau kamu ngerawat aku "
Marsha menghembuskan nafas nya kasar . "Enggak bisa Vandra . Lihat kamu juga sakit . Kalau urusan Arga nanti aja deh . Ayo aku bantu kamu buat balik ke rumah "
Marsha mengulur kan tangan nya , meminta Kavandra memegang tangan nya .
"beneran Sha enggak kenapa-kenapa . ? Nanti Arga --"
"Vandra , udah ayo , nanti kamu kehabisan darah loh . Aku khawatir ini sama kamu"
Kavandra pun mengalah , meraih tangan Marsha , lalu bangkit , sambil meringis , menahan sakit .
Marsha merangkul bahu Kavandra ,
"Sepeda nya biar di sini aja deh , nanti aku suruh mang Dadang buat ambil . Kita ke rumah kamu aja ya Vandra . Soal nya lebih dekat ." Ucap Marsha , di sela perjalanan , Kavandra hanya mengangguk kan kepala nya , sambil meringis .
Marsha lalu menyetop taxi dan membawa Kavandra pulang .
Sedangkan sedari tadi , ada seorang wanita yang tengah memotret kedua nya . Wanita itu langsung mengirim kan foto tersebut ke Arga .
[ Lo harus tau , kalau Marsha lebih milih mesraan sama pacar nya Kavandra dari pada Lo] send Argantara Kusuma .
Memasukkan ponsel nya di saku celana nya , gadis itu tersenyum miring . "Gue bakalan ambil apa pun yang menjadi milik Lo Sha . Arga , hmmm , selanjutnya Kavandra" desis nya dengan tangan nya yang terkepal kuat .
___
"Mi , Arga enggak selera makan " rengek Arga menolak suapan dari Mami Reta .
Mami Reta menggeleng kan kepala nya.. "no Argantara ! Kamu harus makan , lihat suhu tubuh kamu masih tinggi banget . Kamu harus makan habis itu minum obat sayang " tegas Mami Reta .
"Mi , pahit banget mulut nya "
"Ayolah sayang makan ya sedikit aja " bujuk Mami Reta .
__ADS_1
"Mi , Marsha belum datang ?"
Menghembuskan nafas nya panjang , mami Reta mengelus kepala sang putra yang panas . Demam Arga tidak main-main . "Tadi mami udah telpon Tante Nia , kata nya Tante Nia , Marsha udah jalan sih . Tapi kok belum nyampe ya Ga . Kalau Marsha naik mobil udah nyampe dari tadi " ucap Mami Reta sambil melirik jam yang ada di dinding kamar Arga .
"Emang nya jam berapa Mami telpon Tante Nia ?"
"Jam 2 sayang , ini udah jam 5".
"Kata nya Marsha naik apa ?" Tanya Arga lagi .
"Oiya ! Marsha naik sepeda kata nya sama Kavandra . Karena tadi mang Dadang kata nya pergi antar Omi . Terus Tante Nia sama Om Jordan buru-buru mau ketemu rekan bisnis . Kebetulan ada Kavandra lagi main , jadi Marsha kata nya pergi bareng sama Kavandra " ucap Mami Reta menepuk jidat nya .
Arga mendesah , ada perasaan tidak nyaman ketika mendengar Marsha pergi hanya berdua dengan Kavandra .
"Udah kamu makan dulu ya " ucap Mami Reta menyodorkan sendok yang berisi makanan ke mulut Arga .
Arga mengalah , diri nya akhirnya menerima suapan dari Mami Reta . Ini juga terpaksa di lakukan nya , Arga tidak boleh sakit lagi . Arga harus sehat , dan bertemu dengan Marsha nya .
Tidak lama Arga menghabiskan makanan nya dan minum obat , mami Reta pamit , Arga duduk bersandar di dasboard kasur , dengan pikiran yang tidak karuan Memikirkan Marsha..
Ting
Tengah asik melamun , sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel nya . Arga meraih nya , lalu membuka nya .
Nesya
[ Lo harus tau , kalau Marsha lebih milih mesraan sama pacar nya Kavandra dari pada Lo]
Arga membulat kan kedua bola mata nya ketika melihat foto Marsha , yang tengah memeluk Kavandra . Arga mengepalkan kedua tangan nya .
"Sialan !!!" Pekik nya.
___
Bugh bugh bugh
"Sialan Lo "
"Astaga Arga ! Lo gila " pekik Revan , lalu menarik tubuh Arga , menjauh kan tubuh Arga ke Kavandra .
Arga mencoba melepaskan nya , namun Revan terus mendekap nya .
"Lepasin gue Van , gue mau hajar ni cowok . Dia udah hasut Marsha buat enggak datang ke rumah gue . Eh dia malah peluk-peluk Marsha di taman " ucap Arga .
"Santai lah bro , kita bisa jelasin , ini bukan salah Vandra . Gue ada juga di --"
__ADS_1
"Lo enggak usah belain dia !" Teriak Arga .
"Ga , gue enggak belain dia , tapi emang --"
"Gue enggak percaya ." Desis Arga , lalu mendorong tubuh Revan dengan kuat , dan Arga menatap tajam ke arah Kavandra .
"Urusan kita belum selesai" ucap Arga , lalu berlalu dari sana .
Revan mendesah panjang , lalu melangkah kan kaki nya mendekat ke arah Kavandra yang tengah memegangi perut nya akibat dari pukulan Arga .
"Lo enggak papa ?" Tanya Revan .
Kavandra menggeleng kan kepala nya . "Kayak nya Arga salah paham deh "
"Udah tenang aja , nanti gue yang bilang , kan gue juga ada di sana , " ucap Revan membantu Kavandra bangkit .
Ya Revan memang ada di sana , saat Kavandra dan Marsha menyetop taxi , Revan yang kebetulan ingin pergi ke rumah Arga melihat kedua nya . Revan menepi kan mobil nya , lalu turun dan menemui Marsha dan juga Kavandra . Setelah kedua nya menjelaskan , Revan lalu mengantar Kavandra pulang ke rumah nya . Setelah itu diri nya akan pergi ke rumah Arga bersama dengan Marsha . Namun sampai di rumah Kavandra , Marsha di telpon Omi dan meminta Marsha pulang , mau tidak mau Marsha menurut , dan Marsha pulang ke rumah nya .
Kavandra mengangguk , lalu kedua nya masuk ke dalam kelas .
Dan di sini lah awal mula kesalahpahaman Arga .....
____oOo___
"Vandra !!!" Teriak Marsha , Marsha membulat kan kedua bola mata nya ketika darah segar mengalir deras di perut Kavandra .
Kavandra menatap Joyfen - sahabat nya , dengan tatapan sulit di artikan .
"Lo --"
Joyfen menggeleng kan kepala nya , lalu berlari dari sana , tapi belum sempat kabur , diri nya dan juga Nathan sudah di hadang oleh polisi . Di perjalanan menuju ke gedung tua , Arga menghubungi Darta meminta nya menelpon polisi ke tempat tersebut .
"Kalian tidak bisa melarikan diri lagi " ucap sang polisi , lalu memborgol kedua nya.
Arga mendekat , melepaskan tali yang mengikat di tangan Marsha ,
Setelah terbuka , Marsha lalu mendekat ke arah Kavandra , memeluk tubuh Kavandra yang sudah hampir limbung, karena kehabisan darah .
"Van--"Marsha terisak, air mata nya mengalir deras .
Kavandra tersenyum tipis . "Jangan nangis " lirih Kavandra .
"Kamu harus bertahan " ucap Marsha menangis .
Arga memalingkan wajah nya tidak sanggup melihat pemandangan yang ada di depan nya . Hati nya berdenyut, sungguh sesak di dalam dada nya . Tapi kali ini Arga tidak boleh egois . Kavandra juga seperti itu karena telah menyelamatkan Marsha . Sedangkan diri nya telat ..
__ADS_1
"Ga , ayo angkat Kavandra , mobil nya udah Dateng " ucap Revan yang baru saja masuk ke dalam gedung tua tersebut .
Arga mengangguk lalu meraih tubuh Kavandra , merangkul nya bersama dengan Revan , membawa nya ke mobil ambulance yang sudah datang .