CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Teka-Teki Hati (4)


__ADS_3

"Makasih mama, makasih papa." ujarku sambil memeluk mereka bergantian, air mataku yang tak terbendung kini mengalir membasahi pipiku.


"Kok nangis sayang?" tanya mama mengusap wajahku yang kini basah karena air mata.


"Terharu mam.. hehe.."


"Ada-ada aja kamu." ujar papa tersenyum.


Senyuman yang sudah lama sekali tidak menghiasi wajah ayahku.


"Aku nggak peduli bahaya apapun di luar sana yang menungguku. Aku mau berjuang sekuat tenaga untuk meraih mimpiku dan membahagiakan keluargaku." janjiku dalam hati sambil memandangi wajah bahagia milik kedua orang tuaku.


\*\*\*


Masih pukul 11.00 dan kelas Noni sudah usai. Gadis itu berkali-kali menoleh ke arah pria yang duduk di urutan paling belakang selama perkuliahan berlangsung. Menyadari kelas sudah usai, gadis itu akhirnya melangkah malas menuju ambang pintu.


"Mau kemana?" seseorang tiba-tiba menghadang Noni.


"Andrew, minggir nggak loe?"


"Jangan jual mahal. Sepanjang kelas kamu terus-terusan melirik kearah ku kan?'


"Apaan sih loe?"


"Kamu Noni. pakai kata kamu, bukan loe."


"Peduli amat gue." ucap Noni sambil berlalu meninggalkan pria itu.


"Ya ampun. ya ampun, jantung gue hampir copot." gumam Noni dalam hati sambil mempercepat langkahnya.


Sementara Andrew, pria itu terus mengikuti Noni dari jauh. Hingga akhirnya gadis itu memilih duduk di salah satu kursi di taman perpustakaan.


"Setia banget kamu jadi teman apalagi jadi pacar." goda Andrew kemudian saat berhasil menyusul Noni.


"Andrew. jangan ganggu gue."


"Siapa yang mau gangguin kamu Noni? Nih, buat kamu." ujar Andrew mengeluarkan setangkai mawar putih dari dalam tasnya.


"Maaf cuman setangkai. Lain kali aku bakal bawa lebih banyak buat kamu." ujar Andrew sambil meletakkan mawar itu di meja di hadapan Noni.


"Nggak perlu." jawab Noni ketus, namun wajahnya yang bersemu merah tidak dapat menutupi perasaannya kini.


"Cie, yang merona merah." ledek Andrew.


"Loe pergi gak dari sini? Loe pergi atau gue siram?" ancam Noni sambil membuka botol minumnya.


"Iya. Gue pergi. gue pergi." jawab Andrew.

__ADS_1


Pria itu melangkah menjauh, akhirnya dia menghubungi seseorang. Dan setelah memastikan semuanya beres, pria itu mengambil posisi ternyaman di taman untuk mengawasi Noni.


"Kak.. ini ada titipan." ujar seorang gadis menyerahkan setangkai bunga mawar putih kepada Noni.


"Si Andrew udah gila kayaknya." jawab Noni sambil menerima bunga itu.


Selang beberapa menit berlalu orang lain datang menghantarkan bunga pada Noni. Setelah satu jam akhirnya puluhan tangkai mawar putih tergeletak di meja gadis itu.


"Loe jualan bunga?" tanya Cintya yang tiba-tiba muncul.


"Nggak. Ada orang gila yang dari tadi ngirimin gue bunga."


"Gila? Bukan gila Noni, ini namanya romantis." ujar Cintya.


Noni hanya menggelengkan kepalanya frustasi dengan tingkah sahabat nya itu.


"Belum juga sebulan nih anak sebiji dilecehkan sama si brengsek itu, tapi udah bisa kembali normal gini. Gila, nih anak benar-benar kuat." gumam Noni dalam hati.


"Dek, Noni yang mana ya?" seorang gadis menghampiriku dn Noni.


"Dia kak." jawab ku sambil menunjuk Noni.


"Ini ada titipan dari cowok yang disana." ujar gadis itu menyerahkan sebucket mawar putih dan sepucuk surat pada Noni.


Noni menerima pemberian wanita itu dengan ogah-ogahan.


"Gila nih anak." ujar Noni.


"Dicoba aja kali Non. Toh loe juga suka kan sama Andrew."


"Tapi gue nggak bisa Cin."


"Nggak bisa apa?"


"Gue nggak bisa tinggal buat ngedampingin dia." ucap Noni dalam hati.


"Gue nggak bisa yakin kalau 50 langkah gue sama dengan 50 langkah yang dia maksud." jawab Noni.


"Sama ataupun enggak, yang pasti loe udah berani mencoba. Dengerin gue, sebagai sahabat, gue berharap Noni bisa mengambil setiap keputusan dalam hidupnya dengan berani. Nggak peduli apakah keputusan loe salah atau benar, yang paling penting loe berani memilih keputusan itu Non. Antara untung dan rugi, benar dan salah, hidup dan mati, manusia nggak akan mampu memastikan hal-hal itu. Tapi kita, harus mampu memilih sesuatu yang sungguh-sungguh kita mau." ujarku mencoba meyakinkan Noni sambil menggenggam tangannya.


"Thank you Cinta." Noni memelukku singkat sebelum akhirnya berdiri dan mulai menghitung 50 langkah awal cerita cintanya.


\*\*\*


Noni POV


"49, 50, ah akhirnya ini langkah ke 50." ujarku. Aku asik bicara sendiri sejak tadi, menghitung langkah dari urutan 1 sampai 50.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa di sini." gumamku bingung.


Aku memutar badanku, dan memandang area di sekitar ku. Aku masih di taman, dan sekarang berdiri dibawah sinar matahari sendirian. Tidak ada siapa-siapa do sekitar ku. Tiba-tiba sebuah pesawat kertas menabrak lenganku. Aku meraih kertas itu dan membuka lipatannya. Ternyata aku menerima surat yang lain.


"Tidak menemukan sesuatu setelah 50 langkah? begitulah hidup, selalu tidak ada jaminan atas segala sesuatu. Namun walau begitu maukah kamu melangkah sebanyak 30 langkah ke kiri untuk sebuah kebahagiaan baru?" aku membaca kalimat di surat itu perlahan.


"Iseng banget nih orang." aku mengomel kesal, namun aku memutuskan untuk melangkah juga.


"27, 28, 29, 30." aku berputar-putar si bawah terik matahari setelah melangkah sejauh 30 langkah.


"Ini buat kamu. Kamu Noni kan?" ujar seorang gadis asing yang menghampiriku, dia menyerahkan seikat ballon berbentuk hati padaku.


"Iya gue Noni." jawabku sambil meraih ballon itu.


Aku langsung membuka lipatan amplop surat di ujung benang pengikat ballon.


"Terima kasih sudah memilih untuk melangkah sejauh ini. Dua puluh langkah ke kanan, aku menunggumu." aku membaca surat itu.


"Matahari loe panas banget sih." omelku tidak sambil kembali melangkah.


"Apakah benar setelah dua puluh langkah aku akan bertemu dengan Andrew? bagaimana jika tidak? Sekalipun itu Andrew, apa aku bisa menerima perasaan ini? Toh aku juga tidak yakin kalau aku akan tinggal lebih lama. Kenapa aku khawatir begini? Bukankah penyakit leukimiaku sudah sembuh? bodoh sekali aku ini." ujarku pada diri sendiri.


"Eh? ini langkah ke berapa?" ujarku bingung sambil menoleh ke kiri dan kanan. Aku masih di taman, bermandikan terik mentari. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat posisi duduk Cintya yang tidak jauh dariku.


"Cintya." aku berteriak memanggilnya.


"Noni?"Cintya langsung memutar tubuhnya menoleh kearahku.


"Gue lupa menghitung angkanya." ujarku sedih.


Cintya menepuk jidatnya sambil menggeleng lucu.


"Nggak apa-apa. Walaupun kamu lupa menghitung langkahnya, kamu tetap sampai di tempat yang tepat kok. So, maukah kamu jadi pacarku?" Andrew yang tiba-tiba muncul kini berlutut dihadapan ku.


"Noni, loe kenapa?" Cintya berteriak histeris sambil berlari ke arahku.


"Gue mau jadi pacar loe Ndrew, tapi apa loe siap kalau gue..." Tiba-tiba pandanganku menggelap. Sesaat sebelum aku jatuh aku melihat beberapa tetes darah jatuh di kelopak mawar putih yang digenggam Andrew.


"Noni...Noni...!!" Kudengar suara Cintya san Andrew yang memanggil namaku. Tubuhku kini mendarat tepat di pelukan Andrew sebelum menghantam taman, sementara balon dalam genggamanku meleseat terbang tinggi ke langit.


Dulu kupikir aku ingin trus hidup karena cintaku pada papa, mama dan kak Dave. Sekarang aku ingin terus hidup untuk mencintai mereka bertiga ditambah Cintya, Steve dan Andrew. Apakah aku terlalu serakah? Teka teki hati ini, siapa yang bisa menjawabnya? Aku hanya ingin hidup sedikit lebih lama. Aku Noni, hari ini sebelum tak sadarkan diri aku paham bahwa perasaan manusia bisa berubah-ubah.


\*\*\*


Seingatku tadi aku masih di taman Universitas X, menerima cinta dari pria bernama Andrew. Kini tiba-tiba aku berada di tepi sebuah sungai yang sangat jernih. Ada begitu banyak jenis bunga-bunga indah dihiasi kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari. Semua di tempat ini terlihat berkilauan. Aku mengangkat tanganku menyentuh bunga-bunga itu, dan ternyata tanganku juga kini berkilau.


"Mawar putih?" gumamku.

__ADS_1


Aku mencoba mengingat sesuatu tentang mawar putih. Sepertinya ada kenangan tentang bunga ini di memoryku. Namun aku tidak dapat menemukannya. Dalam ingatanku aku teringat tentang banyak hal. Tentang George yang tiba-tiba melecehkan Cintya. Steve yang selalu siaga untukku dan Cintya. Dave yang bahkan entah sejak kapan khawatir pada Cintya. Aku yang ternyata telah jatuh cinta pada Andrew. Teka teki hati, sebuah misteri yang sangat ingin kuketahui simpul ujungnya. Aku ingin hidup lebih lama.


__ADS_2