Cinta Marsha

Cinta Marsha
Episode 18


__ADS_3

" Ma , Mama kenapa enggak kasih tau dulu Jordan sih ?" Seru Jordan ketika Marsha dan Omi baru sampai di rumah . Arga dan Revan juga sudah pamit pulang .


Omi menghela nafas nya dalam . "Nama nya Mama buru-buru Jordan , enggak sempet juga hubuungi kamu ataupun Nia ."


"Tapi setidak nya Mama balas chat aku "



"Mama bilang , Mama aja enggak lihat hp Jordan !!"



"Mama selalu alasan "



"Mas !!" Tegur Nia ketika suara sang suami agak meninggi .



Menghembuskan nafas nya kasar , Jordan meraup wajah nya kasar . "Mama enggak tahu gimana aku khawatir nya , aku takut terjadi sesuatu sama Mama dan Marsha ."



"Nyatanya kami baik-baik saja kan"



Mendengus kesal , Jordan diam , tidak mau lagi berdebat kepada sang Mama , yang pada ujung-ujung nya , diri nya juga yang akan mengalah .



Nia mendekat ke arah Omi , lalu mengelus pundak wanita tua itu dengan lembut . "Ayo Ma , biar Nia antar ke dalam kamar . Pasti Mama sudah lelah , Mama perlu istirahat ," ujar nya .



Omi mengangguk kan kepala nya , tersenyum ke arah Nia . Lalu kedua nya berlalu dari sana meninggal kan Jordan dengan Marsha yang masih berdiri terdiam di sana .



"Sha !"



Suara sang Papa , membuat Marsha mendongak kan kepala nya , Marsha menatap lekat wajah Papa nya , "iya Pa ?"



Menghembuskan nafas nya dalam , Jordan berjalan menuju ke arah sofa , menjatuhkan bokong nya di sana . Lalu menepuk tempat di sebelah nya .



"Sini duduk !" Titah nya .


Marsha menurut , gadis cantik yang mata nya masih sembab itu duduk di samping Papa nya .


"Papa , tau kamu sahabatan sama Kavandra , tapi Papa mau mulai saat ini kamu jauhi dia . Kamu kan tau kamu itu udah jadi tunangan Arga . Kamu harus hargai perasaan Arga, Marsha!!" Ucap Jordan .


__ADS_1


Menghembuskan nafas nya panjang , Marsha tersenyum ke arah sang Papa . "Maaf Pa . Tapi Marhsa sama Vandra udah lama banget sahabatan Pa . Enggak mungkin kan kalau tiba-tiba Marsha jauhin Vandra ." Sahut Marsha menolak lembut permintaan Papa nya .



"Sha !!"



"Iya pa " Marsha menundukkan kepala nya ketika sang Papa menatap nya dengan tatapan yang tajam .



"Kamu harus nurut apa yang Papa katakan !! Mulai sekarang jauhi Kavandra . Apa pun alasan nya !"



"Tapi Pa --"



"Kamu mau jadi anak pembangkang?"



Marsha menggeleng lemah , diri nya tidak berani membantah apa pun yang di ucapkan sang Papa .



"Yasudah , sekarang kamu masuk ke dalam kamar kamu . Ingat , beberapa hari lagi status kamu sudah berubah menjadi istri Arga . Jangam buat Papa malu Sha . Apa lagi di depan keluarga Arga" peringat Jordan .


Marsha mengangguk kan kepala nya , lalu bangkit dari duduk nya dan melangkahkan kaki nya menuju ke dalam kamar nya dengan perasaan yang tidak menentu .


Arga dan Revan masih di dalam mobil menuju ke apartemen . Selama di dalam perjalanan Arga masih dalam kebungkaman , tadi saja diri nya hanya menyapa Jordan , Nia , tidak menyapa dan menggajak berbicara Marsha sama sekali .


Revan melirik ke arah Arga , pria itu berdecak kesal , "Ga lo kenapa sih ? Lagi pms?" Celetuk Revan asal.



Arga masih diam , tidak menjawab pertanyaan Revan , diri nya masih fokus menyetir mobil nya ,



"Ga !! Lo marah sama gue?"



Diam -- Arga masih terdiam , tanpa berniat menjawab Revan .



"Ga !!"



"Gue kesel sama lo tai"



"Ga !! "

__ADS_1



"Ah emang kawan sialan lo Ga" ucap Revan frustasi . Lalu memalingkan wajah nya ke arha luar jendela . Revan pura-pura ngambek ni guys sama Arga .



Arga melirik Revan sekilas dengan ekor mata nya . Berdecih sinis , Arga lalu menghentikan laju mobil nya .



Ciiiiit


Revan langsung tersentak , lalu menoleh ke arah Arga yang masih memandang lurus ke depan .


"Kenapa berhenti ogeb?"



Arga tidak memperdulikan pertanyaan Revan , Arga malah menangkup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya .



Tubuh Arga bergetar .



Revan sampai di buat membulatkan kedua bola mata nya ketika melihat pemandangan di depan nya saat sekarang ini .


Revan melepaskan sealt bealt nya , tangan nya terulur menyentuh bahu Arga yang begetar .


"Ga lo --"



"Van lo bener. Lo bener apa yang lo bilang tempo hari . Hari ini gue nyesel banget Van . Gue nyesel apa yang udah gue perbuat" isak Arga di sela kata-kata nya .



"Ga , gue em---"



"Van , sakit , hati gue sakit Van , hati gue sakit ketika lihat mata Marsha bengkak , karena nangisin Vandra . Gue --" Arga sampai tidak sanggup melanjutkan kata-katanya ,



Revan menghela nafas nya panjang , "kita ganti posisi sekarang ! Gue yang nyetir , lo bisa curhat lagi kalau udah sampe apartemen" ucap Revan yang kemudian membuka pintu mobil dan keluar .



Arga tidak menjawab , tapi diri nya menurut .


Setelah bertukar posisi, dan Revan yang menyetir , mobil milik Arga membela jalanan ibukota dengan kecepatan sedang .


Revan sempat melirik ke arah samping nya dimana Arga tengah memandang ke arah kaca samping mobil .



Menghembuskan nafas nya kasar , "Gue kan udah bilang sebelum nya Ga , tapi lo enggak pernah mau dengerin gue" ucap Revan yang hanya bisa membatin , mau bilang langsung Revan takut malah semakin membuat Arga tidak karuan .

__ADS_1


__ADS_2