CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Untuk Noni (2)


__ADS_3

Noni...Noni, adik kecilku yang selama beberapa bulan terakhir berubah menjadi beban terberat dalam hidup ini. Ternyata dia ingin menyiksaku seumur hidup. Astaga, bagaimana ini?


 


\*


 


Noni POV


Aku menatap langit-langit kamarku, sudah berhari-hari sejak Cintya berkunjung ke sini. Saat ini tanpa diberitahupun aku sadar, dia pasti enggan main-main kerumahku. Hidupku tiba-tiba jadi sangat membosankan. Beberapa bulan lalu aku masih bebas hang out ke mall atau bahkan sekedar main kerumah Cintya, namun sekarang aku disandera oleh keluargaku sendiri. Leukimia, penyakit yang merusak segala aktifitas ku.


Aku bergelung malas di atas kasur, seketika waktu terasa sangat lambat. Mungkin beginilah kalau kamu sakit. Kupandangi layar ponselku. Ada sebuah pesan masuk dari Dave, kakak angkat ku. Langsung saja aku tersenyum bahagia.


"Noni, don't forget to take your meal."


"Don't worry, i did finish it." balasku.


Ada getaran hebat yang melanda hatiku. Dave selalu saja jadi emergency calling dalam setiap keadaanku, bahkan sekarang dia rela cuti dari kuliahnya agar bisa mendampingiku di sini. Hati gadis normal mana yang tidak akan tertarik pada pria sempurna seperti dia. Satu-satunya pria selain papa yang memperhatikan setiap detail kehidupanku. Lihat saja bagaimana dia mengingatkanku untuk tidak lupa makan. Entah aku berlebihan atau tidak, yang pasti sejak kecil Dave adalah pangeran impianku.


Sedang asik melamun tentang Dave, tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah panggilan video l masuk dari nomor papi.


"Hallo pi."


"Hallo sayang, gimana kamu?"


"Pastinya aman dong pi. Kan ada Dave."


"Jangan bikin ulah ya nak. Nurut sama Dave."


"Siap bos."


"Ngomong-ngomong gimana? Apa kamu sudah memutuskan hal itu nak?"


"Pi.. Apa papi yakin mau donor sum-sum tulang? Apa nggak ada cara lain pi?" ujarku sedih.


"Tentu saja yakin sayang. Apa sih yang nggak buat keselamatan putri papi."


"Tapi pi.. gimana kalau.."

__ADS_1


"Jangan berpikiran sembarangan nak. Dokter sudah mengatakan tingkat keberhasilannya tinggi, dan Dave sendiri sudah menjelaskan segala sesuatunya ke kamu kan?"


"Iya sih pi. Tapi.."


"Papi nggak suka melihat putri papi tidak punya keyakinan begini. Sayang, percaya sama kami. Papi, Dave bahkan Dokter, semua akan melakukan yang terbaik buat kamu."


"Oke Pi, Noni setuju dengan satu syarat."


"Apa syaratnya sayang?"


"Bantu sahabat Noni menjadi seorang dokter di masa depan. Dia sangat cerdas pi. Tapi jangan sampai dia tahu kalau yang bantu dia keluarga kita pi."


"Maksud kamu temanmu yang biasa main kerumah kita?"


"Iya pi."


"Jangan khawatir. Semua akan papi lakukan untuk kebahagiaan kamu."


"Makasih papi. I love you."


"I love you too princess. Papi kembali kerja ya nak. Terimakasih masih mau bertahan hidup." Ucap Pak Heru, ayah Noni terharu.


Sambungan Video terputus, aku menghela nafas lega. Akhirnya masalah Cintya memiliki titik terang, setidaknya papa setuju untuk membantu dan merahasiakan identitas kami. Bukan karena aku sok malaikat, hanya saja aku benar-benar hapal perangai temanku itu, dia tidak mau memanfaatkan persahabatan kami untuk keuntungannya semata. Namun bagaimanapun Cintya harus memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik. Masa depannya mungkin akan jauh lebih panjang dibanding denganku yang sedang pesakitan ini. Akhirnya karena lelah berfikir, akupun terlelap.


"Noni.. Ni.. bangun.. Noni.. jangan menakuti saya." samar-samar kudengar seorang pria memanggil namaku, sementara lenganku bergoncang pelan.


"Noni... hei Noni.. open your eyes." pintanya lagi.


Dengan malas kubuka mataku perlahan, tubuhku terasa sangat lelah. Yah sejak mengidap penyakit ini aku memang menjadi lemah.


"Da..ve.." gumamku perlahan menyadari kehadiran pria yang kini duduk di tepi ranjang ku.


"Ya princess, cepat bangun. Sudah malam, you should take your dinner." ujarnya lembut, dia khawatir aku terlambat makan malam.


Lelaki ini sungguh memastikanku hidup dengan baik setiap saat. Lagi dan lagi dadaku berdebar kencang.


"Ayo Noni. Kamu harus makan. Atau saya suapin saja?"


"Makanannya kan di meja makan Dave."

__ADS_1


"Sebentar, Dave ambil ya sayang." ujarnya.


"Demi apapun kumohon, jantungku santai lah sedikit. Bukankah wajar dia memanggilku sayang? Aku ini hanya adiknya. Atau jangan-jangan dia juga ada rasa padaku? Bagaimana ini? Apakah aman membiarkannya berada di kamar ku?" Aku bergumam dihati, pikiranku kini sangat liar pergi kemana-mana dan jantungku semakin berdebar kencang.


"Noni, jangan bengong. Ayok makan, buka mulutnya... aaaa.." bujuk nya lagi sambil menyodorkan sendok berisi nasi ke mulutku.


"Katanya masih mau ngambilin makanan ke dapur. Ini kok ada di sini?"


"Bercanda Noni, tadi aku bawa sekalian naik. Soalnya kamu udah hampir telat makan malamnya. Buruan dimakan." Pintanya lembut sambil menyuapiku.


Aku memutuskan untuk berhenti protes dan melahap setiap suapan nya dengan senang hati. Kami berdua kini saling berdiam diri. Aku sibuk mengunyah makananku, dan memaki jantungku yang terus berdebar kencang. Sementara Dave, aku tidak tahu dia sedang memikirkan apa.


"Apa dia juga merasakan hal yang sama? Apa dia juga memikirkan ku?" tanyaku dalam hati.


 


\\*


 


Hari ini tepat seminggu semenjak pak Rudi memanggilku ke ruangan nya. Sesuai janjiku, bahwa hari ini akan kuberitahu keputusanku pada pak Rudi. Ku langkah kan kaki masuk ke dalam pintu gerbang SMA Karya Kasih, keringat di dahiku menetes perlahan membasahi pipi. Masih pagi hari dan aku sudah keringatan. Yah, mau gimana lagi toh angkot tidak pakai AC dan penumpang di dalamnya saling berdesak-desakan. Jadi sangat wajar jika penampilan seorang Cintya terlihat lusuh dan kucel.


Hari ini berjalan seperti biasa bagiku. Frisca dan geng dari kelasku yang sesekali mengeluarkan ocehan beracun mereka, tentu saja menggosipi banyak pihak, mulai dari artis papan atas, artis alay bahkan sampai George si idola sekolah dan aku tokoh the most unwanted di sini. Aku memilih mengabaikan mereka, biarkan saja toh hidupku tidak akan selamanya terkurung di SMA ini kan? Yang berbeda hari ini hanya Noni yang tidak masuk. Katanya sih dia rindu papa nya yang sedang dinas di Australia, jadi karena rindu gadis itu memutuskan terbang kesana dan cuti beberapa hari. Yah, orang kaya memang bebas.


Di jam istirahat pertama, aku menepati janjiku. Menemui pak Rudi di kantor guru. Setelah dipersilahkan duduk oleh beliau, aku langsung masuk ke topik pembicaraan, karena enggan berlama-lama menunda keputusan ini.


"Pak, saya sudah memutuskan. Saya tidak akan kuliah."


"Apa kamu yakin? Lalu mau jadi apa kamu, Ha?" beliau terlihat sangat kecewa dengan keputusanku.


Aku menundukkan kepalaku, mengecewakan orang lain adalah hal yang paling kuhindari.


"Tenang Cin, kamu hanya melihat kekecewaan di wajah pak Rudi. Setidaknya Papa, Mama dan Gio tidak akan kecewa dengan keputusanmu." ucapku dalam hati, mencoba meyakinkan diri.


"Cintya, lalu apa rencana kamu?"


"Saya, saya mau kerja pak." jawabku


Wajah Pak Rudi kini berubah tidak percaya. Yah, aku hanya tamat SMA dan memutuskan untuk bekerja bahkan menolak untuk didaftarkan oleh pihak sekolah untuk mengikuti jalur undangan, jurusan kedokteran lagi. Bukankah siswa lain malah sangat menginginkannya?

__ADS_1


Ada sinar kesedihan dan rasa khawatir yang kini terpancar di mata pak Rudi. Aku bisa merasakannya, dan jujur aku tidak nyaman dengan hal itu.


__ADS_2