
Arga melajukan mobil milik nya membelah jalanan yang ramai di kota itu . Mata nya tidak awas melirik ke sana kemari , sembari mencari keberadaan sang istri . Yang beberapa jam yang lalu sudah resmi menjadi istri nya , tapi nyata nya Marsha nya hilang , hilang entah kemana . Dan menurut cctv yang terlihat dari luar jendela kamar Marsha , jika ada seseorang yang memakai masker menggendong gadis nya dan membawa nya pergi , di saat semua orang tengah lalai menikmati prosesi ijab kabul .
Damn it
Lihat saja , siapa yang sudah berani berani nya bermain-main dengan diri nya nanti .
Memukul setir kemudi nya dengan kencang , saat lampu merah ada di depan mata nya , membuat nya merasa sangat kesal , itu artinya diri nya harus menunggu lagi , diri nya tidak ingin menunggu lebih lama , diri nya sudah sangat ketakutan memikirkan hal yang terburuk yang akan terjadi kepada Marsha nya .
Terakhir diri nya melihat Marsha nya hampir nyaris mati akibat Joyfen dan Nathan , diri nya tidak akan pernah bisa membayangkan hal terburuk lainnya . Sebab Vera yang notabene nya masih bersekutu dengan Nathan dan Joyfen wanita itu masih berkeliaran menjadi buronan , tidak mungkin kan jika Vera menyewa seseorang untuk menculik Marsha nya ? Entah lah , tapi Arga sedikit ragu tentang hal tersebut .
Menjambak rambut nya frustasi , Arga menggeram ketika lampu merah itu tidak kunjung menampakkan tanda-tanda berwarna kuning dan selanjutnya hijau yang berarti jalan . Entah lah , padahal tidak selama itu , tapi bagi Arga waktu yang sekarang setelah kehilangan Marsha nya sangat berputar lama .
Sialan !
Jika ada Revan , mungkin pria itu bisa berulang kali mengusap dada nya dan beristighfar , sebab peran Revan di sini sebagai sahabat sekaligus penasihat seorang Argantara Kusuma , yang tempramen nya yang agak lumayan lah .
Huh mengingat Revan , pria itu tadi juga pergi dengan menggunakan mobil lain milik keluarga Arga , karena Arga ingin mereka semua nya berpencar mencari keberadaan Marsha nya dengan cepat , diri nya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi , karena telat sedikit saja seperti beberapa hari yang lalu . Tidak lupa kedua orang tua Arga Jordan dan Darta juga ikut mencari tidak lupa menyebar para anak buah nya kesana-kemari .
Deg
Di tengah lampu merah yang masih setia itu , pandangan Arga tidak sengaja menatap seseorang .
Arga menyipitkan sebelah mata nya ketika melihat seseorang yang tidak asing bagi nya . Arga mencoba memastikan nya lagi , agar bisa lebih yakin , jika yang di lihat nya tidak salah !
Gothcah
Benar sekali , yang di lihat nya memang tidak salah , dan tepat sesuai pemikiran nya . Arga sudah menebak sebelum nya siapa yang membawa sang istri pergi , karena Arga melihat dari postur tubuh seseorang yang menculik sang istri tadi lewat cctv ..
Arga tersenyum miring , dengan tangan nya yang terkepal sempurna .
"Mau mencoba bersandiwara hm ? Ternyata baru beberapa jam saja ,sudah tidak tahan ! Aku akan mengikuti sandiwara mu " ucap nya dengan seringai nya .
Arga lalu mengklik sesuatu yang ada di telinga nya , yang ternyata langsung menghubungkan antara diri nya , Revan , Jorda dan Darta .
"Aku tahu dimana Marsha , ikuti GPS mobil ku "
__ADS_1
Klik
Arga langsung melajukan mobil milik nya ketika lampu yang tadi nya merah kini berubah menjadi hijau , pandangan nya tidak hilang dari objek yang tengah membawa sepeda motor sport di depan nya . Walaupun dengan jarak yang tidak terlalu dekat , tapi mata Arga tidak awas memperhatikan kemana arah sepeda motor sport tersebut .
"Mau mencoba mengambil apa yang sudah menjadi milik ku hm ? Dulu , sekarang , dan sampai kapan pun Marsha hanya milik ku. Hanya milik Argantara Kusuma . "
____oOo___
"Apa ?? Van--Vandra meninggal?" Pekik Tristan ketika diri nya sampai di rumah milik Reni -sepupu Kavandra . Setelah tadi Tristan menjenguk sang Mama yang masih koma , pria itu berinisiatif menanyakan keberadaan Kavandra dan Marsha , sebab ponsel kedua nya sama-sama tidak aktif . Ingin menghubungi Arga atau Revan ? Diri masih kesal dengan kedua orang itu . Yang selalu mencari ribut dengan nya setiap bertemu , apa lagi saat diri nya hubungi ! Mungkin bisa-bisa nomor nya langsung di blokir oleh mereka berdua .
Reni menundukkan kepala nya , lalu mengangguk kecil . "Joy yang udah nusuk Vandra , Tris "
Tristan mengepalkan kedua tangan nya di samping tubuh nya. Diri nya sangat marah dan emosi ketika mendengar nama itu . Nama yang sudah membuat hidup sang adik hancur berkeping-keping , bukan Kavandra Alianda , yang selama ini di kambing hitam kan , dan heran nya pria itu masih bisa hidup baik-baik saja , dan parah nya malah menghasut dan memfitnah orang lain , atas perbuatan yang telah di lakukan nya .
Tristan tidak akan membiarkan nama itu hidup dalam ketenangan . Nama itu sudah membuat keluarga nya hancur lebur . Adik nya depresi , Mama nya koma , dan kakak nya menjadi jahat karena nama itu .
CK menyebut nya saja membuat nya najis .
"Marsha baik-baik aja kan ?" Tanya Tristan .
Tristan menghembuskan nafas nya kasar , "thank ya Ren , kalau gitu gue cabut dulu . Gue mau ke penjara dulu ." Ucap Tristan .
"Tris gue ikut" seru Reni membuat langkah kaki Tristan berhenti , lalu membalikkan tubuh nya menatap ke arah Reni sambil mengangguk singkat .
___oOo___
"Esshhhh" Marsha meringis , memegangi kepala nya yang sedikit berdenyut .
Marsha lalu membuka sedikit demi sedikit kedua bola mata nya , menyesuaikan rasa denyut yang ada di kepala nya .
Marsha lalu membulat kan kedua bola mata nya ketika mengingat sesuatu ...
Marsha menatap pantulan diri nya di depan cermin , setelah beberapa karyawan make up permisi keluar , dirinya sendirian di kamar nya .
Marsha menghembuskan nafas nya panjang , sebentar lagi diri nya sah menjadi istri dari Arga , senang pasti, tapi ada rasa sesak di dalam dada nya ketika mengingat Kavandra , Kavandra yang telah mempertaruhkan nyawa nya demi nya .
__ADS_1
"Maaf Van , tapi pernikahan nya enggak bisa di undur . Aku udah coba bilang , aku harap kamu yang tenang ya di sana" lirih Marsha .
Krek
Marsha yang tengah duduk di depan meja rias nya terkejut ketika mendengar suara jendela kamar milik nya berbunyi .
Marsha lalu mendekat , menyibak gorden , dan
Deg
Marsha membulat kan kedua bola mata nya sempurna ketika melihat seseorang yang ada di depan jendela kaca tersebut , ah lebih tepat nya sudah membuka jendela nya. Dan sudah masuk tepat berdiri di dekat nya . Sambil membuka masker nya .
Marsha mengucek mata nya demi mencari kebenaran tentang penglihatan nya .
Dan ternyata benar .
"Ka--kamu"
Pria itu tersenyum miring , lalu sedetik kemudian tubuh Marsha limbung ketika sesuatu benda menancap sempurna di pundak nya . Tapi Marsha masih bisa sayup mendengar perkataan dari pria itu .
"Maafin aku Sha , aku harus melakukan nya "
Dan setalah nya tubuh Marsha melayang di udara , lalu rasa kantuk menyerang dan Marsha tidak mengingat nya sama sekali .
___
Cklek
Marsha memejamkan kedua bola mata nya lagi ketika melihat ada seseorang yang membuka pintu ruangan tersebut , lalu terdengar langkah kaki nya yang melangkah masuk dan mendekat ke arah Marsha yang tengah berbaring .
Meletakkan kresek yang berisi makanan yang baru saja di beli nya tadi , pria itu memandang Lamat wajah teduh Marsha .
"Sha maafin aku"
"Aku ---"
__ADS_1
Brak