CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Teka-Teki Hati (2)


__ADS_3

"Nggak mungkinlah Noni naksir cowok tadi. Gadis ini kan cinta mati sama si Dave, kakak angkatnya itu." gumamku dalam hati.


"Gue deg-degan kalau ada si Andrew. Makanya gue kesal setiap kali dia deket-dejet sama gue." curhat Noni pelan.


"APA?????" tanyaku serius.


"Kenapa Cin?"


"Jangan bilang loe naksir dia." jawabku hati-hati.


"Gue nggak tahu. Tapi sejak dia muncul, gue enggak terlalu bersemangat setiap ingat Dave. Bahkan sepertinya sekarang rasa sayang gue ke Dave benar-benar cinta adik pada kakaknya." gumam Noni.


"Loe serius? kok bisa?" tanyaku tak percaya.


"Iya gue serius Cin. Tiba-tiba kehadiran Andrew membuat hari gue jadi menyebalkan, tapi setiap kali pria itu nggak ada di sekitar gue, rasanya ada sesuatu yang kurang." curhat Noni lagi.


"Tunggu... tunggu. Gue inget, dulu pas loe ngaku ke gue tentang perasaan loe sama Dave, loe malu-malu banget. Nah, yang sekarang loe malah santay banget Non. Kok bisa berubah secepat ini?" tanyaku penasaran.


"Ya gue mana tau Cintya, namanya juga gue masih ABG. Masih remaja, masih belum mengecap pahit-manisnya cinta. Jadi gue nggak tau gimana kondisi normal dan wajar saat seseorang jatuh cinta." jawab Noni panjang lebar.


Aku hanya mengangguk tanda mengerti dan setuju dengan perkataannya. Kalau di pikir-pikir lagi, track record Noni jauh lebih mapan dibanding aku yang sama sekali belum pernah jatuh cinta. Dulu pernah ada George, yang berhasil menggetarkan hatiku. Namun setelah Goerge, tidak ada pria lain yang hadir di hidupku dan mampu menggetarkan perasaanku lagi. Sejak rusaknya persahaban kami dan hancurnya perasaanku, aku terbiasa menjadi lebih berhati-hati.


"Noni, Cintya.. Ngapain melamun?" tanya Steve yg muncul tiba-tiba.


"Loe udah makan?" tanya Noni mengacuhkan pertanyaan pria itu.


"Udah."


"Masih ada kelas?" tanya Noni lagi?"


"Gua masuk di kelas Cintya, teaching assistent." ujar Steve.


"Oh iya, gue lupa." jawab Noni menepuk jidatnya.


"Belum juga tua." ledekku diiringi derai tawa Steve.


Kami menghabiskan jam makan siang sambil bercanda dan tertawa ramai. Kalau dipikir-pikir lagi, Steve sungguh-sungguh sangat penurut pada Noni. Bahkan pria itu tidak akan menunjukkan kedekatan kami di hadapan mahasiswa di jurusan ku, sesuai dengan permintaan Noni. Permintaan yang sengaja dibuat gadis ini untuk melindungi ku, mengingat Steve adalah pria tampan dan cerdas yang tentu saja menjadi idola gadis-gadis di fakultas kedokteran. Noni tidak ingin mereka mengusik ketenangan belajarku, itulah alasan Noni saat memohon Steve menjaga jarak denganku saat berada di wilayah fakultas kedokteran. Hubunganku dan Noni, semakin lama semakin bertumbuh menjadi hubungan persaudaraan. Gadis itu selalu membuat dirinya terlihat bergantung padaku, namun pada kenyataannya akulah yang lebih banyak menerima bantuannya. Noni adalah sahabat terbaikku.


Lima belas menit sebelum kelas dimulai, aku undur diri meninggalkan Noni dan Steve di taman. Hal ini sesuai dengan kesepakatan kami bertiga, agar aku dan Steve tidak berlihat berjalan beriringan. Aku melangkah terburu-buru menyusuri jalanan di bawah rimbunnya pepohonan di halaman universitas X.


Setubanya di gedung fakultasku, aku melangkah di koridor yang di isi oleh mahasiswa yang sibuk kesana-kemari. Tiba-tiba saja sesuatu yang hangat mendarat di pergelangan tanganku, seseorang menarik ku masuk ke ruangan kelas yang akhirnya ku ketahui sedang kosong.


"Apa-apaan loe?" tanyaku pada pria itu sambil memandangnya galak.


"Sudah makan siang?"


"Bukan urusan loe."

__ADS_1


"Ini buat kamu." ujarnya menyerahkan sebuah kotak padaku, sementara salah satu tangannya masih menyandera pergelangan tangan kananku.


"Lepasin gue." ucapku galak sambil menghempaskan tangannya.


"Jangan marah-marah Cintya. Kamu kok bisa jadi galak begini?" tanyanya frustasi.


Aku meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaan itu.


"Cintya tunggu." dia kembali menarik tanganku kasar.


"Apaan sih loe Geo?" tanyaku kesal.


"Ini hadiahnya. Loe belum terima." ujarnya kembali menyodorkan kotak itu kepadaku.


"Kalau gue menolak?" tanyaku ketus.


"Gue perk*sa loe di sini sekarang juga. Mau?" tanyanya sambil tersenyum nakal.


"Jangan gila loe. Gue bisa teriak sekarang dan membuat semua orang nang..." kalimatku terputus saat tangan George mendarat mencengkram leher ku, diikuti oleh bibirnya yang tiba-tiba menciumi bibirku kasar.


Tangan itu kemudian turun menyentuh salah satu payudaraku dan meremasnya kencang. Aku terisak karena ketakutan dan kesakitan.


"Tolong lah Cin. Cukup terima hadiah ini, dan kamu bisa masuk ke kelas sekarang. Apa kamu nggak takut terlambat?" ujarnya lembut sambil memandang wajahku penuh arti.


"Apaan sih ini? cukup sini gue terima dan loe lepasin gue." ucapku ketakutan.


"Gue bukan pacar loe." jawabku tidak terima.


"Aku pacar kamu. Itu udah cukup."


"Gila kali loe ya?"


Dengan perasaan kesal aku meninggalkan pria itu dan membawa serta kotak hadiah pemberiannya.


Aku melangkah masuk terburu-buru ke dalam kelas. Dan tentu saja aku sudah terlambat. Sesampainya di ambang pintu, aku mengetuk daun pintu dengan perlahan.


"Masuk." Seorang dosen pria mempersilahkanku masuk ke kelas.


"Terimakasih pak." jawabku sambil berjalan masuk dan segera mencari kursi yang kosong.


Sementara itu, di depan sana, Steve duduk tepat di sebelah kanan dosen. Wajahnya menyiratkan isi kepalanya yang sedang sibuk bertanya-tanya perihal keterlambatanku. Aku duduk di salah satu kursi kosong di baris ke tiga.


Pikiranku melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu. Aku bergidik ngeri mengingat bagaimana George mengancamku.


"Ah, andai yang jadi sahabat masa kecil Noni bukan Steve, tapi pria lain di jurusan ini pasti dia bisa jadi pelindung gue dari si gila George." gumamku dalam hati.


"Apa kamu sakit?" tanya Steve yang tiba-tiba menyentuh lenganku pelan.

__ADS_1


"Ha.. Sa.. sa..saya baik-baik aja kak." jawabku terkejut karena Steve tiba-tiba berdiri di sampingku, sementara sang Dosen sudah tidak di ruangan itu.


"Jadi, seperti yang saya sudah sebutkan tadi. Kalian harus mengerjakan project ini secara pribadi. Dan jika ada pertanyaan, silahkan kirimkan email ke alamat email Professor." ujar Steve pada seisi kelas.


"Apa? Project? Project apaan?" tanyaku dalam hati. Kini aku benar-benar panik. Karena melamun, tenyata aku tidak memperhatikan kelas sejak tadi.


Kelas akhirnya bubar. Aku menyusun buku ku perlahan.


"Cintya, tunggu Noni di sini." ujar Steve sebelum meninggalkan kelas.


"Steve, jangan pergi sebelum Noni datang." pintaku padanya. Tiba-tiba saja aku merasa tidak aman berada di kelas kosong ini sendirian.


"Loe kenapa? ada masalah apa? dan kenapa loe telat?" tanya Steve yang kini sudah duduk menghadap ke belakang di salah satu kursi di barisan kedua.


"Gue nggak bisa jelasin di sini. Loe balik ke depan sana. Takut nanti ada yang salah paham kalau ada yang mergokin loe di sini." ucapku pelan.


"Oke. Loe utang penjelasan sama gue." jawabnya sambil melangkah kembali ke meja dosen.


Pria itu kemudian menyibukkan diri dengan ponsel dan komputernya. Sedang aku memilih duduk sambil berdiam diri.


Sementara itu di balik pintu, seseorang sudah tidak sabar menunggu gadis pujaan hatinya muncul dari ruangan itu. George terus mengawasi pintu. Dia menimbang-nimbang haruskah masuk ke ruangan itu sekarang atau tidak. Setelah merasa yakin bahwa ruangan itu hanya menyisakan Cintya, akhirnya George melangkah mendekati pintu.


"hi George? Masih ada kelas?" tanya seseorang menghentikan langkah George.


"Eh.. Noni. Hai. Loe kok bisa ke fakultas gue?" tanya George.


"Mau jemput pacar gue. Duluan ya." jawab Noni langsung menerobos pintu yang tadi di awasi oleh George.


Setelah beberapa menit, George melihat Noni menuntun Cintya keluar dari ruangan itu. Dan dia cukup terkejut menyadari bahwa salah satu seniornya menyusul keluar di belakang gadis-gadis itu sambil menenteng tas milik Cintya.


"Apa Cintya sakit? kenapa kak Steve harus menunggu Noni datang menjemput dia?" gumam George khawatir menyaksikan ketiga sosok itu berjalan menjauh.


Tanpa sadar George mengikuti langkah mereka bertiga. Dan pria itu semakin terkejut menyadari Steve yang mengantarkan mereka hingga keparkiran.


"Sejak awal aku tidak suka kehadiran pria ini." gumam George dalam hati.


"Cintya, kamu kenapa?" tanya George yang tidak sanggup menahan rasa penasarannya.


Mendengar suara Geroge, secara spontan aku langsung memeluk Noni sambil ketakutan.


"Cintya, Cintya kamu kenapa?" Tanya Noni khawatir.


Aku semakin mempererat pelukanku pada Noni.


"Yaudah kita pulang sekarang." ujar Noni pelan sambil membuka pintu mobilnya dan menyuruhku segera masuk ke kursi penumpang.


Noni langsung duduk di balik kemudi setelah menerima barang-barangku dari Steve. Gadis itu melajukan mobil meninggalkan sekolah dam berhenti di dekat supermarket terdekat. Lalu Noni mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Steve, loe nyusul kita ya. Gue nggak yakin nyetir sendiri. Cintya kelihatannya nggak baik-baik aja sekarang." perlahan kudengar percakapan Noni di telepon. Namun aku memilih diam.


__ADS_2