
"Gue mau bisikin. Siniin telinga loe."
Aku mendekatkan telingaku pada Noni, dan tiba-tiba saja bel berbunyi. Hari ini jadwal senam pagi, dengan malas aku beranjak meninggalkan kursiku.
"Loe nggak ikut?" tanyaku pada Noni yang masih tak bergeming.
"Enggak, badan gua masih lelah pasca Jet Lag."
"Gue duluan, bye. Baik-baik loe di kelas. Jangan nyuri."
"Hahaha.. rencana gue sih nyuri bekal makan siang loe."
Aku terkekeh mendengar jawaban Noni. Memang hariku bersama anak sebiji ini lebih berwarna. Bersamaan dengan teman-teman sekelasku aku berjalan meninggalkan ruangan itu.
\*\*\*
Besok adalah hari Ujian Nasional, dan seminggu ini kami diizinkan untuk belajar di rumah. Tentu saja aku menetap di kamarku, kecuali Noni. Gadis ini selalu datang kerumahku, mengganggu dan membuat keributan di hidupku. Tentu saja dia selalu ditemani oleh bodyguard bulenya si Dave. Sama seperti hari ini, kami sedang berkutat dengan soal-soal di kamarku, sementara Dave tinggal di ruang keluarga.
"Sebenarnya gue segan sama Dave." ujarku memecah suasana serius di kamar.
"Biarin aja dia." ujar Noni senyum-senyum sendiri.
"Ngapain loe cengengesan **** gitu?"
"hehehe.. loe ingat nggak Cin, hari pertama gue masuk sekolah minggu lalu?"
"Bagian mananya?"
"Bagian yang gue takut Dave bisa baca pikiran gue."
"Yaampun Noni, loe masih mikir dia bisa baca pikiran loe?"
"Enggak dong. Dan untungnya dia enggak bisa."
"Emang kenapa kalau dia bisa? Loe bohongin orangtua loe ya?"
"Bukan ****."
"yaelah, kalau gue **** ngapain minta diajarin sama gue."
"hahaha.. iya juga ya. Kenapa tadi Cin?"
"Ampun deh Noni, otak loe ketinggalan di rumah ya?" ujarku frustasi sambil menepuk jidat ku sendiri.
"Emang bisa ditinggal Cin?"
"Mustahil."
"Ya siapa tau aja bisa, loe kan pintar. Siapa tau loe bisa bantu gue buat ninggalin satu mata gue di dekat Dave."
"Gile ni anak. Buat apa loe ngelakuin itu?"
"Sejujurnya Cin, gue suka banget sama Dave." bisik Noni malu-malu.
"Wajar sih, dia kan kakak loe. Gue aja suka sama loe."
"Apa? Jangan Cin" kini Noni beringsut menjauh dariku, wajahnya terlihat menahan ngeri.
"Ya ampun Noni. Sini-sini biar otak loe gue lurusin dulu. Biar sehat."
"Wah, teman gue belum tamat SMA udah jadi dokter. Hebat benar." ujar Noni sambil tersenyum bahagia.
Diam-diam aku merasa seram sendiri, menyadari betapa lemotnya otak temanku ini.
"Jadi gini, Loe tau Giordani adik gue?"
"Ya."
__ADS_1
"Menurut Loe dia suka nggak sama gue?"
"Iya dong."
"Kalau sama mama gue, menurut loe adik gua suka nggak sama mama?"
"Pasti dong."
"Terus loe suka nggak sama mama gue?"
"Enggak, kan sama-sama cewe Cin."
"Ya ampun Noni." aku sungguh-sungguh kesal sekarang.
"Jadi loe suka sama Dave dalam arti loe pengen jadi istrinya?" tanyaku frustasi.
Aku sengaja melemparkan pertanyaan ini untuk menjelaskan kasih sayang keluarga dan persahabatan padanya. Sekaligus menjelaskan defenisi suka yang tidak selamanya harus antara kekasih dan suami istri. Toh masih ada kasih sayang antara orang tua dan anak, saudara, teman, sahabat.
"Iya. Aku pengen begitu." jawab Noni mengejutkanku.
"Oooo.." ujarku sejenak.
"APA? APA gue salah dengar? Noni loe sehat kan?"
"Iya loh Cin. Gue memang cinta sama Dave. Makanya gue takut kalau dia bisa baca pikiran gue."
"Jadi sekarang loe cinta bertepuk sebelah tangan?"
"Gimana caranya mencintai sambil bertepuk sebelah tangan Cin?"
"O my God. Loe ini dikasih makan apa sih waktu kecil?" tanyaku polos.
"Enggak tahu."
"Maksud gue, loe cinta sama Dave tapi dia nggak cinta sama loe. Gitu ya?"
"oooo... apa dia pernah bilang cinta sama loe?"
"Dia sering manggil gue sayang, dear, Princess."
"i see. Apa dia ngajak loe pacaran?"
"Enggak."
"Apa dia ngajak loe menikah?"
"Enggak juga."
"Apa loe pernah mengaku tentang perasaan loe ke dia?"
"Jangan sampai terjadi."
"Aduh, apa jangan-jangan Noni lagi baper tingkat dewa ya sama si Dave? pasti ini pengaruh hormon pertumbuhan. Wajar kan di masa remaja begini perempuan jadi mudah baper?" gumamku dalam hati.
"Cin.. Cintya.. Cinta.."
"hmm.. sekali aja gue dengar kok."
"Jangan bilang siapa-siapa ya." pinta Noni dengan wajah memelas.
Aku memandangi wajah polosnya sambil berdiam diri diantara rasa penasaran dan khawatir. Penasaran akan kebenaran perasaan Dave padanya, serta khawatir. Khawatir Dave tidak pernah melihatnya sebagai seorang gadis untuk di cintai. Aku terjebak lagi, diantara dua hal. Diantara ya dan tidak.
Kuputuskan untuk mengajak Noni kembali sibuk dengan pelajaran kami. Sampai akhirnya senja menjelma malam, Dave mengetuk pintu kamarku dan mengajak Noni pulang.
"Terimakasih sudah membantu Noni." ujar Dave padaku.
"Tidak perlu berterima kasih, dia juga sahabatku." jawabku tulus.
__ADS_1
"Bye Cinta." ujar Noni yang kubalas dengan lambaian tangan.
Kedua anak konglomerat itu akhirnya meninggalkan rumahku. Menyisakan ku dan adikku yang kembali sibuk dengan kegiatan di rumah. Untung saja kedua orang tuaku belum kembali dari bekerja, jadi masih ada waktu bagiku untuk menyiapkan makan malam.
"Kak, cowo bule itu tampan ya." ujar Giordani yang asik membantuku mencuci sayuran.
"Biasa aja Gi. Namanya juga bule."
"Tapi kok wajah adiknya indo banget ya kak? Apa mereka saudara tiri?"
"Hush, jangan ngomong sembarangan. Dia kakak angkat Noni."
"Loh? jadi dia nggak punya orangtua kak?"
"Punya dek. Tapi beberapa tahun lalu mereka meninggal."
"Oh.. kasihan banget ya kak. Tapi kan kak, menurut pandangan gue tuh cowok naksir sama kakak."
"Ya ampun dek, kamu kebanyakan baca novel ya?"
"Serius loh kak Cin."
"Nggak mungkinlah. Emang ini jaman cinderella?"
"Iya juga ya kak. Sejak keluarga kita bangkrut, kakak kan persis kayak Cinderella. Jadi upik abu."
"Terserah kamu saja deh." ujarku mengalah sambil terus sibuk dengan penggorenganku.
Aku bisa melihat bagaimana Dave menyayangi Noni. Perasaan yang jelas tergambar di mata pria itu. Bukan hanya di matanya, tapi perilakunya juga. Kalau pun aku punya kakak, apa mungkin dia akan mengantar ku kerumah Noni dan menungguku hingga pulang? Bahkan dia juga memastikan Noni makan tepat waktu dan selalu ingat untuk minum air putih. Terbukti dari berulang kali Dave mengetuk pintu kamarku untuk sekedar mengingatkan Noni.
Perhatian yang sangat jarang diberikan oleh seorang kakak kepada adik perempuan nya. Jelas saja Noni sebegitu yakin dengan perasaannya. Setelah kupikirkan kembali, cara Dave memperlakukan Noni sejak awal aku mengenalnya sampai hari ini benar-benar istimewa. Jadi, sangatlah mustahil Dave menyukai upik abu sepertiku.
Setidaknya aku bisa bernapas lega, memikirkan Noni tidak akan patah hati.
\*\*\*
Ujian Nasional dan ujian sekolah sudah berakhir. Ini adalah hari terakhir aku dan Noni menghabiskan waktu di sekolah. . Sekolah sedang sibuk dengan acara perpisahan yang baru saja selesai. Sementara aku dan Noni memilih untuk menghabiskan waktu di salah satu tempat favorit kami, taman di depan perpustakaan.
"Cin, kita selamanya akan tetap jadi sahabat kan?"
"Pastinya Noni."
"Kalau suatu hari kita naksir pria yang sama, gimana?"
"Kan loe cintanya sama Dave, apa mungkin gue naksir dia?"
"Hahaha... iya juga ya. Tapi tetap aja buat berjaga-jaga kita harus janji Cin."
"Janji apa Non?"
"Nih loe baca." Noni mengeluarkan dua lembar foto dari dalam tasnya. Disana terpampang wajah kami saat belajar di kamarku, tentu saja hasil jepretan si Dave. Noni membalik foto itu, menunjukkan sederet kalimat yang tertera disana.
"Cintya Angelo dan Noni Andrea berjanji akan menjadi sahabat selamanya. Bahkan apabila kami jatuh cinta pada pria yang sama, maka salah satu dari kami harus mendukung siapapun diantara kami berdua yang akhirnya dipilih oleh pria itu." aku membacakan kalimat yang tertera di sana sambil tersenyum konyol.
"Ya ampun Noni.. terus ini tandatangan di nama kita masing-masing, gitu?"
"Iya Cin."
"Walaupun ini nggak masuk akal, tapi buat kamu aku ladenin deh." Ujarku sambil meraih pena dan membubuhkan tandatangan disana.
Noni juga melakukan hal yang sama, setelah itu dia membingkai masing-masing foto dan menyerahkannya padaku.
"Jangan lupa keluarin fotonya untuk liat perjanjian kita kapan-kapan." ujar Noni tersenyum bahagia.
Aku mengangguk tanda setuju dan kami saling berpelukan.
"Cin, gue bisa ngomong sebentar?" Suara pria yang dulu sangat akrab di telinga ku kini mengganggu momen pelukan antara aku dan Noni.
__ADS_1