
Saat semua orang sudah kembali , di sana hanya ada Marsha yang masih tetap kekeuh ingin berada di sana . Sudah berulang kali keluarga nya membujuk nya , namun Marsha tetap bersikeras ingin berada di sana terlebih dahulu . Alhasil mereka meninggalkan Marsha dengan Arga dan juga Revan yang masih setia mendampingi kedua nya .
"Sha " Arga mendekat , mencoba untuk menenangkan Marsha , yang masih menyeruak kan isakan tangis . Walaupun tidak seperti tadi , tapi tubuh Marsha masih bergetar .
Marsha tidak bergeming , tangan nya masih sibuk membelai foto yang ada di atas gundukan tanah tersebut .
Menghembuskan nafas nya berat , Arga berjongkok , mensejajarkan tubuh diri nya dengan tubuh Marsha . Lalu merengkuh tubuh mungil calon istri nya itu dengan erat dari arah belakang , seakan menyalurkan semua perasaan yang di rasakan nya .
Marsha tidak bergeming , tidak menolak ataupun tidak membalas pelukan tersebut , diri nya masih sibuk menatap makam Kavandra .
"Sha , aku tau kamu lagi enggak baik-baik aja . Tapi please dengerin aku kali ini aja ya . Kita pulang istirahat oke . Hari udah hampir soreh , kamu bahkan belum makan apa-apa semenjak kejadian "
Arga tidak bohong , hari memang sudah soreh , bahkan matahari sebentar lagi akan tenggelam . Dan seberapa lama Marsha berada di sana ? Hingga yang tadi nya rintik hujan kini hujan telah menghilang .
Marsha tidak bergeming sama sekali dengan perkataan Arga . Hanya tatapan lurus yang kosong dan air mata yang terus-menerus berlinang .
Arga menghela nafas nya kasar , mencoba untuk tetap bersabar . Mungkin ini adalah suatu ujian untuk nya .
Tangan Arga terangkat membelai lembut kepala Marsha , mencoba memberikan ketenangan di sana .
"Sha , please kita pulang ya . Besok kita masih bisa kemari lagi . " Bujuk Arga lagi dengan lembut .
Marsha masih diam dan tidak bergeming .
__ADS_1
"Sha , kamu enggak boleh gini . Kalau Kavandra lihat kamu kayak gini , aku yakin deh dia bakalan marah sama kamu ! Lihat seberapa besar perjuangan dia buat nyelamatin kamu Sha . Aku mohon jangan sia-sia kan perjuangan nya yang udah sebesar ini "
Deg
Tubun Marsha membeku ,lidah nya kelu . Marsha memejamkan kedua bola mata nya , apa yang di katakan Arga benar ! Semestinya diri nya tidak boleh bertindak seperti ini . Bukan berarti diri nya tidak boleh menangis , tapi diri nya harus lebih memikirkan bagaimana besar perjuangan Kavandra untuk nya .
"Kita pulang ya. ?" Bujuk Arga lagi dan membuat Arga langsung menyunggingkan kedua sudut bibir nya ketika Marsha mengangguk singkat .
Arga pamit terlebih dahulu dengan mengusap foto Kavandra , lalu diri nya bangun membantu Marsha untuk berjalan , karena kondisi Marsha saat ini benar-benar tidak baik . Marsha lemah .
Revan yang melihat itu menyunggingkan senyuman nya . Revan berdoa di dalam hati agar Arga bisa selalu bersikap seperti itu kepada Marsha , dan tidak gengsi lagi .
"Van , mobil nya !" Teriak Arga yang melihat Revan tidak bergeming sama sekali . Padahal pria itu posisi nya dekat dengan mobil .
Revan tersentak , lalu buru-buru masuk ke dalam mobil , melajukan nya menghampiri Arga dan Marsha yang ada di seberang jalan .
Sedangkan sedari tadi seseorang tengah memperhatikan semua pemandangan dari arah jarak yang lumayan jauh . Pria itu menatap nanar ke depan , lalu menggeleng kan kepala nya .
"Maaf kan aku" lirih nya .
____oOo___
"Pak LEPASIN GUE ENGGAK SALAH "
__ADS_1
Brak brak brak
"GUE DI JEBAK DI SINI"
brak brak brak
"Berisik !" Seorang polisi menghampiri nya , lalu menatap tajam ke arah Nathan yang sedari tadi terus-menerus menggoyangkan jeruji besi , hingga suara nya menimbulkan kebisingan yang amat luar biasa .
"Pak ! Saya enggak salah , saya di fitnah !" Ucap Nathan membela diri nya .
Sang polisi terkekeh mendengar nya . "Kamu pikir saya percaya ? Dan langsung ngelepasin kamu gitu ? Hello !!!! Semua Nara pidana yang ada di sini itu kata-kata nya sama kayak kamu ! Hei , udah berbuat tapi enggak berani tanggung jawab , dasar ! ", Desis polisi tersebut .
"Pak saya bener pak ! Pak tolongin saya pak . Mama saya kritis , adik perempuan saya lagi di rumah sakit jiwa , saya tidak mungkin membuat adik laki-laki saya kerepotan pak " ucap Nathan dengan suara lirih nya .
Pak polisi mencibir , menirukan suara Nathan . "Alasan ! Kemarin-kemarin kemana aja anda ??? Kenapa tidak berpikir seperti itu ? Sudah membuat nyawa orang melayang baru nangis-nangis " celetuk sang polisi .
"Pak , itu yang nusuk temen saya . Joyfen "
"Saya tau "
"Jadi kenapa bapak Enggak bebasin saya ?"
Menghela nafas nya kasar , sang polisi memijit pelipisnya yang terasa berdenyut . Mengahadapi kebegoan Nathan itu sangat membuat darah tinggi nya naik .
__ADS_1
"Pak keluarin saya ! " Pekik Nathan lagi .
" Diam ! Kamu banyak sekali ngomong ? Sudah diam , nikmati saja hukuman kamu" ucap sang polisi lalu berlalu dari sana tanpa menghiraukan pekikan dari Nathan .