
" Ma , Mama kenapa enggak kasih tau dulu Jordan sih ?" Seru Jordan ketika Marsha dan Omi baru sampai di rumah . Arga dan Revan juga sudah pamit pulang .
Omi menghela nafas nya dalam . "Nama nya Mama buru-buru Jordan , enggak sempet juga hubuungi kamu ataupun Nia ."
"Tapi setidak nya Mama balas chat aku "
"Mama bilang , Mama aja enggak lihat hp Jordan !!"
"Mama selalu alasan "
"Mas !!" Tegur Nia ketika suara sang suami agak meninggi .
Menghembuskan nafas nya kasar , Jordan meraup wajah nya kasar . "Mama enggak tahu gimana aku khawatir nya , aku takut terjadi sesuatu sama Mama dan Marsha ."
"Nyatanya kami baik-baik saja kan"
Mendengus kesal , Jordan diam , tidak mau lagi berdebat kepada sang Mama , yang pada ujung-ujung nya , diri nya juga yang akan mengalah .
Nia mendekat ke arah Omi , lalu mengelus pundak wanita tua itu dengan lembut . "Ayo Ma , biar Nia antar ke dalam kamar . Pasti Mama sudah lelah , Mama perlu istirahat ," ujar nya .
Omi mengangguk kan kepala nya , tersenyum ke arah Nia . Lalu kedua nya berlalu dari sana meninggal kan Jordan dengan Marsha yang masih berdiri terdiam di sana .
"Sha !"
Suara sang Papa , membuat Marsha mendongak kan kepala nya , Marsha menatap lekat wajah Papa nya , "iya Pa ?"
Menghembuskan nafas nya dalam , Jordan berjalan menuju ke arah sofa , menjatuhkan bokong nya di sana . Lalu menepuk tempat di sebelah nya .
"Sini duduk !" Titah nya .
Marsha menurut , gadis cantik yang mata nya masih sembab itu duduk di samping Papa nya .
"Papa , tau kamu sahabatan sama Kavandra , tapi Papa mau mulai saat ini kamu jauhi dia . Kamu kan tau kamu itu udah jadi tunangan Arga . Kamu harus hargai perasaan Arga, Marsha!!" Ucap Jordan .
__ADS_1
Menghembuskan nafas nya panjang , Marsha tersenyum ke arah sang Papa . "Maaf Pa . Tapi Marhsa sama Vandra udah lama banget sahabatan Pa . Enggak mungkin kan kalau tiba-tiba Marsha jauhin Vandra ." Sahut Marsha menolak lembut permintaan Papa nya .
"Sha !!"
"Iya pa " Marsha menundukkan kepala nya ketika sang Papa menatap nya dengan tatapan yang tajam .
"Kamu harus nurut apa yang Papa katakan !! Mulai sekarang jauhi Kavandra . Apa pun alasan nya !"
"Tapi Pa --"
"Kamu mau jadi anak pembangkang?"
Marsha menggeleng lemah , diri nya tidak berani membantah apa pun yang di ucapkan sang Papa .
"Yasudah , sekarang kamu masuk ke dalam kamar kamu . Ingat , beberapa hari lagi status kamu sudah berubah menjadi istri Arga . Jangam buat Papa malu Sha . Apa lagi di depan keluarga Arga" peringat Jordan .
Marsha mengangguk kan kepala nya , lalu bangkit dari duduk nya dan melangkahkan kaki nya menuju ke dalam kamar nya dengan perasaan yang tidak menentu .
Arga dan Revan masih di dalam mobil menuju ke apartemen . Selama di dalam perjalanan Arga masih dalam kebungkaman , tadi saja diri nya hanya menyapa Jordan , Nia , tidak menyapa dan menggajak berbicara Marsha sama sekali .
Revan melirik ke arah Arga , pria itu berdecak kesal , "Ga lo kenapa sih ? Lagi pms?" Celetuk Revan asal.
Arga masih diam , tidak menjawab pertanyaan Revan , diri nya masih fokus menyetir mobil nya ,
"Ga !! Lo marah sama gue?"
Diam -- Arga masih terdiam , tanpa berniat menjawab Revan .
"Ga !!"
"Gue kesel sama lo tai"
"Ga !! "
__ADS_1
"Ah emang kawan sialan lo Ga" ucap Revan frustasi . Lalu memalingkan wajah nya ke arha luar jendela . Revan pura-pura ngambek ni guys sama Arga .
Arga melirik Revan sekilas dengan ekor mata nya . Berdecih sinis , Arga lalu menghentikan laju mobil nya .
Ciiiiit
Revan langsung tersentak , lalu menoleh ke arah Arga yang masih memandang lurus ke depan .
"Kenapa berhenti ogeb?"
Arga tidak memperdulikan pertanyaan Revan , Arga malah menangkup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya .
Tubuh Arga bergetar .
Revan sampai di buat membulatkan kedua bola mata nya ketika melihat pemandangan di depan nya saat sekarang ini .
Revan melepaskan sealt bealt nya , tangan nya terulur menyentuh bahu Arga yang begetar .
"Ga lo --"
"Van lo bener. Lo bener apa yang lo bilang tempo hari . Hari ini gue nyesel banget Van . Gue nyesel apa yang udah gue perbuat" isak Arga di sela kata-kata nya .
"Ga , gue em---"
"Van , sakit , hati gue sakit Van , hati gue sakit ketika lihat mata Marsha bengkak , karena nangisin Vandra . Gue --" Arga sampai tidak sanggup melanjutkan kata-katanya ,
Revan menghela nafas nya panjang , "kita ganti posisi sekarang ! Gue yang nyetir , lo bisa curhat lagi kalau udah sampe apartemen" ucap Revan yang kemudian membuka pintu mobil dan keluar .
Arga tidak menjawab , tapi diri nya menurut .
Setelah bertukar posisi, dan Revan yang menyetir , mobil milik Arga membela jalanan ibukota dengan kecepatan sedang .
Revan sempat melirik ke arah samping nya dimana Arga tengah memandang ke arah kaca samping mobil .
Menghembuskan nafas nya kasar , "Gue kan udah bilang sebelum nya Ga , tapi lo enggak pernah mau dengerin gue" ucap Revan yang hanya bisa membatin , mau bilang langsung Revan takut malah semakin membuat Arga tidak karuan .
__ADS_1