
Pria itu berbicara sejenak dengan orang diseberang sana melalui ponselku sebelum akhirnya melajukan mobilnya membelah jalan raya, menuju rumah sakit Permata Hati. Air mataku menetes tanpa permisi, seolah-olah mereka telah bosan bersembunyi selama ini.
"Seseorang mengikuti kita." ujar Steve.
"Biarlah Steve, aku tidak peduli lagi." ujarku sambil terus menangis.
Aku dan Steve akhirnya tiba di rumah sakit. Aku berlari menuju ruang mayat, disana terbaring tubuh lelaki yang sangat kucintai. Terbaring tanpa nyawa, aku menangis sejadi-jadinya.
"Papa." isakku perih.
Aku terus menangis, hingga tidak menyadari kehadiran Mama dan Giordany, adikku.
\*\*\*
Sudah seminggu sejak kepergian Papa, namun kesedihan yang aku rasakan masih sama seperti pertama kali mendengar kabar itu dari rumah sakit. Papa meninggal karena kecelakaan saat bekerja di sebuah proyek bangunan. Setiap hari Mama kini lebih banyak berdiam diri, aku bisa melihat kesedihan di sorot matanya.
Walau aku masih sangat terpukul, bukan berarti aku boleh mengabaikan perkuliahan ku. Setiap hari Steve selalu melindungi ku daru George. Sesuai permintaan Noni, kami tidak pernah menunjukkan pertemanan kami di area kampus, terutama di sekitar jurusan. Hal ini penting demi menjaga amukan massa dari para penggemar setia Steve. Steve akan terus memantauku dari kejauhan, bahkan dia sengaja membentuk sebuah kelompok belajar agar aku tidak sendirian selama di kampus. Dengan kelompok belajar yang dibimbing oleh Steve, kami bisa bersama tanpa mencuri perhatian mahasiswa lain.
Kesehatan Noni semakin memburuk, namun gadis itu masih berjuang dengan pengobatannya. Rumah sakit di Amerika tentunya akan memberikan fasilitas dan pengobatan terbaik. Sementara Andrew, pria itu muncul saat hari kematian ayah. Namun tanpa sepatah kata dia juga menghilang begitu saja. Sementara George, dia masih mencoba untuk mendekatiku, namun aku bisa mengabaikannya karena selalu ada seseorang disisiku.
Malam ini aku berjuang memejamkan mataku. Sejak kehilangan Papa, belum sekalipun tidurku terasa nyaman.
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku meraih ponsel yang terletak pada meja yang ada di sisi tempat tidurku, dengan senyuman getir aku memandang ponsel pemberian papa dan mama beberapa minggu lalu.
"Hi.." ujarku pada wajah yang muncul di layar ponselku.
"Aku turut berduka." ujarnya singkat.
"Terimakasih Dave."
"Sama-sama." jawabku sambil tersenyum tulus.
"Bagaimana dengan Noni?"
"Aku baru saja berbicara dengan paman, sebagai calon dokter tentu saja kamu bisa mengambil kesimpulan akan keadaannya."
"Aku tidak sepercaya diri itu Dave. Lagipula, aku masih junior."
"Apakah kamu selalu merendahkan dirimu begini?"
"Ah, terserah kau saja."
"Maaf. Aku bicara terlalu bebas padamu. Ngomong-ngomong soal Noni, dia sudah pernah menerima donor sum-sum tulang sebelumnya, tapi ternyata leukimianya kambuh lagi. Dalam kasus ini, masih ada alternatif pengobatan lain yang bisa dokter lakukan untuk menyelamatkan dia."
"Syukurlah. Apa itu?"
"Hei, Cintya. Kamu ini seorang calon dokter kan? Temukan jawabannya sendiri. Jangan bertanya padaku."
"Aku juga tidak berharap memperoleh jawabannya darimu." aku berujar ketus.
"Apakah kamu mengetahui seseorang yang Noni sukai?"
__ADS_1
"Oh, jadi dia menghubungi ku demi kepentingan ini? dasar lelaki." Gumamku dalam hati, namun dua berusaha menjaga ekspresiku agar tetap stabil. Bagaimanapun pria ini mungkin mencintai sahabatku.
"Kenapa?" tanya ku, pada akhirnya.
"Kita harus menjaga emosinya stabil, jangan sampai Noni kehilangan motivasi untuk hidup. Karena tanpa motivasi itu, semua upaya pengobatan itu akan sia-sia."
"Bagaimana denganmu?"
"Maksudmu?"
"Kenapa tidak kamu saja yang menghiburnya?"
"I did. Aku sudah mengunjunginya dan menemaninya beberapa hari, tapi tetap saja dia tidak bersemangat."
"hmmmm... Ada pria yang menyatakan cinta padanya sebelum Noni masuk rumah sakit."
"Siapa?"
"Teman satu kelasnya. Tapi Dave..."
"Tapi kenapa? ada apa dengan wajah ragu-ragumu ini?"
"Pria itu bahkan tidak pernah menjenguk Noni sebelum dia dipindahkan ke Amerika. Kita tidak dapat mempercayai ******** itu."
"Maksudmu dia tidak ikut membawa Noni ke rumah sakit?"
"Iya." aku mengangguk pasti.
"Pria berwajah cantik? Maksudmu Steve?"
"Aku tidak yakin dengan namanya, tapi aku melihatmu mengunjungi Noni beberapa kali dengannya. Aku sempat berpikir dialah pria yang menyatakan perasaannya pada adikku hari itu."
"Kenapa kamu berpikiran begitu Dave?"
"Aku ini pria Cintya, tentu saja aku memahami pancaran rasa di mata lelaki itu."
"Oh... jadi kamu juga menyadarinya. Baguslah."
"Apa maksudmu, aku menebak dengan sangat benar?" tanya Dave serius.
"Lelaki itu memang menyukai Noni. Tapi aku tidak yakin dengan perasaan Noni."
"Kita harus membantu Noni jatuh cinta padanya." ujar Dave lagi.
"How?" tanyaku bingung.
"Kamu di Sidney, Aku dan Steve di Jakarta sementara Noni di Amerika. Bagaimana kita bisa?" tanyaku serius.
"Bukankah kamu ini siswa yang cerdas? aku heran dengan kemampuan berpikirmu malam ini."
"Bully aja terus." ocehku protes.
__ADS_1
"Kenalkan Steve padaku. Sisanya akan kita bicarakan lain kali." ujar Dave.
"Ok."
"Aku harus segera tidur, di sini sudah tengah malam. See you Cintya."
"See you Dave."
Akhirnya sambungan video antara aku dan Dave terputus. Setelah meletakkan ponselku, dan menguap berkali-kali, akhirnya aku terlelap.
\*\*\*
Aku menggeliat dan membuka kedua mataku perlahan. Dengan gerakan hati-hati aku bangkit meninggalkan ranjang. Tubuhku terasa ringan dan bugar, sepertinya tidur nyenyak tadi malam sudah mengembalikan energiku yang terkuras seminggu ini. Tadi malam untuk pertama kalinya aku memiliki kualitas tidur yang baik setelah kepergian papa.
Aku langsung memeriksa ponselku, ternyata masih pukul 05.30. Aku memeriksa sekumpulan pesan masuk di Whatsapp. Steve, grup belajar dan Dave. Aku langsung membaca pesan dari Dave, yang dikirim beberapa menit lalu.
"Seharusnya sudah pagi kan di Jakarta? apa kau sudah bangun? atau kau masih tidur (dasar malas). Jika kau sudah bangun, ingatlah untuk mengenalkan Steve padaku."
"Ya ampun Dave, kamu memang menyebalkan. Aku sudah mengetahui hal itu sejak pertama kali melihat mu, kalau bukan karena Noni tentu saja aku tidak ingin terlibat denganmu." omelku kesal.
"Aku sudah bangun. Aku bukan pemalas. Akan kukenalkan pada Steve saat kami bersama. Jangan sampai tidak mengangkat teleponku, atau aku akan menghukum mu."
Setelah mengirim pesan itu aku membacanya sekali lagi, pesanku langsung centang biru. Seketika aku terkejut dengan balasan Dave.
"Jangan sampai tidak mengangkat teleponmu? kau terdengar seperti istriku saja."
Aku langsung melempar ponselku keatas ranjang. Pria itu berhasil membuatku kesal di pagi hari. Dengan bibir manyun aku berjalan menuju dapur, ternyata mama sedang sibuk di sana.
"Cintya, ekspresi apa itu nak?" tanya Mama yang menyadari kehadiran ku. "Famali, Cin.. masa pagi-pagi sudah bad mood, gimana di siang hari?"
"Mama tidak bisa tidur lagi tadi malam?" tanyaku mengabaikan perkataan mama.
"Seiring waktu, pasti mama juga akan terbiasa nak. Mama masih punya kamu dan Giordani, jadi mama harus berbahagia." ujarnya tulus.
"Cintya sayang mama." aku langsung memeluk mama yang sedang mencuci sayuran.
"Cintya, manja banget loe." ledek Giordani yang tiba-tiba sudah di dapur.
"Kan ma.. gimana Cintya nggak kesal kalau pagi-pagi harus ngadepin Giordani." aku protes sambil tetap memeluk punggung mama.
"Kalian berdua ini, selalu saja ribut. Dani, kamu langsung cuci piring, biar Cintya dan mama menyiapkan sarapan dulu." ujar Mami.
"Siap kapten." ujar Giordani sambil memberi sikap hormat.
Mama tertawa renyah dengan tingkah adikku itu. Tiba-tiba terbersit sebuah pemahaman di kepalaku. Aku ingin membuat mama tertawa lagi, semua hal yang bisa membuat mama tertawa akan kucoba bahkan hal sederhana seperti Giordani tadi. Karena melihat Mama tertawa, membuat sakit dihatiku sejenak menghilang.
**pengumuman:
Readers, terimakasih sudah mampir. Maaf ya lama nggak up, kedepannya author akan usahakan up lebih sering. BTW, dukung dan beri aku semangat dengan cara vote, like dan komen sebanyaj-banyaknya.
thankyou.
__ADS_1
-Best**-