
Bernard chadwik yang ingin melihat kehancuran Thomas, datang menyambangi kantor Thomas dan berpura-pura menjadi saudara yang baik untuknya.
Jonathan yang masih berada dikantor Thomas menceritakan lebih detail tentang orang yang bersama James Cameron, namun betapa terkejutnya Jonathan saat ia melihat seseorang berdiri depan pintu bersama Kevin.
"Tuan Thomas ada tamu untukmu." ucap Kevin berdiri didepan pintu yang terbuka bersama seseorang.
Thomas juga terkejut dengan apa yang dilihatnya, apakah ia sedang berhalusinasi karena dirinya sedang dalam pikiran yang semrawut pikir Thomas.
Tapi mendengar suara orang yang sedang bersama Kevin, tidak dipungkiri lagi kalau suara itu milik Bernard chadwik kakak tirinya.
"Hallo, adikku Thomas bagaimana kabarmu?" sapa Bernard dan langsung melangkah masuk dan langsung memeluknya.
Thomas yang masih tidak percaya masih terdiam, dan mengusap matanya setelah melepaskan pelukan darinya. "Bernard?."
"Ternyata kau masih mengingatku Thomas, aku sangat merindukanmu?."
Thomas yang tidak percaya dengan ucapan Bernard hanya bisa mendengus mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Tentu aku mengingatmu, karena walau bagaimanapun kita masih bersaudara walaupun ibu kita berbeda" sahut Thomas
"Tentu saja adikku, kita bersaudara dan akan selamanya seperti itu." ucap Bernard
Jonathan terdiam melihat Thomas dan Bernard berdiri berhadapan seperti itu, dan ia tampak tak percaya pada wajah mereka.
wajah Thomas dan Bernard seperti pinang dibelah dua, hanya saja sedikit berbeda dengan warna kulit mereka, Thomas memiliki kulit yang lebih gelap dari pada saudarannya.
Thomas melihat kearah Jonathan sedang memandangi antara dirinya dan juga Bernard. "Jo kenapa kau melihat kami seperti itu?, mari kesini akan kuperkenalkan kau dengan saudaraku ini."
Jonathan mendekat kearah Thomas dan ia menampar pipinya perlahan sambil mengedipkan matanya, karena masih tidak percaya walaupun ia berada dekat dengan dua bersaudara yang kini dihadapannya.
"Jonathan ini Bernard saudara yang pernah kuceritakan padamu tempo hari." ujar Thomas sambil menunjuk kearahnya.
"Apa aku tidak salah dengar, kau pernah menceritakanku pada temanmu ini " sahut Bernard dengan melirikan matanya pada Thomas
tanpa mempedulikan ucapan Bernard Thomas melanjutkan perkenalan mereka. "dan Bernard ini Jonathan temanku."
__ADS_1
Jonathan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bernard namun sepertinya Bernard enggan untuk menyambut tangan Jonathan. Thomas menepuk pundak Jonathan agar dia tidak kecewa terhadap sikap Bernard.
"Apakah kau baru kembali ke kota hari ini Bernard?." tanya Thomas mencoba mencari tahu apa yang sedang direncanakannya.
"Tentang itu, . . . . . . Aku baru kembali dari luar negeri dua hari yang lalu, dan kalau aku boleh tau, aku sangat penasaran dengan apa yang kau ceritakan tentang diriku kepada temanmu ini Thomas?"
Thomas berpikir saat itu juga, bukankah saat Jonathan melihatnya itu sekitar dua Minggu yang lalu, tapi mengapa Bernard bilang kalau dirinya baru tiba dikota ini dua hari yang lalu.
Thomas tersenyum melihat saudaranya itu sambil berpikir apakah Bernard berbohong padanya, tapi untuk apa Bernard berbohong.
"Itu hanya sekedar cerita saja Ben" ucap Thomas kepada Bernard dengan memanggilnya dengan nama panggilan kecilnya.
"Sekedar cerita seperti apa itu Thomas, aku sangat ingin mengetahuinya?" ujarnya.
"Bukan apa-apa tuan Bernard, aku hanya
menanyakan pada Thomas apa dia memiliki saudara, lalu dia menceritakan diri anda pada saya, seperti itulah tuan ceritanya." ucap Jonathan, mencegah Thomas memberitahu alasan sebenarnya.
Jonathan sangat mencurigai Bernard, dari kata-katanya tampak sekali kalau dia takut akan ketahuan kalau dirinya sedang berbohong, Jonathan merasa yakin hal itu dari caranya menjawab pertanyaan Thomas tentang kapan dia tiba dikota.
Thomas hanya bisa mengiyakan cerita temannya agar Bernard tak merasa curiga.
"Seperti yang dikatakan Jonathan, aku menceritakan dirimu karena dia penasaran tentang keluarga kita itu saja." ucap Thomas berusaha meyakinkan Bernard.
"Baiklah aku percaya dengan mu Thomas,
dan aku juga tidak mau mencurigai hal-hal yang sepele seperti ini." ujarnya
"oh ya Thomas bagaimana kabar orang tuamu ?" tanya Bernard
Thomas membelalakkan matanya saat Bernard bertanya tentang mereka, dan Bernard yang merasa ada kesalahan kata saat bertanya pada Thomas langsung meralat pertanyaannya itu.
Bernard menutup mulutnya dan segera meralat pertanyaannya. "Upsss . . . maaf Thomas sepertinya aku salah memberikan pertanyaan tadi, maksudku kabar mengenai ayahku dan ibumu?."
Thomas yang tidak senang saat membahas tentang orang tuanya, merasa tersinggung dengan pertanyaan dari Ben. Thomas hanya menjawab singkat pertanyaannya darinya.
__ADS_1
"Kabar mengenai ibuku baik-baik saja Ben, dan kalau kau menanyakan soal ayahmu kau cari tahu saja sendiri, aku sudah lama tidak berhubungan dengannya."
"Kenapa kau bicara seperti itu pada beliau Thomas, apakah rasa sayangmu padanya tidak seperti dahulu?." tanya Bernard.
"Tak usah kau bahas tentangnya Ben, aku sudah muak pada perlakuan dan sikapnya yang suka mengatur itu."
"Rupanya apa yang kurasakan dahulu terjadi padamu juga, bukan begitu Thomas?" tanyanya lagi.
"Terserah kau mau bilang apa yang jelas aku tidak ada urusan lagi dengan pria yang kau sebut sebagai ayahmu itu!" ucap Thomas dengan nada tegas.
"oke, baiklah adikku aku tidak akan membahas tentangnya lagi, lebih baik aku pergi dari sini, dan seperti saranmu aku akan mencari kabar tentang beliau sendiri " ucap Bernard dan langsung melangkah keluar dari kantor Thomas.
Saat Bernard pergi barulah Jonathan bisa bernafas lega, ia merasa seperti berada disituasi tengah-tengah perang dan tidak tahu harus membela yang mana.
"Sungguh pemandangan yang jarang sekali aku lihat kawan." ucap Jonathan setelah Bernard pergi
"Apa maksud dari perkataan mu itu Jo ?." tanya Thomas
"Aku hanya bercanda kawan, jangan kau menekuk wajahmu itu, aku sangat takut melihat nya." ucap Jonathan.
Thomas melirikan matanya dengan tajam pada Jonathan, agar temannya itu tak bercanda dalam situasi seperti ini.
"Itu dia Thomas, lirikan matamu itu sudah lama sekali aku tidak melihatnya, aku rindu sekali dengan lirikan mata "Mr.Boy" seperti yang tadi kau lakukan." ujar Jonathan
Thomas berusaha bersikap sabar menghadapi temannya yang menguras habis kesabarannya, saat Thomas merasa kesabarannya sudah habis barulah ia memberi pelajaran pada temannya itu dengan cara bergulat dengannya sampai Jonathan merasa kalah dan tak mengusiknya lagi.
"Baiklah Thomas, sekarang aku tidak akan bercanda dan mengusik mu lagi kali ini aku akan bicarakan hal serius." ucap Jonathan yang kembali ketempat duduknya semula
"Aku sudah memperhatikan saudaramu yang tadi dengan seksama, dan aku yakin kalau dialah orang yang kulihat bersama James Cameron waktu itu, dan kalau kau tak mempercayainya itu semua terserah padamu." kata Jonathan
"Baiklah Jo, aku percaya padamu tapi aku perlu bukti yang cukup kuat atas dugaanmu itu." ucap Thomas
"Ini bukan hanya dugaan kawan, tapi aku menyakininya seratus persen bahkan bila perlu seribu persen, namun jikalau kau memerlukan bukti lainnya aku akan membawakannya untukmu. " ujar Jonathan
Sebenarnya Thomas bukan tidak memercayai Jonathan, tapi lebih tepatnya Thomas merasa takut kalau yang diucapkan Jonathan itu benar, bukan karena dia takut pada Bernard namun dia lebih takut kalau hubungannya dengan saudaranya itu akan hancur untuk selamanya.
__ADS_1