CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Para Penghuni Jalan


__ADS_3

"Arrrghh... Cintya, jangan lempar sembarangan. Kau mengenainya lagi." ringis Dave sambil menyentuh sesuatu diantara pangkal kakinya.


Aku memilih menutup wajah karena malu.


"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Jeritku dalam hati.


"Aku akan menuntutmu karena pelecehan." ringis Dave, aku tahu dia sedang menahan rasa sakit sekarang.


"Buruan jalan, aku lapar nih." jawabku mencoba mengalihkan keadaan.


Tanpa banyak basa basi Dave kini melajukan mobil keluar dari area kampus.


 


\*


 


Kesibukan Dave dengan research memberikan angin segar dalam hidupku. Karena kesibukan pria itu berarti kebebasanku. Sama seperti hari ini, berhubung kampus sedang libur dan Dave sedang di rumah sakit, maka aku memutuskan untuk kembali melakukan aktivitas mencari pekerjaan yang sempat tertunda sejak aku dinikahi secara paksa.


Kemeja formal seadanya, dan celana kain berwarna hitam kini membungkus tubuhku. Aku yakin, saat nanti aku keluar dari rumah besar ini orang yang melihat akan menebak statusku sebagai pekerja, bukan nona muda. Iya kan? bukankah aku sudah jadi nona muda sejak menikah dengan Dave? aku tersenyum memandang kartu tanpa batas yang di berikan dave beberapa hari setelah pernikahan.


"Berhenti meminta uang dari mama, pegang kartu ini pakai untuk keperluanmu." ujar Dave sambil menyerahkan sebuah kartu padaku.


"Terimakasih Dave, akhirnya ada gunanya juga ternyata nikah sama kamu." aku sengaja ingin membuatnya kesal.


"Kau akan menyesal jika nominal yang habis setiap bulannya berada di bawah standarku." pria itu mengancam ku.


"Tenang saja Dave, aku bisa membuatmu bangkrut secepatnya. Dan aku akan melakukannya. Hahaha..." aku tergelak membayangkan wajah sedih dan frustasi Dave jika dia bangkrut nanti.


"Aku menantangmu." jawab Dave tak mau kalah.


Senyumku terkulum manis mengingat kejadian itu.


"Gue pakai buat apa ya uang si Dave? Nanti aja deh mikirnya, mending sekarang gue jalan dan nyebar lamaran kerja sebanyak-banyaknya. Bisa kerja part time saat weekend setidaknya sudah lumayan kan?" aku segera keluar dari gerbang rumah mewah milik keluarga Noni dan menanti ojek online menjemputmu.


 


\*


 


Usai menjatuhkan lamaran di berbagai tempat, aku kembali menyusuri trotoar kota Jakarta. Tidak jauh berbeda dengan beberapa waktu lalu saat aku melalui tempat ini, masih banyak anak kecil yang menjajakan dagangan mereka di perempatan lampu merah. Masih ada anak kecil yang mengamen kesana kemari. Dan masih juga ada beberapa lansia yang duduk-duduk menunggu belas kasihan.


"Bukankah fakir miskin dan anak terlantar seharusnya di pelihara oleh negara" ujarku saat melihat beberapa anak kecil mengais tempat sampah di salah satu sudut jalan.


Tanpa sadar kini aku sudah berdiri di dekat tempat sampah berbau anyar itu. Menyaksikan tiga bocah kurus sedang mengais kotak-kotak yang berisi makanan sisa.

__ADS_1


"Adek..." aku menyapa mereka.


....


Para bocah itu mengabaikan ku, ketiganya tetap asik dengan kesibukan mereka.


"Itu punyaku...!!" salah satu bocah lelaki menarik paksa kotak makanan yang baru saja di angkat oleh sepasang tangan mungil dari tempat kotor itu.


“Bukan ini punyaku." gadis yang menemukan kotak itu melawan mencoba mempertahankan miliknya.


"Kau pencuri. Jangan mencuri milik orang lain." bocah lelaki yang tadi menarik paksa kotaknya dan mendorong gadis kecil itu hingga terjatuh. Sementara bocah lainnya bersikap seolah tidak melihat semua kejadian itu.


"Sakit....shhh." gadis itu meringis pelan.


"Tanpa mendorong sekuat itu, dia juga akan jatuh. Sudah badannya lebih kecil, malah didorong kencang begitu, untung tidak jatuh ke jalanan. Bisa tiba-tiba ditabrak kendaraan yang lewat kan?" Aku mengomel dalam hati sambil mendekati gadis tadi.


"Adek, kamu tidak apa-apa?" aku jongkok di sampingnya berusaha memeriksa kondisinya.


"Jangan ikut campur." jawab gadis itu ketus, walau wajahnya menunjukkan rasa tidak suka namun tergambar jelas disana berapa dia sedang menahan rasa sakit.


"Kamu sudah makan? Mau ini?" tanyaku sambil menyodorkan roti yang tadi kubeli padanya.


Aku memandang wajah gadis itu. Mata nya kini berbinar memandang kedua tanganku yang sedang menggenggam plastik berisi roti.


"Boleh kak?" Dia bertanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Boleh saya minta semuanya kak?" gadis itu bertanya ragu-ragu.


Aku berpikir sejenak, ada dua bungkus roti tawar lengkap dengan selai di tanganku. Rencananya tadi aku ingin membagikan satu bungkus untuk mereka dan satunya kubawa pulang. Namum mendengar gadis ini meminta semuanya membuatku sedikit ragu. Bukan karena pelit, tapi aku bingung bagaimana dia akan menghabiskan semuanya sebelum roti-roti ini expired.


"Kakak... aku ingin membaginya dengan kakak itu dan kakak yang tadi. Kami juga masih punya beberapa teman lain yang pasti belum makan. Mereka akan sangat senang." ujar gadis itu sambil menatapku penuh harap.


"Mulia sekali kamu, dia bahkan sudah menyakitimu dan mencuri makananmu, tapi kamu masih ingin berbagi dengannya." ucapku lirih dalam hati mengingat kejadian beberapa menit lalu.


"Boleh. Tapi kakak ikut ya, ketemu sama teman-teman kamu?"


"Kakak yakin?" dia menatapku serius.


"Iya."


Gadis terlihat menimbang sejenak, raut wajahnya kini berubah gelisah.


"Kakak, kakak tolong tunggu di sini. Saya akan mengajak mereka kemari." jawab gadis itu kemudian.


Aku mengangguk cepat, secepat anggukanku berlalu gadis kecil itu pun pergi memanggil temannya.


Tak lebih dari lima menit, gadis kecil itu kembali bersama lima anak kecil lain. Ada tiga gadis perempuan, jadi empat orang ditambah dirinya, dan seorang lelaki. Anak lelaki yang tadi berebut makanan dengannya.

__ADS_1


"Abang, sini makan" panggil gadis itu pada anak yang masih mengorek temoat sampah.


"Kalian cuci tangan dulu ya." ujarku sambil menyerahkan satu botol air mineral.


Setelah memastikan semuanya mencuci tangan, akhirnya kubagikan roti tadi pada mereka.


"Apa tidak lebih baik jika makan di tempat kalian?" tanyaku penasaran.


"Jangan kak, ada abang ketua." salah satu anak menyahut menjawab pertanyaan ku.


"Kenapa kalau ada dia?" tanyaku penasaran.


"Dia kepala preman yang sering malak anak-anak di sini kak." bisik salah satu anak dengan hati-hati.


Aku manggut-manggut memberi isyarat mengerti. Hatiku ngilu memikirkan bagaimana anak-anak ini menjalani hari-hari mereka. Mereka menikmati roti lapis yang kuberi sambil bercanda dan tersenyum satu sama lain. Bagi mereka bahagia adalah saat perut sudah tidak keroncongan karena kelaparan. Aku terharu memandang senyum mereka sampai sebuah suara menyadarkan ku.


"Oh, jadi begini kesibukan mu?" tanya suara wanita yang tiba-tiba menyita perhatian ku.


Aku mengangkat kepala mencoba mencari sumber suara.


"Oh, mama nya George?" gumamku dalam hati saat menyadari sebuah mobil yang berhenti di dekat ku dan anak-anak. Wanita itu tidak turun, dia hanya memandang ku dari dalam mobilnya.


"Eh, Cintya... Kamu jangan berpikir bahwa kamu sudah cukup hebat ya karena bisa menikah dengan Dave. Tempat kamu memang di sini, jadi gembel. Untung kamu nggak lupa diri. Hahaha... Ayok jalan pak, tempat ini berbau busuk. " Wanita itu memerintah sopirnya setelah menyemprotku dengan kata-kata kasar.


"Dia siapa kak?" tanya salah satu anak yang sedang duduk di dekatku.


"Dia salah orang. Jangan dipikirkan."


Namun pikiranku melayang jauh, mencoba mencari jawaban tentang sikap keluarga George selama ini.


"Apa salahku? Kenapa keluarga George sangat membenciku? Bukankah aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan George? Apa alasan mamanya selalu menyakitiku?" Aku bertanya-tanya dalam hati.


"Kak... kak.... kami harus pergi. Maaf ya kak." Anak kecil yang tadi bersamaku kini sedang gaduh dan berlarian tak tentu arah, seolah mereka sedang ketakutan karena melihat hantu.


Aku hanya bisa berdiri dan menatap kepergian mereka tanpa sempat mengucapkan sepatah kata.


"Hi cantik, apa kamu sedang tersesat?" tanya seorang pria yang tiba-tiba menghampiriku.


Aku bergidik ngeri, melihat penampilan pria asing itu.


**Author POV


gimana nih menurut kalian ceritanya? Tolong beri kritik dan saran ya.


Saya juga ingin mengundang readers di sini untuk bergabung di grup chat, akan ada pembagian kotak hadiah setiap harinya.


Terimakasih sudah membaca

__ADS_1


-best**-


__ADS_2