
Bugh
Bugh
Bugh
"Bajing*n"
"Brengs*k"
Bugh
"Udah Tris ! Bapak polisi pada lihatin tuh" ucap Reni mencoba menenangkan Tristan , memegang pundak pria itu .
Tristan menghembuskan nafas nya kasar , pandangan nya tidak lepas dari pria yang wajah nya sudah babak belur oleh nya itu, sambil memegangi perut nya .
Terkekeh samar , Joy menatap sinis ke arah Tristan .
"Semarah itu sama gue hm?" Seringai nya .
Tristan mengepalkan kedua tangan nya .
"Bangs*t, " Tristan ingin maju , ingin menghajar Joy lagi , tapi di tahan oleh Reni dan ada seorang bapak polisi datang menahan nya juga .
"Jangan buat keributan , " ujar sang bapak polisi , namun di abaikan oleh Tristan . Tristan masih menatap tajam ke arah Joy yang masih memasang senyum menyebalkan nya .
"Lo udah buat adik gue hamil dan dia keguguran hingga dia stress ! Dan Lo udah buat Kavandra meninggal . Gue enggak nyangka Seorang sahabat seperti Lo udah buat bisa nusuk temen nya sendiri . " Ucap Tristan .
Joy tersenyum miring . "Kalau untuk opsi yang pertama , gue akui Lo bener , gue yang udah renggut kesucian Nesya , gue yang udah buat dia nampung benih-benih gue ? Why ? Karena dia selalu nolak gue ! Gue cinta mati sama dia . Gue enggak bisa hidup tanpa dia ." Menjedah nya sesaat , Joy menarik nafas nya dalam , ada rasa sesak dan nyeri di dalam dada nya .
"Untuk hilang nya bayi gue dan Nesya, dan buat Nesya sampai se- frustasi ini . Lo harus nya bisa salahin Sahabat Lo ! Gara - gara dia . Gara - gara dia Nesya mengejar dia , Nesya lari dan jatuh buat Nesya harus kehilangan bayi dan stress" ucap Joy lagi .
Tristan mengepalkan kedua tangan nya .
"Ini bukan salah Kavandra !! Ini salah Lo *****"
"Salah gue hm ? Gue ngelakuin ini karena ada alasan . Gue enggak bakal ngusik orang kalau orang Enggak ngusik gue"
__ADS_1
"Lo emang brengs*k, udah salah tapi Lo enggak mau ngakuin ke salahan Lo ! Lo malah mengkambing hitam kan orang "
"Gue enggak ngelakuin itu . Itu fair berjalan seperti air . Bukan nya kesempatan itu datang dalam kesempitan hm?"
"Dasar bajing*n" Tristan ingin maju menghajar lagi wajah babak belur Joy , namun lagi-lagi Reni dan Bapak polisi menahannya .
"Saya mau bunuh dia !"
"Biar kan sesuai hukum . Anda harus tenang , kalau tidak anda keluar " ucap bapak polisi .
Tristan mengepalkan kedua tangan nya . Menatap nyalang ke arah bapak polisi . Kalau tidak ingat mama nya yang masih koma , Tristan akan menghajar pria itu . Cih perduli apa ? Bapak itu terkesan melindungi Joy . Tapi ya emang benar sih , Tristan aja yang sudah tidak bisa menahan kobaran api di dalam dada nya .
"Untuk opsi yang selanjutnya !"
Kata yang keluar dari mulut Joy , membuat atensi semua mengarah kepada nya . Tidak terkecuali Tristan .
Joy tersenyum miring , bangkit dari duduk nya dengan berhati-hati , gila cuy pukulan Tristan tidak main-main , perut nya benar-benar terasa sakit .
Setelah berdiri dengan sempurna , Joy mengangkat dagu nya , lalu bersidekap dada . Tersenyum ke arah Tristan .
"Cocok banget main film nya "
"Lupa ingatan ? Biar dapat simpati ? Lalu meninggal biar seseorang merasa bersalah? Oh my good "
"Ekting saudara Lo bagus banget Ren" ucap nya sambil menatap Reni yang tubuh nya sudah membeku .
Sedangkan Tristan terpaku dengan ucapan terakhir dari Joy .
____oOo___
Bugh
Bugh
Bugh
"Calm down Ga , calm down , jangan pakai urat Mulu , Lo bisa buat dia mati kedua kali nya. " Ucap Revan yang baru saja tiba lalu tersenyum ke arah Arga yang masih memukul Kavandra dengan membabi buta . "Eh lebih tepat nya pura-pura mati . Oh good job bro ! Ekting Lo luar biasa . " Sorak Sorai Revan .
__ADS_1
Marsha ? Jelas mencoba memisahkan nya. Tapi tenaga nya tidak sanggup , berulang kali Marsha menahan tangan Arga , tapi berakhir Marsha duduk di sofa , di tarik oleh Arga . Lalu Arga menghajar kembali Kavandra .
"Van , pisahin , kenapa malah ngomong gitu . " Ucap Marsha kesal .
Revan menghembuskan nafas nya panjang , menarik tangan Arga , hingga ke belakang .
"Lo pihak dia ?" Desis Arga .
"Gue bukan pemain film Ga . Dan cita-cita gue enggak sejauh itu " ucap Revan santai .
Arga mencebik . Lalu menatap tajam ke arah Kavandra yang masih meringis akibat pukulan dari Arga .
"Berani-beraninya Lo nyulik istri gue "
Kavandra mengepalkan kedua tangan nya. "Marsha milik gue "
"Gue suami nya "
"Sampai kapan pun Marsha tetap milik gue . Persetan dengan status "
Arga menggeram , mengepalkan kedua tangan nya , berniat menghajar Kavandra lagi . Tapi suara Marsha yang melengking membuat nya urung . Mereka semua terpaku dengan apa yang di ucapkan oleh gadis itu .
"Kenapa sih ! Kenapa kalian kayak gini . Kalian itu temenan udah lama . Tapi kenapa ? KENAPA CUMAN GARA-GARA AKU KALIAN JADI KAYAK GINI " pekik Marsha dengan nafas nya yang memburu . Lalu Marsha menatap ke arah Kavandra .
"Vandra , aku kecewa sama kamu . Kamu tega ! Kamu tau kan gimana aku frustasi nya waktu tau kamu pergi ninggalin kita semua , kamu pergi selama-lamanya , karena aku ! Tapi kamu ngelakuin itu cuman biar pernikahan aku sama Arga batal . Dan biar aku selalu di hantui rasa bersalah ." Menjedah nya sesaat , sungguh Marsha merasakan sesak di dalam dada nya , air mata yang sedari tadi di tahan nya akhirnya keluar juga .
"Jahat banget" lirih Marsha .
"Sha , aku bisa --"
"Stop it . Aku enggak mau denger " ucap Marsha mengangkat sebelah tangan nya ketika Kavandra ingin mendekat ke arah nya .
"Sayang --"
"Ga , biarin aku sendiri " ucap Marsha ketika Arga juga ingin melangkah mendekat ke arah nya .
Lalu setelah nya Marsha berkali keluar dari ruangan tersebut . Dengan isakan tangis nya .
__ADS_1