
"Hi cantik, apa kamu sedang tersesat?" tanya seorang pria yang tiba-tiba menghampiriku.
Aku bergidik ngeri, melihat penampilan pria asing itu.
"Maaf, saya harus pergi." Aku memilih untuk menghindar dari pria itu.
"Mau kemana? Ha?" dia kini menarik paksa salah satu tanganku.
"Sakit..." Aku meringis dalam hati sambil menggerakkan lenganku berusaha menyelamatkan diri dari pria ini.
"Tolong..." Aku berteriak minta tolong, namun jalan raya yang sedang sibuk itu hanya berfokus dengan kesibukan mereka sendiri. Tak ada satu mobil pun berhenti untuk menolongku yang kini sedang myeretku secara paksa di sepanjang trotoar. Berkali-kali kakiku keseleo untuk mengimbangi langkah pria yang kini menyeretku.
"Seseorang tolong aku." Jeritku dalam hati sambil terus melangkah dengan gerakan pincang.
"Bukankah akan lebih mudah jika kamu menurut sejak tadi?" tanya sang pria sambil menyeretku menyeberangi jalan raya.
"Ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan padaku?" Bayangan pengalaman buruk yang pernah menimpaku kembali muncul dalam ingatanku. Tiba-tiba dadaku terasa sesak, aku merasa kehabisan udara.
\*
Dave POV on
Aku baru tiba di rumah, setelah mengerjakan penelitian di rumah sakit sejak pagi hari.
"Bi, Cintya kemana?" tanyaku sambil menyantap makan siang sendirian.
"Katanya mau keluar sebentar den." wanita itu menjawab sopan.
"Kemana Bi?"
"Saya tidak berani bertanya den."
"Pakai mobil yang mana? Diantar supir kan bi?" tanyaku kemudian.
"Mungkin dia kerumah mama." aku menjawab asal dalam hati dan masih menikmati makananku.
"Naik ojek den."
"Apa bi?" tanyaku tak percaya.
Aku lebih tidak percaya lagi setelah mendengar penuturan bibi tentang penampilan Cintya saat keluar dari rumah tadi.
Dengan gerakan cepat aku segera beranjak dari meja makan, memutuskan untuk langsung mencari Cintya. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat tidak nyaman. Ada perasaan gelisah yang diam-diam mengganggu hatiku.
"Melamar pekerjaan? Kira-kira kemana kamu akan melamar?" tanyaku bingung sambil berusaha fokus pada jalan raya.
Akhirnya tanpa rencana, aku sudah berada di jalan kota yang ramai dan macet. Walau tidak yakin Cintya akan ada di tempat seperti ini, aku memutuskan untuk tetap melirik ke kiri dan kanan memeriksa keadaan.
"Dia kan memang aneh, siapa tau dia memilih berjalan kaki di sepanjang kota." gumamku sambil berdecak geli mengingat keanehan wanita yang kini sedang kucari.
Namun mendadak rasa geli tadi berubah menjadi rasa ketakutan. Di depan sana kulihat seorang pria sedang menyeret wanita yang terhuyung tak berdaya.
"Apa dia kekasihnya? apa perempuan itu sedang sakit?" tanyaku memfokuskan pandangan pada mereka. Gerakan lemas dan tak menentu dari sang wanita menyadarkan ku bahwa wanita itu sedang kesakitan.
Mereka semakin berjalan menyeberangi jalan, mendekat ke arah mobilku sedang melaju pelan karena macet.
"Cintya?" bagai disambar petir aku terkejut hebat saat menyadari wajah wanita itu.
Matanya terlihat kosong sebelum mengerjap beberapa kali.
__ADS_1
-bruk-
Aku melihat gadis itu ambruk ke aspal. Sementara pria yang tadi menyeretnya memasang wajah kesal bersiap mengangkat tubuh Cintya.
Dave mencoba menghentikannya, namun pria itu kalah cepat. Lelaki tadi sudah membawa Cintya pergi dan tidak mungkin bagi Dave meninggalkan mobilnya di tengah jalan begitu. Dia masih taat hukum bahkan dalam kondisi mendesak bagini. Benar kata Cintya, dia memang pria aneh.
Dave POV Off
\*
Ditempat lain, seorang wanita sedang berbincang dengan beberapa preman jalanan.
"Apa yang harus kami lakukan nyonya?"
"Kalian boleh melakukan apapun. Tapi jangan sampai dia kehilangan nyawa. Jika dia sampai nyawanya melayang, permainan tidak akan seru lagi." ujar wanita itu sambil melempar amplop berisi sejumlah uang.
"Nyonya ingin melihatnya? Sebentar lagi bos akan datang kemari membawa perempuan itu." jawab salah satu dari mereka.
"Tidak perlu. Kalian camkan baik-baik, jangan sampai ada orang lain yang tahu bahwa saya ada dibalik kejadian ini. Jika sampai hal ini bocor, saya tidak segan-segan menghancurkan kalian." ujar wanita itu sambil berlalu dari sana.
"Cintya, kita lihat saja setelah ini apakah ibumu akan hidup tenang? Semua ini belum cukup untuk membalaskan dendam ku. Aku tidak sabar ingin bermain lebih lama denganmu." gumam wanita itu sambil tersenyum puas.
drrrrrrrrt...drrrrrt ...
Langkah wanita itu terhenti karena getaran di ponselnya.
"Halo..."
.....
"Apa katamu? George datang ke rumah sakit?"
....
\*
Dave POV on
Sembari memarkirkan mobil, aku segera menghubungi polisi, melaporkan bahwa istriku sedang diseret orang asing. Istriku, ada perasaan asing dan canggung menggelitik hatiku saat mengucapkan kata itu.
Aku turun dari mobil sambil mengawasi pria yang menggendong tubuh lemas Cintya.
"Aku harus menghentikannya disini. Keramaian seperti ini akan membuatnya susah bergerak." gumamku dalam hati sambil berlari mengejar pria itu.
"Tuan, mohon maaf. Apa yang terjadi dengan istri saya? apakah dia sakit?" tanyaku sambil menghadang langkah pria ini.
"Siapa kau?" pria itu memandang ku dengan tatapan sengit.
"Saya suami dari nona yang sedang anda gendong."
"Jangan mengaku-ngaku sembarang." serangnya padaku.
Aku tahu ini akan menjadi sulit, itulah alasanku menghubungi pihak kepolisian sebelum menghentikan lelaki ini.
Beberapa masyarakat di pinggir jalan kini mulai tertarik untuk menonton pertunjukan antara aku dengan pria yang menggendong tubuh Cintya.
__ADS_1
"cih... beraninya kamu menyentuh Cintya seperti itu." aku berujar kesal dalam hati.
"Selamat siang tuan Dave, kami dari pihak kepolisian " Seorang pria lalu menghampiriku sambil menyodorkan tanda pengenalnya.
"Syukurlah. kalian tiba dengan cepat." aku membuang nafas karena lega.
"Kenapa ada polisi?" tanya pria tadi tak percaya dengan apa yang tengah terjadi.
"Tuan, saya meminta bantuan mereka karena melihat istri saya sedang di seret oleh orang asing." jawabku santai sambil meraih tubuh Cintya dari lelaki itu.
"Harap ikut kami ke kantor polisi untuk investigasi lebih lanjut." ujar polisi meringkus pria tadi.
"Aku tidak berbuat jahat, jangan menangkap ku. Aku hanya menolong wanita itu. Apa kalian buta?" sang pria berusaha berontak.
"Dasar pembohong. Kau bahkan membentakku tadi." Aku bergumam sambil meletakkan tubuh Cintya di jok belakang dengan hati-hati.
Tidak perduli dengan kejadian di sana, aku memilih membawa Cintya pulang kerumah. Sekarang yang menjadi prioritas adalah keadaan wanita ini bukan si preman tadi.
"Kau selalu menyusahkan. Apa itu memang hobbymu? Kenapa tidak pergi dengan diantar supir?" aku mengomel panjang lebar sambil menyetir.
"Kalau tidak bisa menjaga dirimu sendiri jangan pergi sendirian." aku masih mengomel meluapkan kekesalanku.
Dave POV Off
\\*
Di salah satu ruangan dokter di rumah sakit ternama kota Jakarta. George sedang berbicara serius dengan ibunya. Namun tiba-tiba percakapan diantara mereka terhenti karena ponsel sang Ibu berdering keras.
"Halo..."
"Nyonya, wanita itu selamat dan bos ditangkap polisi."
"Apa maksudmu?"
....
"Bereskan masalah kalian sendiri. Jangan menghubungi ku lagi." ujar Ibu George marah sambil melempar ponselnya ke arah sofa.
"George.." panggilnya setengah membentak sambil duduk di hadapan sang anak.
"Iya ma?"
"Kamu ke US saja." jawabnya lebih seperti perintah.
"Tapi ma?"
"Ini perintah, jangan membantah." jawabnya tegas.
"Kalau kau di sini, bagaimana aku menghancurkan keluarga itu? Setidaknya tanpa keberadaanmu dikampus, aku akan lebih leluasa membuatnya keluar dari tempat itu." batin wanita itu.
****Author POV
guys, kira-kira kenapa ya ibunya George dendam banget sama Cintya?
a. Urusan dendam perusahaan
b. Urusan dendam masa muda dengan orangtua Cintya
c. Dia seorang psikopat**.
__ADS_1
ayuk beri jawaban kalian di kolom komentar.
-best**-