CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Pertemuan pertama dengan Gadis itu


__ADS_3

"Loe mau nggak Cin, nerima bantuan dari orangtua gue?" tanya Noni tiba-tiba.


"Non, tolonglah." pintaku meminta pengertiannya.


"Iya.. iya.. gue ngerti." ujar Noni kemudian.


Kami berdua memutuskan untuk berdiam diri disepanjang perjalanan menuju kerumah Noni.


 


\*


 


Rumah mewah yang dihuni keluarga Noni berdiri begitu anggun. Ketibaan kami langsung disambut oleh bibi pengurus rumah Noni.


"Selamat siang Non. Sini bibi bawain tasnya."


"Nggak usah Bi, kami mau langsung ke kamar."


"Makan siangnya bagaimana Non? bibi antar kekamar?"


"Nggak usah Bi. Tadi udah dianter ke sekolah sama kak Dave. Tolong antarin jus jeruk aja ya Bi, buat kami."


"Siap Non."


Aku dan Noni langsung naik ke lantai dua, menuju kamar Noni. Kami asik menggosip sambil menonton movie. Kini Jus yang tadi diantarkan Bibi sudah ludes menyisakan gelas. Sementara satu film sudah selesai kami tonton.


"Cin, loe belum bosen?"


"Apaan sih loe?"


"Ya, siapa tau loe pengen baca sesuatu. Dari tadi kan kita ngobrol dan nonton, bukan style loe banget."


"Emang ada buku?"


Aku memandang sekeliling kamar Noni bingung. Kamar dengan ukuran 5x5 meter itu diisi oleh sebuah ranjang double size, TV layar 32 inchi, lemari pakaian, meja rias dan lemari yang berisi tas plus aksesoris. Kamar Noni didominasi oleh warna biru, feminin sekali. Aku sibuk mencari letak meja belajar di kamar Noni, namun tak kunjung menemukannya.


"Perasaan kamar ini nggak ada bukunya deh Non."


"Ya emang kagak ada di sini."


"Lha? terus buku dan tas loe tadi kemana?"


"Ada di ruang baca. Mau lihat ruangannya nggak?"


"Emang boleh?"


"Iya."


"Seriusan lo?"


"Iya Cinta. Yok, kita kesana."


Noni membawaku beranjak keluar dari kamar menuju ke lantai tiga rumahnya. Ini merupakan pertama kalinya aku masuk ke lantai 3 rumah Noni. Biasanya kami hanya bermain di ruang tamu, kamar, taman depan dan kebun di belakang rumah Noni.


"Lantai tiga ini dijadikan studio dan ruang baca sama keluarga aku Cin. Makanya aku belum pernah ngajakin loe kesini. Soalnya kalau papa di rumah, dia selalu kerja di sini."


"Terus sekarang? Apa om nggak bakalan terganggu Non?"


"Papa lagi ada meeting di luar, tenang aja."

__ADS_1


"Makasih ya Non."


"Sama-sama."


Kini kami berdua sedang berdiri di depan sebuah pintu dengan ukiran klasik. Dalam satu gerakan tangan noni membuka pintu itu tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Mataku hampir terlempar keluar menyadari ruang baca keluarga Noni yang lebih mirip dengan perpustakaan.


"Loe mau baca di sini atau kamar?"


"Di mana aja boleh."


"Lihat-lihat koleksinya dulu deh. Paling ujung di sana ada buku tentang dunia kesehatan."


"Loe baca begituan juga?"


"Bukan gue lah. Bisa hujan tiga hari tiga malam kalau gue belajar serajin itu."


"So? kok bisa koleksi buku kesehatan?"


"Kak Dave. Mayoritas buku di sini isinya tentang bisnis dan psikologi. Tapi karena kak Dave sering liburan ke Indo, jadinya buku-buku kak Dave juga ada di sini."


"Emangnya kalau liburan cowo bule itu selalu tinggal di sini ya Non?"


"Iya iyalah, mau kemana lagi dia?"


"Sama orangtuanya mungkin.."


"Papa Mama nya kak Dave udah meninggal sepuluh tahun lalu. Jadinya mama papa gue ydah ngadopsi dia. Makanya hubungan kita benar-benar kakak adik."


"ooooo..."


Aku beroh ria mendengar penjelasan Noni. Kasihan juga pria itu, harus kehilangan orangtuanya. Namun aku yang tidak begitu tertarik untuk bertanya lebih banyak tentang dia memilih untuk langsung meraih buku kedokteran yang kini berjejer rapi di hadapanku.


"Kedokteran. Penasaran ya loe? nanti deh gue kenalin."


"Nggak juga kali."


"Cin, gue haus nih. Loe tunggu di sini sebentar ya, vue ambil minum."


"Yap, jangan lama-lama."


Sepuluh menit sudah Noni pergi dari ruang baca. Namun tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya.


"Si Noni lama benar ya. Apa gue susulin aja kali ya?"


Aku mulai berbicara sendiri, sambil memilah beberapa buku dari rak buku yang berisikan tentang materi kedokteran.


"Ah, gua tunggu bentar aja deh, paling si Noni juga bentar datang." Aku masih asik bicara sendiri.


"Kamu siapa?"


Suara berat dengan aksen khas tiba-tiba mengejutkanku yang sibuk memilah-milah buku. Refleks aku memutar tubuhku kearah sumber suara. Dan disana berdiri pria tampan, bule lagi, lelaki yang tadi sempat kulihat di sekolah.


"You mau mencuri di sini?" tanyanya lagi.


"Sorry, i'm Noni's friend."


"Saya bisa bicara bahasa. Sedang apa kamu lihat-lihat koleksi buku saya?"


"Maaf, sebenarnya saya lagi nunggu Noni. Saya kembali kekamar dia aja ya. Maaf mengganggu."


Tatapannya yang penuh kecurigaan membuatku semakin gugup. Akhirnya kuputuskan untuk melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Karena enggan dengan ketidaknyamanan yang kini tercipta.

__ADS_1


"Hei.. Jangan sbarangan pergi. Bagamana saya bisa percaya kamu ini temannya Noni?"


Tangannya kini mencengkeram pergelangan tanganku. Berusah menahan langkahku.


"Ya ampun. Tolong lepaskan tangan saya."


"How can i trust you? kamu bilang, ngaku-ngaku sebagai teman Noni, tapi bagaimana kamu bisa menunggu dia di sini, bukan ruang tamu?"


"Astaga. Tadi saya kemari sama Noni. Sekarang si Noni lagi.."


"Cukup..!! saya tidak percaya padamu. Tidak perlu penjelasan lebih."


Kini pria itu menarik tanganku keluar dari ruang baca keluarga Noni. Sepertinya dia sungguh-sungguh berpikir bahwa aku ini maling yang menyeludup masuk kesana.


"Kak Dave!! What's wrong?"


Aku sangat lega saat akhirnya Noni muncul sebelum kami keluar dari ruangan itu.


"She is pencuri, Ni."


"No. You're wrong. She is my friend. Aduk Dave, kamu ini apa-apaan sih?"


"Noni, how could you make a friend with her? Kamu enggak lihat betapa kucelnya dia? Jangan sembarangan bergaul..!!"


"Dave, shut up. Kamu cukup urus diri kamu sendiri. Jangan ngomong sembarangan."


"Hei Noni? Kamu berani bicara kasar sama saya?"


"Iya. Kenapa gue harus takut? Toh loe juga nggak tau menghormati orang lain."


"Dengar, saya tidak ingin berdebat dengan kamu, dan perempuan ini segera bawa dia pergi. Saya tidak senang kamu bergaul dengan anak jalanan seperti dia."


"DAVE..!! i don't need your advice."


"But you need."


"Non, sudah."


Aku menyentuh lengan Noni lembut, mencoba membujuknya untuk mengakhiri perang saudara ini.


Aku sungguh sadar bahwa Noni dan Dave kini sama-sama tersulut emosi. Tiba-tiba saja aku menyadari bahwa sifat mereka berdua sungguh mirip, sama-sama keras kepala.


"Yok Cin, gak usah ngeladeni orang **** di sini." Gadis itu meraih tanganku, membawaku menuruni tangga kembali ke kamarnya.


"Kamu benar-benar susah diatur." Dave berteriak di balik punggungku, melupakan kekesalannya pada Noni.


"Cin, maafin kakak gue ya."


"Santai aja Non, gue langsung balik aja ya."


"Loh, kok gitu?"


"Loe marah ya Cin?"


Gadis itu tiba-tiba memelukku, melupakan perasaan bersalah yang mengendap dalam hatinya.


"Ngapain gue marah sama loe? Gue mau pulang karena ini sudah sore, loe kan tau sendiri rumah gue jauh dari sini."


"Yah, siapa tau loe sakit hati sama kakak **** gue."


"Sakit hati?"

__ADS_1


__ADS_2