
Aku melotot tajam padanya, sambil memasang wajah tidak percaya. Apakah isi kepala pria hanya memikirkan hal mesum? Bahkan tanpa cinta dia bisa menyuruhku melakukan hal seperti itu sekarang?
"Buka bajumu Cintya." tegur Dave sekali lagi tanpa mengubah posisi.
Pria itu masih menyadarkan punggung ke tempat tidur, sementara aku masih berdiri kaku dan terpaku.
"Kita bahkan belum berbaikan sejak semalam. Aku tidak ingin bicara denganmu sekarang." jawabku ketus.
"Kalau kau cukup cerdas, aku bermaksud tidak akan melakukan hal itu denganmu malam ini." aku meneruskan kalimat ku dalam hati.
"Apa hubungannya dengan pertengkaran kita semalam dan hari ini?" balas Dave tak kalah sengit nya.
"Sudahlah Dave, aku tidak berniat bertengkar denganmu malam ini. Aku lelah."
"Dan jangan memintaku membuka baju di sini Dave. Enak aja aku nyerahin tubuhku padamu bahkan setelah semua pertikaian dan acara mogok bicara diantara kita sejak kemarin." Aku kembali ngedumel dalam hati.
"Terserah. Aku lelah berbicara padamu." Dave memandangku dengan tatapan tak peduli seolah berkata "Kau terlalu keras kepala jadi orang."
"Kalau memang berniat membasahi gaun mahalmu itu, ya silahkan langsung masuk kamar mandi sekarang. Toh kamu sendiri yang akan kerepotan membereskannya di kamar mandi." Dave kembali mengomel panjang lebar dengan nada angkuh dan dingin.
"Boleh aku menyambal bibir pedasmu itu Dave?" protesku dalam hati sambil memberikan tatapan tak percaya padanya.
"Apa lagi? Ganti gaunmu dengan bathdrope sebelum masuk kekamar mandi. Apa sih sebenarnya isi kepalamu itu? Katanya kamu pintar, tapi hal sepele begini saja tidak tahu."
"Apa? Jadi dia hanya ingin aku tak mengenakan gaun ini kekamar mandi? Tidak ada niat lain? Apa itu artinya aku selamat malam ini? Artinya tidak ada acara malam pertama kan? Wah, leganya... Yes... yes..yes..." aku malah sibuk bersorak dalam hati.
"Sedang apa kamu? Pakai acara senyum-senyum begitu? Mandi Cintya, mandi." Kalimat Dave kembali menyadarkanku.
Akhirnya ritual mandiku terlaksana setelah gaun pengantin tadi berganti dengan pakaian yang lebih pantas untuk masuk kekamar mandi. Setelah puas membersihkan diri, dan tentu saja mengenakan piyama yang sangat sopan, aku keluar dari kamar mandi.
"Kau sudah selesai?" Tanya Dave sambil memandang ku yang baru muncul dari balik pintu kamar mandi.
Setelah mengakhiri kalimatnya pria itu memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Tunggu dulu.. tunggu dulu... Apa yang kau lakukan bodoh? Jangan tidur di sana? Kalau kau tidur di tempat tidur bagaimana denganku? Maksudmu aku yang harus tidur di sofa?"
"Dave, nggak boleh gitu dong. Kalau kamu tidur di sana, lalu aku bagaimana?" tanyaki menyuarakan isi hatiku.
"Ini kan kamarku Cin." protes Dave.
"Tapi tetap aja Dave. Dikamar ini hanya ada satu tempat tidur. Aku nggak mau berbagi tempat tidur denganmu. Itu berbahaya."
"Bahaya apanya? Aku juga tidak tertarik dengan tubuhmu."
"Pembohong. Aku tidak percaya padamu." dengan setengah berlari ku serang tempat tidur.
"Aku bisa menyeretmu turun dari sana." batinku sambil tersenyum jahat.
"Cintya, kamu sadar diri dong. Inikan kamarku." protes Dave.
"Astaga sejak kapan dia jadi kekanak-kanakan begini?"
"Dasar bocah!!" lagi-lagi aku mengatai Dave tidak hanya di hati tapi juga lewat ucapakanku. Kami benar-benar sangat tidak cocok.
"Apa katamu?" Setengah berteriak sambil bangkit dari posisi tidur dan berada pada posisi siaga menyerang setiap waktu.
__ADS_1
"Kau bocah Dave. Bocah.. bocah... bocah.." ledekku sambil naik ke salah satu sisi ranjang, posisiku kini hanya berjarak sekian centimeter dari Dave.
"Hei, hentikan Cintya, ini tempat tidurku."
"Nggak mau. Kan kamu bocah yang nggak mungkin tertarik padaku." ledekku lagi.
"Dasar cerewet. Sepertinya bibirmu itu perlu di sekolah kan." Dave kini menatapku tajam sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Aku akan mematikan lampu." ancamku.
"Jangan...!!!" protes Dave.
"Kalau kamu mau tidur di sofa, aku bisa mengalah dan membiarkan ruangan ini tetap terang sepanjang malam."
"Hei, yang punya kamar aku atau kamu? Kenapa malah kamu yang mengatur?"
"Jangan banyak tanya. Ikuti saja alurnya." jawabku mengembalikan perkataannya saat aku banyak tanya tentang pernikahan ini.
"Kau menyebalkan." ujar Dave sambil beranjak dari tempat tidur, tak lupa dia menarik selimut dan juga sebuah bantal.
"Selimutnya buatku." ujarku sambil menarik selimut yang sama dengan sepenuh tenaga.
Karena tidak siap akan pergerakan ku, Dave malah kembali terjatuh di atas tempat tidur dengan wajah kesalnya.
"Kau menyebalkan." Pria itu berusaha bangkit dan berjalan menjauhi tempat tidur. Setelah mengambil selimut baru dari salah satu lemari di ruangan ini, Dave mendarat dengan wajah cemberut di atas sofa.
"Cintya, kau menyebalkan." sungut Dave lagi.
"Kau jauh lebih menyebalkan." jawabku santai sambil mengeringkan rambutku yang masih lembab.
"Aku lebih benci padamu."
"Jangan mengikuti kata-kata ku."
"Aku tidak mengikutimu."
"Jangan membalas perkataanku."
"Ini kan mulutku, ya terserah ku dong."
"Apa kau mau ku perkosa?"
"Jaga bicaramu Dave..!!" balasku dengan suara meninggi karena kesal dan ketakutan.
"Bagaimana ini? Dave tetaplah laki-laki. Dasar serigala licik." Aku menggerutu dalam hati dengan perasaan takut.
"Bersikap baiklah, atau aku tak akan segan-segan melakukannya. Aku bisa menyakitimu dengan cara itu kan? Jadi jangan membuatku bertambah kesal." ujar Dave dingin.
Tanpa berani bersuara aku langsung naik keatas tempat tidur dan meringkuk di bawah selimut.
"Jangan...jangan sampai dia menyentuhku. Ya ampun, dia hanya menggertakkan? Dia tidak mungkin melakukan hal sekeji itu saat aku tidur kan?" rasa takut mulai menyerang pikiranku, takut jika Dave malah merebut mahkota yang selama ini ku jaga.
"Mahkota yang ku jaga? Tapi kan... bukannya hari minggu aku bangun di sini? Dan Dave berkata seolah kami sudah melakukannya? Apa jangan-jangan waktu itu dia melecehkanku? Bagaimana ini?"
pertanyaan demi pertanyaan kembali berseliweran di kepalaku, hingga malam semakin larut dan ruangan ini berubah sepi. Hanya terdengar suara nafas Dave yang mulai teratur.
__ADS_1
"Setidaknya dia sudah tertidur. Dia benar-benar tidur kan? Apa itu artinya aku aman? Aku boleh tidur sekarang kan?"
Setelah menimbang-bimbang cukup lama, akhienya aku menarik kesimpulan bahwa Dave sudah tidur dan aku aman malam ini. Aku juga memutuskan untuk segera memejamkan mata dan melepas penat.
Satu menit berlalu, dua menit, tiga menit, hingga sejam kemudian aku belum tertidur juga. Pikiranku tetap was-was.
" bagaimana jika Dave bangun? Bagaimana jika dia melecehkanku lagi dan kejadian beberapa hari lalu terulang? Walau aku tidak mengingat apa yang terjadi malam itu, namun saat Dave bilang dia memakaikan lagi semua pakaianku, itu artinya di melakukan sesuatu kan? Maksudku bukan dia, tapi kami. Aduh bagaimana ini?"
Untungnya sebuah ide cemerlang muncul di kepalaku. Yes, aku akan melakukan itu, ujarku sambil tersenyum dan dengan gerakan hati-hati bangkit dari posisi tidurku.
\*\*\*
Dave POV on
Aku terjaga dari tidurku.
"Aduh, kenapa badanku sakit sekali?" bergumam dalam hati sambil terus bergerak pelan.
'brugh...'
"sepertinya aku jatuh dari suatu tempat". ternyata benar, aku jatuh dari sofa.
Tiba-tiba memory ku berputar tentang kejadian mengapa aku bisa tidur di sofa yang ukurannya lebih kecil dari tubuhku.
"Pantas saja badanku pegel semua." aku meringis dalam hati sambil memeriksa ke arah tempat tidur. Dan menemukan sosok menyebalkan itu tertidur tanpa selimut.
"ck...dasar anak kecil." Aku bergumam sambil melangkah mendekat untuk membenarkan selimutnya. Bukan karena aku perhatian, hanya saja kalau besok dia masuk angin, aku juga yang kerepotan menghadapi keluhannya.
Setelah menyelimuti tubuh gadis cerewet itu, aku berbalik ingin kembali tidur di sofa. Namun sesuatu yang tergeletak di nakas tempat tidur mengusik pandanganku.
"Apa ini?" sambil meraih kertas itu.
"Hahahaha. Yes, dapat kartu mati nih." Aku tertawa senang saat membaca kata demi kata yang tertulis di kertas itu.
Tiba-tiba aku berubah pikiran, sepertinya akan lebih seru jika aku tidak kembali tidur di sofa. Lagipula tempat itu hanya menyakiti tubuhku. Lebih baik kembali ke tempat tidurku yang nyaman kan?
Dave POV off
Dengan demikian, Dave pun memilih untuk merebahkan dirinya di atas ranjang, tepat di sebelah Cintya. Tentu saja sambil tersenyum penuh kemenangan.
\*\*\*
Author POV
Hi guys....
menurut kalian, kertas apa sih yang baru di baca Dave?
Jangan lupa jawabannya ketik di kolom komentar ya guys.
masih menantikan like dan vote sebanyak-banyaknya dari readers di sini.
thank you
-best-
__ADS_1