
"George, dia.. Apa dia geger otak?" tanyaku prustasi.
"Apaan sih loe? yok pulang." Ajak Noni.
Kami berdua akhirnya melangkah meninggalkan taman menuju parkiran dan kembali ke rumah.
\*\*\*
Malam sudah larut, aku masih terjaga di kamarku sambil memandangi posel Giordani yang kupinjam secara paksa sebelum pria ABG itu terlelap di kamarnya. Aku mengamati layar ponsel hampir pukul 01.00 dini hari.
"Ah, apa mungkin Dave lupa?" tanyaku pada diri sendiri.
Aku benar-benar menunggu pria itu menghubungi ku. Alasan yang membuatku bertahan bangun hingga sekarang. Aku benar-benar ingin tahu apa yang ingin dia sampaikan padaku.
"Apa aku salah ngasih nomor?" tanyaku lagi.
Aku masih berguling-guling di kasur, sampai akhirnya aku terlelap dalam mimpi.
Saat bangun pagi, aku memeriksa ponsel Giordani dan ada satu panggilan international yang tidak terjawab. Panggilan itu pukul 3 dini hari. Tentu saja aku yang sedang nyenyak dialam mimpi tidak bisa menjawab panggilan telepon itu.
"Apa dia pikir zona waktu Indonesia bagian barat sama dengan di Sidney? dasar bodoh." omelku kesal.
Aku memutuskan mengabaikan missed call dari nomor yang kuyakini milik Dave. Setelah mengembalikan ponsel Giordani sebelum melangkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk keluargaku.
\*\*\*
Sebulan sudah aku dan Noni sah menjadi mahasiswa. Steve kini selalu ikut nongkrong bersama kami. Sementara George, aku sangat bersyukur dengan kenyataan bahwa pria itu masuk di kelas yang berbeda denganku. Setidaknya aku bisa bernafas lega, meskipun kami satu jurusan namun dengan posisi memiliki kelas yang berbeda tentu saja memperkecil peluang pertemuan diantara kami.
Sampai hari ini aku selalu berangkat kekampus dan pulang bersama Noni. Karena tidak ingin jadi beban, akhirnya aku memutuskan untuk jadi supir buat Noni. Orang tuanya sempat memberikan sebuah mobil padaku sebagai hadiah masuk universitas. Hadiah akhirnya bisa kutolak dengan syarat selalu bersama Noni saat pergi kekampus dan pulang kerumah.
"Cin, gue kesal banget tau nggak sih loe." curhat Noni.
Kami sedang duduk bersama di taman perpustakaan sambil menyantap bekal makan siang masing-masing.
"Kenapa lagi?" tanyaku sabar.
"Dasar cowok nggak jelas. Dia belum tau siapa gue." omel Noni lagi.
"Hei..hei.. Cerita yang jelas Non. Jangan marah-marah, ntar loe keselek kan gue juga yang repot."
"Pokoknya gue kesal." umpat Noni.
Aku memilih untuk diam, tidak ada gunanya berjuang menenangkan seorang Noni yang sedang kesal. Aku sangat tahu hal ini.
"Jadi loe di sini?" tanya sebuah suara serak dan berat.
Noni terperanjat mendengar suara itu. Tiba-tiba saja dia tersedak oleh makanan yang sedang dikunyahnya.
"Hati-hati dong. Loe buat repot aja deh. Ini minum dulu." ujarnya sambil menyodorkan botol minum Noni yang telah dia buka.
Aku mengamati lelaki itu. Kulitnya putih bersih, matanya berwarna cokelat almond, dan tubuhnya yang atletis membuatnya terlihat sangat tampan. Wajah pria itu betul-betul sempurna. Hidungnya yang mancung dan bibirnya dengan porsi yang pas tentu saja akan membuat setiap wanita yang melihat senyumnya terpesona.
__ADS_1
"Hi.. gue Andrew." tuturnya sambil mengulurkan tangan kearahku.
"Apa gue setampan itu? loe sampai ngangap. Tapi lucu juga." ocehnya lagi.
"Eh sory. Gue Cintya." jawabku sambil membalas jabat tangannya.
Tentu saja wajahku sedang memerah bak kepiting rebus saat dia memergoki aksi memalukan yang kulakukan tadi, saat aku memandang wajahnya sampai terngangap. Sementara itu Noni masih sibuk meredakan batuknya.
"Makanya, kalau makan itu hati-hati." ucapnya pada Noni.
"Ngapain loe kesini?" tanya Noni galak.
"Nyariin loe lah. Pulang bareng gue ya."
"Nggak bisa. Gue nggak bakalan maafin loe, sampai kapanpun. Gara-gara loe gue kena masalah bertubi-tubi." protes Noni.
Aku hanya bisa mengernyitkan dahi karena tidak paham dengan masalah yang terjadi diantara mereka. Terlebih lagi, Noni tidak pernah bercerita tentang pria ini padaku.
"Cin, loe masih ada kelas?" tanya Noni padaku.
"Masih sampai jam 3 sore."
"Gue tunggu loe di perpustakaan aja."
"Duluan juga nggak apa-apa kok Non."
"Big No."
"Loe ngapain masih di sini?" tanya Noni galak pada pria tampan itu.
"Loe ge-er banget sih? Emang apa salahnya gue di sini?" balas lelaki itu.
"Jangan dekat-dekat sama gue." pinta Noni.
"Ini tempat umum."
"Loe bisa pergi ke tempat lain kan? ngapain juga harus di sini?"
"Gue cuman mau balikin sesuatu yang bukan milik gue."
"Maksud loe?"
"Nih milik loe." ujar pria itu sambil meletakkan sebuah buku di hadapan Noni.
Noni segera memeriksa buku itu.
"Jadi loe kan yang ngambil buku gue? Ternyata gie nggak salah, loe yang ngerjain gue sampai gue ditegor sama dosen hari ini."
"Terserah loe aja. Gue capek ngomong sama loe."
"Gue lebih capek. Gue jijik liat wajah loe."
__ADS_1
"Noni, gue peringatkan loe untuk lebih berhati-hati kedepannya. Hari ini buku doang yang tercecer, lain kali bisa aja hati loe. Masih syukur yang nemuin buku loe adalah orang baik-baik kayak gue. Kalau next time hati loe kececer, belum tentu dipungut sama pria baik-baik. Apalagi sam gue."
"Apaan sih loe. Gue nggak dengar. Gue nggak dengar." protes Noni.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala pasrah melihat pertikaian kedua orang itu. Semakin aku memperhatikan mereka, semakin terlihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres di sini. Sepertinya ada pihak yang sedang dikejar dan mengejar secara tidak sadar.
"Apa kalian pacaran?" tanyaku penuh selidik.
"Apa? Pacaran sama cewek barbar kayak gini? Ogah gue." jawab pria itu.
"Apalagi gue Cin, mana mungkin gue mau pacaran sama cowo jelek begini."
"Kalau memang nggak pacaran, udahan dong marahan nya. Baikan sono." tantangku.
"Siapa takut." jawab mereka serentak.
Aku tersenyum menyadari kelucuan mereka.
"Yaudah, damai yok." ajakku lagi.
Noni dan Andrew berdiam diri dan saling memandang kikuk. Benar-benar pemandangan yang sangat menggelitik perasaanku.
"Yaudah deh, gue cabut duluan. Masih ada kerjaan." ucap Andrew berusaha memecah kebisuan diantara mereka.
"Kerjaan apa kerjaan?" tanya Noni kembali meledek Andrew.
"Terserah loe deh Non. Gue duluan ya Tya." ucap Andrew undur diri.
"Tya..Tya.. Cintya, bukan Tya. Makanya loe kalau nggak kenal, jangan pakai acara sok dekat." omel Noni lagi.
"Ya ampun Noni. Udah kali marah-marahnya." ucapku kemudian.
Noni memajukan bibirnya padaku sebagai aksi protes atas sikapku barusan.
"Gak usah manyun-manyun. Jelek loe." ledek Andrew lagi.
"Loe kapan perginya sih?" tanyaku karena sudah jenuh menghadapi sikap kekanak-kanakan mereka.
"Ini juga gue mau pergi. Bye..." jawab Andrew sambil berlalu menyisakan ku dan Noni yang sedang manyun.
"Non, mau gue iris sekalian bibir loe?" ledekku kemudian.
"Gue kesal tau Cin."
"Loe kesal? Apa naksir?" godaku akhirnya.
"Nggak mungkinlah Noni naksir cowok tadi. Gadis ini kan cinta mati sama si Dave, kakak angkatnya itu." gumamku dalam hati.
"Gue deg-degan kalau ada si Andrew. Makanya gue kesal setiap kali dia deket-dejet sama gue." curhat Noni pelan.
"APA?????" tanyaku serius.
__ADS_1