
Ada sinar kesedihan dan rasa khawatir yang kini terpancar di mata pak Rudi. Aku bisa merasakannya, dan jujur aku tidak nyaman dengan hal itu.
"Maaf, sebentar bapak jawab telepon."
Pak Rudi tiba-tiba undur diri ketika telepon di meja kerjanya berbunyi.
"Iya pak? Saya sedang dengan Cintya. Ke ruangan kepala sekolah? Kami segera kesana. Selamat siang."
Aku mencuri dengar pembicaraan beliau di telepon. Bukan sengaja, dan bukan bermaksud tapi kan kebetulan aku sedang bersama Pak Rudi. Kini beliau sudah meletakkan gangang teleponnya.
"Cintya, ikut Bapak ke kantor Kepsek."
"Ha? Sekarang pak?"
"Iya."
"Ada apa lagi Tuhan?" aku merintis dalam hati. Kini aku sungguh cemas dan takut menghadapi panggilan ini.
Dengan melangkah tepat di belakang wali kelasku, aku masuk ke ruangan Kepala Sekolah.
"Pak Rudi, Nak Cintya silahkan duduk."
"Terimakasih pak." Jawabku, sementara pak Rudi langsung duduk tanpa bicara panjang lebar.
"Ada apa memanggil Cintya kemari Pak?" Tanya pak Rudi memulai pembicaraan.
"Cintya, Kamu sudah terdaftar sebagai rahasia baru fakultas kedokteran di Universitas X. Mengenai biaya perkuliahan, magang, klas bahkan program spesialis kamu juga sudah dicover oleh beasiswa."
"Ha?" Aku dan Pak Rudi sungguh terkejut mendengar kalimat Kepala sekolah.
"Tunggu dulu.. Tunggu dulu.. Aku diterima jadi mahasiswa? dapat beasiswa sampai program spesialis?" ucapku dalam hati karena tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
"Pak saya lagi mimpi ya?" gumamku kemudian.
"Apa Bapak serius?" Wali Kelasku yang tidak kalah terkejutnya denganku akhirnya membuka suara.
"Saya serius. Ini surat penerimaan kamu, dan di sini disebut juga masalah beasiswa kamu."
Aku langsung menerima surat yang diserahkan oleh Bapak Kepala Sekolah. Dan aku sungguh terkejut membaca salah satu butir peraturan dalam surat itu.
"Pak apa ini serius?" tanyaku curiga.
"Iya Cintya."
"Beasiswa apa pak yang memberi kesempatan bagi penerimannya untuk transfer kuliah ke universitas di luar negeri sewaktu-waktu?" tanyaku ragu.
"Yah beasiswa yang kamu terimalah." ujar kepala sekolah lagi.
"Yah. Bagaimanapun ini tetap kabar baik. Selamat Cintya, Bapak senang akhirnya kamu dapat beasiswa." ujar wali kelasku.
"Tapi pak, saya belum pernah mendaftar kan?"
"Maaf, Bapak pernah mendaftarkan mu nak. Karena saya yakin kamu sangat ingin kuliah." Jawab Pak Rudi lagi.
"Terimakasih banyak pak. Berita hari ini ajaib sekali." ucapku tulus pada kedua guru itu.
__ADS_1
Setelah selesai berbincang-bincang dengan kepala sekolah dan wali kelasku aku kembali ke kelas. Hari ini aku tidak sabar bertemu keluargaku. Hari ini aku juga ingin bertemu Noni sahabatku. Tapi sayang Noni masih di luar negeri.
Sepulang dari sekolah kuputuskan untuk mampir di warnet sepulang dari sekolah, aku ingin membagi kabar bahagia ini pada Noni. Aku langsung duduk di salah satu meja komputer di Warnet dekat rumahku.
"Bang, 10 menit aja ya." ujarku pada sang penjaga warnet.
"Ya ampun neng, sepuluh menit cuman buat nyalain dan matiin komputernya."
"Aduh bang, kalau lebih lama kan lebih boros bayarannya."
"30 menit ya neng." Tawarnya lagi.
"Oke deh." jawabku setuju.
Begitu komputer ku terhubung dengan internet, aku langsung log in di akun FB ku. Saat orang-orang memiliki FB, instagram dan E-mail dalam genggamannya aku malah tidak punya ponsel untuk sekedar sms-an. Setelah log in, aku langsung mengirim pesan pada Noni.
"Non, loe gimana di Ausie? Banyak cowo ganteng nggak? hehehe... btw ada keajaiban hari ini Non. Gue bisa kuliah karena dapat beasiswa. Bahkan beasiswanya dibiayain sampai dapat gelar specialis. Ajaib banget kan Non. Cepat pulang ke Indo dong, gue pengen berbagi kebahagiaan sama loe. Btw, hati-hati selama disana ya Non."
Setelah tigapuluh menit bermain dengan internet warnet, Noni belum juga membalas pesanku.
"Sahabat durhaka, mentang-mentang di luar negeri FB aja udah nggak aktif. Pasti lagi mantengin cowo-cowo bule nih." omelku dalam hati.
Setelah mematikan komputer dan membayar uang warnetnya, aku memutuskan kembali ke rumah. Rasanya sangat berbeda, ketika aku pulang kerumah dengan kabar baik.
\*\*\*
Sementara itu, dua hari kemudian di Ausie.
"Sayang,"
"Noni.."
Dua suara yang berbeda terus saling bersahut-sahutan mengisi telingaku. Suara yang terdengar sangat jauh. Kadang suara itu berubah jadi isakan pilu, kadang juga permohonan yang penuh harap.
"Dokter, sudah hari kedua. Kenapa anak saya belum sadar?"
Aku mendengarnya lagi. Itu pasti suara mama. Dengan sekuat tenaga, aku berjuang membuka mataku. Namun rasanya sia-sia.
"Dokter, Noni menunjukkan respon. Jarinya bergerak."
ah, itu dia. Itu Dave.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba saja cahaya terang masuk memenuhi kornea ku.
"Dokter, Dave... DAVE.. Noni sadar Dave..!" aku mendengar teriakan haru.
Namun aku tidak menyadari apa yang terjadi berikutnya. Kepalaku masih sedikit pusing, dan mataku terasa silau. untung saja aku tidak kembali tidur. Akhirnya dokter datang dan memeriksa keadaanku.
"Noni."
"iya Ma?"
"Terimakasih sudah bangun nak." Wanita ini memelukku.
"Hei, princess. You tidurnya lama banget." protes Dave.
__ADS_1
"maaf." ujarku lemah.
"Aku bahagia sekali, masih boleh melihat mu Dave." ucapku dalam hati.
"Ma.. Papa?" tanyaku lemah.
"Papa ada di ruangan sebelah nak. Papa baik-baik saja." jawab mama.
"Tapi.." aku ingin melanjutkan kalimat ku, tapi rasanya lelah sekali. Aku kembali memejamkan mataku.
"Tapi, kenapa papa tidak di sini? apa papa baik-baik saja?" gumamku dalam hati sebelum aku tertidur kembali.
\*\*\*
Sudah seminggu sejak operasi ku dinyatakan berhasil. Papa juga sudah kembali sehat. Hari ini dokter mengijinkanku mengunjungi taman rumah sakit. Rumah sakit di Ausie benar-benar memiliki fasilitas dan taman yang luar biasa. Dave mendorong kursi roda membawaku mengelilingi taman. Rasanya bahagia sekali.
"Dave.." panggilku.
"Iya.."
"Jika aku akan bertahan hidup lebih lama, agar selalu bisa bersamamu." ucapku dalam hati.
"Hei princess, mau bilang apa?" tanya Dave lagi.
"Boleh pinjam ponsel?" tanyaku, untung saja dia tidak mendengar suara hatiku tadi.
"Tentu saja." Dia menyerahkan ponselnya padaku.
"thank you."
Aku langsung log in ke social media milikku. Setelah asik melihat beberapa kabar terkini, akhirnya aku memeriksa kotak masuk di FB. Ah, ada kabar dari Cintya. Seperti permintaanku, papa menepati janjinya.
Kebahagiaanku hari ini rasanya ajaib sekali. Kesehatan ku terus membaik, papa juga sudah kembali bekerja, Cintya akan kuliah dan Dave pria ini masih di sisiku. Menjagaku dengan baik.
"Dave.."
"Iya Ni?"
"Apa kau akan tinggal di sini setelah aku kembali nanti?"
"Tentu saja tidak. Cuti ku milik tuan putri."
Jawabannya manis sekali. Dan hatiku kini dipenuhi bunga yang bermekaran, lebih indah dibanding taman ini.
"Terimakasih."
"Itu kalau Dave tidak berubah pikiran."
"Apa?!" Tanyaku tak percaya dengan kalimat yang baru saja kudengar.
Ternyata pria ini mempermainkan ku, kesal sekali rasanya.
**Pengumuman:
Guys, tolong dukung vote dan like ya. Karena cerita ini ikut lomba.
__ADS_1
Terimakasih.
-Best**-