
Aku mencoba mengingat sesuatu tentang mawar putih. Sepertinya ada kenangan tentang bunga ini di memoryku. Namun aku tidak dapat menemukannya. Dalam ingatanku aku teringat tentang banyak hal. Tentang George yang tiba-tiba melecehkan Cintya. Steve yang selalu siaga untukku dan Cintya. Dave yang bahkan entah sejak kapan khawatir pada Cintya. Aku yang ternyata telah jatuh cinta pada Andrew. Teka teki hati, sebuah misteri yang sangat ingin kuketahui simpul ujungnya. Aku ingin hidup lebih lama.
\*
Cintya berlari keluar dari rumah, langsung menuju tepi jalan raya untuk menyetop angkutan umum.
"Aku tidak boleh telat nih." gumamku dalam hati.
Sudah seminggu aku terbiasa pergi ke kampus tanpa Noni. Untuk kedepannya aku memang harus pergi tanpa gadis itu.
ckiiiit.. sebuah mobil audi berwarna silver berhenti tepat di depanku.
"Mau bareng nggak?" tanya pria yang tiba-tiba keluar dari balik kemudi dan melangkah mendekati ku.
"Goerge? Mau apa loe?" tanyaku mencoba melepaskan tanganku yang kini ditariknya secara paksa.
"Mau nemanin kamu kekampus lah." ujarnya tak tahu malu.
"Lepaskan. Lepaskan aku."
Sebuah hentakan kuat yang kulakukan akhirnya berhasil membuat lenganku lepas dari cengkraman pria itu.
"Cintya, please. Aku tidak bermaksud menyakitimu."
"Setelah semua yang loe lakuin ke gue, terus loe masih berani berkata begitu?"
"Cintya, aku benaran cinta sama kamu."
Pria itu kini mulai memelas sedih di hadapanku.
"Makan sendiri cintamu itu George. Pergilah, jangan ganggu hidup gue."
Aku langsung melangkah menjauh darinya. Namun pria itu terus mengikutiku. Kini dia kembali menarik lenganku secara paksa.
"Lepasin dia."
Sebuah suara berat tiba-tiba mengejutkan kami. Refleks karena shock George melonggarkan genggamannya. Aku langsung menarik tanganku dan berlari ke arah pria itu.
"Steve, thank you." ujarku sambil berdiri di sisi Steve.
"Masuk ke mobil gue." perintah Steve.
Setelah masuk ke mobil Stave, aku masih menyaksikan kedua pria itu saling memandang dengan penuh emosi dan kebencian. Steve akhirnya masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Cintya, maaf. Tapi ini nggak boleh dibiarin. Sepertinya dia akan kembali mengganggu kamu."
"Sudahlah Steve, abaikan saja."
"Noni sudah berangkat pagi ini."
"Iya gue tahu."
"Apa loe kecewa padanya?"
"Tentu saja gue kecewa pada gadis nakal itu. Bagaimana bisa dia merahasiakan hal sebesar itu dari gue."
"Noni hanya tidak ingin loe mengkhawatirkan keadaannya."
"Sepertinya loe benar-benar cinta sama Noni."
"Sttt.. jangan bicara sembarangan Cintya."
__ADS_1
"Jangan berdusta Steve. Wajah loe nggak bisa bohong."
"Apakah sejelas itu?"
"Hmmmmm. Tapi Noni, ceweks sebijik itu memang nggak peka."
"Loe kira dia buah pakai biji-bijian?"
"Sudahlah. Yok jalanin mobilnya. Atau loe mau kita ngobrol di sini sampai besok?"
Akhirnya setelah mendengar kalimat ku, pria ini segera menyalakan mobilnya. Kami meninggalkan area perumahan yang kutinggali bersama keluargaku.
Noni, sahabatku itu ternyata merahasiakan operasi sum-sum tulangnya beberapa bulan lalu dariku. Aku tidak kecewa karena dia merahasiakan hal itu, aku lebih kecewa karena ternyata sudah beberapa bulan terakhir penyakitnya kambuh lagi, tapi malah tidak mau memberitahu ku. Aku kesal karena tidak dapat menyadari betapa sahabatku menahan rasa sakitnya sendirian. Dan hal lain yang membuatku marah adalah lelaki bernama Andrew. Pria ******** yang membual tentang cinta kepada sahabatku.
\*
Andrew POV, Flash back On
Sudah beberapa bulan aku mengamati kedua gadis unik itu. Pertama kali melihat mereka, aku sempat berpikir keduanya adalah saudara. Mereka terlihat dekat dan bahagia sekali. Setelah ospek selesai, aku sangat senang karena salah satu diantara mereka ternyata jadi teman sekelas ku. Gadis itu bernama Noni, dia terlihat lebih cantik dibanding gadis yang satu lagi karena gadis ini lebih terawat. Seiring waktu akhirnya aku tahu bahwa mereka berdua adalah sahabat, bukan saudara. Noni dan Cintya, keduanya sama-sama gadis cantik, hanya saja Cintya lebih cuek pada penampilannya.
Entah sejak kapan aku berubah jadi penguntit yang selalu mengawasi mereka. Sampai hari ini akhirnya Noni menyadari kehadiranku.
"Jangan ngikutin gue terus. Nyebelin."
Protes gadis itu sambil memukul kepalaku pelan dengan buku di tangannya. Aroma farfumnya seketika memenuhi hidungku. Belum pernah ada aroma semenarik ini.
"Siapa nama temanmu?" tanyaku cuek.
"Bukan urusanmu."
Dengan satu gerakan refleks gadis itu melepaskan diri dariku dan berjalan santai meninggalkan ruangan kelas yang kini hanya diisi oleh kami berdua. Seketika jiwa jahat ku bergelora. Dengan langkah pasti, aku menyusul Noni. Aku menarik tubuhnya dan menekannya ke dinding. Dengan kasar aku langsung ******* bibir gadis itu. Awalnya dia sama sekali tidak merespon, namun pada akhirnya gadis itu membuka bibirnya dan menerima setiap permainan ku.
Dengan lembut kugerakkan kedua tanganku meraih pinggannya dan mengelusnya lembut.
Prak..Seseorang tiba-tiba membuka pintu kelas. Menghentikan ciumanku yang menuntut. Aku dan Noni tertunduk malu-malu. Dengan nafas ngosngosan gadis itu berlalu meninggalkanku yang tidak habis pikir dengan kelakuan brengsek ku barusan.
Setelah meraih tasku, akhirnya aku menyusul gadis itu dan membawa buku yang tadi di tinggalkannya.
"Ternyata kamu di sini." ujarku saat menemukan Noni dan gadis itu di taman perpustakaan.
Aku mencoba memulai percakapan dengannya, namun entah kenapa Noni akhirnya berhasil memojokkanku dan membuatku merasa tidak dianggap. Aku memilih mundur dan segera meninggalkan tempat itu.
Hari-hari berikutnya aku jadi sibuk mengawasi gadis itu. Ciumannya yang terasa sangat manis membuatku ingin melakukannya lagi dan lagi. Hanya saja Noni selalu punya cara untuk menjauh dariku.
Tapi tidak dengan hari ini, sekali lagi dunia berpihak padaku. Tiba-tiba saja gadis itu terlihat panik di kelas sejak beberapa menit tadi.
"Ada apa?" bisikku yang kini sudah berpindah duduk di sisinya.
"Tugas gue kayaknya ketinggalan di mobil."
"Ini pakai punya gue."
Aku langsung mengoyak halaman tugas yang berisi namaku dan menggantinya dengan kertas kosong serta menulis nama Noni di sana.
"Mana boleh begini?" tanyanya tak percaya dengan apa yanh kulakukan.
"Dosennya killer. Kamu nurut aja." jawabku.
Sepanjang matakuliah itu akhirnya sang dosen mengeluarkan ku dari kelas.
Di pelajaran berikutnya aku masuk ke kelas dan duduk tepat di barisan paling belakang. Noni melirik kearah ku berkali-kali. Setelah kelas berakhir aku menggoda gadis itu lagi, tapi tibggah kesalnya membuatku gemas. Akhirnya aku melakukan ide konyol untuk menembak gadis itu dengan mengirimkan banyak bunga.
__ADS_1
Aku mengawasi Noni yang menerima setiap tangkai bunga yang kukirimkan. Gadis itu terus melangkah sesuai instruksi di setiap suratku. Akhirnya dia kini berdiri sangat dekat denganku.
"Cintya, aku lupa menghitung." ujarnya setengah berteriak dengan wajah kesal.
"Nggak usah dihitung lagi. Karena aku pasti menemukan mu. Noni, maukah kamu jadi pacarku?" tanyaku sambil berlutut dan menyodorkan sebucket mawar putih padanya.
Aku mengangkat kepalaku berharap mendengar jawaban dari Noni, namun tiba-tiba tubuhku bergetar hebat menyaksikan tetes darah di helaian mahkota bunga mawar putih yang ku genggam.
"Noni.." panggilku panik.
Aku menangkap tubuhnya yang kini jatuh terhuyung. Aku memeluk Noni yang kini tak berdaya. Kupanggil namanya berkali-kali, pandanganku menggelap bertepatan saat Cintya yang kini sudah di sisi ku.
Saat aku sadar, entah bagaimana sudah berada di kamarku.
"sudah sadar?" tanya George sepupuku.
"Oh, jadi loe yang bawa gue kemari?"
"Sejak kapan loe kenal Noni dan Cintya?"
"Bukan urusan loe."
"Andrew..!!"
"George, gue lelah. Jangan ganggu gue."
"For your information, Noni pernah operasi karena dia mengidap leukemia, lebih baik loe jauhin dia."
"Apa hubungannya sama loe?"
"Apa loe siap ditinggal mati?"
Aku terdiam mendengar pernyataan George. Bagaimanapun pria ini kuliah di jurusan kedokteran dan semua orang di keluarga nya adalah dokter. Jika dia berani berkata demikian artinya Noni sedang dalam kondisi yang buruk.
"Apa gue bisa menemani Noni andai waktunya sangat singkat?" gumamku dalam hati.
"Loe mikir baik-baik sebelum bertindak. Gue mau kekamar, loe bisa turun dan makan sendiri kan? Gue rasa loe nggak usah memikirkan yang macam-macam tentang Noni. Phobia darah yang loe punya aja belum sembuh. Gimana loe bisa mendampingi orang sekarat seperti dia?" ujar George sambil berlalu meninggalkanku.
Sudah seminggu sejak hari itu, aku tidak pernah melihat Noni lagi. Cintya pun tidak pernah muncul di taman perpustakaan selama seminggu ini. Entah bagaimana kabar mereka aku tidak tahu. Aku masih terus memikirkan penjelasan George, tentang Noni dan tentang phobia ku terhadap darah.
"Noni, aku cinta kamu.. bagaimana ini?" gumamku dalam hati.
Aku melangkah malas meninggalkan parkiran, namun secara tidak sengaja kulihat mobil milik Steve teman Noni meninggalkan parkiran.
"Mungkin aku bisa tahu keberadaan Noni darinya." gumamku sambil kembali masuk ke mobil dan mengikuti pria itu.
Flash back Off, back to Cintya
\*
Mobil yang dikendarai oleh Steve mendarat dengan aman di parkiran kampus. Tiba-tiba saja ponselku berdering. Panggilan masuk dari sebuah nomor tidak dikenal. Aku langsung menerima panggilan itu..
"Hallo.. Iya, saya sendiri. APA!!!???" tiba-tiba tubuhku bergetar hebat dan seketika ponselku jatuh.
"Cintya, kamu kenapa?" Steve meraih ponsel yang jatuh sambil berusaha menenangkan ku yang mulai terisak.
Pria itu berbicara sejenak dengan orang diseberang sana melalui ponselku sebelum akhirnya melajukan mobilnya membelah jalan raya, menuju rumah sakit Permata Hati. Air mataku menetes tanpa permisi, seolah-olah mereka telah bosan bersembunyi selama ini.
"Seseorang mengikuti kita." ujar Steve.
"Biarlah Steve, aku tidak peduli lagi." ujarku sambil terus menangis.
__ADS_1