
Thomas chadwik yang melihat Natasha hanya duduk berdiam diri menunggu jawaban Natasha setelah dirinya menyatakan seluruh perasaannya. ia takut jika Natasha akan menolak dan mengabaikan perasaannya.
Dan jika hal itu terjadi mungkin Thomas akan terpuruk dalam kehancuran, apalagi disaat-saat seperti ini, Thomas membutuhkan seseorang disampingnya untuk menenangkan dan menghiburnya disaat dia merasakan hal yang membuatnya frustasi.
Natasha yang masih bingung harus membuat keputusan saat itu juga, Natasha melihat kearah simbok berharap ia akan mendapatkan jawaban dari simbok.
Namun simbok yang masih duduk disebelahnya hanya bisa memberikan nasihat dan mendukung Nonanya. "Yakinlah dengan hati non, sebab hati tidak akan pernah membohongi perasaan yang Non alami, simbok akan selalu mendukung dan disamping non apapun yang akan diputuskan oleh non sendiri."
Natasha mengambil nafas dalam-dalam berharap dirinya akan mengambil keputusan yang tepat dan tidak akan pernah membuatnya menyesal seumur hidupnya.
"Tapi apa kau benar- serius dengan perkataanmu tadi Thomas,?" tanya Natasha
dengan perasaan senang Thomas menjawab pertanyaan darinya. "Tentu saja sayang, aku tidak pernah bermain-main dalam urusan perasaan, apalagi ini menyangkut masa depanku."
"Apakah perkataan mu itu dapat dipertanggung jawabkan ?" tanyanya kembali
"Aku akan berusaha semampuku untuk mempertanggung jawabkan semua perkataan ku tadi?." sahut Thomas.
Anthony yang baru pulang tidak senang dengan kehadiran Thomas dan menyela perkataannya. "Jangan main-main dengan perkataanmu itu anak muda!."
Sejak kapan beliau berdiri disana, dan apakah beliau mendengar semuanya tanya Thomas pada dirinya sendiri.
Natasha juga merasa terkejut dengan kedatangan Papanya. "Papa, kau sudah pulang?."
"Hallo tuan Anthony addrew, bagaimana kabarmu?." sapa Thomas
"Tidak usah berbelit-belit anak muda, Kenapa kamu menemui putriku?, bukankah kita sudah membatalkan perjanjian itu?" tanya Anthony dengan tegas.
"Natasha, kau pergilah kekamarmu sayang, biar Papa yang akan melanjutkan perbincangan ini dengan Thomas!." pinta Anthony pada Natasha agar dia tidak perlu berurusan dengan Thomas.
Natasha langsung melihat kearahnya untuk protes. "Tapi Pa,?."
"Tak usah pakai tapi sayang, Kumohon turutilah kata Papa." sahutnya
Natasha yang melihat wajah papanya memerah karena marah tidak berani untuk menyela perkataannya, ia bangkit dari tempat duduknya dan menarik simbok untuk ikut bersamanya.
Thomas hanya bisa terdiam dan kecewa melihat Natasha pergi, tanpa sepatah kata apapun padanya.
__ADS_1
**********
Situasi Thomas dan Anthony saat ini sangat tegang, Thomas tidak tau harus berkata apa untuk membujuk orang tua Natasha agar yakin kalau dirinya sungguh-sungguh menginginkan putrinya walaupun dirinya harus menyerahkan seluruh perusahaan sepenuhnya pada Anthony dan Natasha.
"Sekarang tinggal kita berdua, kau bisa mengatakan dengan jujur niat dibalik semua perkataanmu pada putriku anak muda?." ucap Anthony
Thomas merasa tersinggung dengan ucapan Anthony langsung menyelanya"Apa maksudmu tuan Anthony?."
"Bukankah tadi kalau aku tidak salah dengar kau mencoba merayu putriku, agar kita tidak membatalkan perjanjian kita itu?" tanya Anthony.
"Soal Itu, . . . . ?" Thomas sedikit bingung harus menjelaskan persoalan ini darimana dulu.
"Kenapa kau berhenti berbicara Thomas, atau kau memang sengaja ingin mempermainkan aku dan putriku ?" tanya Anthony dengan nada yang semakin tegas agar Thomas tidak berbicara padanya dengan bertele-tele.
"Bukan itu maksudku tuan Anthony, Aku Thomas chadwik mengakui perasaanku pada putrimu karena memang benar adanya. Aku telah sungguh-sungguh mencintainya, Walaupun surat perjanjian itu telah dibatalkan olehmu aku tidak akan perduli karena aku pasti akan mendapatkan hati putrimu dengan cara apapun?" ucap Thomas dengan nada tinggi
Anthony mendengus mendengar ucapan Thomas yang menyinggungnya. "Dulu kau berani membentakku dikantor, dan sekarang bahkan di rumahku sendiri kau berani meninggikan suaramu, apakah kau pikir aku bodoh anak muda, membiarkan putriku jatuh ke tangan orang suka berprilaku dan bicara kasar sepertimu.?" ujar Anthony.
Thomas berlutut agar hati Anthony luluh dan memohon kepadanya. "Maafkan aku tuan Anthony jika aku bersikap kasar padamu, aku memang bersikap tidak sopan padamu, namun aku tidak sanggup jika harus kehilangan Natasha karena sikap kasarku padamu di waktu lalu, Kumohon tuan izinkanlah aku untuk hidup bersama putrimu."
"Kali ini aku memohon dengan kesungguhan hatiku, aku bersumpah akan melakukan apapun demi Natasha dan aku berjanji akan membuat hidup putrimu bahagia tanpa setetespun air mata kesedihan didalam hidupnya. " ucap Thomas
Anthony terdiam sejenak ia berpikir pria ini sama sekali tidak mundur setelah dirinya dihina seperti itu, dan menurutnya akan tidak adil bagi Natasha jika dia memutuskan hal ini seorang diri, apalagi ia pernah melakukan kesalahan dengan membuat perjanjian tanpa dia ketahui, akhirnya Anthony memutuskan untuk tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. "Baiklah Thomas, hari ini cukup sampai disini saja aku ingin kau pulang sekarang, dan masalah ini aku akan membicarakannya dengan putriku, semua keputusan ada ditangannya meskipun aku harus menerimamu semuanya itu tergantung pada keputusannya." ujar Anthony yang sudah lelah berdebat dengan pria itu.
Natasha melihat Thomas meninggalkan rumahnya. ingin sekali ia berteriak memanggil pria itu untuk tetap disini, namun ia tidak berani saat Papanya sedang terlihat emosi.Natasha hanya bisa memandangi langkah Thomas sampai dia menghilang.
*********
James Cameron yang melihat mobil Thomas baru keluar dari kediaman Natasha. bertanya-tanya pada dirinya sendiri,
Apa yang dilakukan Thomas dirumah Anthony?,
James yang penasaran ingin tahu apa yang dilakukan Thomas akhirnya memberanikan diri untuk masuk dalam rumah itu.
James mendekati pintu dan memencet bel, dan saat itu juga Anthony yang mendengar suara bel langsung keluar dan melihat siapakah tamu yang datang.
Apakah Thomas bertolak dan datang lagi kerumahnya pikir Anthony.
__ADS_1
Anthony melihat dari pintu berharap kalau yang datang bukan Thomas, dan Benar saja yang datang bukanlah Thomas tapi James Cameron.
Anthony langsung membukakan pintu untuknya.
"hallo James, sudah lama kau tak berkunjung kesini?." sapa Anthony
"Maaf tuan, saya tidak sempat berkunjung dan kebetulan tadi saya lewat sini dan berpikir mampir sejenak untuk menyapa tuan." kata James
"Bukankah itu hanya alasan?, bukankah kau kesini untuk bertemu Natasha?" tanya Anthony sambil tersenyum
"Kau memang selalu pandai menebak orang tuan, namun jika aku boleh bertanya sepertinya tadi aku tidak sengaja melihat sebuah mobil yang baru keluar dari rumah ini, apakah mobil yang tadi itu milik kekasih Natasha?." ucap James
"Aku bingung harus menyebutnya kekasih putriku atau bukan, sebab aku sendiri saja masih belum bisa merestui hubungannya dengan pria itu." ucap Anthony
"Kalau boleh saya tau, siapa nama orang itu dan apa yang telah dilakukannya sehingga tuan belum bisa merestuinya?" tanya James
"Namanya Thomas chadwik, namun maafkan aku James karena aku tidak bisa menjelaskan alasannya karena ini masalah dalam keluargaku." jawab Anthony.
"Tidak mengapa tuan, justru aku yang minta maaf karena telah lancang untuk mengetahui masalah dalam keluargamu." ucap James
"Kenapa kau hanya sendirian kesini James ?"
tanya Anthony merubah topik pembicaraan
"maksudmu tuan?." tanya James kembali
"Kenapa kau kemari tidak bersama seseorang yang istimewa bagimu?." tanya Anthony
"Tuan ini bicara apa, mana ada wanita yang mau dengan orang sepertiku, aku hanyalah seorang pemuda yang miskin yang tidak punya keluarga dan tidak ada harta yang banyak untuk dibanggakan
" jawab James merendah
"Jangan berbicara seperti itu James, bagiku kau sudahku anggap sebagai putraku sendiri, dan oleh sebab itu bisakah aku meminta bantuan padamu untuk menjaga putriku Natasha sebagai adikmu ?" ucap Anthony sambil memegang tangan James.
"Tentu saja tuan, terimakasih karena kau mau menganggapku sebagai keluargamu, aku akan berusaha menjadi kakak yang baik bagi Natasha." sahut James
Anthony merasa lega mendengar Jawaban dari James, ia tidak perlu khawatir lagi jika sesuatu hal menimpa putrinya saat dia tak disampingnya lagi.
__ADS_1