CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Dilamar


__ADS_3

Dengan gerakan cepat dan histeris kubuka selimut yang menyelimuti tubuhku. Dan kini aku sedang melotot memandang tubuhku sendiri.


"Apa yang kau pikirkan Cin?" tanya Dave menyadarkan ku.


"Syukurlah." ujarku pelan menyadari pakaianku masih utuh.


"Syukur buat apa? oh itu, aku memakaikannya kembali." ujar Dave santai.


"Kau? Apa maksudmu?" tanyaku histeris.


"Jangan teriak-teriak Cintya."


"Kenapa kau membawaku kesini? Apa yang sudah kau lakukan padaku? Tempat apa ini?" tanyaku setengah menangis.


"Aku membawamu kesini, sesuai saranmu. Aku melakukan seperti yang kamu mau. Dan ini di kamarku." Jawabnya santai.


"Bodoh... Apa-apaan kamu? Apa kamu bisa bertanggung jawab dengan kelakuan mu ini?". tanyaku kesal.


"hallo... Di sini sudah pagi, aku baru bangun. Ada Cintya juga." ujar Dave pada layar ponselnya tanpa menghiraukan pertanyaan ku.


"Cintyaaaaaa...." pekik gadis yang kini muncul di layar ponsel.


"Noni..." jawabku tak kalah senang.


"Kamu baru bangun? Tidur sama Dave? Astaga Cin.." Noni membekap mulutnya kelihatan sangat terkejut.


"Non... itu.. mm... aku... nggak begitu..."


"Sudah la Cintya, mengaku saja. Dia berhasil menaklukkan hatimu yang dingin itu juga kan?" tanya Noni antusias.


"Bukan begitu, tapi kamu kan... Tunggu aku akan mengirim pesan padamu" jawabku kemudian.


Cintya


Bukannya kamu mencintai Dave?


Noni


Tidak lagi, sejak Andrew datang aku rasa perasaanku pada Dave hanya sebatas kekaguman adik pada kakaknya.


Cyntia


Aku bertemu Andrew.


Noni


Jangan membahasnya lagi, aku ingin melupakannya saja.


"Kenapa?" tanyaku pada layar ponsel Dave sambil menyimpan ponselku.


"Aku ingin memulai lembaran baru di sini."


"Maksudmu dengan Steve?" tanyaku.


Dave langsung menempel padaku begitu mendengar nama Steve.


"Kau dan Steve membuat kemajuan? Sejauh apa?" tanya Dave tak kalah antusias.


"Tidak sejauh kalian berdua kak." ledek Noni dan berhasil membuat pipiku terasa panas.


"Dave pergilah, ini percakapan antara sesama wanita." protes ku.


"Kapan pernikahan kalian? Jangan ditunda-tunda, apalagi sudah sampai sejauh ini." ujar Noni.


Aku mengeryit bingung dengan kalimatnya. Apa katanya tadi? Pernikahan?


"Om dan Tante sudah mengatur semuanya, tenang saja." ujar Dave santai.


Aku semakin tidak mengerti arah percakapan ini. Ada apa sebenarnya? Pernikahan siapa? Dave? Dave dengan siapa? Denganku? Sejak kapan kami akan menikah? Memory terakhir ku tentang Dave adalah Cafe ditambah pertemuan kami dengan George dan Andrew, diakhiri pertikaian di mobilnya. Kenapa sekarang malah membahas pernikahan.


"Cin, jangan melamun dong. Maaf ya, gue nggak bisa hadir di acara kamu nanti."


Aku hanya bisa bengong tanpa kata mendengar kalimat Noni.

__ADS_1


"Kak, Cin, udahan dulu ya. Gue mau ke kamar mandi nih." ujar Noni lucu.


"Oh... iya..iya." Jawabku bingung.


Setelah layar ponsel Dave padam, aku memandangnya dengan penuh tanya.


"Kan kamu minta aku bertanggung jawab. Ya sudah, kita menikah saja." jawab Dave santai.


"Astaga... Maksudnya apa? Apa yang kamu lakukan padaku semalamam Dave?"


"Kamu tidak mengingatnya?"


"Jangan membuatku bingung Dave." kini aku sudah menyerangnya dengan melempar bantal kearahnya.


"Ikuti alurnya aja Cin. Setidaknya kamu tidak rugi apa-apa kan selama aku bertanggung jawab."


"Dasar gila. Cowok aneh. Awas aja kamu ya." omelku sambil beranjak dan berlari kearahnya.


"au...ah... ampun.. ampun Cin." pinta Dave yang kewalahan dengan cubitanku di pinggangnya.


"DAVE...!!!" tiba-tiba pria itu berlari masuk ke kamar mandi, menyisakan aku yang masih bingung dengan semua ini.


\*\*\*


Dave kini mengantar ku pulang, tanpa penjelasan apa-apa. Kalian harus ingat, tanpa penjelasan apa-apa.


Pria itu memilih mengajakku mampir disalah satu butik.


"Kita mau ngapain Dave?"


"Udah nurut aja."


"Sejak kapan kamu pemaksa begini?"


"Sejak kamu banyak tanya."


"DAVE..!!!"


Aku mendengus kesal dan akhirnya hanya menurut. Setelah mengganti bajuku dengan dress berwarna cream yang cantik dan mahal, kini aku dan Dave kembali ke mobil. Lengkap dengan Dave yang juga sudah mengenakan jas hitam, dan kemeja berwarna senada dengan dress ku.


"Dia terlihat tampan dan gagah, sayangnya sangat menyebalkan." ledekku dalam hati.


"Kita mau kemana?" tanyaku penasaran.


"Pulang kerumahmu."


"Lalu kenapa harus dengan pakaian seperti ini?"


"Kasian sekali ya, sayang wajahmu sedang iritasi jadi nggak bisa pakai riasan." ujar Dave tanpa memjawab pertanyaan ku.


"Terserah kau saja." jawabku yang kini tengah kesal.


\*\*\*


Setibanya di rumah, aku langsung menerobos masuk menuju kamarku.


"Cintya." panggil mama dari ruang tamu.


"Mama?" tanyaku gugup menyadari aku yang tak pulang sepanjang malam.


"Apa mama akan marah?" tanyaku dalam hati.


"Ma... eh, ada Om dan Tante juga." ujarku menyadari kehadiran orang tua Noni.


"Bukan om dan tante sayang. Tapi papi dan mami, kamu harus terbiasa dengan panggilan itu." jawab Ibu Noni lembut.


Aku langsung menyalam tangan ketiga orang tua itu.


"Jadi gimana mbak? tanggalnya sudah cocok kan?' tanya Ibu Noni pada mama.


"Iya sudah mbak. Gimana baiknya saja. Tapi, Dave apa kamu yakin mencintai putri saya hingga melamarnya secepat ini?" tanya mama penuh selidik.


"What? Apa ma? Cinta? Lamaran? aku sedang mimpi kan?" geramku gemas dalam hati.

__ADS_1


"Tentu saja tante."


"Tapi bagaimama jika Cintya belum siap?"


"Saya tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan saya tante."


"Perbuatan apa?" tanyaku penasaran.


"Ini ada apa sih ma?" aku mulai cemas dengan semua kejadian ini.


"Sudahlah ndok, kamu nurut aja ya. Semalaman juga kamu keluar dengan Dave kan? Kamu ini perempuan Cin. Sudah syukur Dave mau langsung menikahi kamu." ujar mama pelan.


"Maaf ma. Tapi Cintya nggak ngapa-ngapain ma sama Dave." ujarku pelan.


"Kamu yakin?"


"Iya ma." jawabku pelan sambil membohongi hatiku sendiri, aku saja tidak yakin tidak terjadi apa-apa diantara kami. Kalian paham maksudku kan? Saat seorang gadis dan pria dewasa tidur satu ranjang dan saling berpelukan? Apa kalian juga memikirkan hal yang sama?


"Okay, mama percaya sama kamu. Tapi, tetap aja karena kamu sudah terlanjur pergi sama Dave lebih baik kalian menikah saja."


"Astaga mama, ini pernikahan lo ma. Bukan acara bagi permen, soal siapa yang dijatah dan siapa yang enggak." protes ku dalam hati.


"Mama mu benar Cintya, lebih bagus kalian segera menikah. Dengan begitu Dave akan lebih leluasa untuk menjaga kamu." ujar Ibu Noni.


"Tapi tan... eh Mi..."


"Nggak ada tapi-tapian lagi. Karena Mami dan Papi harus kembali ke US buat jaga Noni dan Dave juga harus fokus dengan urusan perusahaan di sini, pernikahan kita adakan hari Rabu ini."


"What? tiga hari lagi?" tanyaku dengan wajah terkejut.


Sepertinya tidak seorangpun diruangan ini peduli dengan perasaanku. Dan Dave, kenapa dia hanya tenang-tenang saja? Apa dia yakin dengan pernikahan ini? Astaga, ada apa sebenarnya? Ini semua hanya mimpi kan? Readers, bangunin gue dong.


"Deal." jawab Dave santai.


"Kalau begitu, kita langsung makan siang aja yuk." saran Mama. Dan mereka semua beranjak ke meja makan, menyisakan aku dan Dave di ruang keluarga.


"Jelasin semuanya." pintaku pada Dave.


"Kita akan menikah Cintya."


"Tapi kita nggak saling mencintai Dave."


"Sudahlah, jangan membahasnya sekarang."


"Apa kau menjebakku?" tanyaku penasaran.


"Tidak ada penjebak yang berniat bertanggung jawab."


"Lalu kau mencintaiku, begitu? Jangan berbohong Dave."


"Okey, kamu tidak mencintaimu dan aku tidak mencintaimu. Tapi kita akan segera menikah."


"Omong kosong."


"Apanya?"


"Semua ini dodol.".


"Dimana sopan santun mu Cintya?"


"Peduli amat."


"Anggap saja kita dijodohkan. Apa susahnya?" ujar Dave sambil berlalu menyusul para orang tua makan siang.


Aku hanya menatap kepergiannya dengan tatapan lesu. Semua yang terjadi hari ini terlalu random dan mengejutkan. Aku sama sekali tidak bisa mencerna semuanya. Kenapa aku tiba-tiba di kamar Dave dan harus menikah dengan pria menyebalkan ini?


"Jangan melamun, mentang-mentang bentar lagu jadi manten." ledek adikku.


"Gio...." ucapku lesu.


"Selamat ya kak, gue doain loe bahagia tujuh turunan." ujar Giordani.


Aku menatap adikku dengan emosi yang berantakan. Jadi semua ini nyata?

__ADS_1


__ADS_2