Cinta Marsha

Cinta Marsha
Episode 15


__ADS_3

Marsha melenguh ketika diri nya membuka mata nya , sakit di kepala nya menderap . Ia memandang ke sekeliling ruangan tersebut . Ruangan bernuansa putih itu sangat lah asing bagi nya . Tidak seperti di kamar nya .


Marsha memegangi kepala nya yang masih berdenyut , mengingat apa yang terjadi tadi . Dan saat diri nya mengingat semua nya , Marsha langsung bangkit dari tidur nya , mengedarkan pandangan nya ke sana kemari , di sana tidak ada orang satu pun.


Marsha bangkit , dengan tubuh yang masih lemah , Marsha memaksakan diri untuk melangkah menuju ke ruangan ICU . Dimana di sana ada Kavandra yang tengah terbaring koma .


Tidak jauh , Marsha bisa melihat seluruh anggota keluarga Kavandra, kakek Malik , bibi Kavandra -- Mama Reni , bahkan Reni ada juga di sana , dan Marsha juga melihat Omi nya ada di sana .


Tapi tunggu dulu , mereka semua nya menangis ada apa ? Pikir Marsha.


Marsha berjalan tergesa-gesa ke sana , di sana dapat Marsha lihat semua orang tengah dalam kondisi menegang , dan berderai air mata .


Bug


"Maaf Nona , saya terburu-buru" ucap salah satu perawat yang tidak sengaja menabrak Marsha . Perawat tersebut langsung berlalu dari sana .


Set


Marsha , terkejut ketika sebuah kertas terjatuh di bawah nya , Marsha meraih nya lalu membuka nya .


Deg


Jantung Marsha berdenyut ketika membaca nya .


Tidak lama ada seorang lagi yang melewati Marsha , Marsha mencegat nya , mencoba bertanya .


"Ada apa ?" Tanya Marsha .


"Pasien collapse . Maaf , saya buru-buru"


Deg


Jantung Marsha berhenti berdetak , melangkah kan kaki nya segera , Marsha berdiri di depan ruangan ICU dengan pikiran yang kacau .


"Sha " semua orang mendongak menatap Marsha yang menatap kosong ruang ICU tersebut .


Reni yang ada di sana langsung memeluk tubuh sang sahabat . "Sha , Vandra -- Vandra --"


"Dia bodoh Ren, dia bodoh . Aku udah bilang sama dia buat lupain semua cinta nya sama aku . Tapi apa ? Dia --" suara Marsha berhenti , tercekat di tenggorokan , rasa nya tidak sanggup melanjutkan nya lagi .


"Sha "


"In--ni salah aku . A--ku enggak mau dia kenapa-kenapa Ren . Dia-- saha--bat ku " lirih Marsha .


"Sha "


"Dia bodoh . Kenapa dia enggak habisin waktu nya buat cari lain . Kenapa dia harus mengharapkan aku Ren . Kenapa ??"


"Marsha !!!"


Marsha menggeleng kan kepala nya . "Ini semua karena aku Ren. Aku salah . Aku enggak pernah menerima rasa nya . Dia-- dia " Isak Marsha , menutup wajah nya dengan telapak tangan nya.


"Sha cukup ! Ini bukan salah Lo . Vandra itu murni kecelakaan Sha . Bukan karena Lo ."


"Ta--tapi"

__ADS_1


"Apa ?" Tanya Reni dengan alis yang terangkat .


"Ini apa ?" Marsha menunjukkan sebuah surat yang baru saja di terima nya .


Reni meraih surat tersebut lalu membaca nya .


"Lo dapat darimana ?" Tanya Reni setelah membaca surat tersebut ,


"Dari --"


Ucapan Marsha terputus ketika dokter keluar dari ruangan ICU tersebut .


"Keluarga Kavandra Alinda" panggil sang dokter .


Semua orang mendekat ke arah sang dokter . " Saya kakek nya " sahut kakek Malik .


Menghela nafas nya dalam , sang dokter menatap satu persatu orang yang ada di sana . "Maaf , saya harus menyampaikan berita duka ini , jika pasien tidak bisa bertahan lagi "


Deg


Semua orang lemas , tubuh semua nya jatuh di lantai , termasuk Marsha , diri nya histeris bukan main .


Sementara di tempat yang sama , seseorang tengah tersenyum puas , diri nya mendengar semua yang dokter itu katakan , karena diri nya tidak jauh dari sana .


Melangkah kan kaki nya menuju salah satu perawat , pria itu menyerahkan amplop coklat kepada nya .


"Kerja beres , " ucap nya .


Sang perawat tersenyum , "terimakasih "


Pria itu mengangguk kan kepala nya , berlalu pergi dari sana dengan perasaan bahagia .


"Anji*r, Ga , Arga !!!" Teriak Revan yang baru saja sampai di apartemen milik Arga .


Masih dengan nafas yang ngos-ngosan Revan , duduk di samping Arga yang memasang wajah santai . "Lo harus tau"


"Tau apa ? " Tanya Arga santai .


"Vandra kecelakaan Ga "


Deg


Arga tersentak , buru-buru Arga menegakkan tubuh nya menatap panik ke arah Revan .


"Ga , Lo bukan yang nabrak--"


"Lo gila " sentak Arga .


"Jadi ? Bisa Lo jelasin enggak , mobil penyok Lo kenapa ?" Tanya Revan dengan mata nya yang menyipit .


Menghela nafas nya kasar , Arga , berdekhem sejenak .


"Jadi gini --"


Flashback ♥

__ADS_1


Arga yang kesal dengan sang papa , langsung keluar dari dalam rumah papa nya . Tidak menghiraukan teriakan sang papa , Arga malah meraih kunci yang ada di atas nakas . Arga pikir diri nya membawa kunci sepeda motor sport milik nya . Tapi Arga salah , diri nya malah membawa kunci mobil .


Sial !


Mau balik lagi ,tapi Arga tidak ingin berdebat lagi dengan sang papa . Berakhirlah diri nya mau tidak mau membawa mobil tersebut .


Melajukan nya mobil tersebut , meninggalkan kediaman keluarga nya , Arga membawa nya dengan kecepatan sedang .


Namun tiba-tiba di sebuah persimpangan , ada bapak-bapak pembawa gerobak main nyelonong aja . Arga nyaris ngerem mendadak , tapi sayang , kecelakaan tidak bisa di hindari . Arga menabrak bapak-bapak tersebut .


"Astaga !! Gue nabrak orang . Bisa mati gue sama Darta " pekik Arga . Arga langsung keluar dari dalam mobil mengecek kondisi bapak-bapak tersebut .


"Pak , enggak kenapa-kenapa?" Tanya Arga dengan raut wajah panik .


Bapak-bapak tersebut menggeleng kan kepala nya , Arga membantu membangun kan bapak tersebut , lalu melangkah kan kaki nya ke Arga gerobak bapak tersebut yang sudah hancur sedikit . Untung saja orang nya tidak kenapa-kenapa.


"Pak saya ganti ya "


Bapak tersebut menggeleng kan kepala nya . "Ini salah saya den , saya yang jalan enggak lihat-lihat" sahut bapak tersebut , lalu melirik ke arah mobil Arga . "Itu mobil Aden ,sampe penyok ,aduh saya minta maaf banyak , saya enggak ada uang den buat ganti nya " lirih bapak tersebut .


Arga melirik sekilas mobil yang di bawa nya tadi .


Sial !! Penyok , bisa mampus kalau Darta tau .


Tapi Arga tidak mungkin tega dengan bapak tersebut , Arga meraih dompet yang ada di saku celana nya , lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah di dalam sana , memberikan nya kepada sang bapak tersebut .


Bapak tersebut menolak nya .


"Ambil pak , saya tetap salah . Saya harap itu cukup untuk memperbaiki gerobak bapak " ucap Arga .


" Tapi den "


"Sudah ya pak , saya permisi dulu , sekali lagi maaf ya pak " ucap Arga lalu berlalu dari sana .


_____


"Gitu cerita nya ogeb" ucap Arga kesal .


"Oh" sahut Revan , lalu menatap kembali ke arah Arga . "Gue pikir Lo nekad celakain Vandra ."


Arga berdecak kesal . "Lo gila ! Lo pikir gue berani buat hal kayak gitu . Bisa di habisi gue sama kakek Zayn . Vandra itu cucu sahabat nya "


Revan mengangguk kan kepala nya . "Jadi tadi waktu di parkiran apartemen , gue tanya kenapa Lo panik ?"


Arga memukul kepala Revan kesal . Membuat sang empunya meringis ",Gimana gue enggak panik sialan . Lo itu ember banget sama bokap gue . Bisa-bisa Darta nanti mencak-mencak pas tau kalau gue nabrak orang " sahut Arga kesal .


Revan berdecih . "Lah kenapa Lo cerita ?"


"Lo tadi nuduh gue , ya gue cerita lah Revan , " kesal Arga .


Revan terkekeh , ",gitu aja marah"


Arga melengos .


"Oiya Ga , ke rumah sakit yuk , biar gimanapun Vandra dulu sahabat kita juga ." Ajak Revan .

__ADS_1


Arga diam sesaat , tapi setelah nya diri nya mengangguk kan kepala nya .


Lalu kedua nya pergi menuju ke rumah sakit ..


__ADS_2