CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Kembali Kuliah


__ADS_3

"Dasar pria menyebalkan." aku meneriakinya sebelum bangkit dari ranjang dan berjalan ke sofa tempat dimana beberapa buku sedang terbuka lebar.


 


\*


 


Liburan semester telah usai, yang berarti kini aku bisa keluar dari penjara yang dibuat oleh Dave. Seperti biasa, pria itu terlebih dahulu mengantar ku kekampus sebelum berangkat kerumah sakit untuk mengerjakan penelitiannya.


Aku sedang sibuk membaca buku di hadapanku saat seseorang datang dan mengusik ketenangan ku.


"Hi..." sebuah suara menyapaku dan membuatku mendongak untuk mengetahui siapa sang pemilik suara ini.


"Hi juga." aku membalas sapaannya sambil tersenyum.


Seorang gadis cantik kini sedang berdiri di hadapanku. Dilihat dari gaya berpakaiannya sepertinya gadis ini dari keluarga kaya. Dress mahal dan tas tangan berharga selangit.


"Wah, sejak kapan dia dikampus ini? Kok gue nggak pernah tahu ada anak yang lebih tajir dari Noni disini?" aku bergumam dalam hati.


"Gue, boleh duduk di sini nggak?" cewe cantik tadi bertanya sambil mendaratkan tubuhnya di kursi perpustakaan yang tepat berhadapan denganku.


"Oh, silahkan."


"Buat apa pakai nanya kalau dia bahkan nggak berniat nunggu gue ngejawab?" aku berkata dalam hati.


"Nama loe siapa?"


"Gue Cintya."


"Loe bisa manggil gue Jenn, lengkapnya Jennysa."


Cintya hanya tersenyum dan kembali larut dalam bacaannya.


 


\*


 


Dave sedang menunggu Cintya di depan jurusan gadis itu, sambil mengutak-atik ponsel di tangannya.


"Ayok pulang" ujarku santai saat tiba di sisi pria itu.


"Oh..." Dave menjawab kikuk sambil melangkah menuju parkiran.


"Cintya... Cintya...!!" langkahku terhenti oleh suara yang berseru memanggilku.


Dengan gerakan refleks aku memutar tubuh kearah sumber suara.


"Cintya. loe Cintya kan?" ujar gadis itu sambil mengatur nafasnya yang sempat ngosngosan karena berlari.


"Iya."


"Nih, tadi pena loe ketinggalan di perpustakaan. Jadi Jenn bawa." gadis itu menyodorkan sebuah pena padaku.


"Jenn? Astaga, gadis di perpustakaan siang tadi. Gue sampai lupa lagi sama dia." sadar bahwa sempat lupa pada gadis ini membuatku berakhir merutuki diri dalam hati.


"Thanks." jawabku sambil meraih pena itu.

__ADS_1


"ehem...." Dave berdehem dan kubaca sebaga kode bahwa kami harus segera meninggalkan tempat itu.


"Gue duluan ya." ujarku pada Jenn.


"Oke. Sampai jumpa ya Cintya." bisa kurasakan Jenn yang melambaikan tangan di balik punggungku.


 


\*


 


"Siapa?" tanya Dave singkat sambil berfokus pada jalan raya.


"Yang mana?" tanyaku tak mengerti.


"Wanita tadi. Kamu punya teman baru?" tanya Dave lagi.


"Mau tau atau mau tau banget?"


"Cih, cildish sekali kamu." pria itu berkata tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalan dan kemudi.


"Yaudah, toh kamu juga nggak mau tau. Buat apa aku jelasin. Nyebelin." jawabku sarkas.


Dengan wajah cemberut aku memilih menyadarkan punggungku di jok mobil. Sambil menikmati jalan kota yang semakin macet dan padat.


Padahal sebenarnya


"Hahaha... lucu banget sih wajah ngambek mu itu Cin." tanpa sepengetahuan Cintya, pria itu mencuri pandang ke arahnya.


"Jadi dia siapa?" Dave tak bisa menahan diri akhirnya bertanya lagi.


Back to Cintya POV


"Aku nggak pernah tahu kalau kamu berbicara dengan mahasiswa selain Steve dan Noni." Dave menjawab santai.


"Ni anak ngatain gue kuper kali ya?"


"Sok tau banget sih kamu." jawabku yang terlanjur kesal, berusaha menolak kebenaran kalimat Dave.


"Ahhhaahahahaha... Jadi kamu menolak kalau sebenarnya kamu tidak punya teman?"


"Loe tuh yang nyebelin banget, makanya nggak punya teman."


"Cintya, sekali lagi kamu memakai kata loe dan gue saat berbicara denganku, aku akan menghukum mu."


"Sejak kapan kamu loe punya hak untuk menghukum?"


"Cintya?" Dave berkata dingin.


"Terserah gue dong."


'ckiiiiit'


Mobil yang dikendarai Dave berhenti secara mendadak. Aku menatap pria itu dengan kepala penuh tanda tanya.


"Loe nggak bisa berhenti baik-baik?" Tanyaku kesal.


Dave mengabaikan pertanyaanku. Hanya matanya yang kini menatap tajam ke arah dimana aku berada.

__ADS_1


"Loe, nyebelin banget tau nggak sih Dave. Gue..." kalimat ku terputus oleh sesuatu yang kini membungkam bibirku.


Dave tengah mencium bibirku dengan lembut, serangan mendadak yang membuatku terkejut. Pria itu mulai menggulum bibirku yang masih terkatup rapat. Aku berusaha mendorong dadanya agar melepaskan ku, namun Dave malah menggigit bibir bawahku, dan membawa lidahnya masuk menyelusuri seluruh isi mulutku.


Ciuman Dave yang semula lembut berubah menjadi kasar dan menuntut. Tangannya tiba-tiba mendarat diatas kulitku. Sebuah bayangan tiba-tiba berputar dalam memori ku.


Aku berusaha memukul bahu Dave, karena dadaku kini terasa sesak. Bayangan saat George menciumku secara paksa dan sepihak berkelebat dalam ingatanku sebelum akhirnya semua yang mengisi penglihatanmu berubah menjadi kegelapan yang pekat.


Cintya POV Off


***


Dave sedang gemas dengan tingkah Cintya yang secara terang-terangan melawan padanya. Rasa gemas yang membuat pria itu gagal mengendalikan diri dan malah berakhir mel*mat bibir gadis itu.


"Rasanya manis." ujar Dave dalam hati sambil menikmati ciumannya. Tangan pria itu kini mulai meraba-raba, mencari posisi paling nyaman.


Detak jantung Dave kini berdegup kencang sampai dia tidak menyadari tangan Cintya yang sejak tadi mencoba melepaskan diri darinya.


"Cintya?" Dave tersadar saat Cintya terkulai lemas dihadapnnya dengan mata yang terkatup rapat.


"Astaga, aku lupa. Kamu kan trauma dengan hal-hal seperti ini. Ini semua gara-gara si George. Haiiiis...." Dave mengumpat kesal sambil menepuk-nepuk pipi Cintya.


"Cin... Cin... Cintya." Dave masih berusaha menyadarkan gadis itu.


"Ah, minyak angin." Dave teringat sesuatu di dlam tas Cintya yang pasti bisa membantunya menyadarkan sang istri.


Dave segera mengobrak-abrik isi tas Cintya. Pria itu berfokus menemukan minyak angin.


"Syukurlah kamu selalu membawa benda ini denganmu." ujar Dave sambil mendekatkan botol minyak angin ke hidung Cintya.


"Jangan... Jangan Goerge..." Cintya menggeleng gelisah, namun tak kunjung membuka matanya.


"Cintya, ini Dave. Kamu dengar baik-baik, aku Dave." ujar Dave mencoba mengembalikan kesadaran Cintya.


"Dave?" samar-samar bayangan pria itu masuk kedalam kesadaran Cintya.


"Jangan takut, aku Dave, bukan pria lain." Dave menarik Cintya ke dalam pelukan mencoba menenangkan wanita itu.


"Dave?? Maaf." mata Cintya terbuka sejenak dan menatap Dave singkat, sebelum akhirnya gadis itu memilih menyembunyikan wajahnya.


"Apa tadi Dave menciumku? Kenapa dia melakukannya? Aaaaa... Gil*... Astaga gimana dong ini? Gue jadi malu." Cintya berteriak dalam hati saat Dave membawa kepalanya mendarat di dada pria itu


Cintya kini bisa mendengar detak jantung pria itu.


Traumamu harus segera di singkirkan Cintya." gumam Dave dalam hati.


Detak jantung Dave yang kencang dan keras membuat Cintya tersenyum malu entah bagaiamana. Kini jantung gadis itu ikut berdebar kuat di dalam dadanya


"Dave, ayok pulang." ujar Cintya berusaha menetralkan detak jantung nya.


"Oke." Dave melepaskan gadis itu dan kembali fokus ke jalan kota.


 


\*


 


Cintya baru saja menyimpan buku-bukunya dan ingin bergegas naik ketempat tidur. Hari sudah larut, dn gadis itu sangat ingin tidur. Saat Cintya menyelimuti tubuhnya, Dave turut serta merebahkan badan di sisi Cintya.

__ADS_1


"Sepertinya kamu perlu mengambil pengobatan therapy." ujar Dave pelan membuyarkan lamunan Cintya.


.....to be continued....


__ADS_2