
"Yah, siapa tau loe sakit hati sama kakak **** gue."
"Sakit hati?"
Aku melepaskan pelukan Noni.
"Sudah, jangan mikir begitu ah. Mana mungkin gue sakit hati sama hal begituan? Temani gue ambil tas kekamar loe yok."
"Makasih Cinta. Yok."
Aku dan Noni kembali berjalan menuju kamarnya. Setelah mengambil barang-barangku dari kamar Noni, gadis itu mengantar ku sampai kehalaman depan rumahnya dan meminta pada Pak Jony, supir pribadinya untuk mengantar ku pulang. Masalah ucapan Dave tadi, yah mau bagaimana lagi? Toh aku memang berpenampilan kucel dan dekil. Kalaupun harus sakit hati, kurasa aku tidak pantas untuk itu. Walau sesungguhnya Dave sendiri tidak seharusnya menilai orang lain dengan cara rendahan seperti itu. Tapi setidaknya aku nggak merasa kalau aku lebih rendah dari dia. Abaikan saja, semoga besok lusa tidak bertemu pria itu lagi.
"Non Cinta, sudah sampai Non."
"Eh. iya.. Makasih ya pak."
"Sama-sama Non."
"Bapak hati-hati nyetirnya ya pak."
"Siap Non."
Setelah menurunkan ku tepat di depan rumah, Pak Jony berlalu dengan mobil milik Noni, sambil tersenyum ramah.
"Loe dari mana kak?"
"Rumah teman."
"oh, tadi gue udah bantu beresin piring kotor. Loe langsung masak gih, lapar nih."
Baru saja aku tiba diruang keluarga, namun sudah disambut dengan permintaan adikku Giordani.
"Iya deh."
"Kuliah mu gimana kak? Jadi daftar kan?"
"Belum tau dek. Nggak usah bahas itu dong. katanya loe lapar, kakak masak bentar ya."
"Sia bos."
Aku berlalu meninggalkan Giordani yang asik menonton tv. Rumah kami memang tergolong kategori berukuran besar, walau tidak sebesar dan semewah milik keluarga Noni. Semua perabotan di dalam rumah ini adalah perabot standar, mama sengaja membeli yang baru dengan mencicil satu persatu setelah menjual semua perabotan yang lama. Keluargaku memang begini adanya, namun aku bangga memiliki keluargaku kini.
\*\*\*
Dave POV
"Halo Dave.."
"Iya pa."
"om bukan Papa. Kamu jangan sembarangan manggil Papa."
__ADS_1
Pria itu selalu protes setiap kali kupanggil dia dengan sebutan papa. Katanya khawatir kalau orang berpikir aku ini anak dari simpanannya. Om ku memang lucu. Tapi untuk masalah keluarganya, dia manusia paling serius yang pernah kutemui.
"oh Iya Om."
"Gimana Noni?"
"Dia baik-baik saja Om."
"Anak itu sudah di rumah kan?"
"Dave belum check om."
"Please, pastikan dia udah dirumah. Memangnya kamu sibuk ngapain aja dari tadi?"
"Om, about diagnosa dokter kemarin.."
"No. Jangan buat om khawatir. Kita harus percaya diri bahwa semua akan baik-baik saja. Tolonglah, kamu jangan buat om makin takut."
"Yasudah. Om jaga diri di sana, masalah Noni saya coba cari dia dulu."
"Makasih nak."
"Sama-sama om."
Beliau akhirnya memutuskan sambungan telepon. Sesuai janjiku, aku melangkah meninggalkan kamar dan mencari keberadaan Noni ke kamarnya, namun gadis itu tidak ada dikamar. Akhirnya kuputuskan untuk memeriksa ke ruang baca.
"Mungkin dia sedang mengerjakan homework." batinku.
"ah..****. Who is she?" batinku.
Aku memang tidak suka barang-barangku di sentuh oleh orang asing. Noni tentu saja pengecualian, dia adikku satu-satunya. Walau tidak ada pertalian darah diantara kami, namun bahkan sebelum anak itu lahir dia sudah menjadi adikku.
Seperti menangkap seorang pencuri aku menyergap gadis itu. Sungguh aku sangat terganggu dengan kehadirannya. Bukan hanya karena dia menyentuh koleksi buku-bukuku. Namun juga penampilannya yang kucel membuatku merasa enggan dengan kehadirannya.
Akhirnya aku menyeret dia keluar. Tapi, tiba-tiba adik kecilku muncul. Aku semakin khawatir, memikirkan bagaimana Noni bisa berteman dengan gadis kumuh ini. Aku hanya khawatir pada adikku. Dan ternyata Noni memilih membela gadis itu dan membawanya pergi dari hadapanku.
"Apa hebatnya dia?" gumamku kesal setelah kedua bocah itu berlalu meninggalkan ku di lantai 3, tepatnya di depan pintu ruang baca.
\*\*\*
Sudah dua hari sejak pertemuanku dengan gadis itu. Noni belum juga mau berbicara denganku. Gadis kecil itu benar-benar merajuk. Om dan tante orang tua Noni masih di luar kota. Sementara aku harus memastikan gadis ini mengonsumsi makanan sehat setiap hari. Syukurlah dia selalu membawa bekal yang disiapkan bibi. Hari ini aku putuskan untuk berbicara dengan Noni. Bagaimanapun, masa cuti ku ini adalah untuk menyelamatkan gadis itu. Aku tidak ingin kehilangan lagi keluarga lagi. Kepergian papa dan mamaku cukup menyakitkan.
Di sinilah aku sekarang, parkiran sekolah tempat Noni menimba ilmu. Menggantikan pak Jony, supir gadis itu. Kulihat Noni dab gadis itu berjalan mendekat ke arah mobil.
"Dia lagi." batinku kesal.
Untungnya setelah saling melambaikan tangan, kedua gadis abg itu berpisah. Noni langsung masuk ke kursi belakang mobil.
"Duduk di depan."
"Ngapain sih loe bawa mobil gue?"
__ADS_1
"Noni, please."
"Jalan ya jalan aja sih. Atau gue naik angkot sekalian?"
Aku memilih mengalah, dan langsung menyalakan mobil. Kini mobil yang kukendarai sedang membelah kemacetan kota.
"Loe kalau memang gak tau jalan alternatif, ngapain pakai acara jemput-jemput gue?"
Noni yang masih marah padaku, kini semakin kesal karena kami terjebak oleh macet.
"Maaf Ni."
Gadis itu tidak merespon permintaan maaf ku. Dia malah memilih asik bermain ponsel..
"Saya juga minta maaf sudah marah-marah sama teman kamu." Kuputuskan untuk mengalah, aku tidak ingin perang dingin antara kami terus berlanjut.
"Dave, loe nggak tau aja dia itu siapa."
"Iya maaf Ni. Kan saya begitu juga karena khawatir sama kamu. Belum lagi kondisi kamu yang begini."
"Iya. Gue tau, gue cuman bisa ngerepotin loe, mama dan papa. Sudah ah, nggak usah dibahas sampai bawa-bawa kondisi gue juga kali Dave." Ujar Noni di sela isakannya.
Gadis ini, semakin hari semakin sensitif. Padahal tujuan utama kami memberitahu kebenaran akan kondisinya pada Noni tentu saja agar dia mau bekerjasama dalam proses pengobatan. Tapi ternyata kami salah, Noni berubah jadi sensitif sejak 3 bulan lalu divonis mengidap kanker darah.
"Iya maaf Ni. Jangan nangis lagi. Dave yang salah." Bujukku sambil menoleh kebelakang. Untung saja jalanan sedang macet begini. Kalau tidak bagaiaman aku akan menenangkan gadis ini?
"Gue bakal maafin loe, tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
"Sini, gue mau wishper ke telinga kamu, biar nyamuk nggak dengar."
Aku tersenyum dengan candaan adikku yang kini kembali.
"Ini telinga Dave, mau ngasih tahu apa?"
"Dave syaratnya, ...."
"APA????"
Aku sungguh terkejut dengan syarat yang diajukan oleh Noni padaku. Tidak menyangka, adik kecilku ini justru sedang menjebakku sekarang.
"Kalau nggak mau yaudah, jauh-jauh dari gue."
"Kasih gue kesempatan buat mempertimbangkan syarat ini."
"Oke, jangan lama-lama. Keburu gue mati, ntar."
"Jangan bicara sembarangan."
"Sekalipun gue meninggal, syarat ini tetap masih berlaku ya Dave. Tolong loe ingat itu."
__ADS_1
Noni...Noni, adik kecilku yang selama beberapa bulan terakhir berubah menjadi beban terberat dalam hidup ini. Ternyata dia ingin menyiksaku seumur hidup. Astaga, bagaimana ini?