
Setelah memoles make up tipis aku segera menemui Dave di ruang tamu. Aku sengaja memoles wajahku sedikit, agar pria ini tidak sembarangan meledekku lagi.
\*
Ruang tamu begitu legang, hanya di isi oleh seorang pria berperawakan atletis dengan kulit putih dan wajah bule nya. Pria itu adalah Dave yang sedang asik membaca artikel kesehatan di ponselnya.
"Ayok pergi." ucapanku yang tiba-tiba sama sekli tidak mengejutkan pria itu.
Dave mengangkat kepalanya dan memandang ku yang kini sudah berdiri di ambang pintu. Dengan gerakan santai, pria tampan berwajah bule itu langsung berdiri dan melangkah menyusul ku.
"Steve, kita jalan. Jangan telat." aku bertitah singkat, padat, jelas lewat telepon genggamnya.
\\*
Fun Day Cafe, terlihat sangat kosong, banyak meja pelanggan yang tidak berpenghuni. Pemandangan yang mustahil terjadi di jam makan siang. Dengan gerakan malas aku melirik arloji yang melingkar di tanganku.
"Pantas saja." desisku pelan saat tahu sekarang baru pukul 11.30.
"Cyntia..." Pria berambut cepak yang duduk di salah satu meja di sudut ruangan melambai sambil memanggilku.
"Noh, itu dia." ujarku. Spontan tangan kiri ku menarik tangan Dave yang sejak tadi asik mengekor di balik punggungku.
"Dasar kaki kecil, langkahmu pendek sekali." Ledek Dave yang kini mengikuti langkahku.
"Berisik loe." jawabku kesal sambil meremas pergelangan tangannya, berharap dia merasa sedikit kesakitan.
"Hei Steve..." sapa ku pada pria yang kini beangkit dari duduknya, tentu saja pria ini sedang berusaha menunjukkan sikap sopan pada orang baru.
Orang baru? ya, orang baru. Bukankah Dave adalah orang baru bagi Steve?
"Hello Mr. My name is Steve. Nice to meet you." Pria itu bahkan dengan penuh percaya diri memperkenalkan dirinya dengan dibumbui bahasa inggris sambil mengulurkan tangannya pada pria di sebelah ku.
"Hello Steve. Nice to meet you too." Dave membalas jabatan tangan Steve, "aku Dave." jawabnya menutup kalimat itu dengan santai.
"Jangan ngangap." ujarku gemas melihat ekspresi terkejut Steve saat mendengar Dave mengatakan kata aku.
"Boleh kami duduk?" tanya Dave sopan.
"itu.. eng... anu... eh... silahkan-silahkan." jawab Steve terlihat sangat mengagumi Dave.
Dan kalau sekarang kalian bersamaku, kalian pasti merasa malu dengan tingkah Steve yang menatap Dave dengan pandangan berselera. Aku sampai ingin mengotori kemeja nya yang berwarna putih bersih dan licin itu dengan menumpahkan kopi pesanan nya yang baru saja datang.
__ADS_1
"Steve... b aja.. b aja... tolong." Aku berusaha mengingatkannya agar tidak memasang ekspresi yang sama.
"Maaf Dave, aku speachless pas dengar kamu bicara dalam bahasa Indonesia." jujur Steve.
"ah, aku belajar. Lagipula ibuku asli Indonesia." jawab Dave.
"What?" kini aku yang bergantian memandangi Dave dengan wajah tak percaya.
"Loe kenapa?" tanya Steve santai.
"Gue baru tahu."
"Oh... biasa aja Cyn. Apa bedanya dengan banyak hal tentang gue yang mungkin loe nggak tau?" Steve mengangkat bahunya santai.
Aku membisu mendengar perkataan Steve barusan. Dia benar, Dave bukan seseorang yang dekat denganku, wajar banyak hal tentang dia yang belum aku ketahui.
"Mau pesan apa?" tanyaku pada Dave kemudian.
"Americano." jawabnya singkat.
"Cake atau kudapan lain?" tanyaku lagi.
"kudapan.. kudapan.. Oh Cyntia, apa kau yakin Dave tahu apa itu kudapan? pakai istilah lain dong. Cemilan misalnya." celutuk Steve.
"Steve hari ini kau terlalu berisik." protesku.
Tentu saja aku protes, pria atletis nan tampan dihadapanku ini biasanya sangat cool. berbeda dengan saat ini, dia sangat berisik.
Seketika wajah Steve memerah, sepertinya dia malu sekarang.
"Kau memang menyebalkan." omelku pada Dave dan pria itu bahkan tidak menanggapi ku sama sekali.
Bukan tanpa alasan aku menuduhnya menyebalkan. Jika dia tidak menyebalkan, dia bisa menahan diri untuk tidak mengatakan kalimat "aku tahu kudapan dan cemilan itu sama", kalimat yang sukses membuat wajah Steve merah padam karena malu. Tidak bisakah pria ini sedikit lebih menghargai usaha Steve yang ingin membuatnya nyaman? Steve hanya menduga dia tidak begitu fasih berbahasa Indonesia. Steve hanya peduli padanya, dan dia malah sama sekali tidak peka.
"Ya sudah, loe mau kudapan apa?" tanyaku ketus.
"Nada bicara kamu Cyntia.. dan saya tidak suka penggunaan kata loe. Tanya dengan benar." ujarnya dingin.
"Serah loe aja deh." jawabku kesal sambil berlalu dari sana menuju meja pelayan dan mengorder pesananku.
Saat aku melangkah kembali ke meja tadi, lengkap dengan nampan berisi pesanan ku, dari kejauhan aku bisa melihat gesture kedua pria itu sedang asik berbicara. Mereka terlihat sangat akrab.
"Luar biasa, pria menyebalkan itu bisa memikat Steve." aku menggerutu melihat pemandangan itu.
"ini americano pesananmu." ujarku sambil meletakkan gelas pesanan Dave tepat di hadapannya.
Setelah duduk di sisi kiri pria itu, aku mulai asik dengan es buah yang kupesan tadi.
"Es buah?" tanya Dave dengan ekspresi yang tak dapat kugambarkan.
__ADS_1
"Dia sensitive sama caffein, makanya jarang banget tuh mengonsumsi kopi dan teh." jelas Steve santai.
"Bagaimana dengan cokelat?" tanya Dave kemudian.
"Ya, Cyn loe gak konsumsi cokelat juga? apes banget ya hidup loe." ujar Steve
"Gue cuman nggak kuat sama caffein dari produk kopi dan teh. Kalau cokelat gue bisa makan kok, tapi dalam porsi kecil." ujarku santai.
"Itu mah sama doang Cyn." ujar Steve lagi.
"Jadi bagaimana rencana kamu?" tanya Dave mengalihkan pembicaraan.
"Gue bakal penelitian di rumah sakit yang sama dengan tempat Noni dirawat. Gue harap dengan begitu peluang dan intensitas bertemu kami lebih tinggi." ujar Steve.
"Kamu suka dengan Noni?" tanya Dave tanpa basa basi.
"oh man, kamu baru kenal Steve beberapa menit lalu, berani sekali bertanya begitu." omelku dalam hati.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Steve santai. Terlalu santai, hingga cukup membuatku penasaran bagaimana mereka bisa begitu terbuka tentang hal seprivasi ini sementara mereka baru saja berkenalan.
"Aku dukung." jawab Dave santai.
"Okay bro. thanks ya, gue hargai dukungan loe."
"Hahaha." Dave dan Steve tertawa bersamaan sambil melayangkan tinju di udara, dengan kompaknya kepalan tangan mereka bertemu pelan. Seperti gaya ABG saja.
Sisa dari pertemuan hari ini adalah Steve dan Dave yang asik mengobrol kesana kemari, seperti dua teman lama yang sudah lama tak bersua. Sedangkan aku berkali-kali menguap karena diabaikan oleh mereka. Bukan aku tak ingin nimbrung dengan perbincangan mereka. Hanya saja apapun yang mereka bahas, selalu nyangkut di urusan bisnis dan ekonomi. Dan sayangnya kejatuhan bisnis keluarga ku beberapa tahun lalu cukup membuatku enggan berbicara tentang topik yang satu itu.
"See you next time bro, gue rasa suatu saat nanti kita bisa kerja sama." ujar Steve santai.
"Pasti bro. Semoga kita juga segera jadi keluarga."
"Ah... gue paham maksud loe. Semoga usaha gue lancar." jawab Dave.
Kami sudah tiba di parkiran namun keduanya masih asik bercengkrama, tiba-tiba aku melihat mereka seperti pasangan yang sedang cinta lokasi saja.
"Kita nggak jadi pulang? masuk lagi aja yok." sindirku kemudian.
"Bye..." Dave langsung melangkah menuju mobilnya.
"Gue pulang ama loe aja Steve." ujarku kemudian.
"Cyntia, cepat." panggil Dave tepat sebelum Steve merespon kata-kataku.
"Sudah sana, loe ikut Dave aja. Lagipula selama gue nggak di sini, Dave yang bakal nemanin loe kemana-mana."
"Ha???? bisa loe ulang?" aku tidak percaya dengan pendengaranku barusan.
"Udah buruan gih. Dave nunggu tuh."
__ADS_1
Aku memutuskan memacu langkah setengah berlari menyusul Dave yang sudah masuk kedalam mobilnya. Aku yang sedari tadi bosan dengan pertemuan ini berakhir kesal dengan kenyataan akan lebih sering bertemu dengan Dave. Tapi bagaimanapun ditemani Dave jauh lebih baik, daripada aku sendiri. Takut sewaktu-waktu George muncul dan mengganggu ku lagi. Kesal.. ya aku kesal sekali, andai aku punya kekuatan dan kekuasaan lebih, pasti aku bisa melindungi diriku sendiri.