Cinta Mr. Boy

Cinta Mr. Boy
Si mata Elang yang bodoh


__ADS_3

Thomas yang sibuk akan urusannya bersama Jonathan menyelidiki Bernard, tidak mengingat kalau dirinya tidak membawa


ponsel. ia merogoh seluruh saku dan mencari didalam mobil tapi tak kunjung juga menemukan ponselnya dan dengan terpaksa ia harus kembali kekantor untuk mencari ponselnya.


setelah sampai didepan kantor Thomas langsung turun dari mobil dan berkata pada Jonathan. "Kau tunggulah Didalam mobil Jo, aku akan segera kembali."


"Ok!" sahut Jonathan.


Thomas segera masuk dalam kantor, dan dia tidak melihat Kevin dimeja kerjanya. tanpa memperdulikan keberadaannya Thomas masuk keruangannya untuk mencari ponsel miliknya. ia mencoba mencari ponsel diatasa meja serta dilaci tempat ia biasa meletakkannya namun ponselnya tidak juga ia temukan, bahkan iamencari-cari ponselnya sampai kekolong meja namun tidak juga melihat wujud ponselnya.


Thomas yang sedang berburu-buru memanggil Kevin untuk membantunya mencari ponsel, ia berteriak kuat agar Kevin dapat mendengar suaranya.


"Kevin . . . Kevin . . . Kevin . . . "


Thomas bergumam mengapa tak ada sahutan dari Kevin setelah ia berteriak memanggil namanya, kemudian Thomas mengingat kalau dirinya tak melihat Kevin sejak ia masuk kedalam kantornya.


Thomas kemudian keluar untuk mencari keberadaannya dan dengan Tiba-tiba Kevin muncul dibelakangnya dan mengagetkan Thomas.


"Iya tuan, Anda sudah kembali."


sambil membelalakkan matanya Thomas berteriak kuat padanya. "Keevvviiiinnn".


Kevin menundukkan kepalanya mendengar Thomas berteriak padanya didalam hatinya ia bergumam. "habislah aku kali ini, pasti tuan Thomas akan menyemburkan kemarahannya kembali".


dan benar saja Thomas langsung bertanya pada kevin sambil membentaknya. "Darimana saja kau Kevin, kau membiarkan meja kerjamu kosong dan tidak menjawab panggilan ku?."


dan dengan sedikit terbata-bata ia menjawab pertanyaan darinya. "Ma . . . ma . . . maafkan saya tuan, tadi saya sakit perut dan habis dari kamar mandi."


tak banyak yang bisa dilakukan Thomas kalau Kevin sudah meminta maaf, Thomas hanya bisa menggelengkan kepalanya pada melihat kelakuan Kevin. "baiklah aku memaafkan mu, dan Kevin apakah kau melihat ponselku?."


kepala Kevin langsung mendengak mendengar permintaan maafnya diterima, dengan wajah yang sumringah ia menjawab pertanyaan dari Thomas. "Ponsel tuan . . . ooohhh ini tuan ada dilaci meja saya." Kevin segera mengambil ponsel Thomas dan memberikan kepadanya.


Thomas mengerutkan keningnya melihat ponsel yang ia cari-cari ternyata berada dilaci meja Kevin. "Kenapa ponselku bisa berjalan ke laci meja mu?."


"Maafkan kelancanganku tuan Thomas, sewaktu aku melewati ruangan anda. aku mendengar suara ponsel dari dalam ruangan, dan tentu saja aku segera mencari asal suaranya terus aku lihat ponsel tuan Thomas yang berbunyi dan aku langsung menjawab panggilannya."


Thomas segera memeriksa panggilan masuk diponselnya. "Siapakah yang menelepon ku Kevin?."


sambil memukul-mukul bibir dengan jarinya berkata. "Kalau aku tidak salah dengar namanya Natasha."


seketika itu juga ia langsung berteriak padanya. "Apa kau bilang, Natasha menelpon ponselku?, Lalu apakah dia meninggalkan pesan untukku?."


"Tidak tuan, tapi tampaknya dia kecewa karena bukan tuan yang mengangkat telepon darinya."


Thomas langsung menutup layar ponselnya dan keluar kantor tanpa bicara apapun pada Kevin, kali ini Thomas dalam masalah pasti Natasha marah padanya lagi, kapan wanita yang didambakannya itu bisa membuatnya tenang sekejap saja pikir Thomas.

__ADS_1


Thomas segera masuk ke mobil dengan wajah yang suram dan tentu saja itu membuat Jonathan bertanya-tanya dalam hatinya, tadi saat Thomas masuk ekspresi wajahnya tampak biasa saja dan sekarang ekspresi wajahnya seakan-akan sedang takut dengan seseorang.


"Ada apalagi sekarang kawan?." tanya Jonathan.


dengan nada kesal i menyahut pertanyaan dari Jonathan. "Apa maksud pertanyaan mu itu Jo?."


"Kau tidak bisa membohongiku kawan, coba lihatlah ekspresi wajahmu itu tampak suram sekali."


Thomas terdiam mendengar sindiran temannya itu, dan tak mau menghiraukannya mereka akhirnya berangkat menjalankan rencananya yang tertunda tadi.


"Jadi kita mau kemana Jo?" kata Thomas memecahkan suasana hening didalam mobil.


Jonathan mengangkat bahunya karena ia sendiri juga tidak tahu harus kemana. "Entahlah, anak buahku belum memberikan informasi tentang posisi Bernard sekarang."


Tidak lama kemudian ponsel Jonathan bergetar dan ia segera mengambil ponsel yang berada disakunya dan membaca Chat dari anak buahnya.


"Akhirnya kita mengetahui kemana tujuan Bernard hari ini." Jonathan menunjukkan layar ponselnya yang berisikan informasi mengenai Bernard.


senyumannya langsung mengembang setelah membaca Chat dari ponsel Jonathan. "Baiklah kita kesana."


Mereka berkendara kearah puncak yang berada paling ujung kota itu, jalan dari kota kepuncak memakan waktu tiga jam lamanya sebab kondisi jalan kesana sangat buruk masih berupa tanah liat yang jika terkena hujan maka kondisi jalanan semakin buruk.


Setelah mereka tiba dipuncak Thomas melihat mobil Bernard yang terparkir didepan villa, Thomas heran apa yang dilakukan saudaranya itu ditempat terpencil seperti ini, dan sebenarnya apa yang dia sembunyikan disana tanya Thomas dalam hati.


" lApa kau sudah siap dengan misi kita kawan?." tanya Jonathan.


Thomas dan Jonathan mendekati villa, dari arah jauh villa itu tampak biasa saja dan tidak ada yang mencolok sehingga tidak banyak memakan perhatian orang yang melintasi jalan. tapi tidak jika dilihat dari dekat, villa ini tampak mewah walaupun terlihat minimalis dinding-dinding villa ini berlapis emas dan pagarnya saja memakai batu alam yang sangat mahal, ia baru kali ini menjumpai villa yang seperti ini bahkan villa Thomas yang dibilang mewah kalah dengan desain villa ini.


"Saudaramu Bernard benar-benar hebat kawan. " Jonathan juga merasa takjub Melihat villa dengan kemewahannya


"Yaaaahhhh sepertinya bisnisnya berjalan sukses meskipun ditelantarkan oleh ayahku."


Tak lama kemudian Bernard keluar dari dalam villa karena mendengar suara bising, ia mengintip siapa gerangan yang membuat suara bising sebab tidak biasanya di villa ini ada tamu yang berkunjung kemari.


Dia melihat Thomas dan temannya berdiri didepan gerbang villanya, apa yang mereka lakukan disini?, dan mengapa dia tau kalau dirinya berada di villa ini?. tanya Bernard sendiri.


Bernard bingung harus melakukan apa terhadap kedua orang itu, jika ia sembunyi itu tidak mungkin karena mobilnya terparkir didepan villanya, dan dengan terpaksa dia harus menemui mereka dan menyuruh James Cameron pergi melalui jalur belakang villanya.


Bernard keluar dan membuka pintu gerbang bersama pengawalnya menemui mereka dan bersikap seolah-olah tidak tahu siapa tamunya.


"Apa aku tidak salah lihat?, Adikku yang datang berkunjung kemari? " tanya Bernard menyindir Thomas yang berdiri di depan gerbang.


"hai Ben . . . ku tidak menyangka bisa berjumpa denganmu disini, sungguh kebetulan yang sangat beruntung bagiku."


"Apa maksud perkataanmu itu?, bukankah kau kemari kesini dengan cara membututiku."

__ADS_1


"Jangan berbicara seperti itu pada adikmu ini Ben, aku bisa saja tersinggung dengan ucapan mu barusan."


Bernard menaikkan alisnya sebelah merasa curiga terhadap Thomas dan temannya itu tapi ia tidak boleh asal menuduhnya, karena itu bisa jadi Boomerang untuk dirinya sendiri.


"Apa kau merasa tersinggung adikku, kalau begitu aku sebagai kakak mu ini hanya dapat meminta maaf padamu."


"Apakah kau hanya meminta maaf padaku dan juga temanku ini Ben?." ujar Thomas yang menyindir Bernard agar dirinya diizinkan masuk kedalam villanya dengan matanya yang mengarah Kedalam villa.


"Tentu saja tidak adikku, kau boleh masuk bersama temanmu ini kedalam villa dan melihat bagaimana mewahnya villa ini " kata Bernard dengan menyombongkan villa mewahnya.


"Terimakasih tuan Bernard, kebetulan sekali kita berdua sangat lelah dalam perjalanan tadi. dan mobil kami sedang mogok didepan sana, setelah kulihat sekitar sini hanya ada villa ini yang dapat kita mintai pertolongan. dan tanpa berpikir dua kali kami langsung saja kemari. " ucap Jonathan membuat karangan cerita untuk Bernard agar dia tak curiga akan niat yang sebenarnya datang ke villa ini.


Bernard yang terlanjur mengizinkan mereka masuk dengan terpaksa melayangkan senyuman mendengar cerita Jonathan yang terdengar seperti dikarangnya sendiri, dan membiarkan mereka beristirahat sejenak.


Mereka berdua masuk dan melihat-lihat sekeliling villa dan mereka lebih takjub lagi melihat perabotan dalam villa itu berisikan perabotan mahal dengan guci-guci yang antik serta lukisan-lukisan yang tampak mahal.


dan tanpa sengaja Thomas melihat satu buah lukisan yang sepertinya pernah dilihat sebelumnya, Thomas mendekati lukisan itu tapi tampaknya Bernard tahu akan niatnya dan mengalihkan perhatiannya ketempat lain.


" Marilah adikku, bukankah kau lelah akan ku antarkan kau ke kamar tamu, dan kau bisa beristirahat dengan kawanmu selama satu jam didalam kamar itu, karena dalam waktu satu jam yang akan datang aku harus pergi mengunjungi ibuku." kata Bernard dengan tegas agar Thomas bisa tau diri dan tidak berlama-lama di villa nya.


"Baiklah, terimakasih Ben. dan apakah aku boleh ikut mengunjungi ibumu juga?" tanya Thomas basa-basi.


"Terimakasih Thomas, tapi Aku rasa tidak perlu.karena keadaan ibuku masih kurang stabil, aku takut jika dia melihatmu malah dia teringat akan kenangan lamanya."


Thomas dan Jonathan beristirahat selama satu jam seperti yang dikatakan Bernard dan ketika mereka hendak pamit pada Bernard orang tersebut sudah pergi dari setengah jam lalu, dan Thomas berpikiran kalau ini kesempatannya untuk melihat lukisan tadi apakah dirinya pernah melihatnya tau tidak, namun sayangnya ia tidak melihat lukisan yang tadi dilihatnya.


"Jo apakah kau melihat lukisan yang tadi terpajang disini?." tanya Thomas.


"Tentu aku melihatnya bukankah lukisan itu memang terpajang disana."


"Bukan lukisan ini maksudku Jo!"


Jonathan mengernyitkan dahinya mendengar bentakan Thomas. "Apa maksudmu kawan, apa ada hal yang aneh dengan lukisan ini?" tanya Jonathan


"Lihatlah Jo" kata Thomas sambil menunjuk lukisan itu. "Lukisan itu mungkin terlihat sama jika orang awam sepertimu yang melihatnya, tapi tidak denganku karena aku biasa melihat-lihat benda-benda kuno dan aku bisa membedakan benda-benda itu asli atau bukan walaupun hanya sebuah potretnya saja." kata Thomas memberi tahu Jonathan kalau lukisan yang dilihatnya itu berbeda dari yang tadi.


"Tunggu sebentar kawan, bisa kau jelaskan dengan singkat perkataan mu barusan?"


Thomas menepuk jidatnya sendiri karena pusing dengan temannya yang sedikit tidak nyambung jika bicara soal lukisan.


"Baiklah Jo akan kujelaskan dengan singkat " ucap Thomas sambil mengelus dadanya.


"Begini Jo, lukisan yang kau lihat sekarang ini bukanlah lukisan yang kulihat tadi saat pertama kali kita masuk kesini. "


Jonathan segera memperhatikan lukisan tersebut, namun ia tidak juga memahami perkataan temannya itu. dan Jonathan Melihat kearah Thomas dengan meringis berharap temannya itu maklum dengan kepandaiannya yang terbatas.

__ADS_1


Thomas mengeluarkan tangannya kedada dan mengelusnya kembali berusaha bersabar dengan temannya itu, karena dia tidak dapat memaksakan Jonathan dapat mengerti penjelasan darinya.


__ADS_2