
"Cin, gue bisa ngomong sebentar?" Suara pria yang dulu sangat akrab di telinga ku kini mengganggu momen pelukan antara aku dan Noni.
Kuangkat wajahku dari pundak Noni mencari arah suara itu.
"Loe selesain tuh cerita cinta yang belum kelar." bisik Noni sebelum melepaskan pelukan kami.
"George, gue titip sahabat terbaik gue nih." ujar Noni pada lelaki itu
"Loe mau kemana Non?"
"Kelas." jawabnya singkat sambil berlari menjauh menyisakan aku bersama George.
"Hi.." sapaku kaku.
jreng..jreng.. (Pria itu tiba-tiba memainkan gitarnya)
Aku melempar pandanganku jauh, enggan memandang lelaki itu.
"*Bintang berujar padaku,
mengajakku mengembara di langit tinggi...
Terbang mengalahkan burung,
Mendekap langit biru.
Bintang tersenyum kepadaku..
Berkisah tentang mimpi-mimpi yang indah..
Namun badai menghempasku jatuh
Menyisakan bintang yang menjadi hening dan sepi..
Yang ku tahu, bintang menipuku..
Tak ku tahu bahwa badai yang mebawaku.
Yang ku tahu bintang lukai hatiku..
Tanpa tahu bahwa akulah yang melukai hatiku..
Bintang dengarlah laguku,
Kuingin memohon maaf padamu.
Bila esok atau lusa masih ada waktu.
Sudikah kamu mengenang kisah yang kemarin*?
jreng..jreng..jreng.. George kini mengakhiri lagunya.
"Aku tidak memainkannya sejak kejadian itu." ujar George lirih.
"Ngapain loe nyari gue?" tanyaku ketus tanpa memandang wajahnya.
"Cin, suatu saat nanti kalau kamu udah nyelesain program specialis boleh nggak kita berteman lagi?"
"Sebelum itu kita tetap jadi orang asing? gitu maksud loe?"
"Cin, lagu tadi aku tulis buat kamu."
"Jangan, jangan pernah nulis apapun buat gue. Gue khawatir mama kamu nanti jatuh lagi."
"Cin, kalau kamu ngomong lihat wajah aku Cin."
"Buat apa? Lebih baik begini George. Gua udah nyaman sama hidup gue. Tolong jangan ganggu lagi."
"Tapi aku.." Ujarnya yang kini sudah duduk di hadapanku.
"Sorry gua buru-buru." ujarku sambil bangkit berdiri.
"Cin, please." mohon George meraih kedua tanganku. Posisinya kini berlutut tepat di hadapanku sambil tertunduk.
"Wei si lepek di lamar sama tuan tampan." kudengar suara anak-anak yang mulai mengomentari kami.
"Sial, posisi ini bisa mengundang kesalahpahaman lagi." gumamku dalam hati. Kuputuskan untuk kembali duduk dan memberi jarak dari posisi George.
"Maafin aku Cin. Please."
"Gue udah kok, dan tolonglah jangan buat gue disalahpahami sama orang satu sekolahan lagi."
__ADS_1
George melepaskan genggamannya mendengar perkataan ku.
"Maaf aku nggak bermaksud."
"Gue pergi dulu. Sukses terus buat loe." ujarku tulus sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Dulu di sana untuk pertama kalinya aku mendengar lagu yang ditulis pria itu, dan hari ini untuk terakhir kalinya kudengar lagi lagu lain.
"Cin, bintang di lagu tadi adalah kamu." teriak George padaku.
Aku mempercepat langkahku, meninggalkannya di sana. Tujuanku hanya satu, menemukan keberadaan Noni dan mengajaknya pulang. Dengan tergesa-gesa kumasuki ruangan kelas dan Noni tidak ada di sana. Aku berjalan ke arah parkiran, namun tidak juga kutemui mobilnya di sana.
"Cin.. loe nyari si Noni?" tanya salah satu cewe dari kelasku.
"Iya. loe lihat dia nggak?"
"Dia tadi pingsan Cin. Terus langsung dibawa naik mobil sama cowo bule."
"APA? makasih buat info loe. Btw, sampai jumpa lain waktu." ujarku sambil menjabat tangan gadis itu.
Setengah berlari aku keluar dari gerbang sekolah, mencari angkot menuju rumah. Bagaimanapun sebelum mengunjungi Noni aku harus mengganti pakaianku dan meminta izin dari rumah, setidaknya pada Adikku. Aku tidak ingin papa dan mama khawatir.
\*\*\*
"Gi..Gi..Giordani.." aku memasuki rumah sambil berteriak-teriak.
"Apaan sih kak? kayak orang kebakaran aja teriak-teriak gitu."
"Kakak pinjam hp."
"Nih.." ujarnya sambil menyerahkan ponselnya padaku.
"Makanya kakak, jangan sok jual mahal nggak mau pakai hp. Suatu saat ada masalah genting kan gini."
Aku mengabaikan omelan Giordani dan langsung menghubungi nomor Noni.
"Halo" suara pria di seberang sana menyapa. Aku yakin dia Dave.
"Dave, gimana Noni?"
"Kita belum tahu. Dokter sedang memeriksanya."
"Rumah sakit?"
"Iya."
"Hati-hati di jalan."
"Ruangan apa?"
"ICU?"
deg..jantungku berdetak kencang mendengar jawaban Dave barusan. Bukankah Noni hanya pingsan biasa?
"bye Dave." ujarku sebelum memutus sambungan telepon.
"Dek, gue mau kerumah sakit."
"Loh, siapa yang sakit kak?" Tanya adikku serius.
"Nino."
"Tolong kirim pesan ke papa mama ya dek, bantu gue minta izin." pintaku buru-buru.
"Sip.. Ganti baju dulu kak."
"Iya.. ini gua mau kekamar." jawabku sambil menyerahkan ponselnya.
Aku berlari kekamar. Sesampainya di sana ku ganti bajuku dan kupecahkan celenganku. Aku butuh uang untuk pergi ke rumah sakit. Dengan tergesa-gesa aku mengisi perutku yang lapar, sebelum pergi dari rumah.
\*\*\*
Akhirnya aku menghirup aroma rumah sakit, aku bahkan lupa menghitung berapa jumlah uang di dalam celengan ku tadi. Semuanya langsung ku masuk kan kedalam swing bag yang kini kubawa.
"Mbak, pasien dengan nama Noni Andrea ada di ruangan apa?" tanyaku pada resepsionis.
"Anggrek 3 mbak." jawabnya setelah beberapa saat memeriksa layar komputernya.
"Makasih mbak."
Aku langsung berlalu dari meja informasi dan mencari ruangan Noni. Setelah naik lift ke lantai 11 dan berjalan beberapa saat aku melihat sebuah ruangan dengan label "anggrek 3" di pintunya.
__ADS_1
Aku memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Noni sedang terbaring di sana, bersama Dave yang kini memandanginya penuh rasa khawatir.
"Dave" bisikku pelan.
"Hei Cintya. You coming?" tanyanya lesu.
"How is she?"
"Kita belum tahu. Dokter sedang discuss dengan om dan tante."
"Apakah serius?"
"Semoga saja tidak."
"Apakah dia udah sadar sejak tadi?"
"Kenapa bertanya begitu?"
" kalau dia memang baik-baik aja harusnya sekarang dia lagi tidur, bukan pingsan kan?"
"Dia tidur." jawab Dave berbohong.
"Mau minum sesuatu?" tanyaku menyadari kegugupan di wajah Dave.
"Apakah pria ini begini gugup karena perasaan cintanya pada Noni? beruntung banget sih loe Non dapat cowok setia kayak gini." batinku. Ingin rasanya kucubit pipi temanku itu hingga dia bangun.
"Air mineral should be okay." ujar Dave menyadarkan ku dari lamunanku.
"Oke just wait." ucapku sebelum undur diri dari ruangan itu.
Aku melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Mencari mesin yang menjual air minum. Setelah melangkah cukup jauh aku menemukannya. Segera ku masuk kan beberapa lembar uang ke mesin itu. Setelah mendapatkan tiga botol air mineral aku bergegas kembali ke kamar Noni. Beberapa meter di depanku kulihat kedua orang tua Noni keluar dari sebuah ruangan.
Aku mempercepat langkahku, menyusul mereka.
"Om, Tante." sapaku pelan saat menyeimbangkan langkah kakiku dengan mereka.
"Cintya?" tegur mama Noni.
"Iya tan."
Kami bertiga kembali kekamar Noni. Dalam keheningan, aku merasa ada yang tidak beres di sini. Aku memasuki kamar itu disambut oleh wajah penuh tanya milik Dave.
"This is your water." ujarku menyodorkan sebotol air padanya.
"Thank you, how about that?" tanyanya sambil menunjuk dua botol yang tersisa di tanganku.
"Buat om dan tante." ujarku.
"Makasih Cintya, kamu sungguh perhatian ternyata." ujar ayah Noni.
"sama-sama on. Ini tan, om diminum dulu." aku meletakkan kedua botol itu di salah satu meja di ruangan Noni.
Tante segera meraih salah satu botol itu, sementara aku sibuk memandangi alat yang kini terpasang ditubuh Noni.
"Kenapa dia butuh monitor itu?" gumamku pelan.
"Dave, ayok bicara sebentar." ajak Ayah Noni.
Kedua pria itu langsung berlalu meninggalkan ruangan yang kini di huni oleh aku dan Noni.
"Tante, Noni baik-baik saja kan?"
Aku melangkah mendekati tante yang sedang duduk di sofa, sambil menanyakan keraguan ku.
"Kita semua maunya begitu sayang." ucaomya lemah.
Tatapan wanita itu kini penuh keraguan dan kesedihan. Tapi aku belum cukup dewasa untuk memahaminya. Tanpa pikir panjang aku segera memeluk ibu satu anak ini.
"Thank you Cinta." bisiknya perlahan.
"Kok tante tau?" tanyaku sambil memandang wajahnya.
"Apa sih yang nggak tante tau soal kamu dan Noni." ucapnya sambil kembali membawaku kedalam pelukan.
**Pengumuman:
Apakah ceritanya kurang romantis?
Maaf ya jika terasa begitu lambat alurnya masuk ke scene romantis. Author hanya ingin menuliskan kisah ini dengan lebih real. Kan di masa SMA nggak semua orang dapat first kist nya, dan nggak semua orang dapat pujaan hatinya. Meskipun begitu, author harap readers menikmati kisah ini. Anyway, author tetap butuh vote, like, dan komentar yang sangat banyak dari kalian di novel ini.
Terimakasih gais..
__ADS_1
-Best**-