
Sungguh aku tidak habis pikir dengan isi kepala Dave. Untung saja dia bukan pacarku apalagi suamiku. Kepalaku terancam pecah tiap hari kalau harus hidup dengan pria arogan itu.
Aku langsung keluar dari kamar dengan membawa ponsel. Setelah menghubungi Steve, aku tahu pria itu sedang di kampus. Lebih baik aku bergegas mengenalkan si Dave padanya.
"Ayok." ujarku.
"Kemana?"
"Tapi mau kenalan sama Steve."
"Sekarang?"
"Besok. Iya sekaranglah Dave, kapan lagi?"
"Terus kamu?"
"Gue kenapa?"
"Saya tidak senang dengan penggunaan kata Gue, terdengar kurang sopan."
"Siapa loe merintah-merintah gue? Loe mau pergi nggak?'
"Cintya, kamu yakin pergi sekarang?" tanya Dave padaku.
"Iya loh Dave."
"Di kamar kamu ada cermin nggak sih?"
"Mau pergi nggak?" tanyaku yang mulai kesal.
"Semoga ada." Dave langsung menarik tanganku.
Awalnya aku berpikir Dave akan membawaku keluar rumah. Tapi ternyata kami melangkah menuju kamarku.
"Ngapain kekamar? Jangan macem-macem loe." aku berteriak galak sambil meronta berjuang melepaskan tanganku dari cengkraman Dave. Tapi sayang pria itu lebih bertenaga dibanding denganku.
Tiba-tiba saja, di kepala ku berputar sebuah kenangan yang sudah lama ingin ku kubur dalam-dalam. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Dave masih menarik ku masuk kedalam kamar.
"Arrrrh.... Tolonnng...!!!" aku menjerit kuat sambil menjatuhkan tubuh kelantai.
Kini aku sedang menangis ketakutan sambil memeluk kedua lututku. Bayangan itu kembali merasuki pikiranku. Begitu jelas, seoalah kejadiannya baru saja terjadi. Cara George melecehkanku ternyata sangat membekas dalam kenangan. Tubuhku bergetar kuat, aku tidak ingin Dave di sini sekarang. Aku, aku sangat ketakutan.
"Cintya... Cintya, are you okay?"
"Pergi.. Pergi...Goerge jangan sentuh aku.. kumohon... hiks...hikss..."
\*\*\*
__ADS_1
Dave POV
Hampir sepuluh menit sejak Cintya masuk ke kamar, gadis ini benar-benar tidak sopan. Bagaimana mungkin dia meninggalkan tamu sendirian? Untung saja dia tidak ada sangkut pautnya denganku, kalau bukan karena Noni, aku juga tidak ingin berhubungan dengan gadis aneh ini.
Akhirnya gadis itu kembali muncul dihadapanku, sambil memegang sebuah ponsel di tangannya. Tiba-tiba saja dia mengajakku untuk menemui Steve sekarang. Apa gadis ini sedang bermimpi? Bagaimana dia bisa mengajakku keluar rumah dengan penampilan begitu? Piyama yang lusuh ditambah lagi rambut yang masih basah dan belum di sisir, apa masalah gadis ini sebenarnya. Akhirnya kuputuskan membawa gadis itu bercermin, agar dia sadar betapa berantakan penampilannya kini. Aku menggenggam tangan Cintya dan menariknya kearah kamar tidur gadis itu. Tentu saja aku tahu letak kamarnya, karena ini bukan pertamakalinya aku bertamu kerumah Cintya. Dan semua kunjungan itu adalah karena Noni, adik angkat ku yang selalu rajin mengunjungi gadis ini. Aku tidak habis pikir apa yang menarik dari Cintya hingga membuat Noni begitu setia dengan persahabatan mereka.
"Arrrrh.... Tolonnng...!!!"
Teriakan Cintya menggema di kamar dan mengejutkanku, saat kami memasuki kamar.
"Apa kau pikir aku tertarik padamu?" desis ku pelan sambil menoleh kearah gadis itu.
Tiba-tiba aku terkejut menyaksikan Cintya yang kini meringkuk ketakutan di lantai kamar. Gadis itu tidak terlihat baik-baik saja.
"Cintya... Cintya.. Ada apa?" tanyaku serius.
Gadis itu masih bertahan dengan posisinya. Dia memeluk lututnya erat-erat dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Dari gesture Cintya, aku tahu gadis itu sedang ketakutan. Aku sempat berpikir mungkin gadis ini melihat penampakan aneh di kamar.
"Apa? Penampakan aneh? Mana ada hal begitu di dunia?" gumamku dalam hati.
Sekarang satu-satunya yang bisa kulakukan hanya menenangkan Cintya.
"Cintya... Cintya, are you okay?" aku berusaha menenangkannya.
"Pergi.. Pergi...Goerge jangan sentuh aku.. kumohon... hiks...hikss..."
"Goerge." gumamku sambil mengernyitkan kening. Nama itu terdengar tidak asing.
"George??? ah aku ingat nama itu." gumamku pelan.
Dengan penuh keyakinan aku mendekatkan diri pada Cintya. Kulayangkan tangan mengelus kepalanya dengan hati-hati.
"Jangan takut. Aku Dave. Kamu aman bersamaku." aku mencoba mengucapkan kalimat-kalimat itu mencoba menenangkan Cintya.
Setelah beberapa saat, Cintya berhenti berteriak-teriak. Kini gadis itu masih terisak sambil menyembunyikan wajahnya.
"Tidak apa-apa, kamu baik-baik saja." aku kembali meyakinkan Cintya berharap emosinya segera kembali stabil.
\*\*\*
Back to Cintya POV
Di lantai, aku meringkuk ketakutan, dan sosok itu masih berdiam diri di sekitar ku.
"Jangan takut. Aku Dave. Kamu aman bersamaku." samar-samar aku mendengar kalimatnya.
"Dave?? Dave, tolong aku." panggilku dalam hati.
__ADS_1
"Jangan takut. Aku Dave. Kamu aman bersamaku." kalimat itu terdengar semakin jelas, diikuti dengan kepalaku yang kini dielus perlahan.
"Syukurlah, Dave menemukan ku." gumamku masih dalam hati.
Aku mulai berhenti menjerit ketakutan, namun aku masih menyembunyikan wajahku. Aku takut menemukan sosok George di hadapanku jika aku mengangkat kepalaku. kini aku menangis perlahan.
"Tidak apa-apa, kamu baik-baik saja." tiba-tiba aku kembali mendengar suara Dave bersamaan dengan itu ingatanku kembali pada kenyataan yang terjadi. Ternyata aku sedang di rumah bersama Dave. Bagaimana aku bisa berfikir kalau dia itu Goerge? Ada apa denganku?
"Kamu mau menangis sepanjang hari?" tanya Dave padaku.
"Aku malu." jawabku sambil menyembunyikan wajahku.
"Yasudah, kamu malu aja sepanjang hari, siapa tau rasa malu mu itu bisa mengenalkan aku pada Steve."
"Dave, kamu kasar sekali." protesku.
"Nah, galak begini lebih baik daripada menyembunyikan wajah menangis mu seharian."
"Itu semua kesalahanmu, untuk apa membawaku ke kamar?"
"Cintya, kamu bercermin dulu, setelah itu kamu protes padaku."
Aku berdiri dari posisi dudukku, perasaan kesalku pada Dave langsung memperbaiki mood ku yang sempat berantakan. Aku melangkah menuju cermin yang terpajang di kamarku.
"Astaga." aku ternganga melihat penampilanku yang mirip pembantu rumah tangga.
"Masih mau protes padaku?" tanya Dave sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Keluar dari kamarku." ujarku berteriak.
"Akupun tidak betah berlama-lama di kamarmu."
"Aku mau ganti baju Dave."
"Aku juga tidak berniat melihatmu ganti baju, apa yang bisa di lihat di tubuh kecilmu itu?"
"Jaga bicaramu. Keluar sekarang!!!."
"Apa kau keberatan kukatakan kecil? Jadi kau ingin aku berbohong?"
"Gue benci banget sama loe. Keluar nggak?" aku berteriak sambil melempar bantal kearah Dave.
"Syukurlah. Seorang Dave lebih beruntung jika dibenci oleh Cintya." ujar pria itu sambil mengelak dari bantal yang kulempar.
Dengan santai dia melenggang meninggalkanku di kamar. Aku menghela naas panjang. Menghadapi pria menyebalkan seperti Dave memang sulit sekali. Untung aku dan dia hanya terhubung karena urusan Noni. Jika tidak bisa kacau hidupku. Dengan hati-hati aku menyisir dan mengeringkan rambutku, setelah itu aku segera membuka lemari memilih baju untuk kupakai.
Baju-baju yang terpajang di kamar kembali mengingatkanku pada Noni. Gadis itu sudah memenuhi kamarku dengan pakaian dan sepatu yang cantik dan mahal sebelum dia kembali jatuh sakit.
__ADS_1
"Gue janji bakal ngebantu loe Non. Gua bakal menahan rasa kesal gue sama Dave demi ngebantu loe dapetin cinta sejati." gumamku dalam hati.
Setelah memoles make up tipis aku segera menemui Dave di ruang tamu. Aku sengaja memoles wajahku sedikit, agar pria ini tidak sembarangan meledekku lagi.