
Thomas yang menghubungi istrinya terlihat sangat kesal karena sambungan teleponnya selalu saja tak bisa karena tak terdapat sinyal disekitarnya tempat ia menelpon, ia mencoba keluar dari kamarnya namun Thomas tak juga bisa menghubungi Natasha.
karena merasa sangat kesal Thomas hampir saja membanting ponselnya, namun niatnya terhenti saat ia mendengar suara Jonathan.
"apa yang akan kau lakukan pada ponsel tak berdosa itu kawan?."
"Jo, bukankah kau tadi bersama Malika?."
"memang benar, namun aku malas meladeninya, lebih baik aku tidur dan beristirahat didalam. dan ada apa denganmu Thomas?, kau terlihat seperti orang yang frustasi!."
Thomas mengangkat bahunya. "aku memang sedang frustasi saat ini Jo!."
Jonathan menepuk pundak Thomas dengan keras hingga Thomas sendiri merasa kesakitan. "kali ini apa yang membuatmu frustasi kawan?, apakah Natasha marah padamu lagi?."
"lebih baik aku mendengarkan amarahnya daripada aku tak dapat mendengar suaranya
sama sekali."
"apakah Natasha tak menjawab telepon darimu?."
Thomas menggelengkan kepalanya.
"ini bukan masalah dari Natasha Jo, tapi aku tak mendapatkan sinyal ditempat ini!."
Jonathan langsung mengambil ponsel dari saku celananya,dan melihatnya dan benar saja apa yang dikatakan Thomas jika disekitar tempatnya tidak ada sinyal sama sekali.
"pantas saja ia tak mendapatkan kabar dari anak buahnya, mengenai pergerakan Bernard." gumamnya sendiri.
"Thomas masalah ini kita tanyakan saja pada Malika jika bertemu dengannya nanti, karena sekarang ini aku sudah sangat lelah. dan ingin beristirahat agar nanti malam bisa datang pada jamuan makan malam."
"soal makanan saja kau selalu ingat Jo!."
Jonathan langsung tersenyum mendengar ucapan Thomas, Jonathan langsung melangkahkan kakinya untuk pergi beristirahat.
sementara Thomas yang tak dapat menahan kerinduannya terhadap istrinya, pergi menemui Malika untuk menanyakan masalah jaringan sinyal dipulau ini.
Thomas yang sudah hampir berjam-jam mencari Malika akhirnya melihat dirinya sedang duduk dekat pantai dengan pakaiannya yang seksi.
Thomas segera menghampirinya dan menanyakannya langsung kepadanya.
__ADS_1
"mmmmm . . . Malika."
Malika langsung menengok kearah belakang, setelah mendengar suara Thomas. dan ia mengembangkan senyumannya karena menghampirinya disaat ia sedang memikirkan akan kenangan lamanya bersama Thomas.
"Thomas . . . ?, apa kau sudah selesai menghubungi istrimu?."
Thomas menggelengkan kepalanya.
"justru kedatanganku kemari karena baku tak dapat menghubungi istriku, karena tak mendapatkan sinyal dipulau ini."
"benarkah itu?." Malika langsung mencari ponselnya, namun ia lupa jika dirinya tak membawa ponsel saat datang kepantai. Malika menatap wajah Thomas dan tersenyum kecut kepadanya.
"sayang sekali aku tak dapat memastikan ucapanmu karena aku tak membawa ponselku, tapi aku akan menanyakan pada Bos ku mengenai hal ini."
Malika bangkit dari duduknya dan berjalan mengambil minumannya dan berjalan kembali, Thomas yang bingung ingin melakukan hal apa, hanya bisa mengikuti langkah Malika. namun Malika yang melihat Thomas mengikutinya langsung berbalik dan menanyakannya.
"apakah kau ingin ikut denganku?, agar kau mendengar jawaban langsung mengenai masalah ini Thomas."
"tentu saja Malika."
Malika menyipitkan matanya melihat Thomas yang begitu antusias jika menyangkut soal istrinya. "baiklah, kau tunggu saja ku dikafetaria tempat tadi kita membahas bisnis."
"Thomas . . . ?, mengapa kau bersikap tak sabar. aku hanya ingin mengganti pakaianku dan akan segera menyusulmu kesana dan pergi menemui Bos ku."
Wajah Thomas langsung merah mendengar ucapan Malika, hampir saja ia mengikuti Malika keruang ganti pakaian.
Thomas segera pergi dan menunggu Malika ditempat yang dia bilang.
sudah hampir satu jam Thomas menunggu Malika, dan ia mulai merasa jenuh. disaat ia akan pergi tiba-tiba Malika datang bersama seseorang.
"hai Thomas, maafkan aku karena membuatmu terlalu lama menungguku."
"tidak apa-apa, karena aku sudah terbiasa dengan hal ini."
Malika mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Thomas yang sangat tidak biasa baginya. "Thomas ini adalah tuan Michael, orang yang bertanggung jawab atas pulau ini.
dan dia akan menjelaskan kepadamu masalah jaringan sinyal dipulau ini."
Thomas berjabat tangan dengan Michael.
__ADS_1
"hai tuan Thomas, maafkan kami karena fasilitas dipulau ini sangat terbatas. mengenai masalah jaringan sinyal dipulau ini memang sedang memiliki masalah, kami juga sedang berusaha untuk memperbaikinya. agar dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Thomas hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Michael, dan langsung menanyakan solusi untuk masalahnya sendiri.
"maaf tuan, jadi kapan saya dapat menggunakan ponsel kembali?."
Michael menggelengkan kepalanya karena tak dapat memberikan jawaban pasti untuknya. "maafkan saya tuan Thomas, aku juga tak tahu sampai kapan."
Thomas langsung bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Malika dan Michael, karena merasa kesal tak dapat mendengar suara Natasha.
Malika yang melihat Thomas pergi berlari menyusulnya untuk menghibur Thomas, namun bukannya menenangkan dirinya yang ia dapatkan hanya makian dari Thomas.
"kenapa kau mengikutiku Malika?."
"Thomas aku hanya Bingin mencoba untuk menghiburmu."
"Malika lebih baik kau pergi dari hadapanku sekarang, daripada aku melampiaskan kekesalanku padamu."
Malika langsung terdiam mendengar ucapannya, dan Thomas langsung melanjutkan kembali langkahnya. namun ia mendengar langkah Malika yang masih terus mengikutinya, Thomas berbalik dan kembali memaki Malika.
"apa kau tak punya telinga Malika, bukankah aku menyuruhmu pergi!."
"aku tidak mau Thomas." teriaknya membuat semua orang menatap pada Thomas dan Malika, Thomas yang merasa malu langsung menggandeng lengan Malika dan mengajaknya pergi jauh dari keramaian.
setelah sampai ditempat sepi Thomas melepaskan tangannya dari Malika.
"apa maksudmu berteriak didepan umum tadi Malika?, apa kau sengaja ingin mempermalukan diriku?."
Malika terlihat gelisah dan panik saat melihat wajah Thomas yang terlihat seperti gunung berapi yang akan mengeluarkan lahar panasnya. "Tho . . . Tho . . . Thomas maafkan aku, aku tadi spontan berteriak karena kau duluan yang memakiku, aku sungguh minta maaf padamu Thomas. janganlah kau marah seperti ini, bagaimana jika kita minum kopi dikafetaria agar emosimu dapat mereda.
Thomas langsung menghela nafasnya, hampir saja ia meluapkan emosinya karena tak dapat menghubungi istrinya kepada Malika. ia lupa kalau dirinya kini harus berbuat baik didepan Malika agar bisnisnya berjalan dengan lancar. Thomas menganggukkan kepalanya mendengar usul dari Malika.
"baiklah Malika mari kita pergi untuk minum kopi bersama."
Malika langsung mengaitkan lengannya pada Thomas. "ini baru namanya Thomas yang kukenal, mari kita jalan."
Thomas tak dapat melepaskan kaitan tangannya dari Malika, karena Malika terlalu erat memegang lengannya. dengan terpaksa ia berjalan sambil menggandeng Malika disampingnya.
setelah sampai dikafetaria Malika memesan kopi kesukaan Thomas,dan Thomas kaget saat Malika membawakan kopi favoritnya. ia tak mengira Malika masih mengingat apa yang menjadi kesukaannya.
__ADS_1
Thomas memberikan senyuman hangat pada Malika dan ia mulai berandai-andai "andai saja Natasha berada disini, pasti hari ini akan sangat menyenangkan baginya."