
Thomas yang sudah berada dua hari dipulau merasakan kerinduan yang mendalam kepada istrinya, ia selalu memikirkan dan melamunkan Natasha. Jonathan yang merasa bosan akan sikap temannya menegur Thomas Agar segera menyelesaikan urusannya dengan Malika dengan begitu ia juga dapat menyelesaikan bisnisnya dan kembali kekota.
"Thomas apa kau akan seperti ini terus?."
Thomas yang merasa terganggu akan kehadiran Jonathan sedikit marah dengan pertanyaannya. "apa maksudmu Jo?."
Jonathan menggelengkan kepalanya karena bingung dengan sikap temannya ini.
"Thomas, coba kau berpikir realistis. lebih baik kau cepat bertemu Malika dan selesaikan urusanmu dengannya, daripada kau terus-menerus berada disini dan selalu memikirkan istrimu."
" Jo, jika aku pikir-pikir sepertinya aku tidak perlu meminta maaf pada Malika. karena aku berniat ingin membatalkan bisnis ini dan kembali kekota saja."
"apa yang kau pikirkan Thomas, apa kau sedang bergurau. bagaimana kau bisa mengambil keputusan begitu saja tanpa mempertimbangkannya dengan benar."
"Jo, saat ini aku tidak bisa berpikir dan entah kenapa dipikiranku cuma ada Natasha yang sedang menangis menantikan diriku pulang."
Jonathan tertawa meringis mendengar ucapan Thomas. "Thomas apa kau kira Natasha wanita yang rapuh?, cobalah kau berpikir sedikit. bagaimana reaksi tuan Anthony jika kau sudah pergi tapi pulang tanpa membawa hasil sama sekali. tak kusangka kini "Mr.Boy" yang kukenal adalah seorang pria yang mudah menyerah."
Thomas berpikir pada saat itu juga, apa yang dikatakan Jonathan ada benarnya juga. pasti tuan Anthony akan sangat kecewa jika aku pulang dengan kegagalan.
"baiklah Jo, bagaimana jika kita mencari Malika sekarang?."
"itu baru namanya "Mr.Boy" Yang kukenal, tak perlu repot-repot mencari Malika. karena aku melihatnya tadi sedang minum kopi bersama rekan bisnis kita."
"benarkah itu?."
"tentu saja benar kawan."
"baiklah mari kita ikut gabung bersama mereka."
"siap "Mr.Boy" aku dengan senang hati siap menerima perintah darimu!."
Thomas langsung menepuk pundak Jonathan karena dari tadi menyebutkan kata "Mr.Boy" terus, bagaimanapun ia harus mendapatkan bisnis ini agar Anthony bisa bangga kepadanya.
setelah sampai dikafetaria, Thomas melihat Malika tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. dan pada saat itu juga terlintas dipikirannya "mungkin aku terlalu menaruh curiga kepada Malika". Thomas dan Jonathan langsung menghampiri mereka yang sedang berbincang-bincang.
Jonathan melambaikan tangannya serta menyapa mereka. "hallo tuan-tuan, dan nona Malika."
"hai juga tuan Jonathan, apa kalian kesini sudah memutuskan sesuatu?."
__ADS_1
Thomas melambaikan tangannya pada Malika namun sepertinya Malika mengabaikannya.
Thomas segera maju kedepan dan meminta maaf pada Malika didepan semua rekan bisnisnya. "Nona Malika, maafkan atas ucapanku tempo hari. aku sungguh sangat menyesal dengan apa yang telah kulakukan padamu."
Malika menaikkan alisnya sebelah tak menduga jika Thomas akan meminta maaf padanya didepan umum seperti ini, ia tersenyum dan langsung mendekati Thomas serta memeluknya. "Terimakasih Thomas karena kau masih menghargaiku."
Thomas terkejut karena Malika memeluknya dengan erat, ia mencium aroma parfum tubuh Malika dan bau ini sangat disukainya Thomas waktu dulu sekali saat Thomas dan Malika masih sepasang kekasih.
"Malika tolong jaga sikapmu didepan umum."
Malika segera melepaskan pelukannya dari Thomas. "maafkan aku Thomas, aku tadi terlalu gembira."
semua mata menuju pada Malika dan Thomas, tak terkecuali Jonathan ia tak menyangka Malika bersikap begitu berani didepan semua orang.
"jadi bagaimana tuan, apakah bisnis ini bisa kita lanjutkan?."
"tentu saja tuan Jonathan, kami akan dengan senang berbisnis dengan kalian."
satu orang diantara mereka menyodorkan selembar kertas yang berisikan surat perjanjian antara pihak Thomas dan pihak mereka.
Thomas membaca sekilas isi surat perjanjiannya, matanya seketika itu juga langsung melotot tak percaya dengan apa yang sedang dibacanya saat ini.
"apa maksudmu tuan Thomas?, bisa anda jelaskan bagian mana dari isi perjanjian ini yang tidak masuk akal bagimu?."
Thomas melingkari pasal tiga dari isi surat perjanjian yang sangat merugikan baginya, setelah itu ia mengembalikan kertas tersebut kepada rekan bisnisnya.
rekan bisnis Thomas mengambil kertas yang diberikan olehnya. "dengan alasan apa kau menolak pasal tiga ini tuan Thomas?."
Thomas menaikkan alisnya sebelah. "tentu saja aku menolaknya, karena itu sangat merugikan bagiku!."
para rekan Thomas seakan berbisik-bisik dibelakangnya, dan Thomas merasa curiga dengan sikap mereka. namun saat Thomas hendak bangkit dari tempat duduknya, tiba-tiba seseorang diantara mereka mengeluarkan suara. "baiklah tuan Thomas, kami akan mengubahnya jika itu bisa membuat bisnis diantara kita berjalan lancar."
Thomas mengembangkan senyuman yang lebar, saat rekan bisnis setuju dengan ide yang diajukannya. dan kesepakatan antara mereka telah ditandatangani oleh masing-masing pihak.
Jonathan yang tidak mengerti soal bisnis ikut senang saat Thomas tersenyum lebar, walaupun sebenarnya ia menaruh kecurigaan kepada mereka.
Malika yang mengetik ulang surat perjanjian merasa bahagia dan bergumam didalam hatinya. "kali ini kau tak bisa lari dariku lagi Thomas."
Malika menghampiri Thomas sambil tersenyum, memberi ucapan selamat kepadanya. "selamat ya Thomas, dan bos ku mengundangmu untuk makan malam."
__ADS_1
Jonathan yang mendengar hal itu langsung menyahut Malika. "apakah aku tak turut diikut sertakan untuk makan malam."
Thomas langsung menyikut lengannya kepada Jonathan, agar ia tak ikut campur dalam hal ini. "kau berisik sekali Jo!."
Malika langsung tersenyum melihat kelakuan Thomas terhadap Jonathan. "kau boleh ikut Jo, agar temanmu tak menaruh curiga terhadapku!."
Thomas merasa malu dengan apa yang dikatakan Malika, ia tak menyangka kini Malika telah berubah sepenuhnya.
serta Malika tersenyum hangat kepadanya dan itu mengingatkan Thomas akan istrinya.
"Malika jika kau sudah selesai berbicara, aku pamit pergi dahulu karena aku ingin menelepon istriku."
"ya Thomas, silahkan karena aku masih ingin berbicara dengan Jonathan."
Jonathan langsung menaikkan alisnya sebelah karena heran dengan ucapan Malika.
"denganku?. . . . apa kau bercanda Malika?."
"tentu tidak Jo, aku hanya sedang ingin berbicara kepadamu. apakah hal itu tidak boleh kulakukan?."
Malika memandang Thomas dengan iba berharap mendapatkan pembelaan darinya.
dan Thomas segera membelalakkan mata pada Jonathan.
"kau tidak boleh bersikap kasar kepada seorang wanita Jo, lebih baik kau temani Malika. karena aku ingin pergi mengambil handphone ku."
Malika merasa senang mendapatkan pembelaan dari Thomas, ia tak menyangka Thomas akan membelanya dihadapan Jonathan.
Jonathan yang melihat Thomas pergi dan meninggalkannya dengan Malika merasa kesal akan sikap temannya.
sebenarnya Jonathan bukan tidak Bingin menemani Malika, ia merasa dirinya sangat lelah hari ini.
"Malika, sekarang Thomas sudah pergi. kau ingin bicara apa denganku?."
Malika cemberut mendengar perkataan Jonathan. "kau memang tak pernah ramah terhadap wanita Jo."
Jonathan mengangkat bahunya. " masalah itu, tergantung pada seperti apa wanita yang berbicara kepadaku."
"apa maksudmu Jo?."
__ADS_1
Malika langsung pergi seketika itu juga setelah mendengar ucapan Jonathan, dan tentu saja hal itu membuat Jonathan tersenyum bahagia. "akhirnya aku bisa beristirahat juga." Jonathan kemudian langsung pergi ketempat istirahatnya.