
Berkali-kali Dave mendial nomor Cintya namun sama sekali tidak ada jawaban, membuat pria itu semakin khawatir.
"Cintya, kamu kemana?" geram Dave gemas sambil berjalan di area taman kampus.
"Wah tampan banget..." "Bule guys, ada bule"
Samar-samar Dave bisa mendengar bunyi berisik dari beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya. Namun Dave memilih menganggap suara-suara itu sebagai angin lalu, bagaimanapun dia harus menemukan Cintya dengan segera.
"Ah, jangan bilang ini semua perbuatan Goerge." Dave membatin sambil mengepalkan tangannya.
"Perpustakaan." ujar Dave seperti mendapat sebuah ide cemerlang, sebelum dia melangkah menuju gedung yang paling sering Noni kunjungi.
Dave mengedar pandangannya keseluruh penjuru perpustakaan, namun tak juga menemukan sosok yang tengah dicari keberadaannya.
"Perhatian kepada mahasiswi kami yang bernama Cintya dari jurusan kedokteran agar segera melapor pada staff perpustakaan. Sekali lagi kami panggilkan....."
Sudah kesekian kalinya Dave mendengar pengumuman lewat pengeras suara. Andai Cintya ada di tempat ini seharusnya dia sudah mendengar pengumuman itu dan melapor ke pada staff di pusat informasi.
Setelah menghela nafas panjang, Dave memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
"Pak, Cintya belum melapor?" tanya Dave pada salah satu staff.
"Belum."
"Baiklah, terimakasih untuk bantuannya, sepertinya dia tidak di sini." ujar Dave sebelum undur diri.
ย
\\*
ย
๐น๐น๐นCintya POV ๐น๐น๐น
Aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terasa jauh lebih segat. Beruntung sekali, hari ini aku bisa bertemu dengan Jenn. Sudah lama rasanya aku tidak menghabiskan waktu dengan seorang teman. Dulu satu-satunya temanku hanya Noni, namun sejak dia pindah ke US untuk berobat, aku tidak punya teman lagi.
Aku menghempaskan tubuhku di sofa. Saat ini mood ku benar-benar sangat baik. Aku melihat tas belanjaan yang kini terletak di meja. Tiba-tiba aku kembali mengingat kejadian tadi siang bersama Jenn.
๐๐๐Flashback on๐๐๐
"Apes banget gue, gara-gara si piranha, sampai diusir dari kelas." Aku menggerutu dalam hati sambil berjalan menuju perpustakaan.
"Mudah-mudahan aja si killer nggak nekan nilai gue di akhir semester nanti."
"Cintya... mau kemana?" sebuah suara mengusikku tepat di depan pintu masuk perpustakaan.
"eh..." aku terkesiap dan segera memeriksa sumber sapaan itu. "Jennisya.." ujarku saat menemukan gadis cantik itu berdiri tak jauh dariku.
"Iya, ini gue. Mau kemana Cin?" Jenn bertanya dengan gesture anggun.
"Ke perpus.."
"Loe masih ada kelas nggak hari ini?" tanya Jenn kemudian.
Aku menatapnya tenang sambil menggeleng pelan.
__ADS_1
"Ikut gue aja yuuuuk..." dalam hitungan detik Jenn meraih tanganku.
Bersama dengan Jenn, aku melangkah menuju ke parkiran kampus. Setibanya di area parkir, gadis ini masih menarik-narik lenganku hingga kami tiba di sebuah mobil.
"Yuk masuk." ujar Jann sambil membuka pintu mobil sport limited edition berwarna silver.
"Mau kemana Jenn?" tanyaku akhirnya.
"Udah ikut aja Cin, loe nggak bakal nyesal deh. Gue janji.." ucap Jenn sambil memasang wajah imut.
"Udah cantik, berwajah imut lagi. Loe kurangnya apa sih Jenn?" aku tersenyum padanya sambil bergumam dalam hati.
Jenn mengendarai mobilnya menjauh dari area kampus. Kini kami sudah melaju di jalanan kota. Setelah beberapa menit akhirnya kami mendarat di sebuah pusat perbelanjaan. Aku dan Jenn segera masuk ke gedung itu.
"Astaga, ngapain sih kemari?" aku yang memang tidak begitu hobby berbelanja merasa risih saat memasuki gedung pusat perbelanjaan nomor satu di ibukota. Tak cukup di situ, Jenn juga menarikku untuk mengunjungi toko-toko yang menjajakan barang-barang mahal.
"Cin, loe suka yang ini nggak? Kita ambil ini ya." ujar Jenn saat kami mengunjungi sebuah toko branded berharga selangit.
"Hmm... buat loe aja deh Jenn. Gue nggak suka belanja, gue nemenin aja ya." jawabku lembut, berusaha untuk tidak menyinggung perasaan gadis itu.
Jennisya terdiam, lalu memutuskan untuk tetap memilih beberapa barang. Sedang aku memilih untuk melihat-lihat di sekeliling toko.
"buseeet... gila bener, dompet sekecil ini harganya 1,5 juta? cukup biaya makan gue buat sebulan tuh. Makan nasi telor.. hahahaha" aku bergumam sambil tertawa miris di dalam hati.
Kulangkahkan kaki mengitari toko sambil terus memandangi harga barang-barang yang dipajang di sana. Dulu sebelum bisnis keluargaku bangkrut, Papa dan Mama tidak membebaskan aku dan Gio dalam memakai uang.
"Kalian harus bisa bertanggung jawab dalam menggunakan uang. Nggak boleh foya-foya. Punya uang bukan berarti kalian berhak memakainya sesuka hati. Harus bertanggung jawab, dan ingat masih banyak orang kelaparan di luar sana." Nasihat lama dari papa kembali terngiang di telingaku.
Tiba-tiba aku kembali merasa sangat merindukan beliau. Walau di masa hidupnya papa sering bersikap dingin dan galak padaku, aku tahu papa sayang padaku lebih dari aku menyayanginya.
"Cin, udah yuk. Gue udah selesai nih." ujar Jenn yang muncul tiba-tiba dan menyadaranku dari sekelebat kenangan tentang ayahku.
Acara berikutnya yang kami lakukan adalah menonton film komedi, dan makan bersama. Saat kami memutuskan untuk pulang, hubungan antara aku dan Jennisya berubah menjadi seperti sepasang sahabat yang sudah bersama sejak waktu yang lama.
Kami saling bercanda, meledek, tertawa dan juga saling menegur.
"Jenn, loe emang kalau makan selalu milih-milih gitu?"
"Gue nggak suka sayuran Cin.." ujar Jen tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan.
"Ntar loe sembelit noh karena kekurangan serat.."
"Loh, emang iya ya?" tanya Jenn polos.
"Bercanda aja loe, mana ada anak kedokteran yang nggak tau begituan Jenn?"
"Lah, siapa bilang gue jurusan kedokteran?"
"Kamu sendiri. Jangan sok hilang ingatan deh."
"Oh..." Jennisya megetok jidatnya dengan jari telunjuknya tepat saat kami berada di lampu merah.
"Gue kejedot nih sampai hilang ingatan." ujar Jenn sambil memutar bola matanya.
"Garing banget sih Loe." jawabku menahan geli.
__ADS_1
"Garing-garing gini teman loe juga."" jawab Jenn sambil kembali melajukan mobil, saat lampu hijau menyala.
Teman? kata itu terasa sangat mewah bagiku. Memiliki seorang teman saat Noni tidak di sini tentu menjadi berkah yang luar biasa.
"Hei, jangan terharu gitu dong Cin." ujar Jenn mengusik perhatianku.
"hmmm.."
"Jadi bule kemarin siapa? Pacar loe ya?"
"Bule yang mana? maksud loe Dave?"
"Gue nggak tau namamya Cin, pokoknya cowo yang jemput loe kemarin dah..."
"Dia Dave." jawabku.
"Pacar?"
"Bukan..."
"Teman?"
"Bukan.."
"PDKT-an?"
"bukan juga..."
"Lah, nggak mungkin kan dia supir pribadi atau bodyguard loe." ujar Jenn putus asa.
"hahahaha... kayak nya itu paling bener Jenn. Makasih ya, loe ngasih gue ide cemerlang." jawabku ceria.
Jenn hanya menggeleng-geleng pelan, dan mengabaikanku yang senang membayangkan Dave sebagai supir pribadi.
Jenn mengantarku hingga rumah. Dia juga memaksa memberi beberapa tas belanja padaku. Dengan alasan untuk merayakan hari jadi kami sebagai teman. Awalnya aku menolak, tapi saat Jenn memohon agar aku menerimanya lengkap dengan wajah memelas, aku jadi tidak tega untuk menolak pemberian gadis itu.
๐๐๐Flashback off ๐๐๐
Aku meraih salah satu tas belanja yang diberikan Jenn, setelah memeriksa bahwa isinya adalah sebuah tas mahal aku hanya menggeleng pelan. Kulanjutkan untuk memeriksa tas-tas berikutnya. Sejumlah barang mahal kini sudah tergeletak di atas meja.
"Si piranha kemana ya kenapa belum pulang?" aku bergumam dalam hati sambil merapikan barang-barang dari Jenn
๐น๐น๐นCintya POV off ๐น๐น๐น
\*\*\*
-Ceklek-
Bunyi pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Mata Dave membulat saat melihat sosok yang sedang dia cari sedang sibuk di sofa membereskan beberapa barang yang sepertinya terlihat baru.
Tanpa bersuara, Dave melangkah masuk ke kamar dan segera menuju kamar mandi. Tiba-tiba Dave merasa sangat kesal, walau dia tidak memungkiri bahwa hatinya menjadi lega setelah tahu Cintya baik-baik saja.
Cintya memandang sang suami yang masuk kamar dengan mode bisu. Pria itu seolah tidak melihatnya di sana, terbukti dari Dave yang dengan santainya melangkah ke kamar mandi tanpa menyapa Cintya.
"Lah, si piranha lagi bad mood ya? Kenapa?" gadis itu bertanya dalam hati sambil menyusun barang-barangnya di ruang ganti.
__ADS_1
....to be continued...
Ayok vote yang banyak ๐๐๐