
"Kau memalukan." protesnya kembali menyimpan wajahnya di atas meja.
"Aku salah apa????"
....
Gadis di hadapanku ini hanya membisu dan masih menyembunyikan wajahnya.
"Yasudah terserah kamu saja." aku mendengus sedikit kesal.
Dave POV off
\*
"Apa pria dihadapan ku ini sudah gila? Bagaimana mungkin dia bersikap tenang begini setelah insiden memalukan tadi. Dan kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya? Benda tegang dan hangat itu sungguh mengganggu. Memalukan sekali. Apa aku tiba-tiba sudah berubah jadi orang mesum? Sadarlah Cintya." aku mengomel dalam hati sambil mengabaikan pria yang kini duduk di hadapanku. Jujur aku malu, lebih-lebih pada diriku sediri yang tidak dapat lupa akan kejadian beberapa menit lalu.
"Cintya, sedang apa kamu di sini?" tiba-tiba sebuah suara yang tak asing mengisi telingaku.
Aku mengangkat wajah dari meja dan memeriksa sumber suara itu.
"Andrew?" tanyaku memandang lelaki yang dulu pernah mengaku cinta pada sahabatku Noni.
"Ada apa?" tanyaku lesu karena teringat akan kondisi Noni.
"Aku tak sengaja melihatmu sedang disini bersama pria asing."
"oh..." jawabku singkat tanpa mempersilahkan pria itu duduk.
"Bagaimana kabar Noni?" tanya nya kemudian.
"Kau bisa tanyakan langsung padanya." ucap ku kesal mengingat bagaimana terakhir kali dia malah pingsan saat Noni sedang sekarat.
"Maaf Cin, aku phobia pada darah." ujarnya pelan.
"Setidaknya kau bisa mencarinya saat kau sadar." jawabku sarkas.
"Aku, aku akan menjelaskannya. Waktu itu George..." kalimatnya terputus seketika.
"Bro, loe lagi apa?" Seseorang memotong kalimat Andrew, sambil menepuk pundaknya.
Aku melotot tajam menyadari siapa pemilik suara itu. Kualihkan mataku menatap Dave, berharap dia membawaku segera pergi dari sini.
"Cintya? Sejak kapan kamu keluar malam?" tanya sosok itu menunjukkan perhatiannya padaku.
....
Aku diam tanpa mengalihkan tatapanku dari Dave. "Ayok pulang....!!!" jeritku dalam hati.
__ADS_1
"Cintya, apa kamu tidak mendengar ku?" tiba-tiba tangannya mendarat di lenganku.
"Lepasin gue." ucap ku kasar sambil menghempas tangannya, tak kalah kasar.
"Kamu harus pulang sekarang, sejak kapan kamu jadi liar begini? Ini sudah lewat tengah malam dan kamu sedang duduk di sini bersama pria asing? Apa-apaan kamu Cin?" Dia menyerang ku dengan pertanyaan sambil menyeret paksa agar tubuhku berdiri.
'plak' kuhadiahkan sebuah tamparan di pipinya dengan menggunakan sebelah tanganku yang sedang bebas.
"Jangan bicara sembarangan. Loe nggak tau apa-apa soal hidup gue." aku berteriak di wajahnya.
"Cintya, ayok pulang." Dave berujar lembut sambil menarik tanganku hingga bebas dari pria ******** itu.
"Cintya..." Andrew mengejar ku tanpa memperdulikan sosok sepupunya yang masih terpaku memandang kepergianku.
"Ada apa lagi?" tanyaku pada Andrew.
"Bagaiamana aku bisa bertemu dengan Noni?" tanyanya lirih.
"Andrew, maaf. Tapi aku tidak bisa berurusan denganmu ataupun sepupu gilamu itu. Lebih baik jangan menghubungi ku maupun Noni lagi." ujarku lirih.
"Sepupu ku gila? Apa maksud kalimatmu Cintya?"
"Sepertinya pria ini tidak tahu betapa brengsek sepupunya yang dulu pernah melecehkan ku." aku berbicara pada diri sendiri.
"Kau bisa tanya sendiri padanya. Jangan ganggu kami." kudengar Dave angkat suara, dia sungguh menyampaikan isi hatiku.
Dengan langkah lesu, ku ikuti Dave meninggalkan Cafe itu. Tangan kiriku masih dalam genggamannya. Menyisipkan rasa aman yang tiba-tiba memenuhi perasaan ku.
Sekarang kami sedang duduk di dalam Mobil Dave, dan pria ini melajukan mobilnya pelan. Sementara aku sedang asik menautkan jemari di kedua tanganku karena gelisah.
"Andrew." jawabku lirih.
"Iya aku mendengar kamu memanggilnya begitu. Yang aku maksud di sini adalah apa hubungannya dengan Noni?"
"Aku... aku minta maaf."
"Kenapa?"
"Sepertinya dia dan Noni saling mencintai, tapi aku malah melarangnya untuk mencari Noni." ujarku pelan, aku merasa bersalah kepada sahabatku itu.
"Kau?" Dave menghentikan mobil yang dia kendarai dengan mendadak.
"Cintya, kenapa kamu melakukan hal seperti itu? Apa kamu tidak tahu seberapa besar kepedulian Noni selama ini terhadapmu?" Dave berteriak padaku sambil menatapku dengan tatapan marah.
"Maaf. Maaf..." ucapku sambil terisak tanpa berani membalas tatapannya.
"Setidaknya beritahu alasan yang masuk akal, jangan hanya meminta maaf dak menangis Cin." ujar Dave, dengan suara yang melunak.
"Andrew itu sepupunya George. Pria yang tadi menarik tanganku, pria brengsek yang dulu mencoba melakukan pelecehan padaku." ujarku masih tertunduk.
"Aku, baru tahu hubungan mereka setelah Noni pergi ke US, andai aku tahu sejak awal, aku tidak akan membiarkan pria itu mendekati Noni. Aku tidak bisa percaya padanya Dave." tangis ku kini meledak.
__ADS_1
"Kenapa? kenapa sampai sejauh itu Cintya? Jika Goerge jahat, belum tentu Andrew juga jahat." ujarnya lembut.
"Kamu tahu kan kondisi Noni saat ini?" tanya Dave kemudian.
Aku hanya mengangguk pelan tanpa bersuara.
"Dia butuh support, dia butuh kasih sayang. Jika Andrew memang pria yang sudah meluluhkan hatinya, apa gunanya kita mengirimkan Steve ke sana? Noni butuh Andrew. Kamu mengerti maksudku kan?"
"Iya Dave, maafkan aku."
"Sudahlah, jangan menangis. Aku bukan suamimu, kenapa aku harus melihat semua perubahan emosimu ini?" ujar Dave meledekku.
"Setidaknya jika tidak bisa menghibur, jangan meledek Dave." protes ku kemudian sambil mengusap air mataku kasar. Pria ini sungguh selalu berhasil membuat mood ku berubah-ubah.
"Aku meledek? Kapan?"
"Oh, kau lupa? sudahlah, lagi pula nggak oenting banget." ujarku sambil menyandarkan punggungku di sandaran jok mobil dan memejamkan mataku. Kini aku benar-benar kesal dengan tingkah Dave.
"Apa menurutmu lebih baik kita menginap di sini saja?" aku mendengar suara Dave.
"Apa kau serius? Aku rindu kasur ku, cepat mengemudi Dave, ayok pulang."
"Bagaimana jika listriknya masih padam?"
"Kau berisik sekali. Kalau listriknya masih padam, kau bisa langsung pulang kerumahmu kan?"
"Okey, baiklah. Anggap saja listriknya masih padam." ujar Dave sambil melajukan mobilnya perlahan.
Aku yang masih enggan membuka mataku tidak lagi menimpali ucapan pria itu.
\*\*\*
Aku menggeliat pelan, namun sesuatu yang berat terasa membebani perutku. Dengan gerakan perlahan kubuka kelopak mataku, mengizinkan sinar masuk menyapa retinaku. Sepertinya aku belum sadar sepenuhnya, sehingga mataku bisa menangkap sosok Dave yang sedang tidur dengan tenang.
"Pasti ini efek di buat kesal sepanjang waktu sama dia." gumamku dalam hati.
Kedua mataku mengerjap berkali-kali, tapi wajah Dave tak kunjung menghilang. Bahkan kini wajah pria itu terlihat makin jelas, bahkan selimut yang sedikit melotot berbasis mengekspose dada yang kotak-kotak tanpa sehelai benang menutupinya.
"Tunggu dulu... tunggu dulu.. Tanpa sehelai benang?"
Aku menggerakkan tangan kanan menyentuh sesuatu yang menekan perutku.
"MAMA......" aku berteriak histeris menyadari tangan Dave yang sedang memelukku.
"Kenapa kau berteriak?" tanya Dave padaku, sepertinya tidur nyenyakknya terganggu oleh teriakanku dan aku tak peduli, toh siapa suruh dia ada di sini.
"Hei cowo mesum. Ngapain tidur di atas tempat tidurku? dan tanganmu? menyingkir nggak dari perutku?" omelku galak.
"Sadar Cin, sadar. Sudah yakin ini tempat tidurmu?" tanyanya santai.
Kuedarkan pandangan ke suluruh penjuru ruangan. Kamar ini terlihat mewah dan klasik, seperti hotel berbintang saja. Tiba-tiba aku bergidik ngeri, dengan gerakan cepat kucubit lengan Dave yang masih melingkar di perutku.
__ADS_1
"auuuuu... sakit Cintya." keluhnya sedih sambil menarik lengannya.
Dengan gerakan cepat dan histeris kubuka selimut yang menyelimuti tubuhku. Dan kini aku sedang melotot memandang tubuhku sendiri.