CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Cekcok


__ADS_3

"Selamat ya kak, gue doain loe bahagia tujuh turunan." ujar Giordani.


Aku menatap adikku dengan emosi yang berantakan. Jadi semua ini nyata?


 


\\*


 


Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan dimana berbagai model gaun berwarna putih terpajang.


"Selamat siang bu, mari saya bantu mencoba gaunnya." ujar seorang petugas dengan drescode butik menghampiriku.


...


"Maaf bu." ujar gadis itu lagi, sepertinya usianya tidak terpaut jauh denganku.


"Maaf mbak, bisa beri waktu sebentar? saya ada sedikit keperluan." jawabku kemudian sambil menoleh pria yang berdiri di samping ku.


"Ada apa?" tanya Dave dengan suara rendah.


"Semua ini buat apa sih Dave?" tanyaku kesal.


"Ikut aku." dia menarik tanganku dam menyeretku keluar dari butik.


"Jelasin Dave, jelasin." pintaku emosional sambil menghempas punggungku pada sandaran jok mobil.


Ya, kami sudah duduk di jok depan mobil Dave sekarang.


"Cintya, berhenti bertingkah kekanakan." ujar Dave santai, tak ada emosi dalam suaranya itu.


"Apa maksudmu?" tanyaku setengah berteriak.


....


Hening, Dave sama sekali tak bersuara, dia memilih mengabaikan ku.


"Dave, bagaimana bisa kita menikah besok? Kenapa kita menikah? Apa kita saling mencintai? Kurasa kita bahkan tidak cukup mengenal satu sama lain." kini aku protes panjang kali lebar dengan suara sedikit bergetar.


Aku sedang berjuang menahan air mataku, bagaimana mungkin aku bersikap wajar? Sejak semalam terjadi lamaran mendadak, aku yang tidur di kamar Dave, dan besok aku harus menikah. Bagaimana aku bersikap wajar dengan semua kejadian ini?


"Setidaknya jelaskan sesuatu Dave, katakan kenapa kita harus menikah." ujarku terdengar frustasi.


"Ikuti saja alurnya, tak perlu banyak tanya." jawab Dave santai.


"Apa katamu? Ikuti alurnya? tak perlu banyak tanya?" tanyaku emosi.


....


"Kau tidak peduli dengan hidupmu? aku peduli dengan hidupku Dave. Aku punya mimpi, aku punya masa depan."


....


"Lalu apa katamu tadi? ikuti saja alurnya? Hidupku bukan permainan Dave."


"Apa menikah denganku merupakan jenis permainan?" tanya Dave menatapku serius.

__ADS_1


-glek-


spontan aku menoleh kearahnya saat itu juga aku merasa suasana di dalam mobil mendadak berubah menjadi dingin.


"Jika hidupmu penting, apa hidupku tidak penting? Jika kau punya mimpi, apa aku tidak punya? Apa hanya hidupmu dan dirimu yang berharga, hingga kau mengganggap milik orang lain sebagai permainan?" tanya Dave dengan sorot mata marah.


"Aku tidak pernah berkata begitu.".


"Kau mengatakannya, jangan menghindar."


"Tidak ada.!!!!"


"Kau mengatakannya Cintya."


"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Aku akan mencoba gaunnya, tak perlu menemaniku, tunggu di sini saja." ujarku kesal sambil melangkah keluar dari mobil.


 


\\*


 


Aku memandang sosok yang dipantulkan oleh cermin, gaun model sabrina dengan bagian rok yang mengembang sempurna membalut tubuhku. Gaun ini bertaburan design kelopak bunga mawar, yang membuatnya tampak elegan.


"Ibu cantik sekali." puji petugas butik yang menemaniku di ruang ganti.


"Apa gunanya cantik? toh akan berakhir dengan Dave juga. Aku bukan hanya tidak mencintainya, kami bukan hanya tidak cocok satu sama lain, kami malah tidak saling mengenal dengan baik dan langsung menikah." ucapku dalam hati.


"Ibu, ayok keluar agar tunangan ibu bisa memberi komentar tentang gaun ini." suara petugas itu mengembalikan kesadaranku.


"Eh, mbak nggak usah. Bantu saya membungkus gaun ini, saya akan mengambil yang ini saja." jawabku enggan mencoba gaun lainnya.


Setelah melepas gaun itu, aku dan si petugas keluar dari ruang ganti. Saat menunggu pesanan ku selesai dibungkus tiba-tiba dari arah ruang ganti yang tepat bersisian dengan yang kutempati tadi, keluar sosok yang sangat akrab di mataku. Dave, dengan jas putih, wah dia sungguh terlihat seperti pangeran, andai saja aku tidak tahu sikap menyebalkannya pastilah aku akan jatuh cinta pada ketampanannya.


Lihat saja seluruh penghuni ruangan ini, mereka sedang menatap Dave dengan tatapan memuja.


"Cih, apa hebatnya ketampanan mu itu?" sindirku pelan.


"Wah, tuan anda sangat tampan." ujar petugas yang tadi membungkus pesanan ku.


"Terimakasih." jawab Dave sambil bersikap lembut dan sopan.


"Menjijikkan." umpatku dalam hati.


Awalnya hubungan kami baik-baik saja, hanya berisi perdebatan sehari-hari dan aku masih bisa mentolerir sikap menyebalkannya. Namun sejak Dave tidak menjelaskan apapun tentang pernikahan ini, apalagi repot-repot menghentikannya, aku malah jadi bertambah kesal pada pria ini.


"Apa menurutmu cocok?" tanya Dave padaku.


....


Aku memutar kepala kearah lain seolah tak mendengarnya.


"Baiklah, aku akan coba stelan yang lain." kudengar suara Dave.


"Sialan. Dasar lelaki menyebalkan. Aku tidak ingin berlama-lama di sini." aku masih protes dalam hati.


"Tolong bantu saya mencoba, yang ini, yang itu..."

__ADS_1


"Astaga. Dave hentikan. Pakai yang sedang kau kenakan saja." ujarku kemudian sambil menatapnya dingin.


"Oke. aku pilih ini saja." ujar Dave sambil kembali ke ruang ganti. Sepertinya dia akan berganti dengan pakaian nya tadi saat datang kemari.


Setelah membayar kami meninggalkan butik itu, masih dengan perang dingin. Bahkan disepanjang perjalanan tak seorangpun angkat bicara. Hingga akhirnya kami tiba di rumah.


Aku memasuki rumah yang sedang ramai dan sibuk. Sejak acara lamaran semalam, orangtua Noni ikut menginap di rumah keluargaku, dengan alasan persiapan pernikahan. Sementara beberapa kerabat juga berdatangan. Pernikahan mendadak dan tanpa rasa cinta ini sepertinya akan berubah jadi pernikahan sungguhan.


"Sudah pulang?" ujar mami (ibu Noni) yang pertama sekali menyadari kehadiran kami.


Beliau menyuruhku memanggilnya mami, karena setelah menikah dengan Dave, aku dianggap berstatus sebagai menantu, sama seperti Dave yang dianggap sebagai anak.


"Iya mi." aku menyalami tangannya, begitu juga dengan papi dan mamaku. Sepertinya pasangan calon besan ini sangat menikmati hubungan baru mereka. Terlihat dari betapa akrabnya mereka sekarang.


"Undangannya sudah selesai kami sebar ya Dave." ujar ibu mertua.


"Oke mi. makasih ya mi." jawab Dave sopan.


"Dasar licik, di depan orang tua bertingkah sok lembut, tapi selalu membuatku kesal." aku mengomel dalam hati sambil berjalan menuju kamar.


Saat tiba di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Berusaha menstabilkan emosiku yang sempat meledak karena pria menyebalkan bernama Dave.


"Mbak Cintya." sebuah suara mengusik ketenganku.


"Ada apa?" aku menoleh ke arah pintu dan menemui dua perempuan berdiri di sana, lengkap dengan kotak-kotak aneh di tangan mereka.


"Maaf, kami dipanggil oleh Ibu untuk melakukan perawatan pada tubuh dan kulit anda." ujar mereka sopan.


Semua ini memang harus terjadi, dan sepertinya aku tidak bisa lari. Kalau pun aku punya kesempatan buat lari, tak tega rasanya membuat mama kecewa padaku. Yasudahlah, aku mengalah saja. Akhirnya ku mantap kan hatiku untuk menerima kenyataan yang sedang ku hadapi.


"Mbak mau ngerjain di sini?" tanyaku kemudian pada kedua sosok yang masih berdiri di ambang pintu.


"Jika mbak tidak keberatan, atau apakah ada kamar kosong?"


....


Aku menggeleng, mengingat kamar tamu kini dihuni calon mertua.


"Baiklah, di sini saja. Kami akan mebersihkannya setelah selesai." ujar mereka.


"Jangan... jangan.. saya saja yang bersihin mbak." jawabku sungkan.


"Tidak boleh begitu, mbak ini kan calon manten." ujar salah satu dari mereka sambil mengeluarkan peralatannya dari kotak-kotak tadi.


Aku memilih diam dan mengunci bibirku rapat-rapat, tidak ingin berdebat dengan siapapun lagi. Sudah cukup aku cekcok dengan si Dave menyebalkan itu.


**Pengumuman


gimana rasanya baca sejauh ini?


kalian suka nggak?


kira-kira penasaran nggak sih, alasan si Dave menikah dengan Cintya?


hmmm... ayok komen jawaban kalian ya.


jangan lupa vote dan like yang banyak.

__ADS_1


thankyou


-best**-


__ADS_2