
"Itu kalau Dave tidak berubah pikiran."
"Apa?!" Tanyaku tak percaya dengan kalimat yang baru saja kudengar.
Ternyata pria ini mempermainkan ku, kesal sekali rasanya.
Tanpa sepengetahuan Noni, kini pria yang mendorong kursi rodanya tengah tersenyum bahagia. Perlahan lelaki itu melangkah kedepan Noni, kini dia berlutut dihadapan gadis itu.
"Noni, saya want to say terimakasih karena kamu sudah mau berjuang melawan rasa sakit ini. For me and your parents, kesehatan kamu hal paling penting." pria itu berujar sambil memandang dalam manik mata ku.
"Dave.. stop it." pintaku.
Aku khawatir, jika pria ini tetap bicara bisa-bisa jantungku berhenti berdetak.
"Dave, thank you. Terimakasih kamu selalu ada buat aku, papa dan mama."
"No sayang. Dave yang berterimakasih, karena dalam dirimu and your parents Dave bisa menemukan kembali sebuah rumah." Tangannya kini menggenggam kedua tanganku.
"Sumpah demi apa, ya ampuun, ya Tuhan. Cowo ini udah tampan bisa sweet gini lagi. Apa aku harus pura-pura pingsan sekarang?" aku sibuk bergumam dalam hati seiring jantungku yang tidak berhenti mengikuti lomba lari ini.
"Dave, ayok antarkan Noni kembali. Aku sangat mengantuk." ujarku mencari alasan agar dia berhenti menggenggam tanganku. Demi apapun, debaran jantungku tidak dapat ku kendalikan sekarang.
"Baiklah Princess."
Pria itu beranjak dari posisi jongkok nya dan kembali mendorong kursi roda yang membawa tubuhku kembali memasuki rumah sakit.
"Dave, kenapa kamu ingin jadi dokter?"
"Karena aku sangat menyukainya. Tidak ada alasan khusus dear."
"Hmmmm... benarkah?"
"Iya Noni."
"Btw, temanku juga akan jadi dokter."
"Temanmu yang mana? Apa kamu punya teman?"
"Seseorang yang pernah ke rumah Dave. Apa kamu lupa?"
"ah i see.. it's her."
"Iya Dave, namanya Cintya."
"hmm.."
Aku menangkap nada tidak peduli dari respon terakhir Dave. Aku memutuskan untuk berhenti berbicara dengan pria ini. ah, yasudahlah yang terpenting Dave selalu ada untukku dan Cintya pasti akan jadi dokter. Semuanya perpect.
Setelah tiba di kamar, Dave membersihkan kaki, tangan dan wajahku. Lalu pria itu menggendong tubuhku keatas ranjang rumah sakit.
"Tidur yang nyenyak baby girl, cepat pulih agar kita bisa bermain lagi." ujar Dave, diakhiri dengan sebuah kecupan singkat di keningku.
kecupan ini adalah hal yang selalu dilakukan papa dan mama bagiku. Dan hari ini Dave juga melakukannya. Aku sungguh bahagia sekali.
\*\*\*
Sudah dua minggu sejak Noni absen dari sekolah, dua minggu pula gadis itu mengabaikan pesanku di FB.
"Dasar gadis licik. Awas saja kalau loe pulang, gue pecat jadi teman." gumamku kesal saat memandang layar komputer di warnet ini.
Aku merasa sia-sia mampir ke tempat ini dan menghabiskan uangku, ternyata sampai sekarang Noni bahkan tidak membalas pesanku. Hanya di read, ingat itu hanya di read.
Dengan malas kumatikan komputer di hadapanku, setelah membayar ongkos warnetnya aku segera menyusun langkah kembali ke rumah. Pemandangan di depanku cukup mengejutkan, tidak biasanya papa pulang di sore hari begini.
"Papa?"
__ADS_1
Pria itu menoleh ke arahku yang kini bergerak mendekatinya.
"CINTYA, DARI MANA SAJA KAMU?"
"Sekolah pa."
"APA? ini sudah hampir jam 4 sore, dan kamu lengkap dengan seragam itu berkeliaran di luar? Jam berapa sekolahmu usai?"
Papa bertanya dengan penuh kemarahan seolah dia tidak percaya padaku. ah, aku salah. Dia memang tidak percaya padaku.
"Cintya mampir ke warnet pa. Ngerjain PR yang banyak banget, makanya lama. Maaf ya pa." jawabku berbohong karena malas menjelaskan kenyataan bahwa aku berjalan kaki setiap pulang sekolah.
"Kamu yakin itu PR? jangan-jangan kamu ikut-ikutan seperti anak sekarang main game online, HA?"
"Bukan Pa."
"Awas saja kamu sempat kepergok sama papa ya Cin. Sana masuk."
Aku langsung melangkah memasuki halaman rumah kami setelah ancaman dan perintah dari papa.
Setelah menyimpan tas, aku kembali ke aktifitas sehari-hariku. Memasak, membersihkan rumah, mencuci piring, mandi dan kembali belajar.
\*\*\*
Hari yang cerah dan tentu saja aku sudah melangkah masuk kedalam halaman sekolah. Dua minggu lagi akan Ujian Nasional, sementara Noni belum juga kembali kesekolah. Sudah sebulan gadis itu tidak memberi kabar. Aku mulai terbiasa dengan hari-hariku yang sepi tanpa dia. Aku melangkah santai di koridor sekolah yang masih sangat sepi.
"CIN..!!"
Sebuah suara berseru memanggilku. Suara cempreng khas milik seseorang yang sangat akrab denganku. Repleks ku putar tubuhku ke arah sumber suara, dan tiba-tiba sebuah pelukan mendarat di tubuhku.
"Loe kok berkeringat banget sih Cin? masih pagi-pagi gini juga."
"Eh, lepasin gue. Gerah banget, jangan peluk-peluk."
"Tega loe ya Non, udah ninggalin gue tanpa kabar. Datang-datang malah ngeledek gue. Sahabat apaan loe?"
"Ciee, yang lagi ngambek. Jangan ngambek dong. Btw selamat ya buat beasiswa lo."
"Enggak ah, gua nggak terima selamatan daru teman jahat kayak loe."
Aku mengungkapkan kekesalanku sambil melangkah meninggalkan Noni, berjalan menuju kelas. Yang pasti gadis itu sedang mengekor di belakangku, dengan wajah sumringah nya itu.
Setibanya di kelas, kami menyimpan tas masing-masing. Aku langsung duduk di kursi ku, demikian juga denga Noni.
"Cin.. ini buat loe."
Noni menyerahkan sebuah paper bag padaku.
"Apaan ini Non?"
"Sogokan dari gue. Sogokan permohonan maaf."
"Oh, selain teman penghianat ternyata loe juga tukang sogok ya?"
"Jadi loe nggak mau? Yaudah ntar gue kasih sama George."
"Apaan sih loe? sini-sini, mana mungkin gue nolak dan marah sama loe." ujarku sambil tersenyum lebar.
"Nah gitu dong, baru Cintaku."
Aku langsung membuka paper bag dari Noni. Isinya ada beberapa buku kedokteran dan buku dengan topik kanker dalam bahasa inggris. Dan sebuah bingkai foto yang dihiasi wajah ceria Noni. Foto itu diambil di salah satu tempat populer di Australia.
"Enak banget loe, jalan-jalan nggak ngajak gue."
"Lah, yang penting kan gue nggak lupa sama loe. Buku ini hadiah untuk masuk universitas. Dan coba perhatikan baik-baik fotonya. Ada yang unik kan?"
__ADS_1
"Unik apaan? cuman wajah loe doang ditambah tulisan hai Cintya."
"Apa? Cintya? loe nggak salah baca?"
"Iya iya. Loe lihat sendiri nih."
Noni langsung meraih bingkai foto di tanganku. Wajahnya terlihat bingung.
"Kok bisa yan Cin? padahal waktu itu gua tulis hi Cinta. Kan gue manggil loe Cinta. Ini pasti ulah si Dave."
"Apa hubungannya sama Dave?" tanyaku tenang.
"Aku minta bantuan dia buat cetakin fotonya. Tapi... kok dia bisa tau Cinta yang kumaksud itu kamu?" Wajah Noni kini berubah serius.
"Cin.. apa jangan-jangan Dave sudah tahu semuanya?"
"Tahu apaan?"
"Apa dia bisa baca pikiran aku? Kok bisa begini sih Cin?"
"Hei.. hei.. maksud kamu apaan sih, ngomong yang jelas dong Noni."
Ekspresi kebingungan Noni ternyata menarik perhatian anak-anak XII IPA B. Mungkin bukan ekspresinya, tapi kehadirannya setelah sebulan tidak masuk sekolah, itulah yang menarik perhatian mereka.
"Hei Noni, apa kabar?" Tanya George yang tiba-tiba menghampiri meja kami.
"Gue baik George."
"Wellcome back ya Noni."
"Thank you Goerge."
"Emang loe sudah boleh masuk sekolah? kenapa nggak homeschooling aja?"
"Sorry Goerge gue lagi ngobrol sama Cintya." Noni mencoba menghindari pertanyaan George.
"Tunggu, tunggu dulu. Loe? Homeschooling? ada apa sebenarnya Non?" tanyaku sambil memandangnya serius.
"Adu Cin, jangan nanya itu dong. Gue khawatir nih. Kenapa tulisan di foto itu bukan Cinta tapi Cintya."
"Khawatir apanya?"
"Gimana kalau Dave bisa baca pikiran gue?"
"Eh, otak loe itu dipakai buat apa selama ini Noni? Mana ada orang bisa baca pikiran orang lain? Lagipula apa masalahnya kalau dia bisa baca pikiran loe?"
"Gila. Bisa mampus gue."
"Mampus kenapa? Apa Dave itu semacam virus yang bisa membahayakan kesehatan loe?"
"Bukan.. Bukan begitu maksud gue."
"Terus?"
"Aduh, gimana nih. kok gue malu ya buat ngaku sama Cintya?" ucao Noni dalam hati.
"Yasudahlah, nggak ada masalah kan?" tanyaku.
Noni kini mendekatkan bibirnya ke telingaku.
"Hei jangan cium gue. Geli tau." protesku sambil menarik diri menjauh.
"Gue mau bisikin. Siniin telinga loe."
Aku mendekatkan telingaku pada Noni, dan tiba-tiba saja bel berbunyi. Hari ini jadwal senam pagi, dengan malas aku beranjak meninggalkan kursiku.
__ADS_1