CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Aku Dicium?


__ADS_3

"Dasar anak kecil. Kau tidak sadar bagaimana aku menahan diri selama ini?" aku mengomel dalam hati menahan sesuatu yang nyaris meledak dalam diriku.


Aku meletakkan tubuh polos Cintya di atas tempat tidur dan langsung melilitnya dengan selimut hingga sampai ke leher.


"Dave, kau mau membunuhku?" protes gadis itu kemudian.


Aku terdiam dan memilih meninggalkan Cintya di sana.


"Lebih baik aku mandi dan menenangkan diri." Aku bergumam dalam hati sambil menyalakan shower, membiarkan air dingin membasuh tubuhku yang sedang di penuhi gairah.


"Untung aku bisa mengendalikan diri. Kalau tidak, bisa trauma seumur hidup si Cintya. Sabar Dave, lagipula suatu hari nanti Cintya pasti akan minta diceraikan lagi. Lebih baik jangan memberi hati pada gadis itu." Aku bermonolog dalam hati, tanpa sadar bahwa aku sedang membohongi diriku sendiri.


Dave POV off


\*\*\*


"Astaga.... astaga... dia liat gue.. Aduh mali banget.. gimana nih?" aku berguling di atas tempat tidur sambil mengingat kejadian memalukan tadi.


Pipiku terasa hangat, terlebih saat kembali teringat pemandangan sesuatu yang menonjol di antara pangkal kaki Dave. Rasanya malu sekali, namun jantungku berdetak kencang.


"Astaga, gue jadi mesum. aaaaaaa..." aku berteriak sambil berlari menuju ruang ganti. Tak lupa kubawa selimut yang sedang melilit di tubuhku.


Setelah membungkus tubuhku dengan pakaian rumah, aku bergegas keluar dari ruangan ganti. Namun tepat di pintu aku kembali berpapasan dengan Dave yang hanya menggunakan handuk yang melilit di area bawah perutnya. Tiba-tiba wajahku kembali hangat dan dadaku berdebar kuat.


"Astaga, apa gue udah gila? Masa gue bersebar karena si menyebalkan?" Aku berujar tak perdaya dalam hati.


Dave tersenyum, menambah kecepatan debar di dadaku.


"Jangan pakai itu Cin, ganti lagi bajunya. Kita mau keluar." ujar Dave santai sambil melangkah menuju lemari pakaiannya.


"Ke...keluar? Mau ngapain?" tanyaku yang kini merasa sedikit gugup.


"Kamu nggak bosan selama liburan hanya tinggal di rumah?" tanya Dave sambil memakai bajunya.


"Gila nih orang, berani banget ngelepasin handuk di depan gue. Tapi apa itu artinya dia nggak nganggap gua cewe? Ahhhh... leganya. Jangan berdebar lagi deh jantung, dia aja bisa tuh nggak pakai apa-apa di depan gue. Artinya kita memang nggak ada apa-apa." Aku mencoba menasehati dan memotivasi diri sendiri. Tujuanku hanya berharap agar sang jantung tidak berdebar terlalu kuat.


"Masih bengong aja? Sini ganti bajunya." Dave yang sudah selesai memakai pakaian santai kini menarik tanganku dan membawaku menuju lemari yang berisi pakaianku.


Pria itu membuka lemari dan mengeluarkan beberapa baju. Lalu mencoba meletakkan baju itu di depan tubuhku, berpikir sejenak, tersenyum, menggeleng lalu mengganti. Hingga berkali-kali.


"Dave, kamu ngapain?" tanyaku mengawasi tingkah anehnya yang sedang sibuk memilih pakaianku.


"Dress mu nggak ada yang lebih tertutup?" tanya Dave membuatku mengeryit bingung.

__ADS_1


"Bukannya semua dress di rumah ini memang sudah dia sediakan sejak awal. Lagipula semua pakaian di lemari ku masih dalam kategori sopan. Nih anak kesambet kali ya."


"Pakai ini aja deh." Pria itu mengeluarkan sebuah celana jeans panjang dari lemari ku, lalu berjalan menuju lemari nya sendiri.


"Bajunya ini aja Cin." dia menyerahkan kaos oblong miliknya padaku.


"Astaga, ngapain gue pakai baju loe?" tanyaku tak percaya.


"Bahasa Cin..." protes Dave yang selalu tidak suka dengan kata Loe-Gue dariku.


"Kenapa harus pakai baju kamu?" tanyaku lagi.


"Bajumu seksi semua." jawab Dave santai.


"Seksi apanya. Nih ah, kamu simpan aja." aku mengembalikan baju itu ketangannya.


"Pakai ini atau kita nggak jadi keluar?" Pertanyaan berisi ancaman ini akhirnya keluar dari mulut Dave.


"Yaudah, yaudah... Gue maksudnya aku pakai ini." buru-buru ku ganti kata gue karena sadar akan bola mata Dave yang mendadak melotot saat mendengar kata itu.


"Jangan lama-lama." ujar Dave sambil berlalu meninggalkanku.


Aku sedang sibuk melihat bayanganku dicermin. Kos oblong milik Dave betul-betul berukuran over size untuk tubuhku yang mini. Akhirnya kuputuskan untuk memasukkan sedikit ujung kaos ke dalam jeans yang membalut kakiku. Dengan gerakan cekatan aku memoles wajahku dengan bedak bayi dan mengikat tinggi rambut ikal ku. Tanpa riasan, aku meninggalkan ruang ganti.


Dave mengangkat kepalanya dan menatapku tajam. Tanpa suara, dia kembali memperhatikan bukunya.


"DAVE...!!!" merasa diabaikan aku berteriak kesal.


"Bentar-bentar, aku cuman ngasih tanda di buku." dia menjawab sabar sambil fokus pada bukunya.


Kuhempaskan tubuhku di sofa, tepat di sebelah Dave.


"Tapi, pakai ini kamu masih terlihat seksi. Nanti kita beli baju ya." ujar Dave sambil bangkit berdiri.


"Seksi apanya? Matamu katarak?" tanyaku tak percaya sambil mengekor di balik punggung pria itu.


"Kamu nggak bercermin tadi?" tanya Dave tanpa menghentikan langkahnya.


"Ya bercermin lah. Makanya berani ngomong kalau matamu katarak."


"oooh..." jawab Dave tak menanggapi kalimat ku lebih lanjut.


\*\*\*

__ADS_1


Dave membawaku ke pusat perbelanjaan di kota ini. Namun aku tidak tertarik untuk membil apa-apa. Akhirnya setelah bosan berkeliling kami memutuskan istirahat sambil menonton di bioskop, dan sesuai permintaanku kami menonton film action bukan film romantis. Aku menikmati aksi pukul memukul di layar bioskop sambil mengunyah popcorn.


"aaaaargh...." Dave berteriak sambil menutup wajahnya.


Aku menatapnya kebingungan dan secara bergantian menatap layar di hadapanku yang sedang menampilkan adegan kecelakaan pesawat.


"Dave.. cuman film" ujarku sambil menepuk punggung pria itu mencoba menenangkan nya.


Dave melepas tangan yang tadi menutup wajahnya dan memandang ku.


"Kamu tidur aja kalau nggak suka filmnya." ujarku yang jengah dengan aksi Dave yang sudah beberapa menit hanya menonton wajahku.


"Disini cahayanya sedikit. Aku nggak bisa tidur." jawab Dave mengingatkanku betapa dia membenci tempat gelap.


"Astaga, kalau begitu ngapain kamu ngajak aku ke bioskop?" protesku dalam hati.


"Yaudah kamu makan popcorn aja, biar sibuk." aku menyodorkan popcorn yang tadi di pangkuanku padanya.


Lalu aku kembali menatap layar di hadapanku. tangan kananku sesekali bergerak memungut popcorn, dan berkali kali malah bertemu dengan tangan Dave. Memuakkan sekali, andai dengan pria lain makan sebungkus popcorn yang berpeluang membuat tangan saling bersentuhan pasti bakal berakhir romantis.


"Astaga gue mikirin apa?" Aku mengumpat dalam hati.


Hingga film berakhir aku tidak bisa fokus menonton. Aku malah sibuk memikirkan Dave yang masih memandang wajahku lekat-lekat sambil menikmati popcorn. Jantungku kembali berdebar menyadari betapa dekat pria itu kini memandang ku.


Sesuatu yang hangat tiba-tiba menyentuh pipiku.


"Aaaaaa.... dia nyium gue? gimana nih? gimana nih? Aku bersorak dan menjerit di dalam hati.


Namun sudah sekian detik, wajah Dave masih menempel di pipiku membuat pikiran-pikiran kotor melayang di dalam otakku.


"Astaga Cintya, sadar nggak ini lagi dimana? Otakmu perlu dikuliahkan kayaknya." Aku mengumpat dalam hati menyadari pikiran nakal ku tadi.


Namun Dave belum bergerak, dan kini nafasnya terdengar sangat teratur.


"Loe tidur?" tanyaku pelan.


"Dave?" panggilku lagi.


"hmmmmmh...." pria itu bergumam dan menjatuhkan kepalanya di bahuku.


"Astaga, jadi anak sebijik ini malah ketiduran dan jatuh nimpa pipi gue? Kirain tadi loe tidur. Dasar cowok nyebelin. padahal jan gue udah sempat geger tadi." Aku bermonolog sedih dalam hati sambil memperbaiki posisi kepala Dave di bahuku.


"Takut gelap? Tapi malah tidur nyenyak. Dasar cowo nyebelin." gumamku pelan dan kembali mengawasi layar walau aku sudah tidak paham alur dari film yang kutonton sejak tadi.

__ADS_1


....to be continued...


__ADS_2