CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Perasaan Noni


__ADS_3

"Cintya? Kenapa dia diam begini? Suasananya mendadak jadi horor nih." Dave memandang tubuh Cintya yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan perasaan bingung.


\*\*\*


Author POV on


Cintya keluar dari ruang ganti dan memandang bucket bunga yang terletak di atas meja.


"Jangan berharap berlebihan Cin, ntar loe sakit. Lagipula Dave nggak mungkin perhatian sama loe. Sadar dong Cin, dia itu pria paling menyebalkan di bumi ini." Cintya mengomel pada diri sendiri di dalam hati. Dia memilih tak menggubris baik Dave yang sedang belajar di sofa, maupun bunga di meja.


Cintya malah memilih naik ke atas tempat tidur dan menegangkan tubuhnya.


"Cintya ayok makan." ajak Dave tanpa menyinggung masalah bunga.


Tanpa menjawab, Cintya memutuskan melangkah keluar dari kamar, mendahului sang suami.


Di meja makan keduanya fokus dengan makanan di piring masing-masing. Tanpa suara.


"Nah, dia aja nggak nyinggung masalah bunga. Artinya memang nggak berniat ngasih kan dari awal?" Cintya mengunyah makanannya sambil bermonolog dalam hati.


"Cintya kenapa nggak mau nyentuh bunga itu ya? Ini pasti ai Noni sengaja ngerjain saya. Awas aja kamu ya Noni." Dave mengomel dalam hati.


"Ah, lagian kenapa juga harus mikirin itu? Apa iya aku peduli dengan hal-hal yang di sukai Cintya? Tidak-tidak, aku sama sekali tidak peduli." Dave


"Dasar pria nyebelin. Udah tahu nyebelin, ngapain coba sok-sok manis bawa bunga? Pengen buat gue salah paham? Pengen buat gue baper? Makan tuh bunga loe." Cintya masih protes di dalam hatinya sambil mengunyah.


"Dasar gadis cerewet. Gimana ya caranya menjinakkan kecerewetanmu? Bukan berarti aku naksir padamu seperti kata Noni. Kamu mah bukan tipeku." Dave tetap bermonolog di sela kunyahannya.


Kedua pasang musuh bebuyutan itu saling melempar makian dan ejekan dari hati ke hati. Saling bergantian mereka menatap sengit satu sama lain. Sampai akhirnya keduanya tak sengaja menggigit lidah masing-masing.


"aaaw...! ops...!" Cintya dan Dave mengeluarkan suara bersamaan, mereka saling pandang sejenak sebelum akhirnya sama-sama membuang muka.


"Sial*n nih, mana lidah gue pakai acara kegigit segala. huhuhuhu..." Cintya bergumam dalam hati.


"Aduh, sakit sekali. Semoga lidahku nggak kepotong." Dave juga bergumam dalam hati sambil menahan sakit di dalam mulutnya.


Acara makan malam yang hening itu pun berakhir. Baik Dave maupun Cintya memilih kembali ke kamar.


\*\*\*


"Ngapain belajar di sini?" tanya Cintya pada Dave sambil menahan perih di lidahnya.


"Ya kan terserah saya. Ini kamar saya." jawab Dave yang sejak awal memang selalu belajar di kamar.


Walau rumah ini dilengkapi dengan ruang baca dan perpustakaan pribadi di dalamnya, namun Dave lebih nyaman di kamar. Karena pria ini sebenarnya sangat tertutup.

__ADS_1


"Kan ada ruang baca Dave." ujar Cintya ketus.


"Kamu mengusir saya dari kamar ini?" Dave memandang Cintya sambil memicingkan matanya.


"Dasar cerewet." tambah Dave dalam hati.


"Bukan begitu. Aku hanya bertanya. Dasar piranha menyebalkan." protes Cintya sambil naik ke atas tempat tidur.


"Kalau aku Piranha kau apanya? Pawang nya?" tanya Dave kemudian.


"aaaaaaaa waaa baaaa waaaaa aaaa baaaaa waaaa, apa? Aku tidak mendengar mu Dave." Cintya berteriak sembarangan karena tidak ingin mendengarkan Dave..


"Dasar perempuan aneh dan cerewet." ujar Dave kesal.


"aaaaaaa.... aku tidak mendengar." Cintya meneruskan aksinya dan merasa menang karena berhasil membuat Dave kesal.


\*\*\*


Sementara itu di tempat lain, George yang sudah berada di US mencoba mengunjungi rumah sakit S untuk bertemu dengan salah satu kenapa ibunya. Dokter itu akan menjadi mentor nya selama study di negara ini.


Dari kejauhan George melihat dua sosok yang tidak asing baginya.


"Noni dan Steve?" tanya George dalam hati.


Pria itu tahu kondisi kesehatan Noni. Karena dokter yang pernah merawat gadis itu merupakan sahabat orangtuanya. Goerge melangkah pelan, mendekati dua orang itu. Steve sedang menatap lepas ke taman sedangkan Noni duduk di kursi rodanya.


Merasa percakapan mereka sangat penting, Goerge memilih membawa kakinya menjauh dari sana. Karena tidak ingin mengganggu Steve menyatakan perasaannya pada Noni.


"Steve, kita sudah membicarakannya berkali-kali."


"Masih karena Dave?" tanya Steve. Kalimatnya menghentikan langkah George. Tanpa menoleh ke arah keduanya, George memutuskan mendengar percakapan ke dua pria itu.


"Aku hanya mencintai Dave. Maafkan aku Steve." jawab Noni.


Goerge tersenyum senang, seolah mendapatkan oase di padang gurun karena mendengar kalimat Noni.


"Dave sudah menikah Noni. Apa kau ingin menyakiti mereka?" tanya Steve lirih.


"Aku tahu, aku tidak akan memisahkan mereka. Tapi mengertilah Steve, tolong hargai perasaanku." jawab Noni.


"Aku juga ingin membalas perasaan mu Steve. Tapi aku harus memakai Dave sebagai tameng, agar kau tidak terluka saat aku pergi." gumam Noni dalam hati. air matanya kini mengalir.


"Apa kau menangis? Kau menangisi Dave?" tanya Steve sedikit tidak terima dengan air mata Noni.


"Bukan. Aku hanya merasa sedih karena harus menolak perasaanmu lagi." jawab Noni.

__ADS_1


"Kalau begitu terima saja aku." pinta Steve.


"Apa kau ingin aku menerima mu? Kau tidak peduli walau hatiku tidak mencintaimu? Apakah kau seegois itu Steve?" tanya Noni berusaha menyerang Steve dan membuat pria itu merasa bersalah.


"Maaf Steve, bukan begitu. Aku tidak bermaksud mengatakan kamu egois. Disini akulah yang egois, jika aku menerima mu. Aku tidak bisa membalas cintamu Steve. Aku akan segera pergi. Aku tidak ingin melihatmu terluka." Lirih Noni mengulang kelimat yang sama di dalam hatinya.


"Maafkan aku Noni. Aku hanya peduli pada perasaanku. Maaf, aku tidak akan memaksamu. Aku senang bisa menjagamu sebagai teman seperti yang kulakukan selama ini." ujar Steve mengalah.


"Wah, bagaimana jika Cintya tahu bahwa sahabatnya yang sekarat ternyata mencintai suaminya? Hahaha... Drama macam apa ini?" George bergumam dalam hati sambil menjauh dari sana tanpa menoleh barang sekali.


Steve melempar pandangannya ke taman rumah sakit. Baik dia maupun Noni kini larut dalam pikiran masing-masing.


"Apa aku harus membawa Dave kembali padamu?" Steve.


"Jangan mencintaiku Steve, cukup aku yang mencintaimu sama seperti yang terjadi antara aku dan Dave." Noni.


Author POV off


***


Sementara itu di Indonesia.


Noni POV on๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Pria ini memang menyebalkan. Sudah larut malam, tapi dia malah asik dengan bukunya. Tak sedikitpun berniat menjelaskan padaku perihal bunga tadi. Biarlah, biarkan bunga itu terbuang sia-sia.


"Gue kenapa? Gue nggak berharap dia bakal ngasih bunga itu ke gue kan?" aku bergumam dalam hati sambil berguling di atas tempat tidur.


"Cintya, jangan berisik. Aku tidak bisa fokus." ujar Dave yang terganggu karena bunyi kasak kusuk di atas tempat tidur.


"Aku kan diam sejak tadi?" aku protes pada Dave. "Dasar pria menyebalkan....!!!" Aku berteriak kesal sebelum menutup seluruh tubuhku dengan selimut hingga ke kepala.


"Dia memang menyebalkan. Kenapa aku harus kecewa karena masalah bunga itu? Toh pada dasarnya dia menyebalkan. Cintya, jangan berharap pada seorang pria menyebalkan sepertinya. Camkan itu." aku menasehati diri sendiri sebelum selimut yang menutup tubuhku ditarik secara paksa.


"Kamu kerjanya tidur dan tidur, kapan kamu belajar?" suara Dave sedikit meninggi.


"Nah kan, sikap nyebalin Dave memang nggak ada duanya." Aku menatapnya sengit sambil bergumam dalam hati.


"Dasar pria menyebalkan." aku meneriakinya sebelum bangkit dari ranjang dan berjalan ke sofa tempat dimana beberapa buku sedang terbuka lebar.


....to be continued...


**Note


Teman-teman makasih sudah baca novel ini. Dukung dengan vote yang banyak ya. Jangan lupa gabung ke GC untuk mendapatkan hadiah poin setiap hari dan juga untuk ikut beberapa event berhadiah. See you there.

__ADS_1


-best**-


__ADS_2