
"See you... Steve." ucap ku lirih.
Dengan ini hari-hariku bersama Dave pun di mulai.
\\*
Seminggu sudah sejak Steve meninggalkan Jakarta yang berarti sudah seminggu juga hari-hariku di kampus selalu di temani oleh Dave. Mengingat soal pria itu, sungguh membuatku kesal bukan kepalang. Kalian tahu? Dave bisa menangkan piala oscar kategori pemeran dengan karakter paling menyebalkan, jika ada. Ah, lupakan tentang Dave, lebih baik kita berfokus pada perjuanganku hari ini.
Hari sabtu yang biasanya di nikmati insan manusia untuk bersantai, sepertinya hanyalah halusinasi bagiku, karena aku tengah berjalan di bawah terik mata hari menyusuri trotoar kota jakarta yang panas.
"Hi neng, mau kemana? ojek yuk." tawar pria-pria layanan ojek yang sedang mangkal di salah satu sudut kota.
"Nggak pak. Makasih." jawabku sopan, baik ojek tentu saja akan menambah pengeluaran ku. Lebih baik aku berjalan dari satu tempat ke tempat lain sambil menyerahkan lamaran pekerjaanku.
Berbicara tentang melamar pekerjaan, aku sudah berjuang sejak beberapa hari lalu. Awalnya aku berniat mengantar lamaran ku ke gedung-gedung bertingkat itu, berharap mereka akan bermurah hati dan memberi kesempatan padaku. Memang pada akhirnya aku berhasil menjatuhkan lamaran ku di beberapa tempat, namun hanya sampai pada satpam saja.
Hari berikutnya, sepulang kuliah aku menyempatkan diri lagi menjatuhkan beberapa lamaran di berbagai toko di pusat ibu kota, semua orang yang menerima berkasku hanya tersenyum sambil berkata, "nanti dihubungi lagi ya" tanpa membuka amplop lamaran ku.
"Mungkin bakal di buka oleh bosnya." gumamku mencoba untuk bersikap positif.
Demikianlah aku mencari pekerjaan selama berhari-hari, hingga hari ini tak satupun panggilan kerja masuk ke ponselku. Akibatnya aku masih harus berjuang mencari pekerjaan sekarang.
"Semangat Cyntia." ucapku pada diri sendiri.
Terik matahari sama sekali tidak menyurutkan semangatku, aku masih berjalan dengan semangat menyusuri kota Jakarta yang ramai.
Diperempatan jalan, saat lampu merah aku menyaksikan banyak anak kecil yang mengamen mendekati mobil-mobil mewah yang berhenti untuk mematuhi peraturan lalu lintas. Sementara di sisi lain beberapa anak kecil lainnya tengah sibuk menjajakan rokok maupun permen.
"Mereka hebat sekali." ujarku kagum memandang insan-insan belia itu tengah berjuang menghadapi hidup. Hatiku terharu memandang para pejuang-pejuang cilik itu.
Tak ingin terlarut dengan perasaanku, kupacu langkah berlalu dari sana. Saat menemukan jembatan penyebrangan, kutata langkah menaiki jembatan itu. Di atas, pemandangan yang di tangkap kedua indera penglihatan ku makin mengiris hati. Beberapa orang tidur melepas lelah, dengan tubuh kumal dan rambut awut-awutan.
"Ah... apa mereka belum makan?",tanyaku dalam hati.
Tiba-tiba aku teringat bekal makan siang dan minumanku, dan beberapa cookie yang tadi kusiapkan dari rumah, sebagai kudapan saat beristirahat.
Aku memandangi penghuni jembatan penyeberangan itu. Ada seorang nenek renta, dan dua anak kecil di posisi terpisah. Dengan gerakan cepat aku menuruni tangga jembatan dan mencari anak-anak yang berjualan di bawah lampu merah kota ini.
"Ah... itu dia." ujarku sambil melangkah mendekati tiang lampu merah.
"Dek, 3 botol air mineral dan 6 biji rotinya ya." ujarku pada anak itu.
"oke kak." Dia tersenyum lega, akhirnya jualannya laku.
__ADS_1
"Eh, tunggu sebentar dek, periksa expire date nya dulu." ucapanku menghentikan gerakannya.
Anak lelaki bertubuh kurus cungkring dengan kulit hitam gosong akibat terpapar matahari itu menatapku bingung..
"Ex... ex.. ex det itu apa kak?" tanyanya bingung.
"Expire date, itu tanggal kadaluarsa dek. kita tidak boleh memakan atau meminum sesuatu jika sudah melewati tanggal itu. Nih coba adek lihat di sini tertulis EXP 10/2022, sekarang masih tahun 2020 artinya kita masih boleh meminum air ini."
Anak itu terlihat memandang ku dengan raut kebingungan, seolah dia merasa mendengar informasi dari laut angkasa.
"Kenapa dek?" aku bertanya lembut
"oh... itu, ini pesanan kakak." jawabnya menyerahkan sekantong kresek berisi pesananku.
"Berapa semuanya dek?"
"22.000 kak."
"ini." aku menyerahkan uang pas padanya. "terimakasih ya." ucapku tulus sebelum berlari kecil ke arah jembatan penyeberangan.
Setelah menaiki tangga dengan hati-hati, aku masih menemukan tiga sosok tadi dengan posisi serupa.
Tanpa berbicara, aku meletakkan 1 botol air mineral ukuran 250 ml, dan 2 roti di depan masing-masing mereka. Dengan langkah cepat aku berlalu dari tempat itu, tanpa menoleh kebelakang untuk mengetahui ekspresi mereka. Bukan karena sombong, aku hanya tak tega.
Aku sedang meregangkan otot-otot dengan rebahan di atas ranjangku. hari ini semua amplop berisi berkas lamaranku selesai ku antar, rasanya lelah sekali.
"Hei pemalas." kudengar suara yang tidak asing menggema di kamar ku yang nyaman.
"Astaga, Dave... dasar nyebelin sampai gue halu dengar suara loe." ujarku tampa membuka mata yang sudah terpejam dari tadi.
"Ya ampun Cyntia, kenaoa wajahmu gosong begitu?" suara itu bahkan kini mengejekku.
"Ih... bete banget sih gua." sahutku masih berpikir bahwa aku berhalusinasi.
Tiba-tiba sesuatu yang hangat mendarat di pipi kananku. Spontan aku membuka mata dan kini kedua bola mataku membulat sempurna menangkap sosok Dave yang sedang duduk di ranjangku dan menjamah wajahku.
"Hoi, ngapain loe?" bentakku marah.
"Wajahmu, wajahmu itu sedang iritasi Cyntia, aku hanya memeriksanya."
"oh..." jawabku pelan. "ini cuman karena kena sinar matahari kok." jawabku santai.
"Sinar matahari apa? kamu berjemur berapa jam sampai kulitmu iritasi separah itu?"
__ADS_1
Aku memonyongkan bibir, malas menjawab pertanyaan Dave. Bagaimanapun aku juga menyadari rasa perih dan panas yang mendominasi wajahku sejak tadi, namun aku menganggap itu hal biasa, toh aku habis jalan-jalan dibawah matahari tanpa payung sama sekali.
"Sini wajah kamu biar saya periksa." pinta Dave sambil mendekati ku.
kini tangan pria itu tengah memegang daguku dan menggerakkan wajahku ke kiri, ke kanan secara bergantian sambil mengamati kulitku dengan serius. Posisi wajah nya terlalu dekat sampai aku bisa merasakan hangat nafasnya yang menyentuh pori-pori wajahku dan tiba-tiba aku merasa sesak.
"Hei bagaimana bisa masuk ke kamarku?" tanyaku tiba-tiba sambil menjauhkan wajahku darinya.
"Ada si adek dan tante di depan. Katanya kamu di kamar, yah aku langsung nyusul aja."
"Astaga, tetap aja Dave. Ini tuh kamar cewe. Loe ngapain masuk sembarangan?"
"Ya ampun Cyntia, kamu ini mikirin apa sih?"
"oh.." gumamku pelan, bingung harus berkata apa.
"Saya kemari, mau ngajak kamu belajar, biar pintar. Kalau nggak rajin belajar gimana kamu bisa jadi dokter yang hebat nanti."
"Oh.." aku kembali ber oh ria..
"Jadi wajahmu itu kenapa bisa begitu?"
"Kena sinar matahari Dave." ujarku kesal mengingat tadi dia juga sudah menanyakan hal yang sama.
"Yaudah, ke apotek bentar yuk."
"Ngapain?"
"Beli salep buat wajahmu itu. Memangnya tidak terasa sakit?" tanya Dave lagi.
"Sakit sih.. oke deh. Ayok." jawabku.
"Jadi kamu ngapain pake acara main panas-panasan dibawah matahari sampai kulitmu begitu?"
"bukan main-main Dave."
"So?"
"Aku habis nyari kerja."
"what? nyari kerja? Joob seeking maksud kamu."
"iya loh iya."
Dave menghela nafas panjang mendengar jawabanku. Wajahnya terlihat seperti orang yang tengah berfikir keras.
"Pria ini kenapa sih?" gumamku dalam hati.
__ADS_1