CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Ide Dari Noni


__ADS_3

"Takut gelap? Tapi malah tidur nyenyak. Dasar cowo nyebelin." gumamku pelan dan kembali mengawasi layar walau aku sudah tidak paham alur dari film yang kutonton sejak tadi.


 


\\*


 


Film telah usai, lampu bioskop kembali menyala. Aku menggoyang bahu Dave sambil berusaha membangunkan pria ini.


"Dave... Dave..."


"Hmmmmh..." dia hanya bergumam tanpa membuka mata.


"Bangun Dave, film nya udah kelar." aku masih berusaha menyadarkan pria yang tengah asik bermimpi di sebelahku.


"hmmmmmmh..."


Setelah mencoba mengusik tidurnya berkali-kali dsn saat aku sadar bahwa sang target hanya asik bergumam ria, akhirnya kuputuskan untuk membangunkan Dave dengan cara yang unik. Aku menggerakkan tangan untuk memencet hidungnya.


"Mau ngebunuh aku?" Dave tiba-tiba angkat suara saat tanganku mulai mendarat di hidung mancung nya.


"Udah bangun?" tanyaku menahan diri. Tentu saja aku harus menahan diri, tidak mungkin kan aku menyerang Dave dengan kalimat pamungkas dan membuat kami jadi bahan tontonan di sini?


"Dari tadi gue bangunin, sok nggak bangun lagi. Jadi loe cuman pura-pura tidur? Astaga, gimana dong? Dave tahu dong yang gue lakuin tadi." Aku merutuki diri yang terlalu berani mengelus kepala Dave beberapa kali selama film diputar.


"Yaudah ayok. Kenapa kamu masih bengong?" Tanya Dave yang kini sudah berdiri di sebelahku.


"Eh..."


Secara tiba-tiba pria itu menarik tanganku dan membawaku keluar dari studio.


-deg..deg...deg..deg-


"Aduh. jangan cepat-cepat dong Dave, jantung gue mau copot nih." Aku protes dalam hati.


Setelah menonton akhirnya kami mampir di sebuah restoran untuk mengakhiri perjalanan hari ini dengan makan malam.


 


\*


 


Dave POV on 🌹🌹🌹


Bioskop


"Aduh, ini si Cintya malah ngajak nonton film action. Udah tempatnya gelap begini, tayangan di depan sadis nya minta ampun. Dasar cewe jadi-jadian." aku bermonolog dalam hati sambil menatap layar di hadapanku.


Keringat dingin mulai mengalis membasahi tubuhku, jantungku kini berdebar tak karuan, tiba-tiba layar di hadapanku menampilkan adegan kecelakaan pesawat.


"Aaaaaargggh..." aku memekik panik. Bayangan bayangan itu kembali berkelebat dalam kepalaku.


Suara Cintya menyadarkan ku, membawaku kembali pada kenyataan bahwa aku kini tengah duduk di bioskop. Dan kejadian itu sudah lama berlalu. Akhirnya aku memutuskan untuk menikmati popcorn sambil menonton wajah Cintya.


Dia tersenyum, memasang wajah panik, kesal, dan lega secara berganti-gantian. Aku tersenyum berkali-kali mengawasi perubahan wajah gadis cerewet ini karna sebuah film, sampai tiba-tiba aku merasa sangat ingin tidur. Kuputuskan memejamkan mataku sejenak.


Tanpa sengaja kepalaku jatuh menyentuh sesuatu yang ku tebak adalah pipi Cintya.

__ADS_1


-deg deg deg deg-


Jantungku berdetak makin kencang, kulitnya yang hangat dan lembut dan aroma khas Cintya terasa manis menyeruak masuk ke dalam hidungku.


"Kalau aku narik wajahku sekarang, bisa perang dunia ketiga." Aku bergumam dalam hati mengingat betapa galak nya gadis ini.


"Loe tidur?" kudengar Cintya berkata pelan.


....


"Dave?" gadis itu kembali memanggil.


"hmmmmmh...." aku bergumam dan menjatuhkan kepalalaku perlahan, untung tepat mendarat di bahunya.


"Okay Dave, cari aman aja. Mending sekarang pura-pura tidur daripada di serang sama Cintya." Aku membuat keputusan dalam hati.


Perasaan nyaman dan tenang tiba-tiba menghampiriku, membawaku jatuh ke alam mimpi.


Dave POV off


🌹🌹🌹


\*\*\*


Usai acara jalan-jalan seharian, Dave semakin sering terganggu oleh Cintya. Di rumah sakit, saat menyetir, saat makan siang, saat membaca kepalanya dipenuhi oleh bayang-bayang gadis itu. Sampai pada hari ini.


"Kok mikirin Cintya terus ya? Ini semua pasti karena dia galak dan cerewet. Sampai-sampai saya nggak bisa berhenti mikirin dia." Dave


"Nggak bisa dibiarin nih, saya harus bertanya pada Noni, bagaiamana cara menyenangkan Cintya. Kalau dia nggak galak-galak lagi, pasti saya bakal berhenti kepikiran padanya." Dave meraih ponselnya dan menghubungi gadis yang kini sedang menjadi pasien di salah satu rumah sakit di US.


\*\*\*


🌹🌹🌹


"Cin... Cintya...!!" suara Dave membahana mencari keberadaanku.


"Dasar cowok nyebelin, datang-datang langsung nyariin. Pas gue minta keluar malah nggak dikasih. huuuuh.." Aku protes sambil memindahkan bibit sayuran yang sudah disemai dua minggu lalu ke area yang lebih luas.


"Kamu dimana? Cintya???" aku mendengar suara Dave yang kian mendekat.


"Panggil aja terus, nggak mau gue nyahut ama cowo nyebelin kayak loe." aku kembali meledek dalam hati.


"Ternyata kamu di sini? Ini buat kamu." Dave mendekatkan bucket mawar padaku.


"hah?" aku menatapnya heran, namun jantungku kini sedang bersorak gembira.


"Oh, ini titipan dari Noni." pria itu menunduk memandang ku yang masih asik bermain tanah.


"Memang dari Noni kan? Toh ini yang ngasih ide Noni." Dave bergumam dalam hati.


"Oh.." jawabku sedikit kecewa dan langsung kembali menunduk memainkan tanah di hadapanku.


"Nggak mungkin juga kan si cowo nyebelin ini mendadak romantis?" aku bergumam dalam hati sambil membangunkan bibirku.


"Hmmm... kok jadi kikuk begini ya?" Dave bertanya dalam hati.


"Cin, kamu masih lama? Aku letakin bunganya di kamar ya." pinta Dave.


"Oke. Thankyou." aku menjawab tanpa menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Kenapa sih hati ini pakai acara kecewa cuman gara-gara bunga. Apa gue naksir si Dave? Nggak mungkin kan?"


\*\*\*


Dikamar Dave sedang melepaskan pakaiannya dan bersiap untuk mandi.


"Kenapa ya Cintya nggak nerima bunganya? Kenapa dia terlihat nggak bahagia? Pasti si Noni salah informasi lagi nih."


Dave mengeluarkan ponselnya, lalu segera menghubungi sebuah kontak.


"Noni..."


"Kakaaaaaaak..." seru gadis di layar ponselnya.


"Kamu bohong sama saya?"tuntut Dave.


"Mohon apanya?"


"Nih..." dengan wajah kesal Dave mengangkat bucket mawar itu dan menunjukkan pada Noni di seberang sana.


"Hahahaha... astaga, jadi kakak beli bunga buat Cintya?"


"Iya, kalau bukan buat dia buat siapa lagi?"


"Hahahaha... terus masalahnya apa?" tanya Noni gemas.


"Dia nggak happy tuh. Malah cuek banget, kayaknya dia nggak suka bunga." jawab Dave lagi.


"Oh, jadi kakak langsung nyerang aku karena Cintya nggak happy?"


.....


"Kakak naksir ya sama Cintya? Cieeeee...." Noni menggoda sang kakak angkat.


"Kamu jangan mengada-ngada dong." protes Dave.


"Lah, terus ngapain seharian ini kakak ganggu aku hanya buat nanya hal-hal tentang Cintya? Sampai ganggu jam tidurku lagi. Kakak tahu kan perbedaan zona waktu US dan Jakarta." protes Noni sambil tersenyum.


"Hei, mana ada orang protes sambil tersenyum?" Dave melotot menatap wajah sang adik di ponselnya.


"Hahaha... ternyata nggak salah ya aku menjodohkan kalian berdua. Akhirnya kak Dave jatuh hati juga."


"NONI...!!" Dave berseru kesal memandang wajah sang adik di layar ponselnya.


Tiba-tiba sambungan terputus.


"Dasar adik nakal. Nggak mungkin kan aku naksir Cintya? Toh tujuanku pengen buat dia senang juga supaya kami bisa hidup akur di rumah ini. Tidak ada keinginan lain." Dave mengusap wajahnya kasar sebelum melempar ponselnya ke arah tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.


\*\*\*


Sementara itu di taman belakang kembali pada Cintya.


Usai merawat tanaman, aku membersihkan tangan dan kaki ku dengan kran air khusus untuk menyiram taman belakang. Setelah bersih, aku bergegas masuk ke rumah.


Dikamar, kulihat Dave yang kembali sibuk dengan aksi membacanya.


"Baca aja terus, sibuk sana sama duniamu. Lagian gue juga nggak peduli." aku berkata dalam hati.


"Cintya? Kenapa dia diam begini? Suasananya mendadak jadi horor nih." Dave memandang tubuh Cintya yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan perasaan bingung.

__ADS_1


__ADS_2