CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Pria Menyebalkan


__ADS_3

Karena melihat Mama tertawa, membuat sakit dihatiku sejenak menghilang.


\*\*\*


Aku, mama dan Giordani kini tengah menyantap sarapan kami di meja makan. Giordano sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah, demikian juga dengan mama yang akan bekerja.


"Cin, kamu nggak kuliah nak hari ini?"


"Nggak ma, lagi nggak ada kelas." jawabku.


"Loh, bukannya biasanya tiap hari kamu ada kelas?" tanya mama curiga.


"Dosen untuk pelajaran hari ini sedang keluar kota Ma, jadi jadwal kelasnya dipadatin ke minggu depan."


"Oh.." jawab Mama mengangguk paham.


"Ma, Dani berangkat duluan ya." pamit adikku yang sudah menyelesaikan sarapannya.


"Hati-hati Dan."


Giordani langsung beranjak dari duduknya dan segera mencium tangan mama. Lalu pria SMA itu beralih padaku dan mengacak rambutku lembut.


"Gue jalan ya kak, hati-hati jaga rumah." ujarnya sebelum berlalu.


"Ma.." protes ku yang kurang suka dengan aksi Giordani.


"Sudahlah Cin, kamu harus maklum dengan kelakuan Giordani. Namanya juga lelaki, wajar dia memiliki naluri ingin melindungi dan menjaga perempuan."


"Tapi Ma, kakaknya kan Cintya. Masa iya Giordani yg ngacak rambut Cintya? kebalik tau Mama.. ih.." ujarku kesal.


"Kamu ini, masa hal seperti itu aja langsung kesal? Anggap aja kamu yang mengacak rambut adikmu. Okay?"


"Ih Mama." protes ku manja.


"Sudah-sudah, kamu lanjut lagi sarapannya. Mama juga harus berangkat sekarang."


"hmm..." ujarku patuh.


Setelah bangkit dari kursinya di meja makan, mama melenggang pergi menjauh dariku.


"Ma.." panggilku pelan sambil menatap punggung mama.


Wanita itu membalik tubuhnya dan menatapku lembut seraya berujar "ada apa sayang?"


"Mama, jangan bekerja terlalu keras. Jangan sampai kelelahan, dan berhati-hatilah." Kata terakhir yang kukatakan membuat tenggorokan ku tercekat.


Wanita yang kini tengah menatapku lembut membalas kalimat ku dengan anggukan mantap sebelum kembali memutar badannya dan berjalan menjauh. Menyisakan pemandangan kosong dan dapur yang sepi karena hanya dihuni olehku.


Kuteguk air untuk menyegarkan tenggorokan ku yang kering. Rasa takut kehilangan mama, tiba-tiba menyiksaku. Bagaimanapun setelah kepergian Papa, aku belum siap kehilangan lagi.


Setelah meneguk air minum segelas penuh, aku beranjak dari posisi awalku. Dengan cekatan semua piring kotor di meja makan kupindahkan menuju washtafle. Mencuci piring, membersihkan dapur dilanjut dengan mencuci pakaian kotor. Sebagai puncak aktivitas itu, aku membersihkan ruang tamu dan ruang keluarga. Lalu diakhiri dengan menyiram bunga di taman. Setelah semuanya beres, aku segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


"pukul 10?"" gumamku saat keluar dari kamar mandi dan kembali kekamarku.


Ternyata aku sudah menghabiskan hampir tiga jam untuk kegiatan rumah. Kuhempaskan tubuhku untuk duduk di atas tempat tidur.


"Ting..tong" belum juga duduk, bel rumah berbunyi pertanda seseorang bertamu.


"Siapakah yang bertamu di jam sibuk begini?" gumamku penasaran sambil melangkah keluar dari kamar.


Kamarku yang terletak di dekat ruang tamu memudahkanku untuk menggapai pintu masuk. Dalam satu gerakan aku membuka pintu.


"Kamu?" tanyaku sungguh terkejut dengan sosok yang kini berdiri di hadapanku.


"Ada apa Steve? Mau masuk atau ngobrol diluar?" tanyaku pada pria itu.

__ADS_1


"Di rumah ada orang nggak?"


"Ada, gue."


"Yaudah, di luar aja." jawabnya.


"Kenapa Steve, masuk aja nggak apa-apa kok."


"No.. mana boleh laki-laki dan perempuan berdua-duaan saat sepi."


"Ya ampun Steve." lagipula hal-hal begitu tidak akan terjadi pada kita.


"Setidaknya jangan menciptakan kecurigaan pada orang-orang lain Cin."


"Astaga.. Yasudah terserah kamu aja. Jadi ada apa Steve? ngapain kemari? Bukankah seharusnya loe ada kelas?"


"Cin, sorry.. Gue ada berita buruk buat loe."


"Apa Steve?" tanyaku khawatir.


"Cin, kok di sini panas banget sih?" tanya Steve yang merasa terganggu dengan sinar matahari yang langsung menerpa kursi di halaman rumah.


"Makanya gue bilang masuk aja." jawabku geram.


"Yaudah yuk." ajak Steve.


Kini kmi sedang duduk di ruang tamu. Dan aku kembali menatap Steve dengan pandangan serius.


"Jadi ada apa?"


"Gue, maaf Cin. Gue nggak bisa jagain loe untuk sementara waktu." ujar Steve sambil menundukkan kepalanya.


Aku hanya berdiam diri mendengar penuturan Steve. Tidak pernah terlintas di pikiranku akan ada hari seperti ini. Hari saat Steve harus berhenti menjagaku. Sebulan sejak kematian papa, sebulan lebih sejak Noni pindah ke Amerika, sebulan lebih Steve selalu melindungi aku dari keberadaan George.


"Cin.. maafin Gue. Tapi gue juga nggak bisa menolak permintaan orangtua gue."


"Pertukaran pelajar, Amerika. Bukan gue yang daftar tapi papa."


"Amerika?" kalimatku cukup menggambarkan keterkejutanku.


"Iya, kenapa loe nggak suka?"


"Ya ampun Steve, loe harus pergi. Dan ingat loe harus membuat kesempatan untuk mendapatkan hati Noni selama loe di sana." ujarku antusias.


"Terus loe gimana?" tanyanya khawatir.


"Gue kesal. Iya gue kesal banget sama keadaan nggak ada Noni dan loe di sini. Tapi memikirkan bahwa loe punya kesempatan untuk berada di negara yang sama dengan dia membuat gue sangat bersemangat."


"Loe cuman fokus ke Noni bukan ke cita-cita gue? Yaelah Cin, teman apaan loe?" ujar Steve bercanda.


"Gue ini sahabat terbaik dong. Btw, kapan loe berangkat?"


"Minggu depan."


"Selamat ya Steve, akhirnya peluang loe datang juga."


"Makasih Cin. Untuk masalah George jangan khawatir, gue sudah punya solusi."


"Apa?"


"Loe kiat aja nanti. Ngomong-ngomong gue pamit dulu ya Cin, nggak enak bertamu ke rumah cewek terlalu lama."


"Ya ampun Steve, loe malah bertingkah seperti orang asing di rumah gue."


"Gue cuman menghargai perasaan gue Cin." ujar Steve ambigu sambil bangkit dari posisi duduknya.

__ADS_1


"Maksud loe?" aku memandangnya dengan tatapan serius.


Pria itu tersenyum lebar, dan senyuman itu di susuk dengan kalimat "Gue kan cinta sama Noni, kalau lama-lama di sini rasanya kayak berhianat sama perasaan gue."


"Dasar nyebelin." ujarku sambil menjitak jidat lelaki itu.


Steve tersenyum manis dan mengabaikan kekesalanku. Dia memilih terus melangkah menuju pintu dan aku tidak memiliki pilihan lain selain mengekornya dan mengantarnya hingga ke mobilnya.


"Hebat juga loe bisa parkir di halaman rumah gue."


"Makanya Cin, kalau loe di dalam pagar depan harus di tutup. Ceroboh amat jadi cewe." omel Steve.


"Steve, loe pulang aja gih. Jangan buat gue kesal. Cukup matahari aja yang panas hati gue jangan sampai."


"Okay okay. Bye.." ujar Steve sambil masuk ke dalam mobilnya.


Setelah Steve meninggalkan rumah, aku langsung mengunci pagar dan menata langkahku masuk kerumah.


"Harus segera ngeringin rambut nih." gumamku santai sambil melepas handuk yang sedari tadi membungkus kepalaku.


Aku tersenyum geli dengan ekspresi lucu Steve saat tadi melihatku muncul dari balik pintu. Dengan penuh keyakinan, kusimpulkan pria itu shock dengan kealaku yang terbungkus aneh. Baru saja aku melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba bel berbunyi lagi.


"Apaan lagi sih Steve?" umpatku sambil melangkah menuju pagar depan.


Dengan perlahan kubuka pagar dan sengaja kupasang tampang galak untuk memarahi Steve.


"Kamu kayak nggak bisa ngomong lewat telepon aja, ada ap.." kalimat ku terputus menyadari pria yang kini berdiri di hadapanku bukan Steve.


"Siapa?" tanyanya dingin.


"Kamu, kok ada di sini?"


"Kamu kenapa nggak pernah menjawab telepon saya?"


"Kapan?"


"Maksud saya sejak tadi malam."


"oh.." jawabku yang baru saja sadar bahwa sejak semalam belum menyentuh ponselku.


"Ada apa?" tanyaku lagi.


"Boleh masuk?" pria itu malah mengabaikan pertanyaan ku.


"Hei Cinta.. boleh masuk tidak?" tanyanya lagi.


"Cintya. Ingat Dave, nama ku Cintya bukan Cinta."


"Sorry. Jadi apakah aku boleh masuk?"


"Okay okay.."


Kini aku dan Dave sedang duduk di ruang tamu. Dia asik menikmati cemilan yang tadi kuambil dari dapur.


"Jadi maksudmu kamu marah padaku?" aku mencoba memperjelas maksud dari penjelasan pria itu sebelumnya.


"Tentu."


"Dasar pria menyebalkan. Bagaimana aku bisa mengenalkan Steve padamu? kamu sadar tidak keberadaanmu di negara mana dan kami di mana?"


"But you are smart. Kenapa hal kecil begini saja tidak bisa kamu pikirkan?"


"Yasudahlah. Aku malas berdebat denganmu. Tunggu sebentar."


"Mau kemana?" tanya Dave yang menyaksikan ku beranjak dari sofa di ruang tamu.

__ADS_1


"kamar, ngambil ponsel."


Setelah memberi jawaban singkat aku segera meninggalkan pria itu di sana dan melangkah menuju kamarku. Lelaki ini sungguh menyebalkan, bagaimana dia bisa marah padaku hanya karena aku belum mengenalkan nya dengan Steve? Sungguh aku tidak habis pikir dengan isi kepala Dave. Untung saja dia bukan pacarku apalagi suamiku. Kepalaku terancam pecah tiap hari kalau harus hidup dengan pria arogan itu.


__ADS_2