Cinta Mr. Boy

Cinta Mr. Boy
Awal kehancuran Mr. boy


__ADS_3

Thomas chadwik yang mengalami kerugian besar atas perampokan yang terjadi waktu lalu, tidak mau mengalami perampokan untuk kedua kalinya.


Kali ini Thomas akan berbisnis dengan orang yang katanya mendapatkan barang-barang kuno dari peninggalan China berupa lukisan bunga dan burung dari zaman dinasti Qing yang terbuat dari sutra asli.


Thomas yang sudah deal dengan orang tersebut tidak sedikitpun curiga kalau lukisan itu hanyalah berupa potretnya saja, dengan lugu ia mentransfer sejumlah uang yang cukup besar untuk tanda jadi lukisan tersebut.


Kevin yang tampak curiga dengan orang yang berbisnis dengan tuanya itu mencoba memberitahu pendapatnya tentang orang yang berbisnis dengan tuannya, namun sayangnya Thomas tidak menghiraukan pendapat Kevin.


Thomas melihat Kevin yang daritadi terus memperhatikannya. "Kevin, apa kau ingin berbicara sesuatu?"


"iya tuan Thomas"


Thomas menebak Kevin ingin ikut dengannya. "Kali ini aku sendiri yang akan turun tangan kelapangan, agar kesalahan fatal seperti kemarin tidak terjadi lagi dan untuk kamu Kevin aku akan kasih kamu tugas untuk menunggu dikantor saja, sebab aku tidak ingin ada yang menyobatase kantor ini saat aku tidak ada ditempat."


Kevin merasa kecewa kepada tuannya namun ia tidak dapat membantah perintah darinya. "Baiklah tuan." namun disisi lain Kevin mengkhawatirkannya. "Apakah tuan Thomas akan pergi sendiri?."


"soal itu, . . . .?" Thomas berpikir sejenak, jika ia seorang diri yang pergi, akankah dia mampu mengatasi para cucunguk itu, lalu Thomas tiba-tiba terpikir tentang satu orang yang dapat membantunya. "tentu saja, . . . tidak Kevin, karena aku akan meminta bantuan pada Jonathan."


Thomas keluar kantor menuju lokasi dimana lukisan itu dikirim, dan tak lupa didalam perjalanannya ia menghubungi Jonathan untuk bertemu di lokasi yang akan ia tuju.


Thomas sedikit khawatir dengan apa yang dikatakan Kevin, ia tak ingin bisnisnya kali ini gagal, karena ia hanya melihat lukisan itu dari sebuah potret saja, dan belum sempat melihat lukisan aslinya.


*********


Jonathan yang sudah tiba lebih dahulu dari Thomas, melihat sebuah mobil yang sangat mencurigakan dan tampak tidak asing baginya, ia diam-diam memata-matai mobil itu, dan Benar saja itu adalah didalam mobil ia melihat James Cameron bersama anak buahnya, namun Jonathan tampak melihat seorang pria yang sedang berbincang dengannya dari dalam mobil .


Jonathan lebih mendekati kearah James dan Betapa kagetnya Jonathan melihat seorang pria yang sedang berbincang dengan James mirip sekali dengan Thomas.


Apakah mungkin itu Thomas, tapi mengapa dia berbincang-bincang dengan James, bukankah Thomas janjian bertemu denganku disini pikir Jonathan.


Tidak lama kemudian mobil yang berisikan pria yang mirip dengan Thomas pergi.


Setelah mobil itu pergi, dari arah yang berlawanan sebuah mobil parkir lagi ditempat yang sama dengan mobil tadi.


Jonathan penasaran kali ini siapa kira-kira yang ada dimobil itu, ia pun menghampiri mobil tersebut dan Jonathan tampak kebingungan dengan orang yang ada dimobil, lalu menampar pipinya sendiri ingin membuktikan kalau penglihatannya tidak salah.


Thomas yang baru sampai heran melihat tingkah aneh yang Jonathan lakukan. "Apa yang kau lakukan Jo, tampaknya kau sedikit agak aneh, apakah karena kau menungguku terlalu lama makanya kau terlihat seperti orang Bingung?."

__ADS_1


Jonathan merasa kesakitan akibat tamparannya sendiri, ia mendekat pada Thomas ingin membuktikan kalau ia tidak salah lihat. "Kau yang aneh kawan, mengapa kau berganti mobil saat kau sudah berada disini bersama James Cameron tadi?."


Thomas mengarahkan tangannya pada Jonathan yang tampak bingung seperti habis melihat hantu. " Jo . . . .?." Jonathan tidak juga bergeming dan dengan terpaksa Thomas memeriksa keningnya. "Apa kau sedang tidak enak badan hari ini, Mengapa kau mengira kalau aku bertemu dengan James di tempat ini Tanpa memberitahu mu dulu?"


Jonathan yang tetap bersikeras jika yang dilihat oleh matanya itu benar Thomas, tidak terima karena Thomas memungkirinya. "kalau bukan kau, siapa tadi pria yang kulihat sedang berbincang dengan James tadi, ditempat persis seperti ini?."


Thomas terperanjat kaget mendengar perkataannya. "Apa kau bilang, pria yang berbincang dengan James, aku bahkan tidak melihat James hari ini. coba kau ceritakan rupa pria tersebut."


James menceritakan tentang pria yang dilihatnya tadi. "Pria itu tampak persis dengan mu hanya saja dia memiliki warna kulit putih, dan berambut ikal"


Thomas tidak percaya apa yang dijelaskan oleh temannya, bukankah barusan yang dia bicarakan itu ciri-ciri saudara tirinya, lalu mengapa Bernard berada disini tanpa memberikan kabar kepadanya terlebih dahulu. "Apa kau tidak salah lihat Jo?"


Jonathan merasa terhina dengan perkataannya. "tentu saja tidak kawan, aku ini dikenal dengan mata Elang jadi mana mungkin aku bisa salah lihat."


"Baiklah aku percaya padamu Jo." Thomas berusaha agar temannya tenang dalam bersikap. "Jadi apakah kau mendengar apa yang dia bicarakan dengan James?"


Jonathan mengernyitkan dahi karena tidak dapat menjawab pertanyaannya "masalah itu, aku tidak begitu mendengar percakapan mereka karena aku terlalu heran melihat pria yang mirip denganmu itu." tapi ia masih penasaran dengan sosok pria tersebut. "Jadi apakah kau mengenal pria itu Thomas?."


Thomas menjawabnya dengan jawabannya yang tidak pasti. "aku belum begitu yakin dengan itu, tapi kalau memang apa yang dikatakan kau itu benar berarti dia sudah kembali kekota ini"


dengan nada serius ia berkata. "Dia . . . . . adalah Bernard chadwik saudara tiriku!"


Jonathan membelalakkan matanya karena terkejut. " apa . . . ?" sambil menelan ludah ia melanjutkan ucapannya. "Saudara tirimu kau bilang, tapi selama ini aku tidak pernah melihatnya dan kau juga tidak pernah menceritakannya sama sekali padaku."


"selama bertahun-tahun aku juga tidak pernah berjumpa dengannya dan tidak pernah tahu mengenai kabar darinya, tampaknya dia marah kepadaku dan juga ibuku karena kehadiran kami merupakan kehancuran bagi Bernard dan ibunya."


Jonathan yang baru mengetahui cerita mengenai keluarga Thomas sedikit bingung dengan masalah dalam keluarganya.


Thomas melihat Jonathan Tampak bingung dengan apa yang ia ceritakan, ia menepuk bahunya agar Jonathan sadar. "Sudahlah Jo, kau tidak usah memikirkan hal-hal yang tidak penting itu."


namun tidak bagi Jonathan ia tetap merasa ada kejanggalan disini. "tapi ini sedikit mencurigakan kawan, mengapa saudara tirimu itu, berbincang-bincang dengan James?."


Thomas yang menghargai Bernard tidak menaruh secuilpun kecurigaan untuknya. "Mungkin dia ada urusan dengan James."


namum Thomas sedikit penasaran dengan saudaranya itu, tapi dia tidak mau berburuk sangka dan menambah permasalahan dengan saudaranya. "Baiklah Jo, sebaiknya kita membahas hal lain."


"Baiklah Thomas, jadi sekarang kita mau kemana?"

__ADS_1


"Kita akan ketempat dimana lukisan itu berada, dan tugas kamu adalah mengawasi tempat itu dan menjaga lukisan tersebut agar tidak ada lagi yang merampok, dan sebelum ketempat itu kita harus menunggu seseorang yang mengurusi surat-surat tentang tanda jadi terima lukisan itu."


Thomas dan Jonathan menunggu orang tersebut, namun sudah sejam lamanya mereka menunggu, orang itu tidak kunjung datang juga.


Thomas mencoba menghubunginya tapi nomor orang itu tidak bisa dihubungi, Thomas merasa tidak tenang, ia berpikir apakah dirinya sedang ditipu, dan dipermainkan oleh orang tersebut, tapi siapa kira-kira orang yang berani bermain-main dengannya.


Thomas sedang geram saat ini dengan apa yang sudah menimpanya, ia memaki-maki telepon sendiri. karena tidak juga berhasil menghubungi orang yang bertemu janji dengannya.


Jonathan melihat Thomas memaki ditelepon, "Ada apa kawan, apakah terjadi sesuatu hal yang buruk?"


Thomas seperti orang yang kehilangan akal, menjawab pertanyaan dari Jonathan. "ini . . . ini . . . ini . . . . sangat buruk Jo, . . .


tampaknya aku telah ditipu oleh orang tersebut!."


"Bagaimana ini bisa terjadi Thomas, bukankah selama ini kau selalu hati-hati dalam berbisnis?."


" Aku juga tidak tahu, mengapa ini bisa terjadi, karena aku melihat potret lukisannya dan itu tampak mengagumkan dan orang tersebut tampak seperti orang yang tahu tentang benda-benda kuno."


Jonathan juga meras bingung saat ini. "Jadi bagaimana sekarang kawan, apa tindakan kita selanjutnya?"


"Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang, aku telah rugi Jo, karena aku sudah mentransfer sejumlah uang untuk tanda jadi barang tersebut."


"Sudahlah kawan,lebih baik kita menyelidiki orang yang menipu mu itu, lalu kita akan membahas langkah selanjutnya." Jonathan menepuk pundak Thomas untuk bersabar


tiba-tiba Jonathan teringat akan James Cameron yang tadi dilihatnya. "Thomas sepertinya, aku mencurigai James Cameron yang bersama saudaramu tadi, apakah mungkin mereka yang melakukan hal ini padamu?"


"Apa maksudmu Jo, bagaimana mungkin kau bisa mencurigai mereka?."


"Itu hanya praduga ku saja Thomas, tapi tidak menutup kemungkinan kecurigaan ku itu benar bukan?."


"Jadi seperti ini saja Thomas, bagaimana kalau kita menyelidiki saudaramu itu, mengapa dia datang kekota ini dan bertemu dengan James orang yang sudah merampokmu itu?."


Thomas dengan ekspresi wajahnya yang pasrah menyerahkan semuanya pada temannya. "kalau menurutmu hal itu benar, lakukan lah Jo, aku percayakan semuanya padamu."


Jonathan melihat keadaan temannya saat ini sedang membutuhkan istirahat sejenak. "Baiklah Thomas lebih baik kau pulang kekantor dulu, menenangkan pikiranmu yang kacau"


mereka akhirnya berpisah didepan kantor Thomas, Kevin yang melihat tuannya kembali dengan muka yang muram tidak berani menanyakan padanya tentang bisnis yang saat ini dikerjakan oleh tuannya. ia hanya menunggu tuannya terlihat baikkan barulah berani menanyakannya.

__ADS_1


__ADS_2