
"Apa gue bongkar aja tu makam ya biar tau yang sebenarnya ?" Celetuk Tristan setelah keluar dari penjara . Kini dia dan Reni tepat berada di taman yang tidak jauh dari sana . Awal nya sih ingin bertemu dengan Nathan , tapi karena masih kesal dengan pria itu , niat Tristan urung , diri nya ingin menenangkan diri nya dulu baru bertemu dengan sang kakak . Rasa kecewa di dalam diri nya masih mencuak , karena Nathan telah membohongi nya selama ini .
Reni tersentak mendengar perkataan dari Tristan . "Lo gila !"
Tristan menggeleng cepat . "Gue enggak gila ! Gue waras . Tapi gue masih penasaran sama kalimat ambigu nya Si Joy"
"Ya--ya Lo tau kan Joy sama kakak Lo itu tukang bohong . Kali aja mereka berdua sengaja buat kebohongan lagi . Gu--gue lihat sendiri kok Vandra di makamin " ucap Reni sedikit tergeragap .
Tristan menghela nafas nya kasar , sebuah senyum miring terbit di kedua sudut bibir nya . "Lo tau sesuatu kan ?"
Tristan mendongak menatap Reni yang tengah tersentak mendengar pertanyaan nya tadi .
"Gu--gue"
"Lo Enggak pande ekting Ren" desis Tristan .
"Tris --"
Terkekeh samar , Tristan lalu kembali menatap pemandangan yang ada di depan nya . "Agar Marsha bersalah hm ? Terus dia batalin pernikahan nya sama Arga, wah gue enggak nyangka , tujuan Vandra selama ini sampai mengarah ke sana . Salut gue , "
Reni terdiam , pikiran nya memikirkan dari mana Tristan mengetahui semua fakta tersebut .
"Lo Enggak usah kaget ! Gue tau lebih itu . Karena gue lebih dekat sama Vandra dari pada Lo !" Ucap Tristan yang tau apa yang Reni pikirkan . Dan itu semakin membuat Reni tersentak .
__ADS_1
" Dan Lo harus tau satu hal . Gue benci sama sifat nya yang kayak gini Ren. Gue benci " sambung nya dengan kalimat penuh penekanan .
Menghela nafas nya kasar , Tristan bangkit dari duduk nya , meletakkan kedua tangan nya di saku celana nya . "Gue juga ngerasain apa yang di rasain sama Vandra ! Gue juga rasa Ren . Tapi gue belajar ikhlas . Karena kebahagiaan Marsha bukan sama gue . Dan Lo harus nya sebagai sahabat yang baik buat Marsha , Lo bisa membedakan mana yang buat dia bahagia atau yang mana buat dia tertekan . Dan Lo sebagai sepupu , seharusnya Lo bisa nasehatin yang baik buat Vandra "
Dan kalimat Tristan yang panjang itu membuat Reni terpaku . Apakah selama ini diri nya salah ? Sudah membantu menyimpan sebuah fakta tentang sepupu nya .
Melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan nya , Tristan lalu meraih ponsel milik nya mengotak-atik nya sebentar . Lalu membalikkan tubuh nya kebelakang menatap Reni yang masih tidak bergeming sama sekali .
"Gue udah pesen taksi online buat Lo. Gue mau ke rumah sakit buat jenguk nyokap gue . Taksi nya udah di depan taman . Gue cabut" ucap Tristan lalu berlalu pergi .
Reni menatap nanar kepergian Tristan . "Apa gue salah ya selama ini , ya tuhan Ren , kalau posisi Lo di Marsha gimana ? Kalau Lo harus pisah sama boy gimana ?" Monolog Reni .
___oOo___
"Salah Lo "
"Salah Lo "
"Gue ?"
Tersenyum miring Arga mendekat kan wajah nya ke wajah Kavandra yang masih menatap tajam ke arah nya . Dengan tangan yang terkepal sempurna .
"Lo lupa dia istri gue !"
__ADS_1
"Gue enggak lupa , gue inget beberapa jam yang lalu Lo udah resmi jadi suami dia . Tapi Lo harus ingat , selama nya Marsha cuman milik gue . Milik Kavandra . Lo atau pun orang yang lain Enggak akan bisa gue biarin miliki Marsha " ucap Kavandra penuh Dengan penekanan di setiap kata nya .
"Tapi gue suami nya , di mata agama maupun hukum , Lo harus terima kenyataan itu ***** ! Bahwa gue unggul dari Lo !" Desis Arga tidak mau kalah .
"Gue akan rebut dia . Dan gue bilang , gue enggak perduli sama status . Persetan sama status ."
"Dasar gila !"
"Gue gila karena Marsha , gue gila karena cinta nya " ucap Kavandra lagi .
Arga mengepalkan kedua tangan nya , mengangkat tangan nya ingin melayang kan di muka Kavandra yang sudah bonyok akibat diri nya tadi .
Namun tindakan nya urung ketika suara Revan yang menggema di telinga nya.
"Calm down Ga . Gue kan udah bilang , bisa mati dua kali tuh bocah . Ah udah deh kita pergi aja dari sini . Gue males banget urusan sama kang drama ." Ucap Revan menarik tangan Arga dengan paksa , walaupun Arga memberontak tapi Revan tetap memaksa nya , menarik nya .
"Lepas ."
Menghela nafas nya kasar , Revan melepaskan cekalan tangan nya . Dan Arga bersiap melanjutkan langkah nya lagi masuk ke dalam ruangan tersebut . Namun kalimat Revan , membuat nya urung dan menghentikan langkah nya .
"Lo masih aja ngeladeni tuh bocah, sekarang yang penting Marsha men . Hufff kalau Lo Enggak mau biar gue aja yang samperin terus gue peluk terus--" kalimat Revan terhenti ketika melihat tatapan tajam dari Arga . Membuat Revan meneguk Saliva nya susah payah , lalu nyengir .
"Ga --"
__ADS_1
"Kalau Lo sampe berani , habis Lo sama gue " ancam Arga , lalu pergi dari sana , ya tujuan nya jelas lain , mencari Marsha .
Revan mengelus dada nya . "Sabar Van , peran Lo di sini tu alim . Lo harus banyakin istighfar . Nanti Lo di marahin sama netizen kalau Lo kebanyakan mgumpatin Arga ."