CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Lembaran Baru


__ADS_3

"Thank you Cinta." bisiknya perlahan.


"Kok tante tau?" tanyaku sambil memandang wajahnya.


"Apa sih yang nggak tante tau soal kamu dan Noni." ucapnya sambil kembali membawaku kedalam pelukan.


Entah mengapa, kini ada rasa khawatir yang sangat menggangguku.


"Apakah Noni baik-baik saja?" gumamku dalam hati.


\*\*\*


Sudah seminggu Noni dirawat dirumah sakit. Aku yang tidak punya kesibukan apa-apa selain kegiatan rumah memilih untuk mengunjunginya setiap hari. Noni sudah sadar, kondisinya sangat stabil. Kata dokter kondisinya baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu kukhawatirkan tentang gadis ini.


Hari ini, seperti biasa aku kembali mengunjunginya.


"Mau kemana?"


Tanyaku menyaksikan orang tua Noni yang sibuk memasukkan barang-barang ke dalam sebuah tas berukuran besar.


"Pulang Cin." jawab Noni riang.


"Loe udah boleh pulang?"


"Iya dong."


"Wah selamat ya Non." Ujarku bahagia sambil memeluknya.


"Congratulation girl".


Aku dan Noni sama-sama menoleh ke arah suara sambil melepaskan pelukan kami. Dave tiba-tiba muncul di ambang pintu dengan bucket bunga di tangannya.


"Ternyata romantis banget, pantes loe.." bisikku di telinga Noni.


"Hus.. hati-hati." jawab Noni sambil mencubit pinggangku.


"Sakit Noni." teriakku kuat. Aku sengaja ingin mengganggunya.


"Why? Kalian kenapa?" tanya Dave yang kini menghampiri kami sambil menyerahkan bucket yang dibawa kepada Noni.


Aku dan Noni memilih untuk bungkam. Dave pun akhirnya meninggalkan kami asik dengan cerita-cerita khas anak remaja.


Akhirnya kami pulang ke rumah Noni, setelah sore supir keluarganya mengantarku kembali ke rumah.


\*\*\*


"Kamu sudah siap nak?" mama masuk kekamarku.


"Sebentar lagi ma." jawabku sambil menyisir rambut ikalku.


"Jangan lupa sarapan dulu ya, ini uang saku kamu. Mama dan papa berangkat dulu ya nak. Jangan lupa pintu dikunci baik-baik ya." pesan mama.


"Makasih ma." jawabku saat mama berlalu meninggalkan kamarku.


Ini adalah hari pertamaku sebagai mahasiswa di Universitas X. Tentu saja aku sangat bersemangat, membayangkan akan memiliki teman baru, belajar sebagai mahasiswa di jurusan kedokteran dan tentu saja karena Noni juga akan pergi ke kampus yang sama denganku. Tapi anak itu memilih jurusan menejemen dan bisnis. Wajar saja, di butuh keahlian itu agar tidak salah memanfaatkan kekayaan keluarganya.


"Cinta.. Cinta.. buruan." aku mendengar keributan di luar rumahku.


Siapa lagi kalau bukan si Noni. Setelah memeriksa keadaan rumah sekali lagi, aku melangkah keluar dan segera mengunci pintu.


"Loe lama amat sih Cin." protes Noni dari balik kemudi mobil.

__ADS_1


"Yaelah, Loe nya aja kali yang kepagian."


"Yaudah yok." ajak Noni.


Aku masuk kedalam mobil sport edisi terbatas itu. Warnanya merah. Benar-benar type Noni sekali.


"Jadi mobil baru nih?" tanyaku sambil memasang seatbelt.


"Hehe.. tau aja loe."


"Yakin nggak perlu diantar supir lagi?"


"Yealah Cin, kita udah dewasa kan? Udah mahasiswa kok kita. Kenapa harus diantar supir segala?"


"Yah, gue cuman mikirin keaman loe sih."


"Gue janji bakal nyetir dengan super hati-hati."


"Yaudah yok." jawabku mengalah.


Noni akhirnya melakukan mobil sport itu dengan perlahan membelah keramaian kota. Aku memilih sibuk mendengarkan musik sementara Noni fokus dengan jalanan yang lumayan padat itu. Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam akhirnya kami tiba juga di tempat tujuan.


"Kita parkir dulu ya Cin."


"Sip. Jawabku."


"Oh iya Cin, bukannya loe bisa nyetir?" tanya Noni sambil melajukan mobil kearah parkiran.


"Dulu banget, gue pernah diajarin sama nyokap. Sebelum keluarga gue susah begini." jawabku jujur.


"Loe mau nggak pakai mobil lama gue?"


"Jangan ah Non, gue nebeng loe gini aja udah merasa sangat memberatkan." jawabku tidak enakan.


"Loe kira makanan?" tanyaku polos.


"Terserah loe aja deh Non. Yang pasti loe harus ingat, jangan simpan kesusahan loe sendiri. Gue selalu ada kok buat loe." ujar Noni.


"Thank you so much Noni." jawabku tulus.


Setelah menemukan area parkir, Noni segera memarkirkan mobilnya. Kami berdua lalu melangkah keluar meninggalkan mobil itu dan berjalan menuju gedung aula serbaguna yang dipakai sebagai tempat pembekalan awal untuk mahasiswa baru.


"Non...Noni.." sebuah suara memanggil kami dari arah belakang. Kini aku dan Noni sudah berdiri tepat di depan gedung serba guna. Kami berdua akhirnya menoleh ke asal suara itu.


"Siapa Non?"


"Nggak tau gue."


Seorang pria berlari mendekati kami.


"Noni.. Loe Noni Andrea kan?" Tanyanya sambil mengatur nafas yang kini terengah-engah seusai berlari.


"Iya. Loe kenal gue?" tanya Noni ragu.


"Gue Steve.. Steve Markino" jawab pria itu.


"Yaampun. Ini loe? Steve Markisa?" jawab Noni dengan wajah tak percaya.


"Markino.. Mark-ino bukan Markisa." protes pria itu.


"Oh iya loe jurusan apa Steve?" tanya Noni.

__ADS_1


"Gue di Kedokteran Non."


"Wah, kebetulan banget nih. Ini gue bawa junior loe, kenalin teman gue, Cintya." ujar Noni mengenalkan ku.


"Hai.. gue Steve Markino bukan Steve Markisa." ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya padaku.


"Hai kak, saya Cintya." jawabku sopan.


"Cin, jangan panggil dia kakak."


"Kenapa Non?"


"Iya Cin, jangan panggil gue kakak. Loe panggil Steve aja. Kan loe temannya si Nino. Eh salah maksud gue Noni."


"Yaudah deh. Senang berkenalan dengan kamu Steve." jawabku kemudian.


"Baru ketemu udah pakai aku-kamu nih?" goda Steve padaku.


"Sorry, maksud gue bukan begitu." jawabku gugup menyadari kesalahan kecil yang kubuat pagi ini.


"Udah ah, loe jangan macem-macem Steve. Awas aja kalau seisi sekolah sampai mengganggu Cintya gara-gara loe." ujar Noni dingin.


"Tenang aja. Loe nggak usah khawatir soal itu. Yok masuk." Ajak Steve akhirnya.


Kami masuk ke dalam gedung serbaguna. Aku dan Noni duduk bersebelahan. Kebetulan saja Jurusanku dan gadis itu ditempatkan pada barisan yang bersebelahan. Acara pembekalan hari itu berlangsung dengan baik. Rektor menyampaikan sambutannya, diikuti oleh dekan setiap fakultas yang menyampaikan bimbingan pada masing-masing fakultas. Menjelang makan siang, kami dibubarkan. Aku dan Noni langsung memutuskan untuk mencari tempat untuk menikmati bekal makan siang kami. Akhirnya kami berakhir di sebuah taman di dekat perpustakaan lagi.


"Non, kayak Dejavu ya." ujarku.


"Iya nih. Kita dapat markas dekat perpustakaan lagi." jawab Noni setuju.


"Btw, loe nggak perlu repot-repot bawa bekal tiap hari loh demi bisa makan siang bareng gue." ujarku kemudian.


"Gue bawa bekal bukan demi loe. Jangan ge-er anda. Ini demi kebaikan gue sendiri." jawab Noni protes.


"Maksud loe?"


"Jangan banyak nanya. Gue lapar nih."


"Yaudah makan noh, gitu kok susah."


Noni hanya mengabaikan ku dan langsung melahap makanannya.


"Gue boleh gabung?" sebuah suara yang begitu akrab tiba-tiba muncul.


"Geo?" tanyaku tak percaya menyaksikan wajah yang kini berdiri di hadapan kami.


"Iya. Gue boleh gabung sama kalian kan?" tanyanya lagi.


"Nggak ada yang ngelarang kok. Sini duduk di sini." ujar Noni sambil memukul lembut sisi kursi taman di sebelahnya yang masih kosong.


"Buat apa loe di sini?" tanyaku tanpa memandang wajah George.


"Yah kuliah lah. Masa iya gue kekampus buat menikah?" jawab George santai.


"Sudahlah Cintya, kita makan dulu yuk. Gue lapar nih. Nanti deh selesai makan kalian bernostalgia." ujar Noni kemudian.


"Gue nggak sudi bernostalgia sama dia." ujarku ketus.


"Terserah loe aja. Yang penting sekarang kita makan." jawab Noni.


Akhirnya aku mengalah. Dan kami kembali menyantap makan siang kami, sementara George juga disini.

__ADS_1


"Gue nggak mau kena masalah lagi gara-gara cowo ini." gumamku dalam hati.


__ADS_2