CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Kontrak Perjanjian


__ADS_3

Dengan demikian, Dave pun memilih untuk merebahkan dirinya di atas ranjang, tepat di sebelah Cintya. Tentu saja sambil tersenyum penuh kemenangan.


\*\*\*


Cahaya matahari yang menembus gorden mengusik tidurku. Dengan gerakan acaak aku menggeliat di bawah selimut. Rasanya aku masih sangat ingin tidur, seluruh tubuhku terasa sakit dan lelah. Kembali dengan gerakan asal aku menggeliat pelan dan menenangkan kakiku ke sembarang arah mencoba melakukan peregangan di pagi hari, ya anggap saja begitu masih dengan mata yang tertutup rapat. Namun tiba-tiba salah satu kakiku menendang sesuatu yang terasa lembut.


"Aaaaaaarghhhh...." suara tertahan dan kesakitan itu mendorongmu untuk segera membuka mata.


"Hei nyebelin, ngapain kamu di sini?" aku berteriak kencang sambil menatap galak wajah Dave yang meringis kesakitan.


"Cintya... arghhh..." pria itu masih merintis menahan rasa sakit.


"Kamu kenapa?" tanyaku penasaran sambil mengamati wajah pria itu lebih serius.


"Tunggu dulu, ngapain si Dave pakai acara meringkuk dengan tangan berada di bawah perutnya? Mungkin dia sakit perut." Aku mengambil kesimpulan cepat dan cerdas tentunya.


"Kamu sakit perut?" tanyaku sok perhatian.


"Sakit perut apanya?" wajah Dave belum berubah, dia masih menahan rasa sakit yang dideritanya.


"Apa perlu aku panggil Mami?" tanyaku di susul dengan sebuah teriakan panjang, "Mi...Mami...!!!" tanpa turun dari tempat tidur aku berteriak berharap ibu mertua mendengarkan ku.


"Dasar bod*h, Mami nggak bakal dengar Cintya. Lagi pula buat apa sih kamu teriak-teriak manggil mami? Aduh..." ternyata masih mencoba mengendalikan sesuatu yang terasa sakit di tubuhnya.


"Lha kan kamu sakit." ujar ku serius.


"Dave, perutmu sakit banget ya? Makanya kalau makan itu jangan sembarangan ih, kan jadi sakit perut begini pagi-pagi. Ngerepotin tau nggak sih. Kekamar mandi sana." omelku panjang lebar.


"Aku nggak sakit perut Cintya." Dave membentakku galak.


"Kenapa dia malah marah-marah sih?" aku protes dalam hati.


"Eh Dave? Ngapain kamu di tempat tidur? Bukannya kamu harusnya tidur di sana?" aku membalas kemarahannya dengan suara ketus sambil menunjuk ke arah sofa.


....


"Jangan diam aja Dave. Kalau orang ngomong di jawab dong."


"Dasar egois. Udah bersalah malah ngomongin kesalahan orang." jawab Dave.


Aku menatap Dave tanpa ekspresi, mendapati wajah pria yang sungguh tidak masuk di akal ku ini.


"Apa katanya tadi? Bersalah? Siapa yang bersalah? Dia yang salah kan? Ngapain juga pakai acara tidur di atas tempat tidur? Dan tangannya, ngapain tangannya masih di sana? Atau jangan-jangan yang gue tendang tadi? Astaga... ****** gue" Saat bermonolog dalam hati dan mengamati gerak-gerik Dave, aku tersadar akan sesuatu.


Tiba-tiba pipiku terasa hangat, mendadak aku merasa sangat malu. Tanpa menunggu lama, aku bangkit dari tempat tidur dan aku berniat untuk segera lari menuju kamar mandi.


"Hei...! mau kemana?" teriak Dave saat aku turun dari tempat tidur.


"Eh... itu, aku mau kekamar mandi." jawabku kikuk.


"Buruan. Jangan pakai lama." ujar Dave lagi.


"Kamu udah nggak sakit?" tanpa sadar pertanyaan ku keluar begitu saja, mungkin karena merasa bersalah.


"Astaga, ngapain gue malah nanya begitu sih? Bukannya langsung kabur kekamar mandi. Beg* amat sih loe, Cintya...Cintya..." merutuki diri sendiri sambil menggeleng frustasi.


"Kamu kenapa geleng-geleng sendiri?" Dave bertanya serius.

__ADS_1


Aku malah bengong, bingung hendak menjawab bagaimana atas pertanyaan pria yang masih meringkuk di atas ranjang.


"Aku sakit juga karena kamu kan? Sana buruan masuk kamar mandi dan bersiap untuk menerima hukuman kamu." jawab Dave sambil menatapku santai.


"Astaga, hukuman apalagi sih?" jawabku dalm hati sambil berlalu menuju kamar mandi.


Setelah menyelesaikan serentetan ritual mandi pagi, aku bergegas kembali ke kamar dan menemukan Dave masih asik rebahan di atas tempat tidur.


"Hukumannya nggak serius kan? Nggak bakal macem-macem kan? Sial, padahal gue mau nyerahin ide gue semalam lagi ke dia." gumamku sambil berjalan menuju tempat tidur.


"Dave... sepertinya kita harus bahas ini." ujarku santai tanpa rasa bersalah sambil mengangkat sebuah kertas dari nakas tempat tidur.


"Hahahhaahahhaaha..." bukannya merespon, pria di hadapanku ini malah tertawa kencang sambil berguling di atas tempat tidur.


"Dasar bocah." ujarku sinis menyadari tingkah kekanakan Dave.


"Itu kepala atau apa Cin? lihat cermin dulu sana." ujar Dave sambil menahan tawanya.


Dengan kesal aku bergerak menuju cermin di salah satu sisi kamar.


"Nggak ada yang salah sama kepala gue." ujarku sambil mengamati kepalaku dengan handuk yang membungkus rambutku yang basah.


"Udah, nggak usah mengalihkan pembicaraan ya Dave. Aku udah bercermin, dan menurutku kepalaku wajar-wajar aja." aku mengomel sambil berjalan mendekati tempat tidur.


Pria tadi masih senyum-senyum sambil mengawasi gerak-gerikku.


"udah bisa senyum-senyum gini, artinya daerah yang gue tendang tadi udah nggak sakit lagi kan?" ada sedikit perasaan lega yang menghampiriku.


"Tentang apa?" tanya Dave saat aku naik ke atas tempat tidur dan mengambil posisi duduk di daerah yang kutiduri sepanjang malam.


"Yah, bangun dulu kali Dave. Gimana mau ngobrol kalau kamu tiduran gini."


"Nih, kamu baca." ujarku mengalihkan secarik kertas tadi.


Dave memandang kertas berisi kontrak yang aku berikan, tanpa ekspresi.


"Dia nggak terkejut?" gumamku dalam hati.


"Ini kontrak?" tanya Dave setelah sekian menit diam terlihat seperti sedang membaca.


"Iya." jawabku sedikit curiga dengan ekspresinya yang sangat santai itu.


"Kenapa si Dave santai banget ya? Apa jangan-jangan dia udah liat kertas ino waktu gue kekamar mandi tadi." aku merutuki diri, menyadari bahwa sejak semalam aku hanya meletakkan kontrak itu di atas nakas tempat tidur.


"Emang kita lagi dalam novel?" tanya Dave sambil tersenyum jahat, membuatku merinding seketika.


"Nggak..nggak... Cin, loe nggak boleh takut. Loe nggak boleh kalah sama cowok sebiji ini." dalam hati aku mengingatkan diri sendiri.


"Kita memang nggak di dalam novel Dave, tapi kamu sadarkan pernikahan kita tanpa dasar cinta. Jadi nggak ada salahnya kita buat kontrak, siapa tau suatu saat kita malah menemukan cinta di luar sana dan ingin mengakhiri pernikahan ini, jadi kita nggak sama-sama rugi." ujarku panjang lebar.


"Setidaknya aku nggak ngalamin kerugian karena kamu ancam dengan kata-kata pemerkosaan." aku berbicara licik di dalam hati.


"Kontrak ini tidak berlaku". jawab Dave santai.


"Kenapa Dave?" tanyaku serius.


"Kamu dengar ya Cintya, setelah aku baca ada beberapa poin yang tidak dapat kuterima." ujar Dave santai.

__ADS_1


"KENAPA?" tanyaku galak


"Satu, kamu sudah menyentuh ku dengan sembarangan berkali-kali termasuk pagi ini. Dua, aku harus ikut campur urusanmu dan George, bukankah kalian yang minta bantuan supaya aku menjauhkan kamu dari George? Gimana kalau muncul George-George yang lain? poin ketiga , sudah kita langgar malam ini. artinya sesuai poin ke empat, kontrak ini tidak berlaku lagi."


"Astaga, sejak kapan ada poin keempat yang berbunyi begitu?" aku bertanya dalam hati sambil membaca kontrak sekali lagi.


"Poin keempat yang mana?" berusaha meraih kertas dari Dave. Aku membaca lag butir-butir kontrak yang kubuat sepanjang malam sebelum tertidur.




Kedua belah pihak dilarang melakukan kontak fisik berlebihan.




Dave, tidak boleh ikut campur dengan hubungan Cintya dengan lawan jenis. Demikian sebaliknya.




Dave harus tidur di sofa, jika Dave tidur di tempat tidur dan Cintya tidur di sofa, lampu kamar harus di padamkan.




Kontrak berakhir jika ada yang melanggar salah satu peraturan di atas.




Pernikahan ini berakhir ketika salah satu dari keduabelah pihak menemukan orang yang dicintai.




Aku membaca poin-poin itu sekali lagi dan merasa sepertinya ada yang aneh dengan kertas di tanganku.


"Bukannya semalam hanya ada empat poin? " aku bingung dengan ingatanku.


"Apa jangan-jangan karena ngantuk gue malah menulisnya begini? Ahhhh... sial banget gue..." aku merutuk dalam hati.


"Gimana?" tanya Dave membuyarkan semua pikiranku.


"Kapan aku melanggar poin pertama?" tanyaku spontan.


"Astaga Cintya, ngapain nanya begitu sih?" omelku dalam hati sambil mengerjap berkali-kali karena kesal pada kebodohan yang kubuat sendiri.


"Hahahaha... kamu yakin mau diingetin semua?" tanga Dave.


Kenangan ku kembali ke kejadian saat pemadaman listrik beberapa hari lalu di rumahku, juga kejadian penendangan tadi pagi. Seketika wajahku terasa hangat karena malu.

__ADS_1


Author POV


Kasian banget sih kamu Cin, dikerjain habis-habisan sama si Dave.


__ADS_2