CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

Akhirnya aku mengalah. Dan kami kembali menyantap makan siang kami, sementara George juga disini.


"Gue nggak mau kena masalah lagi gara-gara cowo ini." gumamku dalam hati.


George hanya berdiam diri. Dia sibuk menyantap roti yang tadi sengaja dibungkusnya dari kantin Universitas.


"Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku. Apa ini juga salah?" gumam Goerge dalam hati. Ada kesedihan yang terpancar di mata pria itu.


 


\*


 


Flashback ON : George POV


Sudah dua minggu Noni tidak masuk sekolah. Pasti gadis itu memilih untuk tranfusi sumsum tulang belakang. Aku tahu kondisi kesehatannya, karena gadis itu pernah di rujuk kerumah sakit tempat orang tuaku bekerja. Aku mengamati Noni setiap hari, gadis ini terlihat nyaman dengan hari-harinya walau tanpa seorang teman.


"Apa Cintya pernah merasa bersalah padaku atau mamaku walau sedikitpun?" gumamku dalam hati.


Jujur aku sangat marah mengingat kejadian di pagi itu. Kejadian saat mamaku jatuh terduduk di depan Cintya. Gadis itu bahkan menolak untuk meminta maaf. Bagaimana mungkin dia melakukan hal kejam seperti itu pada mamaku? bukankah selama ini kami lebih dari teman? Aku tidak habis pikir, bagaimana Cintya yang berharga bagiku bisa begitu tidak menghargai sosok yang telah melahirkan dan membesarkanku.


Semakin kuamati, aku semakin yakin Cintya tidak pernah peduli dengan hubungan kami yang berakhir tanpa kejelasan itu. Ternyata dia hanya gadis pembohong, yang sibuk membual tentang mimpi. Aku menyesal pernah meminta kepala sekolah untuk mendaftarkannya sebagai salah satu kandidat mahasiswa baru di jurusan kedokteran. Aku benar-benar menyesal.


Seperti biasa, seusai sekolah aku langsung pulang ke rumah. Setelah membersihkan diri dan makan siang, aku akan segera ke balkon di lantai tiga untuk bersantai sejenak. Aku melangkah melewati ruang kerja mama dan papa. Dan aku mulai penasaran dengan pintu yang sedikit terbuka itu.


"Apa kamu bilang? gadis itu diterima di universitas X dan mendapatkan beasiswa?"


Secara tidak sengaja aku mendengar mama yang sedang bertelepon.


"Kali ini aku akan membiarkannya. Toh George juga percaya bahwa kejadian hari itu adalah kesalahannya. Tidak perlu bertindak berlebihan, juga tidak perlu mengawasinya lagi. Lepaskan saja dia, saya sudah bosan memperhatikan gadis udik itu." Ujar sebelum menutup teleponnya.


"Cintya, ternyata kamu punya potensi juga. Aku salah sudah meremehkanmu awalnya. Yah, kalau kamu bisa bertahan dan meraih gelar spesialis aku akan memberimu kesempatan. Sepertinya keluarga yang mendukungmu juga hebat. Jadi kali ini aku akan melepaskan mu." ujar wanita itu licik.


"Apa??? Jadi selama ini mama yang udah menjebak dan menuduh Cintya?" gumamku tidak percaya.


Sebelum mama menyadari keberadaanku dibalik pintu, aku bergegas kembali ke kamar. Aku langsung menyiapkan beberapa berkas pribadiku. Setelah semuanya lengkap, aku langsung mengirim berkas-berkas itu ke universitas X secara online.


"Cin.. maafin gue." ujarku dalam hati.


Ternyata selama ini aku salah membenci gadis itu. Ternyata ibuku sendiri yang sudah memfitnah sahabatku. Walau aku belum tahu apa alasan mama menyakiti Cintya, namun aku sudah memutuskan untuk memperbaiki hubunganku dengannya. Toh mama juga enggan mengganggunya untuk saat ini. bagaimanapun aku harus mendapatkan Cintya kembali. Tidak ada seorangpun yang memahami ku seperti dia memahami ku. Setelah semua kebenaran ini, aku akan mempertahankan Cintya tetap di sisiku. aku berjanji untuk itu.


Flash Back Off


 


\*


 


"Jadi loe ngambil kedokteran juga George?" tanya Noni menyadarkan George dari lamunannya.


"Iya Non. Loe sendiri?"


"Menejemen dan bisnis. Loe memang jodoh banget ya sama Cintya. Jurusan aja sama."


"Noni jangan berlebihan." ujarku kesal. Aku tidak suka dia menjodohkanku dengan lelaki pengecut ini.

__ADS_1


Kalimatku berhasil membangun rasa canggung yang menjadi tembok penghalang diantara kami bertiga. Ponsel Cintya tiba-tiba bergetar, memecah kecanggungan diantara kami.


"Hai Dave. Lagi makan siang. Apa? Cintya? Ini lagi sama gue. Loe ngomong langsung aja." ujar Noni sambil menatap layar ponselnya.


"Dave nyariin loe." ujar Noni sambil menyodorkan ponselnya padaku, lengkap dengan earphone nya.


"Hai Dave, ada apa?" tanyaku setelah memasang earphone.


"Nothing. Hanya ingin memastikan keadaan kalian." jawab Dave.


Kami pun saling berdiam diri sejwnak. Karena tidak menukan pembicaraan yang terasa cocok untuk dibahas.


"Boleh aku kembalikan ponselnya pada Noni?" tanyaku kemudian.


"Hmm... Apakah dia masih di sana?"


"Tentu saja. Dia sedang berbicara dengan seseorang." jawabku.


"Apakah teman baru kalian?"


"Bukan, dia teman satu kelas kami sebelumnya."


"Cintya, saya sudah kembali ke Australia."


"Saya sudah tahu dari Noni." jawabku santai.


"Apakah kampus kalian menyenangkan?"


"Hmm.. sepertinya akan begitu."


"Apa kamu ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada Noni?" tanyaku ragu-ragu.


"Ada. Tapi nomor adikku. Tulislah, 085260637881" ujarku. aku melihat pria itu menyalinnya.


"Baiklah aku akan menghubungi mu malam ini." ucapnya.


"Oke. Aku akan mengembalikan ponselnya pada Noni."


"Ya. Tolong rahasiakan darinya kalau aku meminta nomormu.." pintanya.


Wajahku langsung berubah bingung saat mendengar kalimat pria itu.


"Bagaimana mungkin aku melakukannya?" tanyaku.


"Please. Ini demi kebaikan kalian berdua." mohon pria itu.


"Akan ku pertimbangkan setelah kamu menjelaskan semuanya. Kukembalikan ponselnya sekarang." jawabku kemudian.


"Non, ini barang loe."


"Udah dimatiin telponnya?"


"Masih terhubung tuh."


Wajah gadis itu kembali ceria mengetahui bahwa dia masih tersambung dengan sang pujaan hati.


"Dave... kamu bagaimana di sana?" Noni lalu kembali asik dengan ponselnya. Gadis itu beranjak menjauh meninggalkan aku dan George.

__ADS_1


"Dasar cewek kasmaran." gumamku pelan menyaksikan tingkahnya.


"Cin." Suara Goerge menyadarkan ku.


"Apa?" jawabku ketus.


"Kamu tadi kekampus sama siapa?"


"Bukan urusan Loe."


"Ya ampun Cin, aku cuman nanya juga. Nanti pulang bareng ya Cin.."


"Enggak ah. Nanti harta kekayaan loe terkontaminasi sama gue. Lebih baik loe jahuin gue. Bisakan?"


"Kalau aku nggak mau gimana?"


"Terserah loe aja deh. Loe dekat-dekat gini juga gue nggak peduli."


"Kok kamu jadi galak gini sih Cin? Belajar dimana?"


"Bukan urusan loe."


"Cin, please. Katanya loe udah maafin gue."


"Maaf bukan berarti loe harus dekat-dekat sama gue kan?"


"Yaudah kamu pilih mana, dekat-dekat samaku atau aku umumin sama seluruh universitas kalau kamu itu pacarku?"


"Dasar konyol. Terserah. Capek ngomong sama loe."


"Yaudah hari ini kamu boleh pulang sama Noni. Tapi lain kali dilarang menolak Geo. Okay?"


"i don't care."


"Makin cuek makin cantik lo. Geo kan jadi gemas." jawabnya sambil menyentuh puncak kepalaku.


"Tangan loe, tolong di sekolahin yang benar." ucapku kesal.


"Sudah kok Cin. Kamu tunggu aja pesonanya." Jawab George tersenyum nakal.


"Aku cabut duluan ya sayang. Hati-hati dijalan. Btw, jangan dekat-dekat sama cowok manapun. Termasuk yang tadi pagi. Dia terlalu cantik untuk Geo pukul." ancam nya kemudian.


"Udah ah. jangan ganggu hidup gue. bisa kan?" tanyaku serius.


"Tergantung Cin. Kalau kamu nurut, aku juga bisa menuruti kemauan kamu. Tapi kalau kamu masih keras kepala begini, jangan salahin George."


"Sana pergi, jauh-jauh dari gue."


"Stttt... jangan lupa jaga diri sayang. Bye-bye."


Pria itu kini berlalu, meninggalkanku yang bergidik ngeri. Untung saja Noni kini kembali, akhirnya rasa horor yang ditinggalkan George mencair perlahan.


"Loe kenapa Cin?"


"George, dia.. Apa dia geger otak?" tanyaku prustasi.


"Apaan sih loe? yok pulang." Ajak Noni.

__ADS_1


Kami berdua akhirnya melangkah meninggalkan taman menuju parkiran dan kembali ke rumah.


__ADS_2