
Aku memutuskan memacu langkah setengah berlari menyusul Dave yang sudah masuk kedalam mobilnya. Aku yang sedari tadi bosan dengan pertemuan ini berakhir kesal dengan kenyataan akan lebih sering bertemu dengan Dave. Tapi bagaimanapun ditemani Dave jauh lebih baik, daripada aku sendiri. Takut sewaktu-waktu George muncul dan mengganggu ku lagi. Kesal.. ya aku kesal sekali, andai aku punya kekuatan dan kekuasaan lebih, pasti aku bisa melindungi diriku sendiri.
\*
Aku menggeliat pelan di atas tempat tidur, sinar matahari yang menembus kaca jendela perlahan masuk kedalam retina ku.
"Astaga, gue kesiangan." jeritku kencang.
"Mama.. mama..." sambil berteriak aku berlari menuju dapur.
"Astaga Cyntia, kamu ini kayak sedang ada kebakaran saja, ingin lihat mama jantungan?"
"Maaf ma, Cyntia cuman khawatir karena terlambat bangun, takut mama jadi telat kerja."
"Apaan sih anak gadis mama ini? hmmmm? oh iya, kamu cuci muka gih, terus langsung sarapan. Mama siap-siap buat kekantor."
"Wah, mama masak?" aky bersemangat demgam iler yang nyaris jatuh teringat rasa masakan mama nya yang sangat lezat.
"Bukan mama, tapi adekmu."
"oh.." jawab ku sedikit kecewa.
"hei kenapa? untung dia udah berangkat sekolah, kalau belum bisa sakit hati loh dengan ekspresi kamu itu."
"Nggak apa apa sih ma, cuman shock anak bandel sebiji itu bisa masak."
"Yaudah, kamu sarapan gih, dijamin rasanya enak. Mama udah coba." ujar wanita di hadapanku sambil mengedipkan mata kanannya sebelum berlalu.
"wah, mama ku cantik sekali." godaku setengah berteriak tanpa memandang ke arahnya.
"Cuci muka dam gosok gigi dulu." mama membalas godaanku setengah berteriak.
"Siap bos."
Usai membersihkan diri, aku langsung bergegas kedapur dan menyantap menu sarapan yang sedari tadi menungguku di meja makan. Mama benar, menu sarapan buatan adik kecilku ini memang nendang. Rasanya sangat pas dan gurih. Walau hanya nasi goreng dengan telor ceplok, aku sangat menikmatinya.
"Wah, lama-lama bisa buka warteg nih adek gue." gumamku tak jelas sambil mengunyah makanan.
setelah sarapan, aku mulai membersihkan peralatan makan. Dengan gerakan hati-hati tentunya, ah aku memang calon istri idaman. Kalian harus percaya hal ini, walaupun keluarga ku tidak kaya, tapi kami berkecukupan. Cukup untuk makan sehari-hari. selain pintar dalam pelajaran, jangan lupa aku ini penerima beasiswa kedokteran, aku juga pintar mengurus rumah. Wah, aku memang idaman sekali bukan? Tapi tunggu dulu, sepertinya ada yang tidak beres, sejak kapan aku jadi narsis begini?
"Cyntia, jangan melamun. Kuali nya bisa bocor kalau kamu gosok terus." tegur mama tiba-tiba.
"Ah Mama... ngagetin aja tahu nggak sih ma."
"Lagian kamu tuh, melamun aja. famali ndok, pagi-pagi udah melamun."
"Eng..."
"Yasudah, mama berangkat dulu ya." ujar mama. "hari ini kamu kuliah?"
"Nggak ma, cuman nanti bakal keluar nganterin Steve ke bandara."
__ADS_1
"Hati-hati di jalan. Salam buat Steve."
"Oke ma." ujarku sambil menyalin tangan mama, tak lupa aku mencium tangan wanita yang sudah melahirkan ku itu.
Setelah mama bergegas meninggalkan dapur, aku tegugu membisu. Ada rasa nyeri yang menghimpit dadaku. ah, tangan mamaku terasa sangat kasar. Tentu saja sejak dia menjadi asisten rumah panggilan, pekerjaan nya sehari-hari pasti sangat berat.
"Aku harus cari pekerjaan paruh waktu." ucapku lebih pada diri sendiri.
\*
"APA?" aku berteriak kesal setelah menjawab panggilan di ponsel ku.
"Kau meneleponku hampir sepuluh kali." omelku kemudian.
"Cyntia, aku sudah di depan rumahmu sejak 30 menit yang lalu."
"Jadi?"
"Setidaknya kalau kamu tidak bisa bergerak lebih cepat, buka pintu rumahmu dan ijinkan aku masuk, aku haus Cyn."
"Itu mah deritamu. Kalau mau aku bergerak cepat, matikan teleponnya." omelku galak langsung melempar ponsel ke tempat tidur.
Sebenarnya aku bukan tipe perempuan cerewet dan menyebalkan. Tapi jika itu berurusan dengan Dave, selalu saja dia membuatku kesal dan marah-marah. Sejak tadi aku sedang bersiap-siap untuk mengantar Steve ke bandara, tapi panggilan dari Dave sungguh membuatku emosi.
Setelah memandang wajahku sekali lag di cermin dan memastikan bahwa aku siap untuk berangkat, segera kirain tas kecil yang terletak di meja belajarku. aku mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas di dapur dan melangkah santai, menyusul Dave yang sebentar lagi pasti akan mengomel padaku.
sambil berjalan aku mengarang banyak kata untuk menyerang nya terlebih dahulu. Setelah membuka pagar, sebuah mobil sport hitam edisi terbatas menungguku, dengan seseorang di balik kemudi lengkap dengan wajah nya yang ditekuk.
"Oh, kupikir aku akan menyambut seorang tuan putri setelah menunggumu berdandan sekian lama."
"Aku tidak berdandan, dan kau tidak lama. Hanya hitungan menit."
"Oh ya? kau tidak berdandan? jadi yang di bibirmu itu apa? ha?? kau ingin memikat Steve? Kau lupa dia milik siapa?"
"Hentikan omong kosong loe, jalan sekarang atau gue pergi naik taksi." ujarku kesal.
"Loe? Goe? bicara yang benar Cyntia."
"ah terserahmu saja." ujarku pasrah sambil bersender pada sandaran mobil, dan memasang headsed pada telingaku.
"Aku tak ingin mendengar radio rusak mengomel." gumamku dalam hati.
\*
Dave POV
Cyntia, 5 menit lagi aku tiba.
__ADS_1
Aku membaca pesan yang kukirim sepuluh menit lalu, jangankan membalas, gadis itu bahkan belum membacanya.
kuperiksa jam di ponselku 10.30, sudah sepuluh menit aku di sini, ini tidak dapat dibiarkan. Aku paling tidak suka dengan hal-hal yang tidak tepat waktu.
Sambil menghela nafas, berusaha menelan kekesalanku, aku mendial nomor gadis berambut ikal itu.
sekali... tak dijawab..
dua kali...
tiga, empat, lima hingga sembilan kali, tak di jawab juga.
kukirim jam sekali lagi, ternyata 10.50 am, yang artinya sudah 30 menit aku menunggu Cyntia.
"Gadis ini sedang apa?" aku menggerutu kesal sambil menghubungi dia sekali lagi. Dan sial, dia mengomel padaku.
Cuaca panas kota jakarta kini ikut membakar emosiku. Suhu yang aku tidak tahu berapa derajat berhasil mengalahkan AC dalam mobil yang ku kendarai, aku sangat haus ditambah lagi omelan Cyntia dari seberang. Dan dia mengakhiri telepon dengan mengabaikan ku..
Beberapa menit kemudian, pagar berwarna hitam yang menjadi pembatas mobilku dengan rumah Cyntia bergerak pelan. Aku menghela nafas lega, melihat seorang gadis muncul dari balik pagar.
blouse cream dan jeans hitam terlihat menyatu dengan kulit sawo matang nya. Rambut ikalnya digelung tinggi, kini dia sudah masuk ke dalam mobilku.
"Ini air mu." ujar gadis itu sambil melempar botol minum padaku.
Aku menangkap botol yang dilemparnya dan saat itu juga aku melihat bibirnya yang berwarna segar. Tunggu dulu, bibirnya? untuk apa aku melihat daerah itu?
"Oh, kupikir aku akan menyambut seorang tuan putri setelah menunggumu berdandan sekian lama." ujarku mengusir aneh yang tiba-tiba muncul dalam kepalaku.
"Aku tidak berdandan, dan kau tidak lama. Hanya hitungan menit." dia protes padaku, Cyntia selalu begitu.
Lalu kami berdebat panjang, dan berakhir dengan gadis itu menulikan diri dengan memakai headset nya.
Tunggu dulu, biar ku jelaskan pada kalian, Cyntia ini sungguh menyebalkan, entah kenapa dia selalu bicara Loe-Gue, hal yang menurutku tidak sopan dia lakukan padaku. dan juga memakai headset untuk menghindari pembicaraan? Sungguh dia tidak tahu bagaimana menunjukkan respect pada orang lain. Kenapa Noni sangat peduli pada gadis ini? Bagaimana Steve bisa bertahan jadi temannya selama ini?
Aku menggeleng prustasi.
Dave POV off
\*
aku memandang aneh pria yang kini duduk dibalik kemudi. Dave, iya Dave. siapa lagi kalau bukan dia. Pria aneh yang asik geleng kepala tanpa melakukan mobilnya.
"What?? mobilnya belum jalan?" omelku dalam hati saat menyadari bahwa kami masih di depan rumahku.
"Loe nggak jalan? gue turun nih." ujarku ketus.
Seketika Dave berhenti menggeleng dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Tanpa ekspresi, dan aku tak peduli.
**Pengumuman
hi readers, menurut kalian novel ini menarik nggak. author ada rencana buat give up sama novel ini, tapi kalau kalian tertarik untuk terus baca komen di kolom komentar ya.
__ADS_1
thankyou
-best**-