
Marsha melenguh ketika diri nya membuka mata nya , sakit di kepala nya menderap . Ia memandang ke sekeliling ruangan tersebut . Ruangan bernuansa putih itu sangat lah asing bagi nya . Tidak seperti di kamar nya .
Marsha memegangi kepala nya yang masih berdenyut , mengingat apa yang terjadi tadi . Dan saat diri nya mengingat semua nya , Marsha langsung bangkit dari tidur nya , mengedarkan pandangan nya ke sana kemari , di sana tidak ada orang satu pun.
Marsha bangkit , dengan tubuh yang masih lemah , Marsha memaksakan diri untuk melangkah menuju ke ruangan ICU . Dimana di sana ada Kavandra yang tengah terbaring koma .
Tidak jauh , Marsha bisa melihat seluruh anggota keluarga Kavandra, kakek Malik , bibi Kavandra -- Mama Reni , bahkan Reni ada juga di sana , dan Marsha juga melihat Omi nya ada di sana .
Tapi tunggu dulu , mereka semua nya menangis ada apa ? Pikir Marsha.
Marsha berjalan tergesa-gesa ke sana , di sana dapat Marsha lihat semua orang tengah dalam kondisi menegang , dan berderai air mata .
Bug
"Maaf Nona , saya terburu-buru" ucap salah satu perawat yang tidak sengaja menabrak Marsha . Perawat tersebut langsung berlalu dari sana .
Set
Marsha , terkejut ketika sebuah kertas terjatuh di bawah nya , Marsha meraih nya lalu membuka nya .
Deg
Jantung Marsha berdenyut ketika membaca nya .
Tidak lama ada seorang lagi yang melewati Marsha , Marsha mencegat nya , mencoba bertanya .
"Ada apa ?" Tanya Marsha .
"Pasien collapse . Maaf , saya buru-buru"
Deg
Jantung Marsha berhenti berdetak , melangkah kan kaki nya segera , Marsha berdiri di depan ruangan ICU dengan pikiran yang kacau .
"Sha " semua orang mendongak menatap Marsha yang menatap kosong ruang ICU tersebut .
Reni yang ada di sana langsung memeluk tubuh sang sahabat . "Sha , Vandra -- Vandra --"
"Dia bodoh Ren, dia bodoh . Aku udah bilang sama dia buat lupain semua cinta nya sama aku . Tapi apa ? Dia --" suara Marsha berhenti , tercekat di tenggorokan , rasa nya tidak sanggup melanjutkan nya lagi .
"Sha "
"In--ni salah aku . A--ku enggak mau dia kenapa-kenapa Ren . Dia-- saha--bat ku " lirih Marsha .
"Sha "
"Dia bodoh . Kenapa dia enggak habisin waktu nya buat cari lain . Kenapa dia harus mengharapkan aku Ren . Kenapa ??"
"Marsha !!!"
Marsha menggeleng kan kepala nya . "Ini semua karena aku Ren. Aku salah . Aku enggak pernah menerima rasa nya . Dia-- dia " Isak Marsha , menutup wajah nya dengan telapak tangan nya.
"Sha cukup ! Ini bukan salah Lo . Vandra itu murni kecelakaan Sha . Bukan karena Lo ."
"Ta--tapi"
__ADS_1
"Apa ?" Tanya Reni dengan alis yang terangkat .
"Ini apa ?" Marsha menunjukkan sebuah surat yang baru saja di terima nya .
Reni meraih surat tersebut lalu membaca nya .
"Lo dapat darimana ?" Tanya Reni setelah membaca surat tersebut ,
"Dari --"
Ucapan Marsha terputus ketika dokter keluar dari ruangan ICU tersebut .
"Keluarga Kavandra Alinda" panggil sang dokter .
Semua orang mendekat ke arah sang dokter . " Saya kakek nya " sahut kakek Malik .
Menghela nafas nya dalam , sang dokter menatap satu persatu orang yang ada di sana . "Maaf , saya harus menyampaikan berita duka ini , jika pasien tidak bisa bertahan lagi "
Deg
Semua orang lemas , tubuh semua nya jatuh di lantai , termasuk Marsha , diri nya histeris bukan main .
Sementara di tempat yang sama , seseorang tengah tersenyum puas , diri nya mendengar semua yang dokter itu katakan , karena diri nya tidak jauh dari sana .
Melangkah kan kaki nya menuju salah satu perawat , pria itu menyerahkan amplop coklat kepada nya .
"Kerja beres , " ucap nya .
Sang perawat tersenyum , "terimakasih "
Pria itu mengangguk kan kepala nya , berlalu pergi dari sana dengan perasaan bahagia .
"Anji*r, Ga , Arga !!!" Teriak Revan yang baru saja sampai di apartemen milik Arga .
Masih dengan nafas yang ngos-ngosan Revan , duduk di samping Arga yang memasang wajah santai . "Lo harus tau"
"Tau apa ? " Tanya Arga santai .
"Vandra kecelakaan Ga "
Deg
Arga tersentak , buru-buru Arga menegakkan tubuh nya menatap panik ke arah Revan .
"Ga , Lo bukan yang nabrak--"
"Lo gila " sentak Arga .
"Jadi ? Bisa Lo jelasin enggak , mobil penyok Lo kenapa ?" Tanya Revan dengan mata nya yang menyipit .
Menghela nafas nya kasar , Arga , berdekhem sejenak .
"Jadi gini --"
Flashback ♥
__ADS_1
Arga yang kesal dengan sang papa , langsung keluar dari dalam rumah papa nya . Tidak menghiraukan teriakan sang papa , Arga malah meraih kunci yang ada di atas nakas . Arga pikir diri nya membawa kunci sepeda motor sport milik nya . Tapi Arga salah , diri nya malah membawa kunci mobil .
Sial !
Mau balik lagi ,tapi Arga tidak ingin berdebat lagi dengan sang papa . Berakhirlah diri nya mau tidak mau membawa mobil tersebut .
Melajukan nya mobil tersebut , meninggalkan kediaman keluarga nya , Arga membawa nya dengan kecepatan sedang .
Namun tiba-tiba di sebuah persimpangan , ada bapak-bapak pembawa gerobak main nyelonong aja . Arga nyaris ngerem mendadak , tapi sayang , kecelakaan tidak bisa di hindari . Arga menabrak bapak-bapak tersebut .
"Astaga !! Gue nabrak orang . Bisa mati gue sama Darta " pekik Arga . Arga langsung keluar dari dalam mobil mengecek kondisi bapak-bapak tersebut .
"Pak , enggak kenapa-kenapa?" Tanya Arga dengan raut wajah panik .
Bapak-bapak tersebut menggeleng kan kepala nya , Arga membantu membangun kan bapak tersebut , lalu melangkah kan kaki nya ke Arga gerobak bapak tersebut yang sudah hancur sedikit . Untung saja orang nya tidak kenapa-kenapa.
"Pak saya ganti ya "
Bapak tersebut menggeleng kan kepala nya . "Ini salah saya den , saya yang jalan enggak lihat-lihat" sahut bapak tersebut , lalu melirik ke arah mobil Arga . "Itu mobil Aden ,sampe penyok ,aduh saya minta maaf banyak , saya enggak ada uang den buat ganti nya " lirih bapak tersebut .
Arga melirik sekilas mobil yang di bawa nya tadi .
Sial !! Penyok , bisa mampus kalau Darta tau .
Tapi Arga tidak mungkin tega dengan bapak tersebut , Arga meraih dompet yang ada di saku celana nya , lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah di dalam sana , memberikan nya kepada sang bapak tersebut .
Bapak tersebut menolak nya .
"Ambil pak , saya tetap salah . Saya harap itu cukup untuk memperbaiki gerobak bapak " ucap Arga .
" Tapi den "
"Sudah ya pak , saya permisi dulu , sekali lagi maaf ya pak " ucap Arga lalu berlalu dari sana .
_____
"Gitu cerita nya ogeb" ucap Arga kesal .
"Oh" sahut Revan , lalu menatap kembali ke arah Arga . "Gue pikir Lo nekad celakain Vandra ."
Arga berdecak kesal . "Lo gila ! Lo pikir gue berani buat hal kayak gitu . Bisa di habisi gue sama kakek Zayn . Vandra itu cucu sahabat nya "
Revan mengangguk kan kepala nya . "Jadi tadi waktu di parkiran apartemen , gue tanya kenapa Lo panik ?"
Arga memukul kepala Revan kesal . Membuat sang empunya meringis ",Gimana gue enggak panik sialan . Lo itu ember banget sama bokap gue . Bisa-bisa Darta nanti mencak-mencak pas tau kalau gue nabrak orang " sahut Arga kesal .
Revan berdecih . "Lah kenapa Lo cerita ?"
"Lo tadi nuduh gue , ya gue cerita lah Revan , " kesal Arga .
Revan terkekeh , ",gitu aja marah"
Arga melengos .
"Oiya Ga , ke rumah sakit yuk , biar gimanapun Vandra dulu sahabat kita juga ." Ajak Revan .
__ADS_1
Arga diam sesaat , tapi setelah nya diri nya mengangguk kan kepala nya .
Lalu kedua nya pergi menuju ke rumah sakit ..