CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Teka-Teki Hati (3)


__ADS_3

"Steve, loe nyusul kita ya. Gue nggak yakin nyetir sendiri. Cintya kelihatannya nggak baik-baik aja sekarang." perlahan kudengar percakapan Noni di telepon. Namun aku memilih diam.


Setelah menghubungi Steve, gadis itu langsung berpindah ke jok belakang dan memeluk tubuhku.


"Loe kenapa Cin? Loe boleh nangis, Loe boleh marah. Jangan diam begini. Ini bukan loe yang gue kenal." ujar Noni sambil terus memelukku.


"George. Gue benci George." jawabku terisak.


"Iya gue tahu dia jahat."


"Dia, ngancam mau memperkosa gue Non. Kalau gue nggak nurut sama dia." ujarku pelan.


"APA??? Loe tadi ketemu dia?"


"Iya." Akhirnya sambil terisak aku menceritakan kejadian siang tadi pada Noni.


"Awas aja dia. Loe tenang aja Cin, gue bakal kasih pelajaran sama anak itu." janji Noni.


"Nggak Non. Nggak usah. Gue juga nggak terlalu takut sama ancaman dia. Gue cuman nggak terima aja sama kenyataan kalau George bisa memperlakukan gue sejahat tadi." ucapku.


"Mana ponsel yang tadi dia kasih sama loe?"


"Di dalam tas." jawabku.


Noni langsung memeriksa isi tasku. Dia meraih sebuah kotak dan langsung mengeluarkan isinya. Setelah menghidupkan ponsel itu, Noni segera menghubungi seseorang.


"Eh loe bajing**, kalau loe Cinta pakai hati sama otak loe. Jangan malah nyelakain orang. Malu gue punya teman kayak loe. Sekali lagi loe bertindak bodoh, jangan salahin gue jika hal buruk terjadi sama keluarga loe." Noni menyampaikan ancaman nya dengan serius sebelum menutup panggilan itu.


"Noni, loe apaan sih?" tanyaku kemudian.


"Biarin aja. Gue nggak suka dia gangguin ketenangan hidup loe."


"Gue baik-baik aja Noni."


"Gue yang lihat dengan mata kepala gue sendiri, loe nggak kelihatan baik-baik aja."


"Loe salah lihat." jawabku lemah.


"Loe tahu nggak sih Cintya, yang dia lakuin ke loe tadi adalah pelecehan. Gue bisa nuntut dia sekarang juga." ujar Noni emosi.


Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobil. Kami berdua langsung menoleh memeriksa ke luar. Steve sudah berdiri di sana. Noni segera membuka pintu mobil nya yang terkunci. Dan pria itupun langsung masuk dan duduk di balik kemudi.


"Loe lama banget, sampai berlumut gue." omel Noni.


"Gimana keadaan loe?" Tanya Steve sambil menoleh ke belakang memastikan kondisiku.


"Gue baik-baik aja kok Steve."


"Loe berdua kenal di mana sama cowo itu?"


"Maksud loe?"


"Enggak ah, mungkin gue salah orang. Tadi pas loe berdua cabut ada cowok yang ngawasin mobil loe Non. Mungkin perasaan gue aja kali ya?" ujar Steve tidak yakin.


"Oh.. Informasi loe selalu aja nggak penting." ujar Noni.


"Loe yakin udah ngerasa baikan Cin? Sebenarnya tadi loe kenapa?" Tanya Steve sambil menyalakan mobil.


"Nanti aja Steve gue ceritain kalau kita udah di rumah. Gue mau istirahat sebentar." jawabku kemudian.

__ADS_1


"Ok."


Steve melajukan mobil perlahan, sedang Noni kembali memelukku yang kini memilih untuk memejamkan mata. Kejadian tadi, saat George mengganggu ku kembali berputar dalam kepalaku. Berkali-kali kuhirup napas dalam-dalam. Aku tidak ingin perasaan ternoda karena aksi pelecehan itu dan rasa takut oleh ancaman George mengalahkanku.


Bagaimanapun kejamnya hidup aku harus menaklukkannya. Aku harus kuat dan mengejar mimpiku. Bayang-bayang George terasa semakin nyata dan aku memilih menghadapi ingatan itu. Tanpa sadar air mata kembali meenetes membasahi pipiku. Tangan Noni yang hangat mendarat di wajahku, menghapus air mataku.


"Tunggu dulu. Tangan Noni, panas sekali." gumamku dalam hati. Aku tersentak kaget dan langsung membuka mataku.


Dengan sebuah gerakan refleks aku meraba kening gadis itu.


"Noni, kamu sakit?" tanyaku khawatir.


"Loe lihat nih Steve. Nih anak udah mulai ngawur kan?" ujar Noni.


"Noni, jangan mengalihkan perhatian. Leo demam Non."


"Nggak apa-apa Cinta. Paling juga gue dehidrasi. Ntar kalau udah minum air putih, suhu tubuh gue bakalan normal lagi kok." ujar Noni mencoba meyakinkan ku.


"Sudah sini, kamu tidur lagi." ucap Noni kembali memeluk tubuhku.


Gadis itu berusaha melakukan yang terbaik untuk menenangkan perasaanku di sepanjang perjalanan. Aku masih mendengarkan percakapan Noni dan Steve walau dalam kondisi mata yang terpejam.


"Kita kemana?" tanya Steve


"Rumah Cintya aja." jawab Noni.


"Gue nggak tahu alamatnya."


"Jalan anggrek nomor 5 kompleks graha permata."


"Cintya tinggal di graha permata?"


"Iya."


"stttt.. jangan cerewet, jangan menebak-nebak dan jangan banyak tanya. Loe bakal tahu semuanya kalau waktunya udah tiba."


"Apa-apaan maksud kalimat kamu barusan?"


"Steve, loe nyetir aja yang benar. Jangan banyak ngoceh. Cintya lagi tidur nih."


"Siap Nyonya." jawab Steve mengalah.


Akhirnya kami tiba di rumahku. Setelah mempersilahkan Steve dan Cintya masuk kerumah, aku bergegas ke dapur dan menyajikan minuman untuk mereka berdua. Expresi Steve begitu kebingungan saat masuk kedalam rumah yang dihuni oleh keluargaku. Akhirnya tanpa ditanya, aku menjelaskan sejarah rumah ini, kepada Steve dan Noni.


"Jadi dulu orang tua Loe salah satu pemegang saham di grup Goldens?" tanya Steve penasaran.


"Iya begitu, gue juga masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi waktu itu. Tapi kita juga udah baik-baik aja kok, jadi nggak perlu diungkit lagi perkaranya." jawabku santai.


"Cintya, loe nggak pernah kepikiran kalau orang tua loe ternyata dijebak gitu?" tanya Steve.


"Sekalipun gue kepikiran kalau gue nggak bisa ngebuktiin apa-apa tetap aja nggak ada gunanya kan?"


"Tapi kamu tetap bisa mencari kebenaran dan buktinya."


"Itu udah berlalu. Lagian daripada gue sibuk dengan hal-hal di masa lalu, lebih baik gue belajar dan manfaatin kesempatan ini buat menempa skill gue." jawabku lagi.


"Terus gimana dengan kejadian hari ini? Apa yang terjadi sebelum loe ke kelas?" tanya Steve lagi.


"Gue cuman bisa jelasin inti ceritanya sama loe, takut nanti adik gue keburu pulang dan dengar sesuatu." jawabku.

__ADS_1


"Oke, gue bisa nanya cerita selengkapnya dari Noni sambil nganter dia pulang. Sekarang loe kasih tau inti masalahnya aja."


Akhirnya aku menjelaskan secara singkat kejadian buruk hari ini, juga tentang siapa Goerge. Setelah lama berbincang-bincang dan memastikan keadaanku baik-baik saja, Steve dan Noni kemudian undur diri.


Giordani tiba dirumah tepat saat aku mengantar mereka ke halaman depan. Setelah berkenalan dengan Giordani, akhirnya Steve dan Noni pulang sambil megendarai mobil Noni.


Aku langsung kembali kedalam rumah, dan bergegas mengerjakan pekerjaanku seperti biasanya. Bayang-bayang tentang kejahatan George masih terputar jelas dalam memory ku.Aku mengalihkan pikiranku dengan berfokus pada piring-piring yang kucuci, dan masakan yang sedang ku masak.


Seusai memasak aku langsung membersihkan diri. Dikamar mandi tiba-tiba saja perasaan jijik menggerayapi diriku. Aku memasang shower dan membiarkan air mengguyur tubuhku. Dengan terisak aku menggosok kulitku dengan sabun berkali-kali. Rasa benci dan hina tiba-tiba menyusup ke dalam kepalaku.


"Kakak..kakak.. kak Cin" isakanku terhenti oleh teriakan Giordani yang kini mengetuk pintu kamar mandi ku.


"Apa dek?"


"Ada telepon kak. Hp nya gue letak di meja belajar ya, hati-hati pakai baju dulu baru pegang hp nya."


"Siapa yang nelpon dek?"


"Cowok itu kak, yang sering kemari bareng Noni."


"Dave?" tanyaku.


Aku segera mengakhiri ritual mandiku, dan langsung mengenakan piyama. Setelah memastikan diriku berpakaian dengan layak langsung kuraih ponsel Giordani dari meja belajarku.


"Hi Dave." sapa ku pada layar ponsel.


"Hi. Are you Ok?" tanyanya.


Kini aku kembali memandang wajah pria itu di layar ponsel milik Giordani.


"Tentu saja, aku baik-baik aja. Ada apa?"


"Gimana kalau kamu pindah ke Sidney?"


"Ngawur kamu. Nelpon aku cuman mau ngasih pertanyaan konyol begini?"


"Sorry. So, kamu yakin semua baik-baik aja?"


"Iya Dave. Ada apa sih?"


"Noni, dengarkan saya. Salah satu hal penting di dalam hiduo adalah melakukan sesuatu yang membuatmu merasa hidup. Misalnya, kalau kamu melukis dan sangat menikmati kegiatan itu ya melukislah."


"Gue senang kuliah di jurusan kedokteran ini."


"So, jangan biarkan sesuatu menghentikanmu . Okay?"


"Siap bos."


"Disini sudah hampir larut malam, saya tutup dulu teleponnya ya. See you."


"See you." jawabku dan kamipun mengakhiri panggilan itu.


Pikiranku kini diisi oleh seputar pertanyaan tentang Dave. Kenapa dia meneleponku? Apa maksud perkataannya tadi? Apakah Dave sudah tahu kejadian hari ini? Kalaupun dia tahu kejadian tadi, sejak kapan pria angkuh itu mau memberi waktu untuk memperdulikanku?


Aku masih sibuk dengan pertanyaanku, hingga akhirnya mama muncul di pintu kamar dan mengajakku untuk makan malam. Setelah acara makan malam selesai, mama dan papa menyerahkan sebuah kotak hadiah padaku. Saat aku membuka kotak itu, terdapat laptop dan ponsel di dalamnya.


"Mam, Pap ini bukannya mahal?"


"Ini dari tabungan kami berdua sayang. Kamu sudah membutuhkannya." ujar mama.

__ADS_1


"Makasih mama, makasih papa." ujarku sambil memeluk mereka bergantian, air mataku yang tak terbendung kini mengalir membasahi pipiku.


__ADS_2