
Sudah sebulan lamanya Thomas chadwik menunggu kabar dari Jonathan yang menyelidiki kasus perampokan pada usahanya. ketika ia ingin menghubungi Jonathan, ponselnya berdering lebih dulu. sontak Thomas mengambil dan melihat layar ponselnya, dan benar saja orang yang sudah ditunggunya menghubungi nya.
"hallo kawan" sapa Jonathan di ponsel "aku punya dua kabar untukmu pertama kabar baik dan kedua kabar buruk."
Thomas langsung menjauhkan ponsel dari telinga, dan menanyakan kembali maksud dari ucapannya. "apa maksudnya aku punya dua kabar, aku hanya menginginkan kabar baik darimu Jonathan."
terdengar suara dengusan dari Jonathan "baiklah, tapi aku tidak bisa memberitahukan padamu lewat telepon, aku ingin kita bertemu. tapi tidak sekarang, masih ada masalah yang harus aku tangani"
Thomas Marah merasa dipermainkan olehnya "Kau ini kenapa Jonathan, bukankah kau punya kabar untukku tapi mengapa kau menundanya untuk memberitahuku?."
Jonathan menahan diri agar tidak terpancing perkataan Thomas. "waaawww tenang kawan, ternyata kau masih saja tidak sabaran seperti dulu "Mr.Boy" ?."
Thomas merasa geram karena Jonathan selalu memanggilnya "Mr.Boy" , dengan tegas ia mengingatkan Jonathan. "Jangan pernah kau sebut kata itu lagi ditelinga ku."
Jonathan merasa kali ini Sikapnya sudah keterlaluan kepada Thomas, ia mencoba mencairkan suasana agar Thomas tidak tersulut api amarah. "baiklah Thomas aku takut sekali jika kau meluapkan amarahmu padaku, mendengar suaramu yang seperti ini saja membuat bulu kudukku merinding."
Thomas sedikit tersenyum jika mendengar Jonathan bicara seperti tadi, dan menegurnya agar tidak bercanda "Jonathan?."
Jonathan menahan tawanya jika Thomas sudah bersikap tegas. "ya tuan Thomas chadwik?." Jonathan berusaha untuk tidak bercanda saat ini juga "oke Thomas bagaimana kalau kita bertemu di kafe tempat biasa tiga hari lagi?."
Thomas mengeluarkan ancaman agar temannya itu tidak bercanda dengannya lagi "Akan kutunggu kabar darimu tiga hari lagi jika sampai belum ada kabar juga aku akan mematahkan tulang-tulangmu !."
*************
Tiga hari kemudian Jonathan menghubungi Thomas kembali, dan mereka sepakat bertemu di kafetaria tempat mereka biasa kumpul.
Jonathan yang datang lebih dulu dikafe itu, melihat seorang wanita yang mencuri perhatiannya dari tadi, sudah lama sekali tidak ada seorang wanita yang dapat mencuri perhatian darinya sejak dia ditipu oleh pacarnya dua tahun yang lalu, sejak saat itu dia tidak mau berhubungan dengan wanita manapun.
tapi tidak ketika dia melihat Natasha addrew dan memperhatikan wanita itu sejak tadi.
wanita itu terlihat sangat periang, dan penuh dengan pesonanya sendiri diantara wanita yang lain yang sedang bersamanya.
senyuman wanita itu membuat hati Jonathan merasakan kegembiraan yang tidak di mengerti Jonathan sendiri.
Namun sayangnya Thomas datang dan menghalangi pandangannya.
__ADS_1
Thomas datang dan menyapa Jonathan yang tampaknya sudah menunggunya daritadi.
"hai Jo?."
"hallo kawanku Thomas chadwik."
"sudah lama menungguku?."
Jonathan memanyunkan bibirnya "yaaahhh cukup lama sampai aku tertidur sejenak"
Thomas merasa bersalah dan meminta maaf padanya. "maaf Jonathan."
Jonathan memaklumi Thomas karena datang terlambat. "Tenang saja Thomas, aku mengerti bos besar sepertimu pasti sibuk dan banyak hal yang harus diurus."
tanpa basa-basi Thomas langsung menanyakan pokok permasalahannya. "Bagaimana perkembangan penyelidikanmu mengenai masalah perampokan yang aku alami, apakah kau sudah mendapatkan info siapa pemimpin perampokan tersebut."
Jonathan merasa Thomas terlalu tidak sabar dalam bertindak "Sabar Thomas, aku akan menceritakan detailnya." setelah menyeruput secangkir kopi Jonathan menceritakan penyelidikan yang ia lakukan. "Jadi begini Thomas, Setelah aku selidiki lebih lanjut lagi ternyata dalang perampokan itu adalah James Cameron."
Thomas tercengang mendengar nama "James Cameron". "Apa?" Thomas merasa kaget mendengar cerita dari Jonathan
Jonathan seperti melihat sebuah gunung berapi yang akan siap menyemburkan lahar panasnya, ia berusaha menenangkannya dan menjelaskan detail seluruhnya. "sabar Thomas, James Cameron bukan perampok biasa, rupanya dia mendirikan sebuah organisasi mafia gelap selama ini." Jonathan menyeruput kembali gelas kopinya dan melanjutkan ceritanya. "jadi organisasi mafia gelap ini, menjalankan bisnis apa saja yang ilegal, seperti membunuh orang, menipu, dan tentu saja merampok salah satunya juga."
Thomas berpikir kenapa "James Cameron" mengusik bisnisnya saat apa dia ingin membalas dendam."Tapi Jo, bagaimana dia bisa tau tentang bisnisku, dan merampokku?."
Jonathan menyela pertanyaan darinya "Tunggu dulu Thomas sepertinya dia tidak tahu kalau yang dia rampok itu bisnis kau, dia hanya menjalankan perintah dari orang lain."
Thomas makin bingung mendengar cerita dari Jonathan. "Jadi bagaimana dengan orang yang menyuruhnya itu?."
Jonathan mengangkat bahunya. "Itu dia yang aku belum tahu"
Thomas semakin emosi dengan jawaban Jonathan yang tidak jelas. "Jadi selama ini apa saja yang kau kerjakan Jo, sampai membutuhkan waktu yang begitu lama. dan tidak sedikitpun menemukan sekawanan perampok itu?."
Jonathan menatap temannya dan tersenyum kepadanya. "Santai kawan, tidak lama lagi kamu akan mendengar kabar baik lagi dariku."
Thomas berusaha sabar terhadap Jonathan walaupun ia menghela nafas panjang. "Baguslah jika demikian adanya, jadi apa kau sudah menemukan persembunyian James Cameron?"
__ADS_1
Jonathan merasa kesal sendiri mendengar pertanyaan darinya. "mengenai James Cameron, aku belum menemukannya.
Sayangnya anak buahku cuma bisa menangkap tikus kecil, dan dia mengaku bahwa pemimpinnya bernama James Cameron, namun dia tidak mengetahui keberadaannya. tampaknya anak buahnya sudah siap untuk mati daripada harus mengatakan keberadaan James Cameron."
Thomas merasa kecewa dengan jawaban Jonathan namun ia tidak ingin melampiaskan emosinya saat ini kepada temannya. "Baiklah kalau begitu Jo, aku percayakan semua ini padamu, dan jika kau sudah tau keberadaan pecundang itu segera hubungiku."
"Baik kawan, kau bisa mengandalkan ku kapan saja."
Mimik wajah Jonathan berubah serius dan ia berbisik kepada Thomas. "Thomas apa kau mau mendengarkan cerita ku sebentar."
Thomas melihat ekspresi Jonathan yang aneh. "Apa ada hal penting lainnyanya Jo?."
Jonathan melihat Thomas dengan wajah tegang. "Tidak Thomas, ini bukan tentang James Cameron, atau hal yang berbau bisnis lainnya. hanya saja tadi aku melihat seorang wanita yang mengganggu pikiranku."
Kali ini Thomas dibuat heran dengan sikap Jonathan. "Ada apa denganmu Jonathan, apa kau sedang sakit?."
Jonathan melihat wajah Thomas dan mengambil nafas dalam-dalam. "Aku serius Thomas, yaaahhh memang ini tidak seperti diriku, tapi aku sedang tidak ingin bercanda."
Tampaknya Thomas salah bicara, ia mendekatkan wajahnya dengan Jonathan. "Baiklah kawanku Jonathan, coba kau ceritakan rupa wanita itu yang telah membuat kau melupakan janjimu bahwa kau tidak akan pernah punya wanita lagi."
Jonathan menunjuk ujung jarinya kearah pojok kafe. "Wanita itu duduk disebelah sana."
Thomas melihat kearah yang ditunjukkan Jonathan namun ia kaget dengan apa yang dilihatnya. "apa kau menyukai wanita setengah baya itu."
Jonathan juga ikutan kaget karena yang tadi dilihatnya bukan wanita yang dimaksud oleh Thomas. "tentu saja tidak, kenapa aku tidak melihat wanita itu pergi?," ia melihat Thomas dan menyalahkan dirinya. "ini semua karena kau Thomas, aku sampai lupa ada wanita yang seharusnya menjadi milikku."
Thomas mengangkat alisnya sebelah. "oohhh jadi kau sudah berani menyalahkanku Jo, hanya demi wanita yang baru kau temui bahkan nama wanita itu saja kau tidak tahu."
Thomas menutup mulutnya karena ia salah bicara kepadanya. "Tidak Thomas, mana mungkin aku berani menyalahkan Mr.Boy". "
Thomas melihat sekeliling ketika Jonathan memanggilnya seperti tadi, "Jonathan" ia meneriakkan namanya agar tidak menyebutnya seperti tadi, apalagi didepan umum seperti ini.
Jonathan menyeruput kopi terakhirnya, ia bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk meminta maaf padanya. "baiklah kawan aku minta maaf padamu," setelah ia meminta maaf Jonathan pergi sambil berteriak. "sampai berjumpa lagi Thomas chadwik sang "Mr.Boy" "
Thomas memelototkan matanya kepada Jonathan dan segera meninggalkan tempat itu karena takut semua orang akan mendengar dan memperhatikan dirinya.
__ADS_1