
Natasha yang menantikan telepon dari suaminya mulai merasakan kegelisahan yang mendalam karena sejak suaminya telah pergi berhari-hari, ia belum juga mendapatkan kabar mengenai Thomas.
Rasa curiga dan cemburu mulai menerpa hatinya, apalagi Thomas terkenal disukai banyak wanita dimanapun dia berada.
Natasha yang mulai merasakan bosan menunggu kabar dari suaminya berniat ingin menyusul Thomas, namun niatnya dihentikan oleh Anthony, Papanya sendiri.
"Papa kenapa aku tak boleh menyusul Thomas kepulau?." keluh Natasha.
"sayang lebih kau tunggu dirumah saja bersama Papa."
"tapi Pa, hati ini sangat mengkhawatirkannya, karena sudah hampir seminggu aku tak mendapatkan kabar darinya."
Anthony mengerutkan keningnya.
"kau mengkhawatirkan keadaan Thomas, atau kau ingin tahu apa yang dia lakukan disana."
Natasha menundukkan kepalanya karena ucapan Papanya tepat mengenai hatinya.
"tentu saja keduanya, apa Papa tega melihat putrimu ini mati penasaran karena tak mendapatkan kabar dari suaminya."
Anthony tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan putrinya, ia tidak menyangka jika Natasha sangat mencintai Thomas. "akankah Thomas mempunyai perasaan cinta yang sama seperti putrinya." gumamnya didalam hati.
kemudian Anthony membelai rambut Natasha agar ia sedikit tenang dan berbicara dengan nada lembut kepadanya.
"putriku aku jadi cemburu terhadap Thomas, mengapa kau lebih mencintai pria itu ketimbang Papamu ini."
Natasha ternganga mendengar ucapannya, ia jadi merasa bersalah melihat wajah Papanya murung. "Papa kenapa berbicara seperti itu, cintaku terhadap Papa tidak berubah sedikitpun. namun hati ini tak bisa terus menerus menunggu karena aku sangat merindukan Thomas."
Anthony tersenyum dan mengecup keningnya. "baiklah sayang, jika kau ingin pergi kepulau untuk menyusul suamimu kau harus berjanji pada Papa."
Natasha langsung menatap wajahnya, dan mengembangkan senyuman manisnya.
"benarkah itu, katakan saja aku akan melakukan apapun yang Papa beritahu."
Anthony sangat melihat senyuman diwajah putri lagi, yang sempat menghilang sejak kepergian suaminya.
"mmmmmmm . . . sayang kau tidak boleh pergi kepulau seorang diri, karena itu akan sangat membahayakan keselamatan dirimu sendiri."
Natasha menarik ujung bibir atasnya merasa diperlakukan seperti anak kecil.
__ADS_1
"Baiklah, bagaimana jika aku mengajak Sam, untuk menemaniku.?."
Anthony menggelengkan kepalanya karena tidak setuju dengan ucapan putrinya.
"sayang apa yang bisa Sam lakukan untukmu, mengurus dirinya sendiri saja dia tak bisa. bagaimana jika kau mengajak James untuk ikut bersamamu?."
"Papa . . . " teriaknya.
"ada apa sayang, apa kau tak setuju jika James yang menemanimu kepulau untuk menyusul Thomas?."
"bukannya aku tidak setuju Pa, tapi Papa kan tahu jika Thomas bertemu James yang ada mereka akan berkelahi disana."
Anthony berpikir jika ucapan putrinya itu ada benarnya juga, namun ia tak mungkin membiarkan putrinya pergi seorang diri untuk menyusul suaminya. dengan terpaksa Anthony memutuskan hal yang akan membuat Natasha senang.
"baiklah sayang, bagaimana jika Papa saja yang menemanimu?."
"benarkah itu, bukankah kondisi Papa tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh!."
"tidak apa-apa sayang, Papa sudah merasa baikkan. tapi Papa tetap ingin James ikut pergi bersama kita."
"jika Papa merasa itu jalan yang terbaik, aku tidak masalah."
Natasha langsung cemberut mendengar ucapan Anthony dan langsung memprotesnya dengan suara yang pelan.
"Papa apa tak bisa esok saja kita perginya."
"sayang, kenapa kau menjadi tak sabaran seperti ini?, kitakan perlu menghubungi James terlebih dahulu dan merencanakan perjalanan yang akan kita hadapi bersama James!."
"baiklah aku akan bersabar sampai esok lusa."
Anthony menggelengkan kepalanya melihat putrinya dengan wajah yang cemberut, ia tak menyangka putrinya kini memiliki sifat yang hampir seperti Thomas yaitu orang yang tak pernah sabar dalam menghadapi masalah.
**********
Thomas yang sudah sedikit tenang, menghadiri jamuan makan malam yang diadakan oleh rekan bisnisnya.
ia dan Jonathan sudah bersiap diri untuk pergi ketempat jamuan, namun mereka berhenti dan ternganga saat Malika datang mengendarai mobil mewah dan menyapa mereka.
"Thomas, Jo, mengapa kalian hanya berdiam diri saja, apakah kalian tak ingin menghadiri jamuan makan malam?."
__ADS_1
Jonathan menghampiri Malika dan bertanya padanya. "mobil siapa yang kau kendarai ini Malika?.
"tentu saja mobil milik perusahaan, apakah kalian ingin berjalan kaki untuk menghadiri jamuan makan?."
Thomas langsung menepuk tangan Jonathan yang berniat akan masuk kedalam mobil, Malika yang melihat akan hal itu langsung mengutarakan ucapan menyindir yang ditujukan pada Thomas.
"baiklah jika kau tidak ingin ikut denganku, tapi asal kau tahu saja "Mr.Boy" tempat jamuan makannya lumayan sangat jauh dari sini jika hanya berjalan kaki."
Thomas menghentikan langkahnya dan dengan terpaksa masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Malika, kali ini ia harus menahan emosi agar tidak bertengkar dengan Malika.
Malika ingin tertawa melihat tingkah laku Thomas, namun ia hanya tersenyum saat Thomas masuk kedalam mobil. namun berkebalikan dengan Malika yang menahan tawanya, Jonathan langsung tertawa terbahak-bahak melihat sikap Thomas yang gengsi.
Thomas langsung memberikan tatapan tajam agar Jonathan berhenti meledeknya.
"apa kau tidak bisa diam Jo, apa perlu aku menyumpal mulutmu agar kau tak terus tertawa seperti itu."
Jonathan langsung terdiam mendengar ucapan Thomas, ia menyuruh Malika segera melajukan kendaraannya agar cepat sampai ditempat jamuan makan sehingga Thomas tidak terlalu murka kepadanya.
Malika langsung melajukan kendaraannya dengan santai, ia tak menduga jika dirinya bisa dekat dan bercanda lagi dengan Thomas dan Jonathan. dan ini merupakan kesempatan untuknya melakukan rencana yang telah dipersiapkan oleh Bernard chadwik.
Malika bergumam didalam hatinya saat melihat wajah Thomas. "sebentar lagi kau akan jadi milikku selamanya "Mr.Boy", kau tunggu dan lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkanmu."
setelah sampai ditempat jamuan, Thomas langsung turun dari mobil meninggalkan Malika dan juga Jonathan. Thomas melihat rumah mewah dan ia tak menyangka jika terdapat rumah mewah dipulau yang terpencil seperti ini.
Thomas melangkahkan kakinya, dan ia terkejut karena jamuan makan malam ini sangat-sangat tak ia sangka, ruangan ini dipenuhi oleh barang-barang antik dan ia kaget saat melihat lukisan yang pernah ia lihat divilla Bernard, namun tak mungkin ia langsung menanyakan perihal lukisan ini secara langsung.
dihadapan Thomas terdapat sebuah meja panjang yang dipenuhi oleh aneka ragam makanan, dan Jonathan yang mencium aroma dari makanan langsung mendekati Thomas.
"waaaauuwww ia amazing . . . , ternyata Indra penciumanku tidak salah. semua makanan ini terlihat lezat sekali. bukankah begitu Thomas?."
Thomas langsung menepuk pundak Jonathan. "yang ada dipikiranmu hanya soal makanan saja."
rekan bisnis Thomas menyambut kedatangannya dengan ramah.
"tuan Thomas mari silahkan dinikmati hidangan yang kami suguhkan untuk anda dan juga tuan Jonathan."
"terimakasih tuan atas semuanya."
mereka menikmati jamuan makan yang sangat istimewa, Thomas melihat Jonathan makan dengan lahap tanpa memperdulikan orang disekitarnya dan hal itu membuat Thomas merasa malu dengan sikapnya.
__ADS_1