
"aku takut gelap cyn." jawabnya bergetar.
"Astaga..." kutepuk jidatku frustasi. Untuk pertama kali dalam hidupku, ada pria dewasa yang takut gelap.
-klik-
Dalam sekejap ruangan ini menjadi gelap, syukurlah listriknya sudah menyala. Jadi aku tak perlu repot-repot memikirkan bagaimana mengurus pria ini.
Dave lalu mengendurkan pelukannya dan melepaskan ku.
"Maaf." ujar Dave kikuk sambil menggaruk kepalanya, yang aku yakin sama sekali tidak gatal.
"It's okay" jawabku.
"Selamat ti..." baru saja aku ingin mengucapkan selamat tidur dan meninggalkan kamar ini, tiba-tiba gelap kembali menyelimuti pandanganku dan Dave kembali memelukku.
"Aduh, pusing banget sih ngurusin orang dewasa yang bertingkah bocah begini." omelku dalam hati.
\\*
Dave POV on
"Maaf" ujarku pelan sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Rasanya aneh dan kikuk walau tadi hanya pelukan tak sengaja. Maksudku tidak sengaja karena listrik mendadak padan dan ruangan ini jadi gelap. Beruntung listriknya kembali menyala.
"it's okay".
"Apa aku salah dengar? Cyntia yang biasanya cerewet ini memaafkan ku semudah itu?" gumamku dalam hati.
"Selamat ti..." baru saja dia akan mengucapkan selamat tidur, tiba-tiba kegelapan kembali menyelimuti pandanganku. Dan tanpa sadar aku kembali memeluk gadis itu.
Aku memejamkan mataku dan memeluk gadis cerewet ini, sesuatu yang kenyal dan empuk kini bertabrakan dengan dadaku.
"Tunggu dulu, aku tidak menduga akan sebesar ini." aku mengoceh dalam hati menyadari ukuran gunung kembar Cyntia.
Gadis dalam pelukanku bergerak gelisah, dan itu membuatku tidak nyaman. Yah, tentu saja tidak nyaman, sesuatu dalam diriku tiba-tiba saja bangun dari tidurku nyanyaknya.
"Cyntia..." Bisikku pelan sambil berusaha kembali pada kesadaranku.
"Ya?" tanyanya pelan.
"Bisa tolong ambil ponselku dari saku celanaku, dan tolong nyalakan flashlight nya." Ucapku dengan suara yang kuatur se normal mungkin.
Sekarang pikiran dan tubuhku sedang tidak bersahabat. Aku menghela nafas dalam berusaha mengisi paru-paruku yang terasa sesak, namun naasnya posisiku yang terpejam dan memeluk tubuh Cyntia malah membuat aroma gadis ini masuk dengan leluasa ke dalam indera penciumanku.
"Cyntia..." panggilku gusar, suaraku barusan malah terdengar seperti erangan.
"Ap....Apa sih Dave?"
"Jangan banyak bergerak terlalu banyak, cepat ambil ponselnya." ujarku frustasi menyadari sesuatu sudah mengeras di antara pangkal kedua kali ku. Dan jujur gerakan badan gadis ini malah membuatnya tergesek beberapa kali. Ini betul-betul cobaan berat bagiku.
"Bagaimana aku menemukan ponselmu jika tidak bergerak?" tanya gadis ini.
"Astaga.. apa dia bodoh atau memang terlalu polos?" omelku dalam hati.
__ADS_1
"Cepatlah. Ambil ponselnya." gumamku lagi.
Seketika bulu kuduk di tubuhku meremang, saat sesuatu terasa masuk ke dalam saku celana kain yang kupakai.
"Bukan di situ." ucapku frustasi saat Cyntia malah menyentuh sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana.
Spontan sentuhan itu menjauh dan beberapa detik kemudian aku merasakan bahwa ponselku sudah di bawa keluar dari saku celanaku.
Sejenak suasana menjadi sangat hening, sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
"Argh...menyebalkan.. bagaimana jika Cyntia mendengar detak jantungku sekarang? Apa dia akan menganggap ku sebagai pria mesum?" tanyaku gusar masih dalam hati sambil tetap memejamkan mataku.
"Aku sudah menyalakan Flashlight nya." suara itu akhirnya menyadarkan ku.
"Terimakasih" ujarku sambil membuka mata, dan benar sekali sinar remang dari flash ponsel ku tengah mengisi ruangan ini.
"Maaf" aku melepaskan kedua tanganku yang sejak tadi memeluk tubuh sintal Cyntia.
"Aku akan tidur." ujarnya kemudian.
"Jangan..." Aku menahan langkah gadis itu dengan gerakan cepat aku menggenggam salah satu pergelangan tangannya.
"Ada apa?" tanyanya tanpa melihat wajahku.
"Kita keluar saja. Pasti ada tempat yang lebih terang, seperti cafe." ujarku pelan.
"Tapi aku ngantuk." ujarnya tanpa mengubah posisi.
"Please. Aku tidak akan berani untuk tinggal di kamar gelap ini sendiri, dan ponselku mungkin akan segera padam." ujarku sedih.
Akhirnya Cyntia setuju dengan permintaanku. Dan kenapa aku meminta dia keluar? Tentu saja untuk menyelamatkan aku dari dua hal. Yang pertama adalah ketakutanku akan gelap, sedangkan yang kedua andai perasaan aneh yang tiba-tiba bangkit dal diriku. Jika kami tinggal di sini hingga listrik menyala, aku tak yakin Cyntia akan menyukai hal yang akan kulakukan padanya kemudian.
Akhirnya tanpa membuang waktu, kami mendarat di sebuah cafe yang kebetulan buka hingga subuh. Aku dan Cyntia lalu duduk berhadapan di sebuah meja. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Situasi ini terasa sangat canggung, sejak tadi Cyntia hanya tertunduk seolah dia menyembunyikan wajahnya dariku.
"Apakah kamu ingin minum sesuatu?" tanyaku.
....
Cyntia hanya menggelengkan kepalanya yang masih tertunduk menatap meja.
"Mengantuk?" tanyaku lagi.
....
Gadis itu mengangguk pelan tanpa mengangkat wajahnya.
Perasaan canggung sungguh menyerang ku, melihat gadis cerewet yang selalu membantah setiap perkataanku terdiam seperti ini membuatku merasa bingung dan kesal sekaligus.
"Cyntia, ada apa?" aku memutuskan untuk mengajukan pertanyaan ini setelah memesan coffee latte dari pelayan cafe.
....
"Apa kamu akan menunduk begitu sampai pagi? apa ada sesuatu di lantai? jika mengantuk kamu bisa tidur."
....
Tanpa menjawab pertanyaan ku, gadis itu malah meletakkan kepalanya di atas meja. Beralaskan kedua tangannya yang saling terlipat.
__ADS_1
"Ya sudah tidur saja." ujarku berusaha menekan rasa kesal yang menyeruak dalam dada.
"Ma...af." Akhirnya gadis itu buka suara, walau dengan wajah yang tengah tersembunyi dan menempel pada lengannya di atas meja yang memisahkan kami.
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Aku tidak sengaja menyentuhnya"
"Maksudmu apa?" tanyaku bingung dengan pernyataan Cyntia.
"Sesuatu yang keras saat aku mengambil ponsel dari saku celanamu."
'deg' jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang, kalimat tadi mengingatkanku pada kejadian beberapa menit lalu. Tiba-tiba saja sentuhan itu kembali berputar dalam kepalaku. Aku ingin merutuki diriku yang tiba-tiba berubah jadi mesum begini.
"Aku malu." kata-kata Cyntia kembali menyadarkanku dari hal kotor yang sempat memenuhi kepalaku.
"Berhenti membicarakannya." ujarku akhirnya.
"Kenapa?"
"Begitu lebih baik."
"Kita boleh melupakannya kan?" Wajahnya langsung terangkat dan menatapku serius.
"Astaga, bukankah katanya tadi dia malu? Bahkan sekarang dia memintaku untuk melupakan kejadian itu." gumamku tak percaya.
"Jadi kamu keberatan untuk melupakannya? ya sudah, jangan bicara padaku, jangan bertemu denganku." protesnya sambil kembali menekuk kepalanya di atas meja.
"Tapi, kenapa?" tanyaku merasa diberi tuntutan yang tak adil. "bukankah aku korbannya? Dia menyentuh area pribadiku. Akulah yang dirugikan, betul bukan?" Aku bergumam dalam hati sambil menatap ubun-ubun gadis di hadapanku dengan tatapan tidak percaya.
....
Cyntia kembali dengan mode diamnya, hingga pelayan cafe mengantarkan pesanan ku. Aku menyeruput coffe latte milikku dengan sepenuh hati, menikmati rasa dan aromanya.
"Tapi kenapa Cyntia? kenapa aku tidak boleh bicara ataupun bertemu denganmu?" tanyaku, sekali lagi aku menekan emosi dan egoku.
"Karena itu terlalu memalukan Dave."
"Maksudmu?" aku sedikit emosi, bagaimana bisa aku yang jadi korban tapi dia yang malu. Seolah-olah aku ini dijadikan pelaku kejahatan saja.
"Apa aku melakukan kejahatan padamu? Apakah saat kau menyentuhnya merupakan kesalahan ku?"
"Astaga, aku tak menduga kau sebodoh ini." Cyntia mengangkat kepalanya dan menatapku kesal.
Beberapa anak rambutnya yang ikal bergelombang ikut-ikutan protes dan membingkai wajah cantiknya hingga terlihat semakin imut.
"Tunggu dulu, tunggu dulu. Apa aku baru saja mengatakan dia cantik dan imut? Astaga, pemikiran apa ini? aku pasti sudah gila. Apakah ini efek trauma ku yang kambuh beberapa saat lalu? bisa jadi kan? Ini pasti sejenis eror di dalam otakku." aku tengah berdiskusi dengan diri sendiri saat ini.
"Berhenti menatapku Dave..!!!"
"Aku tidak.... menatapmu." ujarku sambil memandang wajah Cyntia yang kini sudah memerah seperti tomat.
"Kau memalukan." protesnya kembali menyimpan wajahnya di atas meja.
"Aku salah apa????"
Dave POV (to be continued)
__ADS_1