
"Ma, Pa, sampai kapan aku jadi boneka kalian?" batin Goerge bertanya lirih dan pilu.
\*
Hari-hari sepanjang libur semester terasa bergerak sangat lambat. Aku hanya menghabiskan waktu di kamar, di ruang baca, bermain ponsel atau terkadang menonton TV. Bagi gadis yang belum genap berusia 19 tahun, berdiam diri di rumah saat liburan membuatku merasa mati kutu.
Masa remajaku terbang melayang, tanpa kegiatan menyenangkan gara-gara pria menyebalkan bernama Dave.
"Dave, aku membencimu..." aku berteriak sambil berguling diatas tempat tidur.
"Apa kamu meneriakiku?" tanya pria yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu.
"Kapan kau datang?" tanyaku sinis.
"Cintya, apa kau belum mandi seharian? Kamar ini berbau tidak sedap." bukannya menjawab pertanyaanku, pria itu malah meledekku.
"Apa iya sebau itu? Gue emang belum mandi sih." bergumam dalam hati.
"Mandi sana." Dave memberi perintah.
"Nanggung Dave, sorean dikit ya." aku menjawab sambil melirik jam dinding yang menunjukkan bahwa ini masih sekitar pukul 3 sore.
"Mandi sekarang atau aku seret kekamar mandi?" Dave sudah duduk di sofa berusaha melepaskan dasinya.
Ya, semenjak kami menikah Dave mengurus dirinya sendiri. Aku tidak bertugas seperti istri baik di novel-novel atau di dalam film, yang walaupun pernikahan nya karena perjodohkan, mereka tetap setia mendampingi suami.
"Aku tidak ingin jadi boneka hidup. Aku ingin bertindak sesuai keinginanku." alasan kenapa aku tidak mau melayani Dave layaknya istri.
Sementara Dave, sejauh ini dia tetap menjagaku dengan baik. Hari-hari kami masih sama seperti saat kami berteman dulu. Menyebalkan dan berisik. Perbedaannya hanya kami tidur di atas ranjang yang sama, dan Dave menjadi semakin cerewet. Dan satu lagi, dia sering pamer akan statusnya sebagai suami di rumah ini. Apa hebatnya itu kata suami? ada-ada saja kan?
"Cintya... Mandi nggak?" pertanyaan Dave menyadarkanku.
"Astaga... Dave, nanti juga bisa." jawabku malas kembali bergelung di atas ranjang.
"Mandi atau aku mandikan?" tanya Dave dingin.
Aku sempat mengintip sejenak ke arahnya, dan berencana untuk tidak bersikap peduli akan ancamannya barusan.
"Nggak mungkinlah dia berani mandiin gue. Hahahaha..." aku tertawa dalam hati.
__ADS_1
"Jangan senyum-senyum. Ayok cepat biar aku mandiin. Mungkin kamu lagi pengen dimanja oleh suamimu ini. Aku paham Cintya, aku akan memanjakanmu sampai besok pagi." Dave berkata sambil melepas jas dan kemejanya membuatku bergidik ngeri.
"No... nggak usah. Aku bisa ngurus diriku sendiri." jawabku sambil bangkit secepatnya dari atas ranjang dan lari ke arah kamar mandi.
Aku bisa merasakan tatapan dan tawa puas Dave di balik punggungku.
"Dasar lelaki menyebalkan." aku berteriak di kamar mandi.
"Hahahahaha..." suara tawa Dave masih terdengar bahkan saat aku mulai berdiri di bawah shower.
"God, aku salah apa sih? Masih muda, belum sembilan belas tahun, malah terjebak hidup sama pria nggak beres sebiji ini." Aku yang dulunya selalu kuat seperti karang dan selalu berpikiran positif malah jadi sensitif seperti sekarang. Hidup dengan Dave hampir membuatku kehilangan jadi diri.
"Gue harus balas dendam sama si Dave. Tunggu aja gue keluar dari kamar mandi." aku bergumam-guman tidak jelas sambil menyusun rencana licik untuk mengerjai suami paling menyebalkan sedunia.
Ritual mandi ku akhirnya usai. Ini saatnya membalaskan perbuatan jahat Dave. Waktunya untuk membuat pria itu kena getahnya.
"Eh... anduknya mana?" tanyaku yang sadar tidak ada handuk di kamar mandi.
"Astaga... baju gue udah pada basah. Gimana dong ini?"
"Kok bisa lupa bawa sih Cin... ini semua gara-gara si Dave nyebelin. Dasar nyebelin. Awas aja ntar gue keluar, bakal gue buat patah tulang tuh cowok." aku mengomel sendiri.
Dengan gerakan pelan dan hati-hati, aku mengintip ke arah kamar lewat pintu kamar mandi yang sedikit kubuka.
"Syukurlah, setidaknya dia tidak menghadap kemari." gumamku pelan menyadari posisi tubuh Dave yang memunggungi kamar mandi, sebuah ide melintas di benakku.
"Kalau gue lari dari sini ke ruang ganti, dengan kecepatan maksimal mungkin suara kaki gue bakal kedengeran. Dave bakal noleh dan ya ampun... gue nggak ikhlas dia lihat kepolosan ini." Aku bergumam sedih dalam hati sambil menunduk mengawasi tubuhku sendiri.
"Mikir Cin... loe harus nyari ide yang cerdas. Okay.. kalau gue mau mengurangi suara artinya gue harus melangkah pelan-pelan, yang artinya gue akan tiba di ruang ganti setelah langkah ke lima puluh. Semoga Dave nggak ngubag posisinya secara tiba-tiba. Kalau sempat dia mutar posisi tidur bisa kena zonk nih gue." aku kembali menyusun rencana dalam hati.
Setelah memastikan rencanaku, dengan perlahan aku keluar dari kamar mandi dengan gerakan mengendap-endap ala maling di tengah malam.
"Satu... dua... tiga...tiga belas..." dengan jantung yang berdebar kencang, aku menghitung jumlah langkah yang berhasil kutapakkan.
"Cin......?" suara tercekat dari Dave membuyarkan hitungan ku yang entah sudah keberapa.
"Astaga. Jangan liat Dave. Tutup mata... Aduh..." aku berteriak kencang menyadari Dave yang sudah menikmati pemandangan di hadapannya.
"Kamu ngapain?" tanya pria itu lemah.
"Nyebelin.... aaaaa... dasar Dave nyebelin. Udah gue bulang juga jangan liatin." aku berteriak-teriak protes sambil lari sekencang mungkin menuju ruang ganti.
Tanganku mulai terayun untuk menyentuh pintu ruangan berisi banyak pakaian itu. Namun naas, kakiku malah tidak bersahabat dengan lantai. Tanpa bisa menolak gaya gravitasi, setelah terpeleset tubuhku sedikit melayang di udara sebelum jatuh menyentuh sesuatu.
__ADS_1
"Kok nggak sakit? Kepala gue, kepala gue pasti bocor nih karena ngebentur lantai. Apa gue geger otak makanya sampai nggak bisa ngerasa sakit sama sekali?" tanyaku dalam hati.
"Cin... Cintya, kamu baik-baik aja kan?" sebuah suara menyadarkan ku.
"Tunggu dulu, suara Dave kok bisa dekat banget ke telinga gue? bukannya dia masih di tempat tidur? pasti gue geger otak nih. Astaga Cintya, kasian banget sih loe"
"Cintya, kamu mau di sini sampai nanti?" tanya suara Dave lagi.
Kali ini aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir dan menyapa kulit leher ku. Tiba-tiba jantungku berdebar kencang seolah baru saja usai lomba lari marathon.
"Gue pasti geger otak." ujarku sedih dalam hati.
"Hei, bod*h buka mata dong. Sakit nih badanku. Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Jangan buat takut gini dong Cin." ujar suara Dave sebelum badanku terasa melayang di udara dan menyadarkan ku akan sesuatu.
"aaaaaaaa... Dave, ngapain nyetuh aku?" protes ku saat membuka mata dan menyadari bahwa aku sedang di gendong ala bridal style.
"Siapa tau aja pas tadi badanku ngebentur lantai, kepala kamu yang geger otak." jawab Dave santai.
"Nggak nyambung." jawabku kesal sambil menyembunyikan wajahku.
Seketika aku menyesal berusaha menyembunyikan wajahku ke arah tubuh Dave.
"Aaaaargh... kenapa cowo ini pakai acara bertelanjang dada sih?" aku mengumpat kesal menyadari kulitku yang kini bergesekan dengan perutnya, jantungku makin berdebar kencang.
\*
Dave POV
Sudah lama Cintya di kamar mandi, mungkin anak cerewet itu sudah selesai dengan acara mandinya.
"Lebih baik aku mandi sekarang" gumamku sambil bangkit dari posisi tiduran santai.
Namun gerakan ku malah terhenti melihat pemandangan aneh du depanku. Cintya sedang berjalan pelan-pelan tanpa memakai apapun membuat jantungku berdebar kencang.
"Cin..." aku ingin bertanya dia sedang apa, agar gadis itu segera berlari ke ruang ganti. Setelah berdebat sedikit, seperti dugaan ku gadis itu memang berlari menuju ruang ganti. Syukurlah, aku bisa bernafas lega. Aku pria normal dan sudah beristri. Awalnya memang aku tidak menyukai Cintya, tapi kalian harus tahu bahwa alasanku tidak menyentuhnya hingga saat ini adalah karena dia masih sangat kecil. Dia belum genap berusia 19 tahun, kasihan kan kalau dia harus jadi seorang ibu di usia muda?
Sayangnya saat aku sibuk memenangkan diri, gadis itu malah terpeleset dan dengan gerakan sigap aku berlari dan menangkapnya. Mirip adegan-adegan romantis di film-film itu. Sayangnya kali ini yang kutangkap sedang memamerkan kekayaan pribadinya dan membuatku semakin tergiur.
"Dasar anak kecil. Kau tidak sadar bagaimana aku menahan diri selama ini?" aku mengomel dalam hati menahan sesuatu yang nyaris meledak dalam diriku.
__ADS_1
....to be continued...