
"Kalau kau di sini, bagaimana aku menghancurkan keluarga itu? Setidaknya tanpa keberadaanmu dikampus, aku akan lebih leluasa membuatnya keluar dari tempat itu." batin wanita itu.
\*\*\*
Aku mengerjap perlahan, mencoba menyesuaikan intensitas cahaya yang menyapa retinaku.
"Aku dimana?" gumamku pelan menahan rasa nyeri di kepalaku.
"Kau sudah bangun?" tanya suara yang sangat akrab dengan ingatanku.
"Dave?" aku bertanya lirih karena tidak dapat melihat wajahnya.
"Ya... Kau sudah bangun? Ada yang sakit? Bagian mana?" serang nya sambil duduk di sisi tempat tidur.
"Aku merasa pusing." menjawab lemah sebelum kembali memejamkan mataku.
"Istirahatlah, kau hanya kelelahan karena berjemur di bawah matahari." jawab pria itu, samar-samar aku merasakan gerakan lembut yang mendarat di puncak kepalaku, Dave sedang mengelus kepalaku membuat rasa tenang dan nyaman kini kembali menyerang.
\*\*\*
"Cintya... bangunlah, kau harus makan." Dave menggoncang tubuh sang istri yang tengah lelap di alam mimpi.
"Hmmmmmh..." gadis itu bergulung halus di bawah selimut sebelum membuka matanya.
\*\*\*
"Kau bisa duduk?" tanya Dave padaku yang masih setengah sadar.
"Aku bisa." menjawab lemah sambil berusaha duduk tanpa bantuannya.
"Makanlah, kau butuh energi agar cepat pulih." Pria itu menyerahkan makanan padaku.
"Apa aku sakit?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.
"Suhu tubuh sampai 39°C dan mengigau sepanjang waktu, tentu saja kau sakit." jawab Dave yang kini malah sudah duduk di sofa.
"Dasar pria tidak perhatian." Aku mengomel dalam hati melihat aksinya yang kini malah asik dengan ponsel di sana.
"Bagaimana aku bisa pulang kerumah?" setelah memutar ulang kejadian hari ini di dalam kepalaku akhirnya aku penasaran akan jawaban di balik pertanyaan ini.
"Apa kau tidak tahu kata takut?" Dave bertanya dingin sambil menatapku tajam.
"Apa maksudmu? jangan menatapku begitu."
"Kau ternyata masih punya tenaga untuk berdebat." Dave masih menatapku dengan tatapan tajam dan dingin.
"Kau ini tidak sadar kalau kau perempuan? Di luar sana ada banyak bahaya. Bagaimana jika tadi aku terlambat? Apa yang akan terjadi padamu?" Dave.
__ADS_1
"Aku malas berdebat denganmu, jangan bicara padaku, sampai aku memulai berbicara denganmu." jawabku sambil fokus pada makananku.
"Aku tidak tertarik berbicara denganmu." jawab Dave setengah berteriak sambil menyalakan TV.
"Dasar pria arogan. kusumpahi kau impotent." Aku mengumpatinya dalam hati sambil komat-kamit.
"Ah... kenapa aku merasa ruangan ini sangat dingin? Apa AC nya rusak?" Dave bergegas memeriksa AC di kamar.
\*\*\*
"Yes.... Gue libur...!" Aku bersorak gembira sambil bangkit dari posisi tidur dan asik melompat di atas tempat tidur yang empuk.
"Cintya jangan berisik!!!" sebuah bantal melayang tepat mengenai wajahku.
Aku memandang wajah Dave yang masih tertidur di atas tempat tidur dengan wajah cemberut. Sebuah ide cemerlang melintas di kepalaku. Dan tentu saja ide ini harus segera di eksekusi.
"Yeyy.... akhirnya gue libur. Akhirnya gue libur.. World... Tau nggak gue lagi libur nih." aku melompat kesana kemari dan berteriak sekeras mungkin.
Tempat tidur yang menopang tubuh ngantuk Dave, kini bergoyang hebat karena lompatanku.
"Cintya... jangan berisik...!!!" Pria itu berteriak sambil menutup telinganya dengan bantal.
Karena dia memintaku untuk tidak berisik aku akan berbaik hati dan menghilangkan volume suaraku. Namun tidak dengan lompatanku diatas ranjang super empuk ini. Aku ingin mengguncang dunia pria menyebalkan bernama Dave.
"Astaga, bagaimana dia bisa punyavenergi untuk melompat kesana kemari? Padahal sampai jam 4 pagi tadi aku masih terjaga untuk mengompres demamnya. Dasar gadis aneh." Dave mengumpat dalam hati.
"Cintya...." Dave menggeram dalam.
"Kau bisa melompat di taman atau di atas sofa. Jangan di sini. Aku masih sangat mengantuk." ujar Dave tanpa membuka mata.
"Dasar pemalas. Kau harus bangun Dave matahari sudah tinggi." Aku menarik selimut yang membungkus tubuhnya kasar.
"Cintya....!!!" Pria itu langsung duduk di atas tempat tidur dan menatapku tajam.
"Astaga... Apa-apaan dia tidur dengan bertelanjang dada? Dikira gue akan tertarik dengan otot-ototnya itu? Tapi, iya juga sih. Ini pertama kalinya gue lihat pria kotak-kotak, wah kalau di pukul dada dan perutnya keras nggak ya? Jadi pengen nyoba nih." otakku mulai mencari ide untuk mengerjai si Dave.
"Apa lihat-lihat? Tertarik?" suara Dave si menyebalkan menyadarkan ku dari imajinasi jahat tadi.
"Emang boleh?" tanyaku santai.
"Wah... ge-er nih dia... hehehehe..." Aku terkekeh dalam hati mengamati wajah Dave yang berubah kikuk.
Dengan gerakan cepat aku duduk di depan Dave dan menggerakkan tangan untuk memukul perutnya yang kotak-kotak.
-Deg...deg..deg..deg...deg...-
"Kau sedang apa?" protes ku pada Dave yang kini malah membawa tubuhku ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Mau ngapain tadi?" bisik Dave tepat di telingaku.
"Astaga, gimana nih? Kok dia bisa bergerak lebih cepat dari gue? Ini jantung juga pakai acara berdebar kencang lagi. Apa ini efek gue sakit kemarin?" Tanyaku dalam hati saat merasakan nafas yang mulai sesak.
"Keenakan?" pertanyaan Dave menyadarkanku.
"Dasar menyebalkan." jawabku sambil mendorong tubuh pria itu.
"Kamu mau mukul perut aku kan tadi? Kasian banget malah aku yang bergerak lebih cepat. Cintya... Cintya... Lucu banget sih jadi orang. Astaga, jantungku kok nggak berhenti berdebar begini ya? Apa karena sepanjang malam harus bangun dan jagain si cerewet ini? Pasti ini efek samping dari kelelahan. Aku harus istirahat dengan benar hari ini." Dave bergumam dalam hati sambil memandang Cintya yang menghilang dengan kikuk di balik pintu kamar mandi.
\*\*\*
Saat sarapan pagi ini, Dave sudah menjelaskan kejadian di jalan raya kemarin padaku. Tentang bagaimana dia menemukan ku dan bagaimana aku bisa pulang kerumah. Syukurlah, setidaknya pria jahat itu belum melakukan hal-hal buruk padaku. Tapi tetap saja menyebalkan, karena akhirnya si Dave mulai berani membuat peraturan yang aneh-aneh.
"Pokoknya kamu nggak boleh keluar kalau nggak diantar sama supir." titah Dave sambil fokus memandang TV.
"Ayok lah Dave, lagipula ini sedang libur semester. Aku ingin mengeksplorasi diriku, kemampuan ku." Merengek berharap Dave akan pilih dengan mode manja ku.
"Sekali tidak tetap tidak Cintya. Lebih baik kamu diam di rumah. Ada banyak buku di ruang baca. Apa kamu tidak berniat menyelesaikan kuliahmu?" pria itu bertanya dengan galak tanpa memandang ke arahku.
"Tapi Dave, inikan libur? Apa hubungannya dengan kuliah? Apa salahnya aku cari kerja selama libur beberapa minggu ini?" protes tak bisa terima dengan titah sang suami.
"Cintya... di rumah ini yang jadi suami siapa sebenarnya? Saya atau kamu?" Dave kini menatapku dengan tatapan tajam.
"Dave...." aku tidak berdaya untuk membantahnya lagi.
"Dasar suami arrogant. Awas aja nanti..." Aku kembali mengumpat dalam hati.
"God... liburan gue bakal aneh kalau harus 24 jam bersama cowok nyebelin ini." masih dalam hati.
"Gak usah manyun-manyun plus ngatain saya dalam hati." ujar Dave dingin sebelum kembali fokus pada tayangan TV.
"Ini suami atau apa sih? Diktator banget." protes ku lagi.
\*\*\*
Di tempat lain, sebuah keluarga sedang berunding di ruang tamu.
"Pa, keputusan mama sudah mutlak. George harus berangkat ke US. Kamu George, jangan cari-cari alasan buat ngebantah mama. Disana ada kakak kamu yang bisa ngurus kamu." ujar wanita itu.
"Kamu ikutin kata mama saja Goerge." Sang ayah menimpali.
George menatap kedua orang tuanya bergantian dengan tatapan frustasi.
"Ma, Pa, sampai kapan aku jadi boneka kalian?" batin Goerge bertanya lirih dan pilu.
Author POV
__ADS_1
Guys, ayok semangatin aku. Kasih vote, komen dan like yang banyak. thanks
-best-